
"I-itu kan... Pocong...!" Jerit orang-orang di dalam rumah Aruna.
Mereka semua berhamburan memasuki ruang tengah dan dapur, untuk menghindari tamu yang melayang cepat menuju ke arah teras rumah Aruna.
"Astaghfirullah. Apa sebenarnya yang terjadi di sini?" gumam Pak Diman, yang juga pemuka agama di sana.
"Pulang... Antarkan aku pulang, Aruna. Hihihi..."
Suara rintihan dan tawa perempuan itu menggema ke seluruh ruangan. Semula mereka berpikir, bahwa pocong itulah yang berbicara.
Tapi dugaan mereka langsung dipatahkan, saat Sosok perempuan dengan bentuk wajah mengerikan muncul di depan pintu yang terbuka lebar. Seluruh wajahnya hancur dan meneteskan darah, hingga baju putih yang dikenakannya dipenuhi darah segar yang kental.
Semua warga desa yang hadir di sana membatu. Termasuk Aksa sang kepala desa. Wajah perempuan itu sudah tak dapat dikenali lagi. Bola matanya yang sebesar telur itu menatap orang-orang di dalam rumah dengan sengit.
"Aruna... Aruna... Hihihi..."
Aruna meringkuk di dalam ruang tengah dengan tubuh menggigil ketakutan. Meski dia tak melihat sosok itu, namun suaranya yang sengau dan merintih sudah membuat nyalinya terjun bebas.
"Ada apa dengan Aruna? Kenapa dia dipanggil-panggil makhluk itu?"
Semua orang berbisik-bisik penuh tanya. Tak ada seorang pun yang berani menutup pintu, hingga Pak Diman berdiri dan menutupnya.
"Pergilah, wahai makhluk Allah. Jangan ganggu kami lagi," ujar ayah dari Kinanti tersebut.
"Yasin. Kita yang masih sehat harus tetap baca yasin. Makhluk itu pasti bakalan pergi," perintah Pak Darya yang diikuti anggukan kepala para bapak-bapak.
Setelah keadaan sempat hiruk pikuk, mereka mulai melanjutkan pembacaan yasin dan doa-doa yang tadi sempat terhenti. Sementara keempat orang yang muntah tadi, beristirahat di ruang tengah.
Kriet... Krieet...
Derit daun pintu yang terbuka, tak membuat fokus para bapak-bapak itu buyar. Kalimat-kalimat tayyibah mereka ucapkan bersama-sama, untuk meminta keselamatan seluruh warga desa ini.
Hujan rintik-rintik masih mengguyur bumi, disertai angin kencang. Para warga desa itu tak ada yang berani memandang keluar rumah. Tidak ada satu pun yang tahu, kalau kedua tamu mengerikan mereka tadi telah menghilang dari depan rumah Aruna.
"Alhamdulillah semua sudah selesai. Mudah-mudahan setelah ini nggak ada lagi yang mengganggu kenyamanan desa kita," ucap Aksa menutup acara.
__ADS_1
"Terima kasih, Pak Kades," jawab Aruna dan juga Bu Tuti sebagai tuan rumah.
"Kalau begitu kami permisi dulu. Kalau ada apa-apa segera hubungi tetangga, Bu," kata Aksa sambil menyalami Bu Tuti dan rekan sekolahnya itu.
...***...
"Sebenarnya kenapa dia bolak balik mendatangiku? Apa gara-gara aku masih menyimpan benda ini?"
Aruna mengambil sepasang gelang emas dengan liontin berbentuk bulan sabit dari dalam lacinya. Barang berharga itu dia simpan dalam sebuah kotak kecil berhiaskan pita. Sudah puluhan tahun dia menyimpannya.
Tak ada yang tahu, jika Aruna mengambil satu-satunya harta milik Kinanti, sesaat sebelum dia mendorongnya ke dalam Danau Cemani.
Aruna tak langsung membawa pulang benda itu. Dia menyimpannya di sebuah lubang pohon dekat kandang kambingnya. Setelah kasus hilangnya Kinanti mereda, dia pun kembali mengambil benda itu dan membawanya pulang.
"Besok aku harus membuang benda terkutuk ini jauh-jauh," tekad Aruna.
Bola matanya memandang ke sebuah benda di dalam laci, yang sudah tersimpan di sana sejak lama. Tangannya meraih HP Nokea keluaran tahun 2003. Benda elektronik itu tampak diselimuti debu, tak pernah dipegang.
"Benda ini juga harus dibuang," kata Aruna dengan mata nanar.
