
"Maaassss!" jerit Rani hingga terdengar ke seluruh bagian rumah. Bukan karena kecoak atau cicak yang dipegang Nada, tetapi karena mata bocah cilik itu menghitam seluruhnya.
"Astaghfirullah, Nada!" Aksa yang terlambat datang, buru-buru menarik lengan putrinya, dan membuang benda-benda di tangannya. "Audzubillahiminassayitonnirojim." Aksa kembali melafazkan ayat-ayat Alquran sambil memegang ubun-ubun Nada.
"Hahaha, Papa ngapain? Geli." Nada malah tertawa melihat sikap sang ayah. Warna bola matanya telah kembali normal.
"Mas, aku nggak mau kayak gini terus? Mana ustadznya gak datang-datang?" kata Rani mulai merasa kesal.
"Ya udah, biar aku telepon dulu. Kamu juga cepetan telepon temanmu yang punya rumah ini. Mana tahu ada ustadz di sekitar sini yang bisa membantu kita," ucap Aksa.
Brak! Terdengar suara pintu terbanting dengan keras. Aksa dan Rani kompak menoleh ke sumber suara.
"Nada! Jangan bermain-main di luar!" Rani yang sudah hampir kehilangan tenaga, terpaksa mengejar Nada yang berlari ke luar rumah.
"Kok dia bisa buka pintu, ya? Kan Pintunya aku kunci dobel," pikir Aksa bingung.
Sementara Nada masih berlari-lari di halaman sambil tertawa riang. Dia berpikir bahwa Rani sedang mengajaknya bermain. Sesekali melompat di antara bunga-bunga.
"Nada! Ayo masuk! Sarapan dulu baru bermain," bujuk Rani.
"Nduk, biarkan saja dia di luar. Itu bukan anakmu." Mendadak muncul seorang nenek di balik pagar rumah mereka. Dia berjalan terbungkuk-bungkuk sambil memegang sebuah bungkusan plastik.
"Nenek siapa? Jangan sok tahu. Ini anakku!" Jawab Rani dengan ketus. Pikirannya yang sudah runyam sejak tadi, membuatnya mudah tersulut emosi.
"Bukan, Nduk. Ini bukan anakmu," jelas nenek itu.
"Apa maksudnya, Nek? Anak kami kesurupan?" tanya Aksa yang berdiri di depan pintu.
Nenek itu menggeleng. "Dia ndak kesurupan. Itu memang bukan anakmu. Jangan dikejar, nanti kamu yang mati."
"Apa, sih? Gak jelas banget. Jelas-jelas ini anakku. Aku ibunya, yang melahirkan dan merawatnya. Nggak usah sok tahu, Nek," omel Rani. "Ayo, Nada. Kita masuk." Wanita itu lalu menyeret anaknya ke dalam rumah.
"Dek, kok ngomongnya gitu, sih? Jangan-jangan yang dibilang Nenek itu benar? Sejak kemarin, Nada kelihatan aneh, kan?" bisik Aksa.
"Ck, aku nggak percaya. Terus anak kita ada di mana? Aku lebih percaya kalau Nada kesurupan. Pokoknya kita harus cepat pergi dari sini," kata Rani.
...*** ...
"Aaarrggghhhh! Pergi! Pergi!"
Aruna mengusir semua orang di hadapannya. Sejak pulang dari rumah sakit kemarin, dia selalu berteriak histeris. Setiap ditanya, dia hanya bisa marah dan menangis. Tidak ada yang tahu, penyebab Aruna menjadi seperti secara mendadak.
"Nduk, ini ibu. Jangan takut. Ayo makan dulu," ucap Bu Tuti sambil berurai air mata.
"Nggak! Aku nggak mau! Ku bilang pergi dari sini!" Teriak Aruna lagi.
__ADS_1
"Mbah, sini aku aja." Farras mengambil piring dari tangan Bu Tuti, lalu duduk di sebelah Aruna. "Ibu takut sama siapa? Ayo makan dulu. Kalau Ibu nggak makan gimana mau ngelawan?" kata Farras dengan lembut.
Aruna tak menyahut. Air matanya meleleh di pipinya yang tirus. Tapi dia menerima makanan yang disuapkan oleh Farras.
Baru dua kali suapan, Aruna kembali menutup menolak untuk makan dan melihat ke area kosong dengan wajah kekatukan. "Bukan aku yang membunuh Kinanti. Bukan aku!" Pekiknya tiba-tiba.
"Apa? Kinanti di bunuh?"
Bersamaan dengan Aruna mengucapkan kalimat itu, Pak Diman alias Ayahnya Kinanti muncul di depan pintu. Tadi dia memang sengaja dipanggil oleh Bu Tuti, untuk membantu mengobati Aruna. Dia tidak sendirian. Seorang pria dengan peci putih, turut berdiri di sampingnya.
"A-anu, pasti Aruna cuma asal ngomong, Pak. Dari kemarin dia memang ngelantur kan omongannya?" kata Bu Tuti salah tingkah.
Pak Diman tak menyahut. Hatinya bercampur aduk. Ini pertama kalinya dia mendengar kasus Kinanti, setelah puluhan tahun berlalu. Kerinduannya yang terpendam sejak lama kembali mencuat.
"Nduk, ayo jelasin. Kamu cuma salah ngomong, kan?" Bu Tuti mendesak putrinya untuk bicara.
"Jangan dekat-dekat! Aku nggak membunuhnya! Jangan kejar-kejar aku terus! Pergi! Pergi!" jerit Aruna lagi.
