
"Haaah, lagi-lagi gak ada keanehan. Semua nampak normal."
Satya menarik napas panjang, setelah melihat video rekaman sholat jamaah mereka semalam. Laksmi benar-benar terlihat sholat, hingga selesai. Ketika mengaji pun, istri dari Satya tersebut tidak menunjukkan gerak gerik yang mencurigakan.
"Apa memang aku yang terlalu curiga padanya?" Lagi-lagi Satya menemui jalan buntu.
"Bapaaak!"
Jeritan Tari dari arah belakang rumah, membuat Satya buru-buru keluar kamar. Dia takut terjadi apa-apa pada adik bungsunya itu.
"Ada apa, Nduk?" Ternyata Bapak dan Ibu telah lebih dulu sampai ke belakang rumah.
"Lihat ini. Ada banyak bangkai ayam," lapor Tari.
Sebelah tangannya menutup hidung, untuk menghindari bau bangkai yang menguar ke mana-mana. Sedangkan sebelah tangannya lagi menunjuk ke arah potongan bangkai ayam, yang berserakan di belakang rumah.
"Astaghfirullah. Apa makhluk itu juga ke sini tadi malam?" seru Bu Kesha bergidik ngeri. Cerita tentang penampakan kuntilanak yang menyerang ayam milik Aruna telah menyebar ke seantero desa.
Pak Darya tak berani menampiknya. Jika dulu dia tidak percaya dengan penampakan seperti itu, sejak melihatnya langsung tadi malam, dia nggak bisa menyangkalnya lagi.
"Tapi itu bukan ayam punya kita, Bu. Warna bulunya berbeda," kata Satya setelah memeriksanya dengan teliti. "Mungkin tadi malam ada musang, dan membawanya hingga ke sini," imbuhnya.
"Semoga saja begitu. Ngeri banget kalau sampai makhluk itu bergentayangan di sekitar sini juga," ujar Bu Kesha lagi.
Laksmi yang berdiri di balik pintu dapur tertunduk sedih. Memang benar semua itu adalah ulahnya, yang kelaparan dan hampir terbakar setelah mengikuti Satya beribadah. Tetapi saat mengetahui seluruh anggota keluarga Satya merasa ketakutan, dia merasa sedikit sedih.
Aneh, kan? Padahal dia sudah jadi hantu.
"Loh, Laksmi. Kamu sudah selesai mandi?" ucap Satya dengan lembut. Laksmi hanya mengangguk tanpa suara.
"Nduk, tanganmu kenapa? Kok seperti melepuh begitu?" Bu Kesha mendekati menantunya dan memperhatikan luka-luka di sekujur tangan Laksmi. Satya pun baru menyadarinya.
"Mungkin aku kebanyakan kena sinar matahari, Bu. Ini nggak apa-apa, kok," kata Laksmi menenangkan ibu mertuanya.
"Lain kali kamu jangan keluar rumah, kecuali terpaksa. Biar aja Ibu dan Tari yang mengerjakan tugas di luar. Jangan sampai kamu sakit lagi."
"Nggeh, Bu."
Laksmi menundukkan kepalanya dalam-dalam. Andai saja dia seorang manusia, dia pasti sudah menangis saat ini. Dia juga gak akan menyia-nyiakan lelaki sebaik Satya.
"Ya sudah, kalian siap-siap sekolah dan ke kantor sana. Biar Bapak yang membereskan bangkai ayam ini," kata Pak Darya yang telah memegang cangkul.
Satya pun kembali ke kamarnya untuk bersiap ke kantor. Sementara Laksmi masih bersama Bu Kesha di dapur, untuk memasak sarapan.
"Loh, ini?" Satya membungkuk dan mengambil sesuatu di lantai. Dia memperhatikan benda di tangannya itu dengan seksama. "Ini kan bulu ayam? Mirip dengan yang di belakang rumah tadi. Kok bisa ada di sini?" pikirnya bingung.
__ADS_1
Tak mau ambil pusing, dia lalu membuang bulu ayam itu ke dalam tong sampah dan memasuki kamar mandi. Namun Satya kembali dibuat terkejut dengan baju kotor Laksmi yang tergantung di dalam kamar mandi. Sepertinya perempuan itu lupa membawanya. Lelaki itu kembali menemukan bulu ayam menempel di sana.
Mau tak mau Satya pun semakin curiga. Ini bukan kebetulan. Gak mungkin bulu ayam bisa menempel sebanyak ini di baju Laksmi. Terlebih ada bercak darah juga di sana.
"Apa Laksmi ada keluar rumah dan melihat bangkai ayam itu, sebelum Tari menemukannya? Atau... Jangan-jangan dia ..." Satya bergidik ngeri, sebelum sempat memikirkannya. "Ah, sudahlah. Nanti aku tanyakan aja langsung."
Satya segera melucuti pakaian, dan menggantungnya di sebelah kain milik Laksmi. Saat memejamkan mata kala mengguyur air ke pucuk kepala, muncul bayangan sosok wanita berambut panjang tanpa kaki menjulurkan tangannya.
Napas Satya terengah-engah dan segera membuka mata. Itu hanya ilusi. Di kamar mandi ini dia hanya seorang diri, benar-benar sendiri. Satya pun kembali mengguyur tubuhnya tanpa memejamkan mata.
"Satya, andaikan kamu bisa melupakan semua kejadian ini seperti orang-orang yang kumanfaatkan dulu, kamu nggak harus ketakutan begini setiap hari."
