
"Pak, Bu. Aku ... Mau menikah."
Pak Darya dan Bu Kesha saling bertukar pandang. Ibunda dari Satya itu lantas berhenti mengunyah, lalu bertanya, "Menikah?"
"Iya."
"Emang Mas punya pacar? Kok nggak pernah dikenalin?" celetuk Gendis Utari, adik bungsu dari Satya.
"Gak harus punya pacar biar bisa menikah, kan?" Satya membalas pertanyaan sang adik, dengan sebuah pertanyaan pula.
"I-iya, sih," gumam Tari sambil menyengir.
"Bapak sih senang kamu mau menikah. Tapi ini tiba-tiba banget. Calonnya orang mana? Apa Bapak dan Ibu pernah ketemu?" ucap Pak Darya disela-sela mengunyah sarapannya.
"Belum pernah, Pak. Laksmi tinggal di Dusun Wingit, dekat Alas Roban Ketonggo," jawab Satya dengan gugup.
"Oh, namanya Laksmi? Cantik namanya," sahut Bu Kesha sambil tersenyum tipis.
"Iya, Bu." Satya tersenyum malu.
"Cantik nggak? Aku mau lihat fotonya," kata Ndaru penasaran, diikuti anggukan kepala Tari.
"Apaan sih, Dek? Mas cari istri bukan yang cantik, tapi yang baik, penyayang dan bikin Mas nyaman," protes Satya.
"Iya, Mas. Kami tahu. Aku cuma penasaran mau lihat orangnya, kok. Ojo sewot, to," jelas Ndaru sambil terkekeh.
"Bapak juga penasaran mau lihat orangnya," ujar Bapak menimpali.
"Aku nggak punya fotonya, Pak," jawab Satya.
"Lah?" gumam Bapak dan Ibu bersamaan.
"Lihat di wassap atau media sosialnya aja, Mas. Di sana pasti ada fotonya," usul Tari.
"Dia aja nggak punya HP, apalagi media sosial," jawab Satya lagi.
__ADS_1
Ndaru dan Tari saling berpandangan. Demikian juga dengan Pak Darya dan Bu Kesha. Pertanyaan di kepala mereka saat ini kurang lebih sama. Memangnya ada anak zaman sekarang gak punya HP dan media sosial? Apalagi ini masih di Pulau Jawa.
Mereka semua tahu, Abisatya Darmana tidak pernah memiliki pacar dan teman dekat perempuan, selama dua puluh sembilan tahun hidupnya. Dia sangat kaku mendekati perempuan.
"Le, Bapak ndak mengatur-ngatur kriteria istri kamu harus seperti apa. Tapi Bapak cuma penasaran, kamu kenal dia di mana? Udah berapa lama?" Pak Darya melemparkan pertanyaan pada putranya dengan sangat lembut.
"Kami memang belum lama kenal, Pak. Tapi dia cewek baik-baik, kok. Mungkin karena dia orang desa dan gak tamat SMA, jadi hidupnya gak se-modern kita," jelas Satya.
"Orang tuanya?" selidik Bapak lagi.
Satya sedikit ragu mau menjawabnya. Tapi tatapan kedua orang tuanya yang menunggu jawaban, membuat Satya membuka mulutnya. "Bapaknya petani di sana. Sesekali juga mencari damar di hutan. Kalau ibunya udah lama meninggal," jawab Satya.
"Ya sudah, kalau kamu merasa cocok dan nyaman. Jadi kapan kamu mau mengenalkannya sama Bapak dan Ibu?" pinta Bapak.
...***...
"Menikah?"
Pak Dukun memutar bola matanya, menghindari tatapan langsung dengan sosok berlumuran darah yang mengambang di hadapannya. Tetapi sialnya, ke mana pun dia memandang, sosok itu seakan mengikuti gerakan pupil matanya sambil menyeringai lebar.
"Hihihihi ..." Bukannya menjawab, sosok itu justru tertawa cekikikan hingga suaranya menggema ke seluruh ruangan.
Tik! Tik! Tik! Denting jarum jam terdengar begitu nyaring di malam hari. Ekor mata pria itu melirik ke arah jam dinding. Jarum jam sudah menunjuk ke arah angka satu. Ternyata dia sudah hampir tiga puluh menit dia berjibaku dengan makhluk astral itu.
