Istriku Kuntilanak

Istriku Kuntilanak
Bab 51. Cinta Pertama


__ADS_3

"Kinan, nanti sepulang sekolah kamu gak sibuk, kan? Ada yang mau aku omongin ke kamu."


Seorang pemuda berambut cepak dan memiliki wajah bagaikan ras kaukasian, menegur Kinanti yang baru saja kembali dari ruang guru. Senyuman canggungnya menjadi bertambah canggung, saat beberapa teman tersenyum nakal ke arah mereka.


"Oh, Aksa. Aku nggak sibuk, kok. Sekarang juga nggak sibuk. Kenapa nggak diomongin sekarang aja?" balas perempuan yang memiliki rambut panjang dan dibiarkan terurai itu dengan polos. Kulit putihnya sangat kontras dengan rambut hitamnya yang berkilau.


"Emh, jangan di sinilah. Aku malu. Nanti aja ngomongnya. Kalau kamu bisa, aku tunggu di belakang sekolah, ya," ujar Aksa lagi.


"Belakang sekolah?" Kinanti agak ragu untuk mengi-iya-kan ajakan siswa populer itu.


"Kalau nggak, di bawah pohon ketapang samping sekolah aja," ralat Aksa. Pokoknya dia menggunakan banyak bujukan untuk mengajak Kinanti ketemuan.


"Hmm, yaudah. Nanti aku ke sana," ujar Kinanti sambil tersenyum manis.


"Yes!" jerit Aksa di dalam hati.


Tepat setelah pulang sekolah, di saat para siswa berhamburan pulang, Kinanti pun pergi ke deretan pohon ketapang di samping kelas mereka. Tempatnya cukup sepi, karena jarang didatangi siswa.


"Kamu datang sendirian, kan?" selidik Aksa, saat Kinanti menemuinya.


"Iya. Aku sendirian, kok. Tapi kamu mau ngapain, sih? Kalau aneh-aneh aku tinggal, nih," kata Kinanti sambil memperhatikan sekeliling.


"Tunggu dulu. Nggak aneh-aneh, kok. Aku mau ngasih ini sama kamu." Aksa menyodorkan sebuah benda bersampul plastik bening pada Kinanti.


"Novel?" ucap Kinanti bingung.


Aksa mengangguk, "Kamu suka baca novel, kan? Ini aku belikan untuk kamu. Novel ini populer tahun lalu. Belum terlambat kok untuk dibaca sekarang," jelas Aksa masih memegang novel Supernova milik Dee Lestari, yang terbit tahun 2001.


"Ini kan mahal. Kenapa kamu ngasih aku ini?" tanya Kinanti bingung.


"Sebenarnya ini nggak mahal, kok. Karena aku beli di toko buku bekas. Tapi bukunya masih cantik dan aku sampul ulang," kata Aksa bersemangat.


"Tapi tetap aja ini terlalu istimewa. Kenapa kamu mau ngasih hadiah sebagus ini padaku? Aku nggak lagi ulang tahun, dan kita juga bukan teman akrab."


"Hmm, begini Kinan. A-aku suka sama kamu dari kita kelas satu. M-mau nggak pacaran sama aku?"


Aksa menghela napas panjang, setelah mengucapkan kalimat itu. Nampaknya dia sudah menghapalkan kalimat template untuk menembak wanita itu sejak lama.


"Hah?"

__ADS_1


"Kok hah?" balas Aksa sedikit kecewa dengan reaksi Kinanti.


"Ma-maaf. Tapi aku kaget," ucap Kinanti.


"Kamu nggak harus jawab sekarang, kok. Pikir-pikir aja dulu," kata Aksa sambil tertunduk malu.


"Aksa, kayaknya aku nggak bisa pacaran denganmu," ujar Kinanti lirih.


"Kenapa? Kamu udah pacaran sama orang lain? Atau lagi suka sama orang?" selidik Aksa.


"Nggak dua-duanya, kok. Aku cuma mau fokus sama sekolahku dulu. Setidaknya sampai tamat SMA. Kamu tahu, kan? Orang tuaku bukan keluarga kaya," ungkap Kinanti.


"Ah, jadi begitu? Kalau aku tunggu kamu sampai kelulusan SMA, boleh kan?" ucap Aksa penuh harap.


"Itu terlalu lama, Aksa. Memangnya kamu sanggup? Kamu boleh cari perempuan lain kalau terlalu lama menungguku," kata Kinanti.


"Kalau aku sanggup bagaimana?" balas Aksa dengan percaya diri.


Kinanti terperangah mendengarnya, "Aksa, sebaiknya kamu jangan terlalu berharap padaku. Masih banyak perempuan populer yang ingin berpacaran denganmu," kata Kinanti.


"Mau fokus belajar itu cuma alasanmu, kan? Kamu sebenarnya cuma ingin menolakku?" ujar Aksa dengan nada sedikit tinggi.


