
"Bapak kok nggak ngabarin, kalau lagi sakit?"
Satya duduk di tepi tempat tidur, sembari memijat lengan ayah mertuanya. Wajah lelaki enam puluh tahun itu tampak pucat dan kuyu. Bibirnya pecah-pecah seperti kurang minum. Satya tak tega melihatnya tinggal sendirian di rumah ini.
"Bapak cuma demam biasa, kok. Nggak kenapa-kenapa?" balas Pak Dukun dengan senyum kecil di wajahnya.
"Demam kan namanya sakit juga, Pak. Aku sekarang udah jadi anak Bapak. Jangan sungkan-sungkan lagi kalau ada sesuatu. Laksmi sekarang juga sudah punya HP, Pak."
Entah itu omelan, teguran, atau sekedar basa-basi, tapi Pak Dukun senang mendengarnya. Dia seperti punya anak lagi, setelah puluhan tahun menyendiri.
"Kata Laksmi Bapak suka rawon. Sambil ke sini tadi, kami beli rawon di restoran terkenal. Bapak makan dulu, ya. Abis itu minum obat."
Tak sempat Pak Dukun menjawab, Satya sudah memutar badannya dan berbicara pada sang istri. "Tolong siapkan makan untuk Bapak ya, Dek. Bawa ke sini aja," ujar Satya.
Laksmi mematuhi perintah suaminya. Dia lalu bergegas ke dapur dan menyiapkan makan siang untuk lelaki yang tengah terbaring lemah di atas kasur itu.
Ketika punggung Laksmi menghilang di balik pintu, Pak Dukun menarik lengan Satya, seakan menyuruhnya mendekat. Satya pun mematuhinya. Pemuda itu beringsut mendekati ayah mertuanya.
"Ehem! Sebelumnya Bapak minta maaf, kalau selama ini Bapak berbohong. Tapi Bapak harus jujur," bisik Pak Dukun, seolah pembicaraan ini rahasia mereka berdua.
"Jujur soal apa, Pak?" bisik Satya pula.
"Soal Laksmi. Dia itu sebenarnya ..."
Kalimat itu berhenti di tengah-tengah. Mulut Pak Dukun ternganga tanpa bisa digerakkan. Tentu keadaan yang tiba-tiba itu membuat Satya panik.
"Pak?" ucap Satya sambil mengusap lengan ayah mertuanya.
Pak Dukun menatap menantunya dengan alis bertaut. Mulutnya telah terkatup, namun kembali bergerak tanpa suara. Sepertinya dia ingin mengucapkan sesuatu yang tertahan di tenggorokannya. Tetapi entah kenapa suaranya mendadak hilang. Matanya juga melotot ke arah belakang Satya.
Pemuda yang masih berstatus pengantin baru itu turut menoleh belakang. Tidak ada siapa pun di sana. Hanya Pak Dukun yang bisa melihat sosok pucat berlumur darah, yang melayang di belakang Satya.
"Satu kata saja tentangku keluar dari mulutmu, maka bukan hanya sakit demam yang kamu rasakan. Tetapi akan stroke hingga bisu selamanya."
__ADS_1
Ancaman makhluk itu membuat nyali Pak Dukun ciut. Mulutnya kembali terkatup. Jakunnya bergerak pelan, saat dia menelan saliva dengan kasar.
"Bapak kenapa? Perlu minum? Atau aku antar aja ke dokter, ya," ujar Satya semakin cemas.
Pemuda itu lalu bangkit dari tempatnya duduk, dan merogoh kantong celananya untuk mengambil kunci mobil. Namun tiba-tiba Pak Dukun menahan gerakan menantunya, dan memintanya duduk kembali. Kepalanya mengangguk-angguk menandakan dirinya baik-baik saja.
"Bapak beneran nggak apa-apa?" tanya Satya memastikan.
"Ndak apa-apa, Nak." Pak Dukun akhirnya bersuara, meski terdengar parau. Lelaki sepuh itu lalu mengubah posisi tidurnya menjadi duduk bersandar. "Soal rahasia tadi, sebenarnya Bapak sudah lama nggak berani makan daging, karena takut darah tinggi. Tapi Bapak ndak cerita sama Laksmi," ujarnya.
Kening Satya berkerut. "Bukannya tadi Bapak mau ngomongin soal rahasia Laksmi?" pikirnya.
Saat Pak Dukun kembali membuka mulut untuk berucap, Laksmi pun datang membawa semangkok rawon, lengkap dengan nasi dan air putih hangat. Pak Dukun pun membatalkan niatnya untuk berbicara.