Tangan panjang sosok itu mengusap kepala Satya yang basah. Wajah pucatnya menatap Satya dengan sayu. Baginya, Satya adalah sosok adik kecil yang sangat patuh dan dia sayangi. Jika saja Laksmi alias Kinanti masih hidup saat ini, usia mereka terpaut sepuluh tahun.
"Bersabarlah sedikit lagi, Satya. Kalau semuanya selesai, aku nggak akan mengganggumu lagi. Masih ada beberapa pelaku lagi yang belum aku jumpai," bisik Laksmi.
...***...
"Gak mau yang ini, Mas? Ini bagus, lho."
"Waduh, anak saya masih umur empat tahun, Mbak. Ini kegedan." Aksa bersusah payah menolak pelayan toko yang menawarkan baju kemeja lengkap dengan celana jeans-nya.
"Anak? Bukannya anaknya Aksa perempuan semua? Yang paling kecil kan sudah berumur lima tahun?" Seorang perempuan yang sedang memilih-milih baju, bergumam sendirian.
"Nggak deh, Mbak. Yang ini aja," jawab Aksa sambil mengangkat tiga pasang baju bertuliskan nama club bola.
"Ya udah, deh. Saya bawa ke kasir, ya." Pelayan toko itu pun membawa pakaian yang dipilih Aksa ke kasir.
"Ah, Mbak mau cari apa?" Pelayan toko lainnya menyapa pengunjung yang dari tadi berdiri di dekat deretan kemeja wanita. Wajahnya tertunduk dengan rambut diikat ke belakang.
"Dia ngomong sama siapa?" pikir Aksa bingung. Dia tak melihat siapa pun di depan pelayan itu. Tapi kemudian Aksa tak menghiraukannya. Lelaki itu menuju ke kasir untuk membayar belanjannya.
"Kyaaaa.!" Tiba-tiba pelayan toko tadi menjerit sekuat tenaga. Tubuhnya ambruk ke lantai. Kedua tangannya terangkat menutupi wajahnya.
"Ada apa?" Para pegawai toko berlarian mendekatinya.
"Darah! Perempuan itu berdarah!" Dia menunjuk-nunjuk ke depan tanpa melihatnya.
"Mana? Perempuan mana?"
Seketika toko pakaian itu menjadi heboh. Aksa yang baru saja menyelesaikan transaksi pembayaran, buru-buru melangkah pergi tanpa mau terlibat.
"Itu. Perempuan berbaju SMA itu," tunjuk pelayan toko itu lagi.
Tap! Langkah kaki Aksa reflek berhenti, ketika dia mendengar kata-kata SMA. Hatinya menjadi getir. "Dia nggak mengikutiku sampai sini, kan?" batinnya resah.
__ADS_1
"Heh! Jangan ngawur kamu! Dari tadi gak ada pengunju g berseragam SMA," bentak salah seorang pegawai toko yang lebih senior.
"Tapi aku beneran lihat, Mbak. Dia datang bersamaan cowok tadi, dan berdiri di dekat sini," ucap gadis itu membela diri.
Mendengar kata-kata itu, Aksa semakin mempercepat langkahnya. Dia sudah trauma dengan penampakan Kinanti. Aksa pun tak mau lagi berurusan dengan makhluk halus itu.
...***...
"Assalamualaikum."
"Waalaikumussalam," Seorang perempuan membalas ucapan salam dari Aksa, lalu membukakan pintu. Tangannya pun terulur menyalami Aksa.
"Papa..." Seorang bocah kecil berlari kencang, dan memeluk kaki si kepala desa itu.
"Evano. Duh, Papa kangen banget." Aksa berjongkok dan memeluk bocah laki-laki itu.
"Vano juga kangen Papa."
"Ini ada hadiah untuk kamu." Aksa menyodorkan sekantong plastik pada putranya.
"Asyik. Baju baru. Tapi mana ketapel dan layang-layang pesananku, Pa?" ucap bocah kecil itu dengan fasih.
"Haduh! Papa lupa. Nanti kita bikin sama-sama, ya." Bocah kecil itu hanya mengangguk senang, mendengar ucapan Aksa.
"Mas, kamu janji ke Vano kayak gitu, memangnya kamu mau menginap di sini?" tanya perempuan manis bernama Dewi Kamaratih itu.
"Iya. Aku menginap di sini satu malam. Aku kan jarang pulang ke sini, Dek," kata Aksa.
"Haaah, aku dah nggak heran lagi, Mas. Kamu ngakunya sibuk terus. Untung aku ini perempuan mandiri," ucap Dewi.
"Iya, aku beruntung banget punya istri kayak kamu." Aksa mengecup pipi perempuan itu dengan mesra.
"Mas, ini masih di luar, lho. Gak enak sama tetangga," tegur Dewi.
"Ya biarin. Kita kan suami istri," balas Satya sambil tersenyum nakal.
"Ya, sih. Tapi tetap aja. Emangnya Mas nggak segan sama teman Mas itu?"
"Hah? Teman mana?" Aksa bingung dengan ucapan Dewi.
"Itu, perempuan rambut panjang yang duduk di mobil. Emangnya itu bukan teman Mas? Terus dia siapa?" ucap Dewi dengan nada datar.
"Apa? Perempuan di mobil?" Lutut Aksa menjadi lemas seketika.
(Bersambung)
__ADS_1