Aksa menarik napas panjang, "Ya sudah. Aku nggak akan memaksamu. Tetapi ambillah buku ini. Bisa kamu baca kalau lagi suntuk abis belajar." Aksa kembali menyodorkan novel yang telah dia beli.


"Terima kasih, Aksa. Tetapi aku sungkan mengambilnya. Nanti saja aku pinjam padamu kalau lagi pengen baca," tolak Kinanti lagi.


...***...


"Padahal aku sudah menyiapkan hadiah khusus ini untukmu, Kinan... Hadiah yang seharusnya aku berikan padamu, tepat di kenaikan kelas kita nanti. Tetapi tak kusangka, tragedi mengerikan itu malah terjadi."


Aksa mengusap formulir beasiswa universitas negeri, yang kertasnya telah berubah menjadi warna cokelat. Formulir itu ada dua lembar, dan diselipkan di tengah-tengah buku novel. Satu untuk Kinanti dan satunya lagi untuk dirinya sendiri.


Dulu setelah mendengar alasan getir Kinanti menolaknya, Aksa pun berupaya mendapatkan formulir beasiswa tersebut dari sepupunya yang berkuliah di kampus yang sama. Aksa berharap, dia dapat kuliah bersama-sama gadis itu, lalu mempersuntingnya.


"Mas, ngapain kamu pegang-pegang novel lecek itu? Berdebu, ih," tegur Rani sambil mengibas-ngibaskan tangannya di depan hidung.


Aksa tak menjawab. Dia kembali menyimpan novel tua itu ke dalam laci lemari, lalu menguncinya.


"Ngapain disimpan lagi, sih? Mending dijual aja di tukang loak."

__ADS_1


"Jangan pernah mengambil buku itu dari dalam laci ini. Kalau sampai hilang atau robek, kamu tanggung aja akibatnya," ancam Aksa tiba-tiba.


Langkah kaki Rani terhenti, saat jarak mereka kurang dari lima hasta. Hati Rani mendadak gondok, karena Aksa lebih menyayangi novel tua itu daripada dirinya.


"Memangnya itu novel apa, sih? Dari siapa? Kok disayang-sayang terus?" selidik Rani penasaran.


"Ini novelku. Aku yang beli di pasar loak waktu SMA dulu. Benda pertama yang aku beli dari uang hasil jerih payahku sendiri. Jadi jangan coba-coba kamu ambil, ya," ancam Aksa lagi.


"Ya sudah, terserahmu. Tapi malam ini kamu cari makan sendiri. Aku mau pergi ke rumah ibuku bersama anak-anak," balas Rani dengan wajah bertekuk.


Perempuan itu lantas memutar tubuhnya, dan berjalan menuju keluar kamar. Saat melewati pintu, dia memperlambat langkahnya dan menoleh ke belakang. Hatinya kecewa saat mengetahui bahwa Aksa tak mengejar dirinya, seperti yang diharapkan.


...***...


"Kenapa sih, bengong mulu? Biasanya pengantin tuh senyum mulu."


Hadyan mengambil kursi dan duduk di hadapan rekan kerjanya. Suasana kantor cukup sepi, karena ini jam istirahat.


"Mikirin siapa lagi coba, selain Laksmi. Mau ke Dusun Wingit juga belum sempat," jawab Satya sambil menghela napas panjang.


"Kali ini apa lagi keanehan yang dia buat?" tanya Hadyan. Jomblo sejati itu selalu setia mendengarkan curhatan Satya.


"Bukan dia yang aneh. Tapi orang-orang di sekitarnya," kata Satya.


"Hah? Maksudnya gimana?" Hadyan bingung mendengarnya.


"Kemarin ada anak kecil yang teriak, kalau aku membonceng hantu. Dan ini bukan pertama kalinya."


"Memangnya siapa aja yang udah ngomong gitu?" tanya Hadyan semakin penasaran.


"Agus, dia berteriak ketakutan sambil menunjuk ke arah Laksmi. Lalu seorang nenek yang kutemui di toko oleh-oleh juga takut melihat Laksmi. Kamu juga, kan?" Satya melemparkan pandangannya ke arah Hadyan.


"Ya, sejak pertama kali ketemu aku merasa dia sedikit aneh dan menyeramkan."


Hadyan masih mengingat pertemuan pertamanya dengan Laksmi. Senyumnya yang aneh masih sering membuatnya bermimpi buruk sampai sekarang.


"Tapi aku nggak tahu apa penyebabnya. Padahal beberapa orang pintar yang kita datangi bilang, kalau Laksmi tidak menggunakan ilmu hitam, kan?" komentar Hadyan.


"Jadi ada rahasia apa sebenarnya pada Laksmi? Anak kecil nggak mungkin berbohong, kan?" Pikir Satya semakin penasaran.

__ADS_1


(Bersambung)


__ADS_2