
"Anak Pak Dukun meninggal? Innalillahi wa innailaihi rojiun. Padahal dia belum ada sebulan menikah, kan?"
Kabar meninggalnya Laksmi sudah menyebar ke seluruh Dusun Wingit. Warga pun berbondong-bondong menuju rumah Pak Pandu Kuncoro untuk bertakziah. Namun, semuanya kaget karena di sana ada polisi dan tim medis dari rumah sakit.
Tidak ada satu pun yang menyangka, jika jasad Laksmi sudah tak layak untuk dilihat. Wujudnya mengerikan. Tim forensik belum bisa mengungkap penyebab kematiannya. Tetapi Pak Dukun mengaku, bahwa Laksmi meninggal karena sakit yang dideritanya dua puluh tahun yang lalu.
"Lah, terus Laksmi yang selalu kita lihat itu siapa?" para warga menjadi bertanya-tanya.
"Itu sosok kuntilanak yang nggak sengaja mengikuti Pak Dukun, waktu dia mencari ayam cemani di hutan," jelas Satya. (Eps. 2).
Malam itu, rupanya kabar yang sempat tersebar tidak salah. Laksmi yang sedang dirawat oleh sang bibi meninggal dunia karena sakit. Sementara Pak Dukun yang baru datang membawa obat untuk putrinya merasa shock. Dia tak siap untuk kehilangan putri tunggalnya.
Karena sejak kedatangannya sosok kuntilanak itu menyerupai wujud Laksmi yang baru saja meninggal, Pak Dukun pun memanfaatkannya. Dia mengizinkan Kinanti sang kuntilanak untuk terus menggunakan wujud putrinya, sementara dia harus membuat jasad Laksmi tetap awet dengan bantuan para jin.
Namun, ada satu perjanjian lagi yang mereka buat. Pak Dukun harus membantu kuntilanak itu mencari orang-orang yang telah membunuhnya, dan membantu kuntilanak itu melakukan pernikahan gaib.
...***...
Satya terduduk lemas di kamarnya. Kabar kematian Laksmi juga sudah tersebar ke seantero Desa Citraloka. Namun beritanya sedikit berbeda dengan berita yang tersebar di Dusun Wingit. Di sini, mereka hanya tahu bahwa Laksmi meninggal karena sakit. Tidak lebih daripada itu.
Satya menoleh ketika mendengar suara pintu dibuka. Seorang perempuan berdaster putih memasuki kamarnya.
"Mas, makan dulu. Kamu belum makan seharian ini."
"Laksmi, kamu di sini?" ujar Satya dengan wajah sayu. Rasanya aneh, melihat wujud seseorang yang sudah dimakamkan sore tadi.
"Aku masih boleh melayanimu kan, Mas? Ini masakan Ibu, jadi aman," kata Laksmi seraya meletakkan piring berisi nasi dan lauk pauk di atas meja.
"Terima kasih," ucap Satya. Dia lalu mengisi perutnya yang sudah keroncongan sejak tadi. "Dek, mulai besok akan ada tahlilan di rumah ini, sampai tiga hari ke depan. Apa kamu nggak masalah?" tanya Satya.
Laksmi tersenyum tipis, "Ya nggak apa-apa to, Mas. Arwah Laksmi Kinasih di alam sana pasti senang, kalau dikirimkan doa oleh orang banyak," kata sosok rupawan itu. "Andai aku juga didoakan oleh orang banyak," imbuhnya dengan suara lirih.
"Laksmi, ah maksudku Kinanti. Apa kamu tahu? Setiap sholat aku selalu berdoa untukmu. Kedua orang tuamu pasti juga melakukan hal yang sama," ucap Satya.
Kinanti menunduk sedih. Netranya meneteskan air mata darah. Satya sedikit mengalihkan pandangannya, saat wajah perempuan itu tampak membiru dan membusuk. Wajah cantiknya hilang seketika.
__ADS_1
"Satya, maaf aku masuk ke dalam hidupmu, dan mengganggumu. Aku janji akan pergi setelah semua ini selesai," bisik Laksmi dengan suara seraknya.
"Aku nggak menyesal telah mengenalmu. Semua hikmahnya, terutama bagi Pak Dukun dan kedua orang tuamu. Tapi kuharap jangan pergi tanpa berpamitan denganku," balas Satya dengan hati pilu. Tangan kirinya mengenggam tangan perempuan yang hanya tinggal kerangka itu.
Dia tidak gila. Tapi tetap saja merasa sedikit kehilangan, karena perempuan yang biasa menemaninya mendadak pergi. "Ku harap Kinanti juga tenang di alam sana," bisik Satya.
Suasana menjadi hening selama beberapa saat. Angin berembus pelan dari celah ventelasi, membawa udara dingin dari gunung.
Sosok di sebelah Satya hanya terpaku bagai patung. Tubuhnya yang sebagian hanya tinggal kerangka, dipenuhi oleh ribuan belatung.
"Apa semua pelakunya sudah mendapatkan balasan?" pancing Satya.
