
"Mas, kita nggak salah jalan? Ini udah sampai perbatasan desa?"
Ndaru celingukan memandang ke kanan dan kiri jalanan. Dia tidak melihat satu bangunan pun di tepi hutan ini. Jangankan rumah, gubuk para petani pun tidak ada. Yang terlihat hanya pantulan sinar matahari sore, di permukaan Danau Cemani.
"Mas juga nggak tahu, Ndar. Pak Sigit itu kan orang baru di sini. Dia cuma ngasih alamat ini tadi," kata Wira, teman kerja Ndaru yang akan mengantar barang-barang pindahan ke rumah Pak Sigit.
Endaru melihat peta lokasi yang dibagikan Pak Sigit melalui pesan singkat, "Bener, sih. Alamatnya di sekitar sini. Aku baru tahu kalau ada yang tinggal di sini. Padahal masih satu desa," gumamnya.
"Haah, tapi kayaknya emang nggak mungkin. Dari kebun-kebun tadi kita nggak lihat rumah satu pun, kan? Nomor HP-nya juga nggak aktif."
Wira menghembuskan napas panjang. Matahari sudah semakin turun menuju horizon di sebelah barat, tetapi pekerjaan mereka belum usai. Dia kembali melihat peta lokasi, dan alamat yang ditulis Pak Sigit dalam pesannya. Alamat dan peta itu sesuai. Tetapi sesampainya di sini, nggak ada apa-apa.
"Gimana kalau kita turun aja, Mas. Jalan kaki sambil melihat-lihat sekitar sini. Mungkin aja jalan ke rumahnya gak bisa dilewati mobil," usul Ndaru.
"Oh, boleh juga. Ayo," balas Wira kembali bersemangat. Dia lalu turun lebih dulu dari mobil pick up yang dikendarainya.
Keduanya lalu berjalan menyusuri jalan setapak yang semakin menurun. Batu-batu kali berukuran cukup besar, membuat mereka tak bisa berjalan dengan cepat. Sesekali Ndaru harus menyibakkan rumput liar untuk membuka jalan.
"Kayaknya ini emang jalan jarang dilalui. Nggak mungkin Pak Sigit tinggal di sini. Pasti alamatnya salah. Ayo kita balik aja," kata Wira.
"Mas, Pak Sigit itu manusia, kan?" celetuk Ndaru tiba-tiba.
"Ngawur, kamu! Ya jelas manusia lah. Mana ada setan bisa pakai kartu ATM," balas Wira sambil terkekeh.
Mereka berdua lalu berjalan kembali menuju mobil mereka. Namun baru beberapa belas meter, keduanya mendadak berhenti sambil celingukan.
Terdengar bunyi seseorang memainkan air seperti sedang mandi. Baik Ndaru maupun Wira pun mengedarkan pandangan ke sekeliling.
Mereka memang tak salah lihat. Tepat di tepi danau cemani, mereka melihat seorang wanita sedang mandi. Posisinya membelakangi mereka menggunakan kain panjang untuk menutupi tubuhnya.
Melihat pemandangan itu, Ndaru dan Wira jadi salah tingkah. Meski langit telah berubah menjadi Jingga, mereka masih bisa melihat dengan jelas penampakan pundak dan punggung yang mengundang syahwat.
keduanya kompak saling berpandangan, lalu menganggukkan kepala. Detik berikutnya keduanya membalikkan badan dan hendak pergi dari situ.
Byur!
"Tolong!"
Suara teriakan itu membuat Wira refleks berlari ke tepi danau. Sepertinya wanita itu terpeleset di atas batu kali. Separuh tubuhnya terbenam ke dalam air dan sulit untuk naik.
__ADS_1
"Pegang tanganku," seru Wira sambil menjulurkan tangannya.
Perempuan itu dengan cepat meraih tangan Wira. Sebelah tangan yang memegang lilitan kait panjang agar tak terlepas.
"Arrghh!"
Byur!
Perempuan itu kembali terhempas ke dalam, air bersamaan dengan teriakan Wira. Rupanya lelaki itu dengan sengaja melepaskan genggaman tangannya.
"Mas, kok dilepas?" Ndaru yang baru menyusul, buru-buru membantu wanita malang itu.
"D-dia Ki-kinan."
"Hah? Siapa Kinan? Selingkuhan? Mantan pacar?" ucap Ndaru dengan bingung. Dia memberikan handuk yang berada di dalam ember pada wanita itu, untuk menutupi tubuh bagian atasnya yang tercetak jelas.
"Ki-kinanti," bisik Wira dengan tubuh menggigil.
