Istriku Kuntilanak

Istriku Kuntilanak
Bab 13. Wanita Pertama


__ADS_3

Tok! Tok! Tok!


"Permisi, Pak Aksa. Saya mau minta paraf berkas ini."


Seorang wanita berdiri di depan ruang kerja kepala desa, sambil membawa beberapa map berkas di tangannya. Kepala desa yang masih terbilang muda itu tak bergeming. Pandangannya kosong.


"Pak Kades?" panggil wanita itu lagi. Kali ini dia mengetuk pintu yang terbuka setengah itu sedikit lebih kuat.


"Y-ya. Ada apa, Bu Salma?"


"Mau minta paraf berkas-berkas ini, Pak," jawab wanita yang sudah kepala empat itu.


"Oh, silakan masuk."


Kepala Desa Citraloka itu lalu memaraf satu per satu berkas milik warga yang di bawa Bu Salma. Tepat di map ke-empat, gerakan tangannya berhenti. Matanya menatap sebuah potret ukuran tiga kali empat dengan tajam.


"Ini berkas milik siapa, Bu?" tanya Kelapa Desa itu.


"Ini punya Abisatya, Pak. Dia mengurus KK baru, serta surat pindah istrinya," ucap Bu Salma.


"Oh," gumam lelaki itu.


"Memangnya kenapa, Pak? Apa ada yang salah? Atau kurang?" tanya Bu Salma memastikan.


"Nggak, kok. Lengkap semua," ujar Pak Kades sambil meneruskan pekerjaannya. "Ini udah semua, ya," ujarnya beberapa saat kemudian.


"Baik, Pak. Saya permisi dulu." Bu Salma pun meninggalkan ruang kerja atasannya.


"Ternyata ingatanku nggak salah. Wanita yang tadi malam datang itu adalah istri dari Satya. Tapi kenapa dia bisa mendatangiku? Gimana caranya?"


"Apa itu sekedar mimpi basah belaka, karena aku jarang bertemu Rani? Tapi gimana menjelaskan dress hitam yang tergantung di kamar mandi?"


Sejuta pertanyaan pun berkumpul di kepala Aksa saat ini.


...***...


Masih pukul delapan pagi, tetapi suasana rumah pagi ini sudah sepi. Tari sudah pergi ke sekolah, sementara Endaru pergi bekerja. Bapak dan Ibu juga sudah meninggalkan rumah lebih dulu, menuju ke kebun sayur mayur milik mereka.


Satya melihat sang istri duduk termenung menghadap ke jendala. Rambut panjangnya tampak basah, dan meneteskan air ke lantai. Matanya memandang kosong menuju ke halaman depan rumah yang langsung menghadap ke jalan.


Satya paham, pasti Laksmi belum betah dan terbiasa di tempat asing ini. Sudah menjadi tugas Satya untuk membuatnya nyaman di sini. Mereka pun belum benar-benar memiliki waktu berduaan untuk berbulan madu.


Srek! Srek!


Laksmi merasa seseorang menyentuh rambutnya. Dia pun menoleh. Ternyata Satya sedang membantu mengeringkan rambutnya dengan sebuah handuk.

__ADS_1


"Mas, sini handuknya. Biar aku aja," pinta Laksmi. Dia merasa sakit, setiap tangan Satya menyentuh tubuhnya.


"Gak apa-apa, biar Mas aja," balas pria itu dengan sangat lembut. Setelah itu dia beranjak mengambil sebuah sisir.


"Kamu bosan ya di sini?" tanya Satya sembari menyisir rapi rambut panjang sang istri. "Kelihatannya kamu dari tadi bengong terus," imbuhnya.


"Nggak, kok," balas Laksmi singkat. "Aku cuma nggak nyangka aja, sekarang aku punya suami, punya ibu, adik dan dua orang ayah," sambungnya tanpa menoleh ke belakang.


Satya tertawa mendengarnya, lalu berkata, "Aku juga bersyukur punya kamu. Wanita pertama dan terakhir dalam hidupku."


Laksmi mengangkat kepalanya. Menatap wajah sang suami dengan alis bertaut. Ekspresinya tak bisa ditebak, apa yang sedang dia pikirkan saat ini.


"Kenapa lihatin aku kayak gitu? Aku grogi, nih," ucap Satya sambil mengedipkan sebelah matanya dengan nakal.


"Apa benar aku wanita pertamamu? Dengan wajah tampan dan tubuh sempurna begini, bukankah kamu bisa dengan mudah memilih wanita yang kamu inginkan? Apa aura dan aroma kuat yang aku rasakan waktu itu memang beneran menunjukkan kesucian lelaki ini?"


"Laksmi? Kenapa sih? Kok malah diam dan bengong gitu? Aku jadi grogi beneran, nih," ulang Satya.


"Cuma mau lihat suamiku aja. Emangnya gak boleh?" balas Laksmi sambil tersenyum nakal.


"Apa, sih?" Satya tertawa kecil. "Ah, aku baru ingat. Sayang, buka kado, yuk."


"Loh, bukannya semua kado udah dibuka kemarin?" Laksmi pun mengalihkan pandangannya dari jendela.


"Ketinggalan satu kado. Yang ini paling spesial." Satya melesat ke dalam kamar, dan muncul lagi membawa sebuah kado berukuran sedang. "Ayo dibuka," pintanya.


