
Selepas kepergian Aksa, Rani pun menyibukkan diri di dapur untuk menyiapkan makan malam. Dia nggak berpikir yang aneh-aneh, karena merasa semua pintu telah dikunci sesuai perintah suaminya.
"Najla, Nada, ayo mandi. Udah mau mahrib."
Rani yang baru selesai memasak, pergi ke kamar anak-anaknya untuk menyuruh mereka mandi. Namun betapa terkejutnya Rani, karena tak mendapati kedua putrinya di dalam kamar. TV masih menyala tanpa ada yang menonton.
"Najla ... Nada ..." Seru Rani memanggil kedua putrinya, sambil menelusuri setiap ruangan di rumah itu. Nihil, putrinya tidak ada di dalam rumah.
"Najla ... Nada ..."
Teriakan Rani semakin kuat. Dadanya mulai berdegup kencang, karena kedua bocah berusia tujuh tahun dan lima tahun itu tak kunjung menjawab panggilannya.
"Najla ... Nada ... Kalian di mana, Nak?"
Rani semakin gusar. Dia mendapati pintu depan hanya tertutup, namun tidak terkunci. Mengabaikan larangan sang suami, dia pun berlari keluar rumah untuk mencari kedua anaknya.
"Maaa..." Terdengar suara teriakan bocah perempuan dari arah luar pagar.
"Najla, mana Nada?" tanya Rani dengan wajah tegang.
"Na-nada ..."
"Nada kenapa?" Suara Rani yang melengking tinggi, membuat bocah kelas satu SD itu ketakutan.
"Di-dia terjatuh dari sepeda dan masuk parit di seberang jalan," ujarnya dengan terbata-bata.
"Kok bisa? Mama kan udah bilang jangan keluar rumah!"
Sambil mengomel, Rani berlari menuju parit di depan rumahnya tanpa alas kaki. Bagaimana dia nggak khawatir, parit di depan rumah mereka cukup dalam dan sering ditemui ular.
"Mama ..." Seorang bocah kecil berlari dengan wajah tanpa merasa bersalah. Separuh tubuhnya telah basah dan penuh lumpur. Tetapi bibir mungilnya justru menyunggingkan senyuman indah.
"Ya ampun, Nak. Kamu nggak apa-apa?" tanya Rani sambil memeluk anaknya.
"Aku tadi jatuh dari sepeda, terus masuk ke parit. Untung ada kakak itu yang menolongku," celoteh Nada.
Rani pun mengangkat wajahnya. Kedua matanya terbelalak, melihat seorang gadis berseragam SMA yang berdiri di hadapannya saat ini. Tak ada yang aneh dengan remaja tersebut, kecuali kakinya yang tanpa sepatu. Tetapi dara manis itu mampu membuat seluruh tubuh Rani bergetar hebat.
__ADS_1
"K-kamu? K-kinanti?"
Kepala Rani terasa mau pecah, mencerna apa yang terjadi. Siapa wanita yang mirip teman sekolahnya ini? Apa dia kerabat dari Kinanti? Tapi seragam sekolah yang dipakainya, benar-benar seragam sekolah mereka dulu.
"Jadi kamu mengenalku juga? Ku pikir cuma suamimu yang mengenalku," ucap remaja itu dengan wajah datar.
"Gila! Nggak mungkin kamu Kinanti. Dia ..."
"Udah mati, kan? Tapi ini aku, Kinanti Laksmi Nayaka," tegas dara manis tersebut.
Rani melihat ke bawah. Kaki wanita itu menapak ke tanah yang ditumbuhi rumput jepang. "Dia pasti penipu, hanya karena wajahnya mirip perempuan itu," pikir Rani.
Akan tetapi hanya berselang satu detik, Rani kembali menarik ucapannya. Dia menggeret anak-anaknya mundur perlahan, saat melihat larva lalat berjalan-jalan di sekitar telinga dan leher bocah SMA tersebut. Wajahnya juga semakin pucat bagai tak memiliki darah. Jelas sekali bahwa sosok di hadapannya bukanlah manusia.
"Najla, bawa Nada masuk," perintah Rani dengan suara bergetar.
"Kakak, ayo masuk juga. Aku bisa bikin es susu, lho." Tanpa diduga, Nada justru mengajak tamu tak diundang itu masuk ke dalam rumah.