Pada masanya, benda itu memiliki nilai yang sangat tinggi, dan hanya dimiliki orang-orang tertentu. Dan Aruna beruntung, karena bisa mendapatkannya secara cuma-cuma, sebagai upah untuk mengajak Kinanti ke Danau. Sekarang benda itu sudah tidak berguna lagi, selain menjadi rongsokan besi tua.
"Ah, Ibu. Bikin kaget aku aja," ucap Aruna seraya mengusap dadanya. Dia tak sempat menyembunyikan benda-benda itu dari ibunya.
Bu Tuti hanya tersenyum tipis, "Loh, itu gelang siapa?" tanya perempuan yang rambutnya telah memutih itu.
"I-ini punyaku, Bu. Dulu aku beli sendiri, tapi belum sempat dipakai," kata Aruna berbohong. Dia tidak mau, siapa pun mengetahui masa lalunya yang kelam.
"Oh, gitu. Bagus, ya. Ibu baru lihat."
Aruna hanya tersenyum canggung sambil menyusun gelang itu ke dalam kotaknya. Ah, hatinya jadi ragu mau membuang barang berharga itu. Gimana kalau tiba-tiba nanti ibunya bertanya lagi? Masa dia harus bilang, kalau gelang itu sudah hilang?
"Ini sudah malam, Aruna. Sebaiknya kamu tidur," ucap Bu Tuti tiba-tiba.
"Duh, ibu. Memangnya aku anak kecil, yang disuruh tidur jam segini?" protes Aruna sambil tertawa kecil. "Lagian aku masih belum bisa tidur, Bu. Aku masih takut," imbuhnya. Kedua tangannya sibuk menyimpan kembali gelang dan HP ke dalam laci.
__ADS_1
"Kamu memang selalu anak kecil di mata Ibu," balas Bu Tuti. "Sebaiknya kamu istirahat saja. Lupakan semua masalah tadi."
"Hmm, iya Bu. Sebenarnya punggungku juga letih," kata Aruna sambil menggeliatkan tubuhnya.
"Kalau begitu ibu matikan ya lampunya. Selamat tidur Aruna Kamila."
"Hah! Kok aneh, ya? Sudah lama sekali ibu nggak memanggil nama lengkapku. Ibu juga gak pernah menyuruhku tidur dan mematikan lampu," pikir Aruna tanpa menjawab ucapan selamat malam ibunya.
Hatinya merasa heran, dengan sikap ibunya yang sedikit berbeda. Apa ini karena kejadian-kejadian yang dia alami?
Pet! Lampu kamar Aruna pun padam. Semua menjadi gelap gulita.
Perempuan itu menoleh ke arah pintu, dan tak melihat ibunya keluar dari kamar.
"Bu, lampu kamarnya hidupkan saja. Aku takut," pinta Aruna sebelum ibunya keluar.
Tidak ada jawaban. Apa ibunya sudah keluar kamar? Kok Aruna nggak melihatnya? Padahal masih ada sorot lampu dari ruang tengah yang memasuki kamar Aruna.
Perempuan itu kembali turun dari tempat tidur untuk menyalakan lampu kamarnya. Ketika berbalik badan ke arah tempat tidur, jantungnya hampir copot. Ibunya masih duduk di sana.
"Ah, Ibu ngagetin aja. Kenapa dari tadi aneh banget, sih?" seru Aruna kesal.
"Jadi kamu udah sadar, kalau aku aneh?"
Senyuman lebar wanita itu membuat Aruna melangkah mundur dengan cepat. Sudah jelas itu bukan ibunya, meski wajahnya sangat mirip.
Gedubrak!
Celengan di atas meja terjatuh ke lantai, ketika punggung Aruna menyenggolnya. "Pergi kamu dari sini!" ucap Aruna dengan suara parau.
Sosok di depannya bukan lagi ibunya. Melainkan rekan sekolahnya yang dulu dia dorong ke dalam Danau Cemani. Karena itulah tubuh perempuan itu kini tampak basah kuyup dan berbau amis.
"Aruna... Ayo temani aku pulang. Kamu kan sudah berjanji," ucap sosok itu lirih.
Seluruh kekuatan Aruna telah luntur. Dia pun hanya bisa terduduk lemas di lantai. Suaranya tak mau keluar, meski dia berusaha berteriak.
__ADS_1
"Hentikan ini, Kinanti. Apa salahku? Aku cuma menerima perintah dari mereka?" jerit Aruna di dalam hati.
(Bersambung)