Istriku Kuntilanak

Istriku Kuntilanak
Bab 67. Aneh


__ADS_3

"Nada... Kamu di mana, Nak? Nada..."


"Bapak sama Ibu cari siapa? Biar kami bantu." Para tetangga mulai berdatangan, karena mendengar teriakan Aksa dan Rani sejak tadi.


"Anak kami, Pak. Umurnya lima tahun. Rambutnya panjang dikepang dua, pakai baju warna pink." Rani menjelaskan ciri-ciri anaknya dengan detail.


"Maksudnya anak kecil di sana itu?"


Salah seorang remaja menunduk ke arah pepohonan di depan rumah mereka. Di depan sana memang ada ruang terbuka hijau yang agak terbengkalai, sehingga lebih mirip dengan hutan mini. Terdapat juga genangan air yang membentuk rawa-rawa, jika sedang musim hujan.


"Astaghfirullah, Nada."


Rani berlari menuju putri kecilnya yang sedang asyik bermain air, di bawah sebuah pohon akasia. Sesekali gadis cilik itu tertawa kecil. Sementara Aksa yang baru selesai operasi, terpaksa menunggu di halaman rumah.


"Nak, kenapa main di sana sendirian?" seru Rani.


Melihat sang ibunda datang mendekatinya, bocah kecil itu mendadak berlari semakin ke dalam hutan. Dia tertawa riang, seakan mengajak berlari petak umpet. Sedetik kemudian, bocah itu menghilang di balik rerimbunan daun pakis.


"Nada, jangan lari, Nak." Rani kembali memanggil putrinya.


Para tetangga ikut berlari memasuki hutan mini seluas setengah hektar tersebut dan mengejar Nada. Aneh, padahal langkah kaki gadis cilik itu sangat pendek, tetapi mereka semua tak menemukan jejak Nada. Putri bungsu Rani tersebut lenyap.


Hingga dua jam kemudian, mereka tak menemukan Nada. Padahal seluruh sisi hutan mini itu telah dijelajah. Rintik hujan mulai turun, membuat genangan air di dalam rawa-rawa semakin meninggi.


Aksa tak bisa turut memasuki hutan mencari putrinya. Dia pun memanggil petugas pemadam kebakaran berserta Tim Sar untuk membantunya. Pencarian pun berlanjut hingga menjelang dzuhur. Rani ikut serta di dalam tim pencarian itu.


"Pa, ada apa ini?"


Najla terkejut melihat depan rumah barunya telah ramai, sementara ayahnya menangis sedih sambil menyebut nama Nada.


Karena tak kunjung dijemput oleh ibunya, gadis tujuh tahun itu pun nekat pulang sendirian berjalan kaki, dari sekolahnya yang masih berada tak jauh dari kompleks perumahan itu.


Rani memang sengaja mendaftarkan putri sulungnya ke sekolah, agar dia bisa bergerak bebas. Dia juga berencana mencari pengasuh untuk Nada, yang akan dijadikannya tumbal.


"Pa? Nada ke mana?" Najla kembali melontarkan pertanyaan.


"Adikmu sedang pergi main, Nak. Dan dia tersesat," jawab Aksa sambil menahan air matanya, agar tak kembali tumpah.


"Ketemu! Nada ketemu!" Teriak salah seorang Tim SAR. Lelaki berkulit gelap itu, menggendong bocah cilik berbaju pink.


"Nada?" gumam Aksa. Dengan bantuan Najla, Aksa pun berdiri tegak. Dia melangkah perlahan, mendekati sang pahlawan yang menemukan putrinya.


"Ya Allah, Nada. Akhirnya kamu ketemu, Nak."

__ADS_1


Aksa merangkul putri keduanya yang telah bermandikan lumpur. Gadis cilik itu tak menangis. Ekspresinya datar, melihat sekelilingnya dengan bingung.


"Kamu nggak apa-apa kan, Nak? Mama sama Papa khawatir banget," ucap Aksa lagi.


Ah, Aksa baru teringat. Dia belum melihat Rani sejak tadi. Ke mana dia? Apa masih di dalam hutan mencari putri mereka? .


"Nada!" Rani akhirnya muncul di tengah kerumunan. Seluruh tubuhnya sudah bermandikan lumpur. Tapi dia tak peduli. Perempuan itu menangis terharu karena putri kecilnya telah ditemukan kembali.


"Papa, Najla takut," bisik Najla sambil menunjuk ke arah sang adik.


"Takut apa, Nak?" tanya Aksa.


"Nada mengerikan," bisik bocah berseragam SD Swasta tersebut. Dia bahkan tak berani memandang adiknya yang coklat karena lumpur.


"Iya, sepertinya Nada terjatuh ke dalam lumpur tadi," jelas Aksa.


Setelah mengucapkan terima kasih pada semua orang, kedua pasangan itu akhirnya membawa Nada ke dalam rumah. Mereka lalu memandikannya hingga bersih.