Bu Tuti melirik ke arah Pak Diman. Lelaki itu tampak mematung, dengan pandangan tegas ke arah Aruna. Kedua tangannya tampak mengepal kuat.
"Aruna, coba ceritakan. Kenapa kamu bilang Kinanti di bunuh?" Pak Diman akhirnya angkat bicara.
"Dia datang. Dia mendatangiku terus. Tapi nggak ada yang percaya. Huhuhuhu... Aku nggak gila!"
Air mata Aruna kembali tumpah. Bahunya tampak naik turun setiap dia menyesap air matanya. Tangannya kemudian menunjuk-nunjuk area kosong di dekat jendela.
"Kapan dia datang? Seperti apa wujudnya?" ujar lelaki berpeci putih itu.
"Huhuhu... Dia selalu datang. Wajahnya menyeramkan. Hancur. Penuh darah. Mirip Kuntilanak," kata Aruna.
Kedua matanya melotot, dengan tangan menarik erat selimutnya. Padahal saat itu suasana di dalam rumah sudah mirip padang pasir. Sangat panas.
"Kuntilanak?" Semua orang di ruangan itu terkejut.
"Apa benar yang dilihatnya itu Kinanti, Pak Ustadz?" ucap Pak Diman dengan mata berkaca-kaca.
"Sudah jelas bukan. Itu pasti jin yang menyerupainya. Memanfaatkan kesempatan untuk memperdaya manusia," balas Pak Ustadz yang juga pemuka agama di desa mereka. Dia tahu sejarah panjang kasus Kinanti, yang dulu sempat membuat desa sangat mencekam.
"Terus kenapa dia selalu menyebut nama Kinanti? Pasti ada sebabnya, kan?" ucap Pak Diman penuh harap.
"Aruna, sejak kapan kamu melihatnya? Apa sekarang dia ada di sini?" tanya Pak Ustadz lagi.
"Pergi kalian semua! Jangan tanya-tanya aku! Aku tak membunuhnya!" jerit Aruna. Dia melempar gelas yang berada di dekatnya. Untung saja itu gelas plastik. Hanya airnya saja yang tumpah.
"Sepertinya dia sangat tertekan. Kayak ada yang dipendamnya sejak lama. Gimana kalau kita coba rukyah saja?" usul Pak Ustadz.
__ADS_1
"Iya, Pak. Rukyah saja. Karena dokter umum sudah nggak sanggup lagi. Katanya Aruna harus masuk rumah sakit jiwa," kata Bu Tuti.
Pak Ustadz pun duduk bersila di hadapan Aruna. Tangannya menengadah ke atas, melafazkan doa-doa dan ayat suci Alquran. Pak Diman dan Farras turut melafazkan doa-doa tersebut.
Aruna meraung-raung kesakitan. Mulutnya beberapa kali menyebut nama Kinanti. Sesekali dia juga mengusir orang-orang di depannya, dengan melempar barang-barang yang ada di dekatnya.
"Hmm, berat ini, Bu. Kayaknya memang ada yang mengikuti Aruna. Tetapi saya nggak bisa lihat," kata Pak Ustadz.
"Terus gimana, Pak? Aruna bisa diobati, kan?" kata Bu Tuti cemas.
"Insyaallah. Kita berusaha, Bu," jawabnya. Lelaki dengan peci putih itu kemudian mendekati Aruna. "Apa sekarang dia ada di sini?" ujarnya.
Aruna menggeleng, "Dia datang, lalu pergi. Selalu memintaku membawanya pulang," kata Aruna dengan suara bergetar.
"Memangnya kenapa kamu membunuhnya?" pancing Pak Ustadz.
"Aku nggak membunuhnya! Percayalah padaku!" jerit Aruna lagi.
"Apa yang kamu bilang itu jujur?" tanya Pak Diman dengan geram.
"Iya."
"Sumpah demi Allah?" tanya Pak Diman lagi.
"Iya."
"Sumpah pocong? Apa kamu berani?"
"I.."
Aruna tak melanjutkan kata-katanya. Bola matanya berputar ke arah lain, menghindari tatapan tajam Pak Diman. Tak pernah Pak Diman menunjukkan ekspresi marah seperti itu di depan orang lain.
"Jawab, Aruna! Kamu berani sumpah pocong? Katakan kamu nggak membunuhnya!" desak Pak Diman.
"Huhu..." Aruna tak menjawab. Dia hanya menangis histeris sambil menutup wajahnya dengan selimut.
Tubuh Bu Tuti lemas. Dia tak menyangka hilangnya Kinanti ternyata berkaitan erat dengan putrinya. "Nduk, ayo jujur. Kamu gak membunuh Kinanti, kan?"
"Huhuhu..." Aruna terus menangis. Farras iba melihatnya. Dia lantas memeluk ibunya sambil membaca alfatihah.
"Aruna, katakan di mana Kinanti sekarang?" Suara Pak Diman sudah melunak. Dia tak tega melihat keluarga itu menangis sedih.
"Aku nggak tahu! Aku nggak membunuhnya! Pergi kalian semua! Jangan ganggu aku!" jerit Aruna. "Mereka! Mereka semua yang pantas dihukum! Bukan aku!" teriaknya lagi.
"Mereka? Siapa?" Tubuh Pak Diman semakin lemas mendengarnya. Ada apa di balik misteri hilangnya Kinanti?
__ADS_1
(Bersambung)