Istriku Kuntilanak

Istriku Kuntilanak
Bab 66. Hilang


__ADS_3

"Mas udah bangun?"


Aksa melirik ke arah sumber suara itu. "Argh!" Dia berteriak, saat pandangannya beradu dengan seorang perempuan berwajah pucat, yang sudut matanya meneteskan air mata darah.


"Kenapa, Mas? Ada yang sakit?"


"Ah, Dewi," gumamnya pelan. Perasaannya lega. Rupanya perempuan berwajah seram tadi hanyalah pikirannya saja. "Aku masih di rumah sakit, ya?"


Dewi mengangguk, "Kata dokter Mas boleh pulang sekitar satu atau dua hari lagi," ujarnya.


"Duh..." Aksa mendesis panjang. Padahal ada banyak sekali yang mau dia lakukan belakangan ini.


"Mas tadi mimpi buruk, ya? Sampai teriak gitu?" ucap peremuan itu seraya memberikan air putih pada sang suami.


"Bukan mimpi, tapi aku teringat kejadian dulu itu. Ternyata dosaku terlalu banyak, Dek," ucap Aksa setelah meneguk isi gelas hingga habis. Tanpa dia sadari, air matanya meleleh di pipi.


"Sudahlah, Mas. Jangan terlalu dipikirkan kali. Yang penting setelah ini Mas bertaubat, lalu meminta maaf pada keluarganya," ujar Dewi dengan lembut. Kedua tangannya melingkar di sekitar pinggang pria itu.


"Itulah masalahnya. Aku terlalu penakut untuk mengakui kesalahanku," bisik Aksa dalam hati.


"Oh iya, Mas. Kemarin Mbak Rani datang. Terus..."


"Jadi Rani sudah tahu semuanya?" Tebak Aksa. Dia melihat raut sedih dan bingung pada mata wanita itu.


"Maaf, Mas. Aku gak bisa menjelaskan dengan baik. Jadi Mbak Rani marah dan salah paham," ucap Dewi lirih.


"Ini bukan kesalahanmu, Dek. Ini urusan Mas. Bias Mas yang menyelesaikannya nanti," kata Aksa.


"Cobalah telepon dia, Mas. Tanyakan gimana keadaan Nada. Sudah sembuh atau belum. Aku khawatir waktu melihatnya pergi dari sini. Hatinya sangat terguncang," ucap Dewi.


Aksa tersenyum tipis sambil mengecup kening Dewi, "Untunglah aku memilihmu sebagai istriku. Karena kebaikan hatimu. Bukan seperti Rani yang memasang susuk dan pelet untuk mengikatku," ujarnya lirih.


"Mbak Rani menggunakan pelet dan susuk?" kata Dewi tak percaya.


"Iya," kata Aksa sambil menganggukkan kepala. Entah sejak kapan, tapi saat kuliah aku tergila-gila padanya. Hingga dia mengandung Najla," ungkap Aksa.


"Astaghfirullah," gumam Dewi dengan perasaan campur aduk. Dia tak menyangka jika suaminya pernah melakukan zina.


"Karena itulah aku masih mempertahankan pernikahanku dengan Rani. Aku harus bertanggung jawab pada kedua anakku," kata Aksa.

__ADS_1


"Iya... Aku selalu dukung kamu, Mas," ucap Dewi.


"Tolong ambilkan HP-ku, Dek. Aku mau menelepon Rani," pinta Aksa.


Perempuan itu meraih HP Aksa dari atas nakas. "Aku ke bawah dulu ya, Mas. Mau cari sarapan. Nanti jam sembilan ada visit dokter," kata Dewi tak ingin mengganggu suaminya yang menelepon Rani. Aksa mengangguk pelan.


...***...


Drrrrrttt!


Rani menatap layar HP yang berdering itu dengan pandangan berapi-api. Dadanya bergemuruh. Ini sudah yang ke-lima kalinya Aksa menelepon. Sepertinya pria itu benar-benar pantang menyerah.


"Ck, malesin banget. Mau ngapain dia meneleponku? Meminta maaf? Urusanku masih banyak. Mencari tumbal susah banget sekarang ini," ucap Rani geram.


Sudah dua hari Rani mengabaikan telepon dari suaminya. Hatinya masih sangat kesal dan perih, karena dirinya diduakan. Masih bersembunyi di salah satu rumah teman lamanya, Rani pun sibuk dengan kegiatan baru. Mencari pengasuh anaknya, untuk dijadikan tumbal.


"Assalamualaikum."


Mendadak terdengar ucapan salam di depan pintu. Suaranya tidak asing, membuat dada Rani berdetak cepat. Dia pun menoleh ke arah pintu.


"Kamu Mas ngapain di sini? Dari mana Mas tahu aku ada di sini?"


"Aku tanya sama Ujang. Karena waktu aku pulang dari rumah sakit, rumah kita di desa sudah kosong," kata Aksa dengan sedih.


"Ujang sialan! Mulutnya gak bisa dijahit apa?" umpat Rani dengan perasaan gondok. Dia lupa, jika ada orang selain temannya, yang tahu keberadaannya saat ini.


"Gimana kabarmu dan anak-anak? Maaf Mas nggak jadi menemani kamu dan Nada ke klinik," ucap Aksa dengan tangan di gips dan wajah penuh luka memar.


"Nggak usah basa basi deh, Mas! Aku udah tahu semuanya. Dasar penipu." Rani berusaha menahan air matanya, agar Aksa tidak melihatnya sebagai wanita lemah.