Sejak awal ditemukan hingga selesai mandi, Nada sama sekali tidak mengucapkan sepatah kata pun. Sangat berbeda dari biasanya yang selalu berceloteh riang.


"Makan yang banyak, Nak. Kamu pasti lapar, kan?"


Setelah semuanya bersih, Rani pun mengajak kedua putrinya makan siang. Dia bahkan sudah lupa tentang pertengkarannya dengan Aksa tadi pagi. Mereka makan dengan lahap, seakan tak pernah terjadi sesuatu.


Grrrrk! Nada menyodorkan piring kosong pada sang ibunda. Rani mengernyit heran. Jarang sekali Nada menghabiskan makannya. Apalagi kalau nggak disuapin.


Nada menggeleng, "Lapar," ujarnya dengan jelas.


"Kamu mau tambah?" tanya Rani. Nada pun mengangguk kuat.


Rani kemudian mengisi kembali piring putrinya dengan nasi dan lauk pauk. Namun Nada kembali menghabiskannya dengan cepat.


"Aneh?" pikir Rani.


Nada masih tetap menyodorkan piringnya ke depan Rani, untuk minta diisi.


"Udah dulu, makannya. Nanti kamu sakit perut kalau terlalu banyak," kata Rani mulai merasa khawatir.


Namun Nada merengut kesal. Dia menatap Rani dengan tajam, dan menunggu piringnya untuk diisi. Melihat putri kecilnya, Rani pun tak tega. Dia kembali mengisi piring Nada.


"Mungkin dia memang kelaparan dan kecapekan. Maklum saja, dia hilang selama lima jam lebih," kata Aksa. "Nanti kita makan malam di luar saja. Aku akan minta Ujang datang menjemput," kata Aksa.


"Kebetulan! Aku harus memarahi Ujang nanti," gumam Rani dalam hati.

__ADS_1


Sepanjang siang, Rani menjaga ketat kedua putrinya agar tidak keluar rumah. Nada kini sibuk menggambar di kamarnya. Sementara Najla lebih memilih menonton TV di ruang tengah.


"Dek, kemasin semua barang-barangmu, ya. Kita malam ini akan pulang ke rumah," usul Aksa.


"Nggak! Aku nggak mau pulang sebelum kamu selesaikan urusan dengan Dewi," kata Rani bersikeras.


"Nggak bisa gitu, Dek. Aku sayang kalian berdua. Sayang anak-anak," kata Aksa dengan lembut.


"Tetap saja aku nggak mau, Mas. Aku nggak mau diduakan!" tegas Rani.


"Terus kamu mau tinggal di sini sampai kapan? Kamu mau Nada bermain ke dalam hutan itu lagi?" kata Aksa yang kesabarannya mulai menipis.


"Tapi aku juga nggak mau pulang ke desa. Teror kuntilanak itu terlalu mengerikan!" kata Rani.


"Ya udah, kamu dan anak-anak tetap tinggal di rumah kita yang di kota saja. Aku nggak akan memaksa kalian pulang ke desa," ujar Aksa mengalah.


Rani pun akhirnya luluh. Dia setuju untuk pindah dari rumah ini. Tetapi besok pagi, bukan malam ini. Karena dia harus menunggu kedatangan pemilik rumah ini besok pagi.


"Tapi Mas harus tidur sini," pinta Rani lagi.


"Terus ini gimana bekas operasiku? Aku kan masih rawat jalan, Dek," kata Aksa mulai lelah menghadapi sikap Rani.


"Nanti sekalian makan malam, kita sekalian cek up ke klinik dekat sini," kata Rani dengan tegas.


"Ya udahlah. Rasanya badanku juga capek bolak balik ke rumah Dewi," pikir Aksa mengalah.


...***...


Tak! Tak! Tak!


Rani mendengar suara berisik di tepi tempat tidurnya. Dia lalu membuka mata. Kamar tampak gelap gulita. Tangannya meraba-raba ke samping.


"Ah, aku kan tidur sendirian. Masih jam dua malam," gumam Rani setelah melihat jam dari HP-nya.


Tak! Tak! Tak!


Suara itu kembali terdengar. Bulu kuduk Rani pun merinding. Dia sedikit menyesal karena telah menolak tidur dengan Aksa. Selain karena dia marah pada sang suami, Najla juga mengaku takut tidur berdua dengan Nada. Akhirnya Aksa memilih tidur di kamar anak-anaknya.


Sreeet! Sreet! Tak! Tak! Tak! Ah, suara ribut itu kembali terdengar dan mengganggu telinga.


"Apa itu? Tikus? Atau cicak?" Rani memberanikan diri turun dari tempat tidur dan menyalakan lampu kamar.


"Nada?" Alangkah terkejutnya Rani, ketika melihat putri bungsunya sedang asyik bermain di samping tempat tidur. "Ngapain kamu di sini, Nak?" tanya Rani.

__ADS_1


Nada tidak menjawab. Dia hanya menatap Rani dengan matanya yang cokelat, lalu tertawa, "Kikikikikik..."


(Bersambung)


__ADS_2