
"Nggak ada yang rusak, kok. Semua bagus. Kulkasnya juga masih dingin. Tapi kok isi di dalamnya busuk semua, ya?" batin Satya sembari mengerutkan keningnya.
Lelaki itu tadi menemukan beberapa kantong plastik berisi daging dan ikan yang telah lembek dan berbau anyir. Tahu, tempe dan telur juga sudah tak layak makan. Dia bahkan langsung menguburnya agar baunya tidak menyebar. Hanya sayur mayur yang masih dalam kondisi bagus.
Angin berhembus pelan. Satya segera menutup hidungnya dengan tangan kiri. Kepala pria itu pusing karena dengan bau busuk seperti bangkai bercampur bau melati.
Dia merasa aromanya lebih pekat dibandingkan tadi. Satya sudah tak sabar untuk segera membuang daging busuk itu dan menimbunnya dalam tanah, agar tak menyebarkan bakteri dan penyakit.
"Sedang apa, Mas?"
Laksmi terheran-heran melihat suaminya yang baru pulang dari rumah sakit. Bukannya beristirahat, pria itu justru duduk di depan kulkas dengan beberapa peralatan di tangannya.
"Lagi memeriksa kulkas kita, Dek. Gak ada yang rusak, tapi kok makanan di dalamnya busuk semua, ya?" ujar Satya tanpa menoleh.
Laksmi hanya terdiam. Tentu saja dia tahu penyebabnya, karena itu adalah ulahnya. Dia mengganti sebagian bahan makanan di rumah ini, agar mereka tak menyadari siapa Laksmi sebenarnya. Sementara bahan makanan yang asli dia makan mentah-mentah, untuk mengatasi jiwanya yang lapar.
"Uh, baunya busuk banget. Setelah ini aku harus segera membuang daging busuk itu." Satya tiba-tiba mengangkat kepalanya dan teringat sesuatu. "Ah, tunggu. Aku kan sudah membuang dan mengubur semua isi kulkas yang busuk itu. Lalu bau busuk ini ..."
Pria itu kembali teringat bau kembang melati, bau bangkai dan kemenyan yang dikatakan Pak RT. Saat ini dia bisa mencium aroma yang serupa, dari tubuh Laksmi yang berada di sampingnya. Dia pun kembali menghubungkannya dengan rahasia Laksmi yang hendak dikatakan mertuanya saat itu.
"Nggak, nggak mungkin kan Laksmi yang bau bangkai? Sejorok-joroknya orang, gak ada yang memiliki bau seperti ini," pikir Satya menolak untuk percaya. Lagipula yang dia tahu, Laksmi selalu menjaga kebersihan dirinya.
"Apa jangan-jangan dia menggunakan ilmu hitam?" pikir Satya menebak-nebak.
"Kenapa lihatin aku kayak gitu, Mas?" tanya Laksmi dengan bingung.
"Ah, anu ... Nggak ada apa-apa, kok. Aku cuma kangen sama kamu," balas Satya dengan tergagap. "Gimana kabar ayahmu?" tanya Satya mengalihkan cerita.
"Hah? Ayahku?" Laksmi tak mengerti ke mana arah pembicaraan sang suami.
Satya menghela napas perlahan, lalu tersenyum kecil.
"Kamu lupa ya, kalau sekarang udah punya HP. Kenapa kamu gak menelepon dan menanyakan kabarnya? Apa ayahmu udah sehat atau belum?" kata Satya.
__ADS_1
"Hehe, maaf Mas. Aku beneran lupa," balas Laksmi sambil menyengir.
"Ya sudah, nanti kita telepon sama-sama," ujar Satya tanpa menoleh. "Terus sore nanti kita ke rumah Pak RT, ya. Mas mau mengantar makanan ucapan terima kasih, kafena kemarin mereka udah menemani di rumah sakit," ucap Satya.
"Hmm, ayo. Aku juga pengen jalan-jalan di desa ini," sahut Laksmi bersemangat.
...***...
Angin menerpa dari pintu belakang yang terbuka. Laksmi menunduk sejenak untuk merapatkan jaket yang dia kenakan. Rambut panjangnya yang tergerai turut turun ke bagian dada, dan sedikit menutupi wajahnya.
Satya masih asyik berbincang dengan Pak RT. Indra penciumannya kembali menangkap aroma bunga melati yang menguar tajam. Tetapi kali ini tidak diikuti oleh bau kemenyan dan bau bangkai. Dia pun berusaha mengabaikannya.