"Ternyata masih ada saja orang bodoh di zaman modern ini. Mau ngapain sih mereka menikah gaib dengan makhluk ini?" gumam Pak Dukun.
"Ini bukan pernikahan gaib. Tetapi menikah resmi dengan manusia," jelas makhluk itu dengan suara melengking dan mata hitam yang entah menatap ke mana.
"Menikah resmi?" ulang Pak Dukun tak mengerti. Bagaimana sesosok hantu mau menikah secara resmi dengan manusia? Terdengar lucu, tapi dia nggak bisa tertawa saking takutnya.
"Yaaa ... Aku menginginkannya."
Suara gumaman wanita bernada alto itu, membuat aura dari ruangan kecil itu kian mencekam. Bulu kuduk Pak Dukun semakin meremang. Ratusan bahkan ribuan kali melihat makhluk itu, ternyata tak membuat rasa takut pria berusia enam puluh tahun itu luntur. Tubuhnya membeku di hadapan sosok berambut panjang tanpa kaki tersebut.
"Apa kamu takut denganku, Pak? Hihihihihi ..."
__ADS_1
"Hahaha ... Nggak, kok. Kamu kan makhluk ciptaan Tuhan juga," balas Pak Dukun seraya mengusap keringat dingin di keningnya. "Kenapa makhluk ini selalu menghantuiku, sih?" pikir Pak Dukun.
"Aku bukan menghantuimu. Aku memerlukan pertolonganmu. Nikahkan aku dengan Abisatya Darmana."
Pak Dukun tersentak kaget mendengarnya, ternyata makhluk itu bisa mendengar isi hatinya. Dia ingin lari dari sana, tetapi kakinya kaku bagai batu.
"Jangan pergi ... Jangan pergi ... Ikuti keinginanku. Hihihihihi ..."
Sosok itu melayang turun, hingga kain putihnya yang kusam menyentuh lantai. Kedua tangannya memanjang, menyentuh bahu Pak Dukun. Namun pria itu tak merasakan apa pun saat mereka bersentuhan.
"Dasar kuntilanak! Aku nggak akan membantumu, makhluk laknat."
"Aku bukan kuntilanak! Aku anakmu. Apa kamu mau rahasia anakmu terbongkar?"
Kepala makhluk itu tiba-tiba memutar lehernya tiga ratus enam puluh derajat, lalu mendekatkan wajah pucatnya di hadapan Pak Dukun. Jarak mereka saat ini kurang dari dua sentimeter.
Pak Dukun terdiam. Dia bisa merasakan cairan hangat berbau pesing, merembes di celana hitamnya. Batinnya melafazkan doa-doa, untuk mengusir makhluk itu.
"Anakmu... Anakmu, Pak. Hihihihi ..."
"Lebih baik aku pingsan saja, dari pada aku harus berhadapan dengan makhluk ini," batin Pak Dukun. Namun sayang, harapannya tidak terkabul. Makhluk itu masih menerornya sampai keinginannya dituruti.
"Sudah cukup, Mbak Kunti. Apa nggak capek ketawa terus dari tadi?" kata Pak Dukun memberanikan diri.
"Apa kamu takut?" Suara alto itu terus menerus menggema di ruangan kecil itu.
"Aku nggak takut. Dan aku nggak akan membantumu. Sudah cukup kamu mengorbankan banyak pria demi membalaskan dendammu. Jangan sampai terjadi lagi," ucap pria itu. Dia mengabaikan celananya yang sudah bau pesing.
Wajah pucat makhluk itu tampak beringas. Barisan giginya yang runcing berlumuran darah. Matanya yang hitam dan bolong kian membesar, mengikuti ukuran tubuhnya yang semakin tinggi. Kini kepala makhluk itu sudah menyentuh langit-langit rumah, sementara baju putihnya masih menyapu lantai.
"Dia berbeda. Wangi dan aura tubuhnya khas. Dia pasti salah satu dari cowok laknat itu."
"Nggak! Aku nggak mau lagi membantumu," tegas Pak Dukun.
"Kau sudah lupa pada janjimu, Pak Dukun. Aku akan menagihnya sekarang. Hihihihihi ..."
__ADS_1
"Janji? Janji apa?" pikir Pak Dukun gelisah. Dia tak ingat, pernah berjanji dengan makhluk itu.
(Bersambung)