"Nada, jangan bawa orang tak dikenal masuk ke dalam rumah!" bentak Rani.
"Jangan melawan! Dengarkan perintah Mama! Sana masuk!" bentak Rani lagi.
Kali ini kedua bocah itu tak bersuara. Mereka berlari masuk ke dalam rumah. Kaki Rani juga beringsut ke belakang, menjauhi sosok Kinanti.
"Jangan takut. Aku juga mau pergi, kok. Senang bertemu denganmu. Kapan-kapan kita jumpa lagi."
"Jangan datang lagi!" Teriak Rani. Jarak antara mereka kian menjauh.
"Aku nggak janji. Hihihihi ..." Sosok gadis SMA itu pun berbalik badan, memperlihatkan punggungnya yang berlumur darah.
Setelah lolos dari sosok berseragam SMA itu, Rani hanya bisa menutup pintu rapat-rapat sambil komat-kamit membaca doa. Dia melihat perempuan dengan belatung di tubuhnya itu kian menjauh, bersamaan dengan terbenamnya matahari.
"Ma, kakak tadi itu bukan orang, kan?" Najla yang duduk di kelas satu SD sudah mulai mengerti membedakan manusia dengan makhluk lain.
"Sst, jangan ngomong gitu. Diam aja," bisik Rani sembari mengatur detak jantungnya.
"Tapi kok Mama dan kakak itu saling kenal?" tanya Najla penasaran.
__ADS_1
"Dia itu jin. Bukan teman Mama. Hanya wajahnya saja yang kebetulan mirip," balas Rani dengan sedikit melotot. Dia memberi isyarat agar tidak membicarakan sosok itu lagi.
Rani kemudian beranjak ke kamar dan mengambil HP-nya. "Mas, malam ini kita pulang ke kota aja, ya. Aku nggak mau di sini," ujarnya saat menelepon sang suami.
"Gimana mau pergi? Jembatan desa kita ambruk. Aku juga banyak pekerjaan," kata Aksa di telepon. Terdengar suara riuh di belakangnya. Sepertinya di sana sedang ramai.
"Tapi, Mas..."
"Apa kamu mau pergi sendiri lewat jalan memutar dekat kuburan keramat itu?" Aksa dengan cepat memotong ucapan istrinya.
"Nggak! Aku nggak mau," jawab Rani.
"Ya sudah. Kalau gitu di rumah aja malam ini. Ingat, jangan ada yang buka pintu sampai aku pulang," perintahnya.
...***...
Sepanjang makan malam Tari memandang kakak iparnya tanpa berkedip. Sayangnya tidak ada keanehan dari wanita kelahiran Dusun Wingit itu. Kakinya menapak ke lantai. Wajahnya juga tidak terlihat mengerikan.
"Mbak ini manusia apa bukan, sih? Gimana caranya mmbuktikan kalau dia beneran orang?"
Tari berpikir keras untuk memecahkan misteri yang menyelubungi wanita berwajah ayu tersebut. Meski rasanya nggak mungkin, tetapi dia sudah melihat langsung kakak iparnya berubah wujud menjadi kuntilanak.
"Tapi masa hantu bisa beraktivitas kayak manusia, dan keluar di siang hari? Apa jangan-jangan Mbak Tari punya peliharaan, untuk memelet Mas Satya?" Tari melontarkan pertanyaan pada dirinya sendiri.
"Nduk, simpan dulu HP-nya kalau lagi makan." Pak Darya menegur Tari yang mulai memainkan jemarinya di layar smartphone miliknya.
"Nggeh, Pak." Tari mematuhi perintah ayahnya. Dia meletakkan HP-nya dan kembali makan.
"Kata Mbah Gugel tadi, cara melihat sosok asli makhluk halus adalah dengan cara menungging. Kira-kira itu ampuh nggak, ya?"
Kendati merasa aneh, Tari tetap berupaya melakukan hal itu. Setelah selesai makan malam dan memastikan Bapak Ibunya meninggalkan ruangan, Tari pun mengambil posisi di belakang Laksmi yang sedang berberes di meja makan. Remaja itu lantas menundukkan kepalanya, dan melihat sang kakak ipar dari sela kedua kakinya.
"Tari!"
Deg! Jantung remaja perempuan itu hampir melompat keluar, saat Laksmi mendadak berbalik badan.
(Bersambung)
__ADS_1