"Mungkin itu cuma bau kembang yang ditanam Bu RT di halaman," pikir Satya menenangkan hatinya. Padahal sebenarnya tidak ada tanaman melati di dekat sana.
Sementara Laksmi mulai tampak bosan, karena tidak menemukan topik pembicaraan yang tepat dengan Bu RT. Selama dua puluh menit, dia hanya mendengarkan obrolan Satya dengan tetua di situ.
Demi mengusir rasa bosan, dia pun menyibukkan diri dengan melihat-lihat sekeliling. Matanya tiba-tiba tertuju pada sebuah foto berbingkai cokelat, yang tergantung di dinding.
"Itu putri tunggal kami," jelas Bu RT, seakan memahami isi kepala Laksmi saat ini.
"Oh, cantik banget," puji Laksmi.
Bu RT hanya tersenyum tipis. "Kamu juga cantik kok, Nak," ucapnya.
Laksmi terus memandangi foto remaja perempuan yang mengenakan kebaya model lawas itu. "Aku yakin sekali sangat mengenal wajahnya. Tapi dia siapa?" Laksmi berusaha mengingat-ingat wanita yang dalam potret tersebut.
"Dek, ayo kita pulang. Sudah mau magrib." Satya tiba-tiba mengajaknya pulang. Mereka pun berpamitan dengan tuan rumah.
...***...
"Dek, pasang jaketnya yang benar, dong. Udaranya dingin, loh."
Satya membantu Laksmi menutup risleting jaket yang digunakan wanita itu. Keduanya berjalan beriringan, menapaki jalanan desa yang sedikit becek karena hujan siang tadi. Sesekali angin bertiup pelan, menggoyangkan pepohonan yang tumbuh rimbun.
__ADS_1
"Kenapa Satya baik banget padaku? Padahal jelas-jelas dia udah mulai mencurigaikku." Ekor mata Laksmi memandang suaminya dengan penuh tanda tanya.
Hawa dingin semakin menusuk kulit. Bukan dari sekelilingnya, melainkan dari sebelah kiri, tepat Laksmi berjalan di sebelahnya. Dalam keremangan perbatasan siang dan malam, Satya menatap wajah sang istri dengan lirikan tajam.
"Kenapa wajahnya semakin pucat?" pikir Satya.
"Kamu sakit lagi, Dek? Apa kamu nggak boleh berjalan kaki terlalu jauh?" tanya Satya khawatir.
"Nggak, Mas."
Jawaban Laksmi sangat singkat. Suaranya terdengar lebih serak dari sebelumnya. Wajahnya tanpa ekspresi. Satya merasa ngeri melihat istrinya yang menatap ke depan tanpa berkedip.
"Dasar anak nakal! Sudah Ibuk bilang cah wedok itu harus pulang sebelum magrib. Kamu tahu kan akibatnya kalau pulang malam-malam? Apalagi ini bulan terkutuk itu." -Anak Perempuan-
Terdengar suara omelan seorang wanita dari salah satu rumah. Laksmi pun spontan menoleh ke arah asal suara. Dia hanya melihat seorang siswa berseragam SMP yang merengut kesal karena dimarahi sang ibu. Keributan itu pun semakin berbalas, hingga mereka menjauhi rumah itu.
"Mas, apa maksudnya bulan terkutuk?" tanya Laksmi bingung.
"Dulu ada kejadian mengerikan di desa ini. Seorang anak SMA hilang ketika pulang sekolah. Sejak itu para gadis dilarang berada di luar rumah saat magrib dan malam hari, terutama bulan Oktober, bulan kejadian itu."
Laksmi sontak menghentikan langkahnya. "Itu cerita tentangku," gumamnya.
"Ha? Apa?" Satya tak mendengar jelas, apa yang diucapkan oleh wanita di sebelahnya.
"Ah, nggak. Serem aja dengarnya. Jadi gimana kejadiannya?" kata Laksmi mulai menyelidiki.
"Waktu kejadian itu Mas masih berumur tujuh tahun. Jadi Mas nggak begitu ingat. Tapi ..."
"Apa? Umur kamu baru tujuh tahun?"
Satya mengernyit mendengar kalimat istrinya. Sejak berkenalan hingga menikah, baru kali ini dia mendengar Laksmi berbicara seperti itu.
(Bersambung)
__ADS_1