"Iya, Dek. Aku ngaku salah. Seharusnya Mas ceritakan sejak lama," kata Aksa mengalah. Dia masih berdiri di depan pintu dengan kaki agak pincang.


"Gampang banget minta maaf! Jadi selama ini Mas anggap aku apa? Di mana kekuranganku, sampai kamu menduakanku?" Jerit Rani, mengeluarkan semua kegundahan yang dia simpan sejak kemarin.


"Kamu tetap istri Mas. Begitu pun anak-anak. Mas tetap sayang," kata Aksa.


"Sayang? Kalau gitu Mas harus ceraikan dia!" Pinta Rani dengan nada ketus. Rahangnya mengeras, menahan air mata yang semakin menggantung di pelupuk mata.


"Rani, dengarkan aku. Dewi perempuan yang kunikahi baik-baik. Sama seperti kamu dulu. Jadi Dewi juga istri sahku," kata Aksa tak mau mengalah.

__ADS_1


"Nggak bisa begitu! Mas harus ikut kataku! Aku ini istri pertama Mas. Aku lebih berhak dari pada dia!" Rani membentak Aksa, tanpa peduli lelaki itu masih berada di rumah sakit.


Aksa menarik napas panjang, "Kalian berdua punya hak yang sama. Anak-anak juga punya hak dan tanggung jawab yang sama dariku," jelas Aksa.


"Apa? Bahkan kamu sudah punya anak dari dia? Dasar kurang ajar perempuan itu. Berani-beraninya menggoda suamiku, sampai punya anak haram!" umpat Rani. Kotak tisu yang berada di atas meja, jadi sasaran kemarahannya.


"Rani! Dia bukan anak haram seperti Najla! Dia tak pernah menggodaku, maupun bersentuhan denganku sampai kami menikah!"


Aksa mulai tersulut emosi. Niat baiknya untuk mempertahankan pernikahan dengan Rani mulai pudar. Lelaki itu lalu berjalan berjingkat-jingkat memasuki rumah, sembari menahan rasa sakit.


"Berani-beraninya Mas membuka aib tentang anakku!" jerit Rani histeris. Kedua tangannya menjambak rambutnya sendiri.


"Aku sayang dengan kedua anakku di sini. Makanya aku datang. Lagian, mana mungkin Mas menikahinya, kalau dia nggak menggoda Mas. Memangnya apa kurangnya aku? Pokoknya Mas harus ceraikan dia! Nanti aku yang bantu urus akta cerainya di pengadilan!"


"Nggak ada yang bisa memaksaku menceraikan Dewi. Karena dia wanita pilihanku. Bukan seperti kamu yang pakai pelet dan susuk! Dulu kamu juga menyingkirkan Kinanti, karena aku mencintanya, kan?"


Aksa semakin menumpahkan segala uneg-unegnya yang dia simpan selama ini. Rani tak bisa berkata-kata, mendengar ucapan Aksa. Hatinya bertambah sakit, karena aksa kembali mengungkit cinta pertamanya.


"Pantas saja susuk dan peletnya tak bisa berfungsi, rupanya lelaki itu sudah tahu rahasianya. Sebagus apa pun tumbal yang dia berikan, jika dia tahu semuanya ya tidak ada gunanya," batin Rani.


"Sudahlah, aku ke sini bukan untuk bertengkar. Aku kangen kalian. Aku mau jumpa anak-anak."


Aksa menarik napas panjang lalu melepaskannya kembali. Dia berusaha meredam amarahnya agar tidak lepas kendali. Walaupun perasaannya pada Rani sejak dulu pasang surut, tetapi Aksa benar-benar menyayangi kedua anak perempuannya.


"Nada dan Najla baik-baik saja meskipun tanpa Mas. Jadi gak usah pedulikan kami! Lihatlah di kamar, Nada sedang asyik menggambar tanpa merindukanmu," kata Rani dengan ketus.


Langkah kaki Rani begitu cepat bergerak ke kamar. Dia ingin membuktikan pada Aksa, bahwa mereka baik-baik saja tanpa dirinya. Aksa pun mengikuti Rani, dengan langkah tertatih-tatih.


"Loh, Nada mana?" Rani bingung, tak menemukan putri bungsunya di dalam kamar. Dia lalu menyisir semua ruangan di rumah itu untuk mencari keberadaan anaknya.


"Nada... Kamu di mana, Nak? Nada..." Teriak Rani memanggil nama anaknya.


Bocah kecil yang biasanya selalu lincah dan menyahut jika dipanggil, kali ini tak bersuara. Batang hidungnya tak kelihatan di rumah itu, meski Aksa dan Rani sudah mencarinya hingga ke kolong tempat tidur dan ke dalam lemari.


"Nada? Jangan ngerjain Mama dong, Nak. Ayo, cepat jawab. Kamu di mana?" seru Rani dengan suara mulai bergetar.


Aksa mencari putrinya di luar rumah. Dia menyibakkan tanaman bunga yang rimbun, menelisik setiap sudut ruangan, lalu ke halaman belakang rumah yang penuh pepohonan. Namun tetap saja gadis cilik itu tak ditemukan.


"Ini gara-gara kamu, Mas. Dia pasti ketakutan dan pergi bersembunyi, karena mendengar kamu marah-marah!" Rani meremas kerah baju Aksa, untuk menumpahkan kekesalannya.

__ADS_1


(Bersambung)


__ADS_2