Perempuan itu mengangkat kepalanya. Matanya yang hitam menatap tajam ke arah Satya. Sesaat kemudian kepalanya menggeleng pelan.
"Boleh aku tahu siapa saja mereka?" tanya Satya. Namun perempuan itu kembali menggelengkan kepalanya.
...***...
Arga tersenyum puas sambil memandangi perempuan cantik yang tidur di sebelahnya. Hatinya merasa lega dan bebas. Besok dia sudah angkat kaki dari Pulau Jawa.
Sejak kecelakaan yang menimpa Aksa, semakin yakin ada sesuatu yang tak beres. Hidupnya tidak akan tenang, jika dia masih berada di sini. Karena itulah, Arga mengajukan pindah kerja keluar Pulau Jawa, pada perusahaannya.
Arga berharap, berada di luar Pulau Jawa akan membuat teror Kinanti berhenti. Dia akan memulai hidup baru di tempat yang baru, dan melupakan masa lalunya yang kelam.
"Huh, dasar cewek murahan." Arga kembali tersenyum remeh saat memandang kekasihnya yang sedang tertidur lelap.
"Kamu pikir aku akan menikahimu? Padahal kamu itu cuma salah satu cewek j*l*ng yang mengisi kebosanan hidupku. Kau nggak ada bedanya dengan Kinanti, tempatku melepaskan keperj*ka*n dan berakhir membusuk di tengah hutan sana. Hahaha..."
Arga sama sekali tidak merasakan penyesalan di dalam hatinya. Menurutnya, menggagahi Kinanti adalah salah satu bukti keperkasaannya. Dia menganggap bahwa Kinanti dan semua perempuan yang pernah dia sentuh hanyalah tempatnya melepaskan rasa penat.
Kemarin, saat dia pergi ke hutan bersama kedua temannya pun bukan karena penyesalan. Dia hanya takut hidupnya yang sudah sempurna saat ini jatuh ke jurang, hanya karena teror dari Kinanti.
"Vera, besok nasibmu akan sama dengan Kinanti. Jangan cari-cari aku setelah ini. Besok, kau hanyalah masa laluku. Bukan masa depan yang aku inginkan."
Vera, gadis manis keturunan Jawa Tionghoa nan jelita itu tak sadar dengan ucapan Arga. Dia kelelahan setelah memenuhi segala keinginan pria brengsek itu.
__ADS_1
"Setelah ini hidupku akan bebas, seperti bayi yang baru lahir. Aruna juga sudah mati. Tidak akan ada yang berani menuntut hak asuh Farras padaku lagi."
Perlahan Arga turun dari tempat tidur dan mengenakan kembali pakaiannya. Sambil berjalan berjingkat-jingkat, dia pun keluar dari kamar kontrakan Vera itu.
Deg!
Hampir saja Arga terkena serangan jantung, saat mendapati sosok wanita yang duduk di sofa ruang tamu. Kakinya menjuntai ke bawah, sembari digoyang-goyangkan.
Arga tak bisa melihat wajahnya, karena posisinya membelakangi dirinya. Namun, dari penampilannya sudah dapat dipastikan kalau perempuan itu bukanlah manusia. Dia pasti sosok Kinanti yang biasa menerornya.
"Sialan! Kenapa makhluk itu bisa tahu tempat ini?" Arga tak punya nyali untuk melewati sosok itu. Bisa-biss nanti malah dia yang jadi korbannya, seperti Aksa dan Aruna tempo hari. Arga pun melangkah mundur dengan hati-hati.
Krompyang!
Sial. Tanpa sengaja Arga menyentuh hiasan dinding di belakangnya hingga terjatuh.
Mendengar suara ribut di belakang, sosok itu pun memutar pandangannya ke belakang. Hanya kepalanya yang berputar seratus delapan puluh derajat, tidak dengan tubuhnya.
"Arga, jadi kamu nggak menyesal udah membuangku?" tanya sosok yang memamerkan gigi-gigi runcingnya itu. "Padahal aku mau memaafkanmu kalau kau meminta maaf dan menemukan jasadku."
"Hah? Jadi makhluk ini mendengar semua ucapanku?"
Kretek! Kretek! Terdengar suara gemeretak, seakan-akan semua tulang makhluk itu patah. Matanya yang hitam legam, mendadak menjadi merah menyala, dan menatap Arga hingga menusuk ke jantungnya.
Arga masih tetap melangkah mundur. Dia membuka pintu kamar dan cepat-cepat masuk ke dalam.
Tak! Arga berhasil mengunci pintu. Dia pun segera berbalik badan untuk kembali ke tempat tidur.
"Arga... Kamu mau ke mana?"
"Aarrrghhhh!"
Arga berteriak kencang, saat mengetahui sosok bersimbah darah itu berada di balik punggungnya. Kini mereka saling berhadapan. Tiba-tiba Arga menjulurkan tangannya dam mencengkeram leher kuntilanak itu.
"Dasar makhluk sialan! Udah mati pun masih menyusahkan. Enyahlah kau! Nggak akan ada yang boleh merusak hidupku!"
__ADS_1
Arga mencekik leher perempuan itu.
(Bersambung)