"Apa? Kinanti?"
Sontak Ndaru menoleh ke samping. Siapa yang tidak kenal dengan Kinanti di desa ini? Namun Ndaru tak melihat keanehan dari wajah wanita desa itu. Terlihat normal seperti manusia biasa. Tidak menua seperti Wira dan kawan-kawannya. Tidak pula terlihat seperti sosok arwah yang mengerikan.
Berbeda dengan Ndaru, Wira masih terus menggigil ketakutan. Meski wanita itu telah berpamitan pergi, setelah mengucapkan terima kasih.
...***...
"Astaghfirullah! Ya Allah!"
"Ada apa Ndaru?"
Satya yang sedang duduk di atas teras rumah bersama ayahnya, menatap Ndaru dengan heran. Ndaru tak menjawab. Justru suara nafasnya terdengar ngos-ngosan seperti sedang lari ratusan kilometer.
Satya semakin penasaran. Dia memegang bahu sang adik yang gemetaran, "Kamu kenapa, to? Coba tarik nafas dalam-dalam, lalu minum air putih," ucapnya.
"Kinan, Mas. Hantunya Kinanti muncul," ucap Ndaru dengan suara bergetar.
"Hah? Hantunya Kinanti? Di mana?" Kali ini Pak Darya yang berbicara.
"Di pinggir Danau Cemani, Pak," jawabnya dari masih dengan napas tersengal.
__ADS_1
Satya dan Pak Darya saling berpandangan, sambil mengerikan kening. "Tapi kan kamu baru pulang dari rumah Pak Diman?" ujar Pak Darya.
"Ya itu masalahnya. Sore tadi aku sama Mas Wira ke pinggir Danau cemani, dan ketemu cewek cantik. Tapi Mas Wira teriak ketakutan sambil menyebut nama Kinanti," cerita Endaru.
"Terus?" Pak Darya masih bingung, ke mana arah pembicaraan Ndaru.
"Waktu aku ke rumah Pak RT dan lihat foto di ruang tamu, aku baru sadar kalau yang kami jumpai sore tadi memang Kinanti," ungkap Ndaru.
"Ah mungkin cuma mirip saja. Kinanti kan sudah lama sekali menghilang. Kenapa dia tiba-tiba muncul? bantah Pak Darya tak percaya.
"Ini beneran, Pak Aku bahkan melihat wajah perempuan itu dengan jelas sebelum dia pergi," tegas Ndaru.
"Jadi gara-gara itu kamu ninggalin sepeda motor di rumah Pak Diman?" tanya Satya.
"Sepeda motor?"
"Iya, yang kamu bawa waktu mengantar beras ke rumah Pak Diman, sehabis magrib tadi," jelas Satya.
"Astagfirullah! Aku lupa, Mas."
Ndaru menoleh ke belakang. Apa dia mampu membelah rimbunan pepohonan itu seorang diri? Jika dalam keadaan normal, tengah malam pun dia pasti berani melakukannya.
"Istirahat aja dulu. Nanti kita jemput sama-sama, sekalian shalat Isya di masjid," usul Satya.
Ndaru pun mengangguk setuju. Dia lalu mengambil sebuah gelas dan meneguk isinya.
"Ini ubi gorengnya."
"Uhuk! Uhuk!" Ndaru tercekat ketika Laksmi keluar, membawa ubi goreng permintaan Satya dan Pak Darya.
"Kenapa lagi?" tanya Pak Darya bingung.
Ndaru hanya menggelengkan kepalanya sambil menepuk-nepuk dada. Rupanya dia terkejut, karena penampilan Laksmi sangat mirip dengan Kinanti yang dilihatnya tadi.
Laksmi tak menggubris mereka. Setelah meletakkan cemilan itu di sana, dia lalu segera masuk ke dalam rumah.
"Padahal aku hanya berniat mencari jejak tubuhku yang dibuang mereka dulu. Tak berniat menakut-nakuti siapa pun. Tetapi tak kusangka malah bertemu dengan salah satu pelakunya," bisik Laksmi sambil menyeringai tipis.
"Tetapi wajahnya sama sekali tak mirip dengan orang di dalam foto itu. Aroma tubuhnya juga nggak seburuk Aksa. Apa dia bukan Wira yang aku cari?"
__ADS_1
Laksmi merenung memikirkan para pelaku yang masih belum dia temukan. Setelah menguping ucapan Genta kemarin dia pun jadi tahu, bahwa kedua pelaku lainnya adalah Eka Argani dan Wirasena.
(Bersambung)