"Nah, rawonnya udah datang. Makan dulu ya, Pak. Aku suapin," ucap Satya. Dia mengambil alih nampan berisi makan siang itu lalu menyuapi ayah mertuanya.
"Bapak bisa makan sendiri, Nak," kata Pak Dukun setelah suapan pertama.
"Nggak apa-apa. Biar Bapak semangat makannya," kata Satya sambil tersenyum.
Satya tertawa kecil melihat sikap manja mertuanya tersebut. "Kalau Bapak janji mau menghabiskan makanan ini terus minum obat, kita bakalan makan sama-sama," ucap Satya.
"Iya, Bapak janji," ucapnya.
Tanpa terasa air matanya meleleh. Sudah lama sekali dia nggak mendapat perhatian seperti ini. Jikalau ada tetangga yang menjenguknya, paling sekedar mengantar makanan atau mengajaknya mengobrol.
"Dek, bawa makan siangnya ke sini," ujar Satya.
"Iya, Mas." Manusia jadi-jadian itu kembali ke dapur dan membawa dua piring nasi dan semangkok rawon.
"Lho, kalian kok makannya satu berdua? Emangnya kenyang?" tanya Pak Dukun.
"Cukup, Pak. Tadi kami di perjalanan juga udah ngemil gorengan," balas Satya.
__ADS_1
Setelah makan, Satya membantu mertuanya minum obat, mengelap tubuhnya dengan kain basah, lalu merapikan kamar kecil itu. Sementara Laksmi mencuci piring di dapur.
Pak Dukun trenyuh melihat sikap Satya yang begitu santun padanya. Lelaki muda itu tampak cekatan merawat orang tua.
Keinginannya untuk memberitahu yang sebenarnya pada Satya pun semakin besar. Namun sosok yang mengambang di balik punggung Satya, membuatnya urung berbicara.
"Ingat janjimu, Pak Dukun," bisik sosok itu, seraya memamerkan barisan giginya yang runcing dan penuh darah.
...***...
Laksmi meletakkan dua cangkir teh melati hangat di atas meja tamu. Dia lalu duduk di sebelah Satya, yang sibuk mengecek HP-nya. Sepertinya dia sedang chatting dengan seseorang. Sesekali pria itu mengusap lengannya yang terbuka, untuk menangkal rasa dingin dari hembusan angin.
"Kayaknya kita pulangnya nunggu hujan reda. Kata Pak Damar sungai di depan desa meluap," ucap Satya sembari menguap.
"Oh, ya udah. Ini juga masih siang, kok," balas Laksmi.
Cuaca siang ini memang sangat mendukung untuk berdiam diri di dalam rumah. Padahal masih pukul satu siang, tetapi di luar sana terlihat gelap, karena gulungan awan hitam yang bergelayut di langit. Ditambah lagi perut kenyang, membuat kelopak mata semakin berat.
Membuang rasa bosan, Satya pun mengamati setiap sudut rumah pedesaan ini. Designnya tidak jauh berbeda dengan rumah-rumah pada umumnya. Sudah tampak modern dan terbuat dari batu bata. Dindingnya yang disemen, masih mempertahankan warna aslinya, yaitu abu-abu gelap.
Langit-langit rumah tersebut penuh dengan sarang laba-laba. Demikian juga sela-sela ventilasi jendelanya. Tampaknya rumah ini sudah lama sekali tidak dibersihkan.
Tiba-tiba Satya teringat sesuatu. "Kamarmu yang mana, Dek? Barangkali kita bisa istirahat di sana siang ini?" tanya Satya.
"Hah? Oh? Kamar?" Laksmi tampak terkejut hingga kedua bola matanya membesar. "Kamarku pasti kotor berdebu. Nggak nyaman kalau untuk istirahat di sana," imbuhnya dengan tergagap.
Satya mengerutkan dahi. "Tapi kan belum ada seminggu kamu tinggal?" ucapnya.
"I-iya. Tapi di sini cepat banget kotornya, apalagi musim kemarau," ungkap Laksmi.
"Hm? Padahal kata Pak Damar, di sini selalu hujan. Apa dia malu memperlihatkan kamarnya yang gak terawat? Tapi selama tinggal di rumahku, dia selalu telaten beres-beres, kok."
"Kalau begitu kita bersihkan sama-sama," ajak Satya.
__ADS_1
"Jangan, Mas!"
(Bersambung)