"Iya, ini HP untuk kamu. Hadiah dari aku. Di dalamnya udah ada nomor semua anggota keluarga kita, termasuk ayahmu. Nanti kamu bisa menambahkan nomor teman-temanmu di dalamnya," jelas Satya.


"Tapi aku nggak punya teman."


"Hm?"


Wajah datar Laksmi justru membuat hati Satya trenyuh. Dia memang sudah mendengar, bahwa Laksmi selalu jarang bersosialisasi dengan para tetangga karena penyakit yang diidapnya. Tetapi tak disangka separah ini.


"Sekarang aku temanmu. Jadi kalau ada apa-apa, kamu harus cerita sama aku," ucap Satya memamerkan senyuman mautnya yang membuat wanita jatuh cinta dalam sekejap.


"Jangan jadi orang terlalu baik, Satya. Energi baikmu bisa membunuh jiwaku. Hanya aku yang boleh membunuhmu pelan-pelan," bisik Laksmi. Tentu saja Satya tak bisa mendengarnya.


"Yuk, kita coba terlepon ayahmu dengan HP-mu. Pasti dia rindu, karena ditinggal anak gadisnya sendirian," usul Satya.


"Nggak usah, di sana susah sinyal. Lagian jam segini Bapak pasti lagi di kebun," balas Laksmi.


Satya mengerutkan keningnya. Dia cukup heran, karena Laksmi menolak menghubungi ayahnya, bahkan hendak merebut benda elektronik tersebut. Bukankah selama ini mereka hanya tinggal berdua di rumah?


"Nggak apa-apa, coba aja dulu. Ayahmu pasti rindu dengan suaramu," bujuk Satya lagi. Dia lalu menekan tombol call, pada nomor telepon ayah mertuanya.

__ADS_1


"Loh, kok nggak nyambung ya? Padahal nomornya benar." Satya mencoba menelepon nomor yang sama hingga beberapa kali. "Apa di sana beneran nggak ada sinyal?" pikir Satya sedikit resah.


Bukan Satya namanya kalau langsung menyerah. Dia mencoba menelepon ayah mertuanya dengan HP miliknya sendiri. Kali ini teleponnya langsung tersambung, tetapi sesaat kemudian langsung terputus.


"Aneh," gumam Satya.


Drrrttt! Layar HP Satya mendadak menyala. Sebuah nomor tak dikenal meneleponnya.


"Halo?"


"Halo, Satya. Ini Pak Damar. Apa tadi kamu menelepon Pak Dukun?" terdengar suara lelaki di seberang sana.


"Iya, Pak. Bapak mertua saya kok nggak bisa dihubungi, ya?" tanya Satya.


"HP Pak Dukun lagi rusak. Gak bisa menelepon dan angkat telepon," jelas Pak Damar.


"Oh, begitu. Boleh saya bicara dengan Bapak sebentar?" pinta Satya.


"Beliau lagi sakit, Satya. Baru aja tertidur habis minum obat," kata Pak Damar.


"O-oh, gitu ya Pak. Makasih infonya." Tanpa banyak bertanya lagi, Satya langsung memutus teleponnya dengan Pak Damar. "Dek, ayo siap-siap. Kita pergi menjenguk Bapak," ajak Satya pada sang istri.


"Mau ke mana, Mas?" tanya Laksmi. Dia malas berkeliaran di luar rumah saat siang hari. Terik matahari dan aura dari jiwa-jiwa manusia yang berpapasan dengannya, bisa membuat energinya terkuras.


"Kita pulang ke kampung halamanmu. Ayahmu sedang sakit," jelas Satya.


Pria itu pun lantas mengganti pakaiannya dan menghubungi salah satu rekannya untuk meminjam mobil. Dia tak mungkin membawa Laksmi yang sensitif dengan sinar matahari itu, menggunakan sepeda motor bututnya selama satu setengah jam perjalanan.


Laksmi pun tak bisa membantah. Meski hatinya tak ingin, dia segera bersiap untuk pergi. Menolak ajakan Satya hanya membuat Satya semakin curiga padanya.


"Aku sewa dulu mobilnya ya, Gus," ucap Satya saat menerima kunci mobil dari tetangga yang juga temannya, Agus.


"Gak usah pake sewa-sewa, lah. Cukup isikan minyaknya sampai full," ucap Agus sambil cengengesan.


"Hmm, yo sami mawon, Gus," balas Satya saat melihat minyak mobil itu tinggal segaris. -Ya sama aja-


"Hehehe... Emangnya sampeyan mau pergi sama siapa, to? Tumben pinjam mobil," tanya Agus yang tak melihat siapa pun bersama Satya. -kamu-


"Sama istriku," jawab Satya sambil menunjuk ke belakang, tepatnya di samping mobil hitam itu.


"Hah? Iku istrine Satya? Lah kok mirip Tante Suzanna?" batin Agus sambil mengalihkan pandangannya. -Hah? Itu istrinya Satya?-


"Yo wes, aku pergi dulu, yo," kata Satya menyudahi obrolan mereka.


"O-oke." Agus hanya menyengir dan menahan pipis, saat melihat sosok mirip aktris horor itu memasuki mobil, dan duduk di sebelah Satya. "D-dia nggak punya kaki," jerit Agus dalam hati.

__ADS_1


(Bersambung)


__ADS_2