
"Duh, rasanya badanku sakit semua."
Aksa membuka matanya. Dia terkejut, melihat dirinya terbaring di dalam kamar. Bukankah kemarin dia pingsan di garasi rumah? Jadi yang semalam itu mimpi atau beneran?
"Kamu mencariku, Mas?"
"Astaghfirullah!"
Detak jantung Aksa berhenti, mendengar suara itu. Kepalanya langsung menoleh ke belakang, untuk melihat asal suara tersebut.
"Kenapa sih, Mas? Lihat aku kok kayak lihat hantu?" seorang wanita dengan daster merah dan berambut panjang, duduk di sebelah Aksa.
"Rani? Ini beneran kamu?" Aksa beringsut ke belakang, menjauhi wanita itu. Lelaki itu tak mau lagi terkecoh dengan perempuan jadi-jadian tanpa kaki.
"Iyalah. Ini aku, istri kamu. Subuh tadi aku datang ke sini diantar supir. Memangnya ada perempuan lain yang masuk rumah ini?" jawab Rani dengan wajah cemberut.
"Bukan begitu, sayang. Tadi malam makhluk itu datang lagi. Aku jadi nggak tenang," kata Aksa, masih memperhatikan istrinya dengan seksama.
"Astaga! Jadi gitu? Uh, padahal aku sudah berniat memberanikan diri untuk menginap di sini selama sabtu dan minggu," ucap Rani sambil mengusap tengkuknya.
Aksa hanya menatap Rani tanpa berkedip.
"Ah, aku minta maaf soal kemarin, Mas. Kayaknya aku udah keterlaluan ngomong kayak gitu sama kamu," ucap Rani dengan wajah penyesalan.
"Aneh, sejak kapan Rani meminta maaf duluan?" Batin Aksa merasa ada yang berbeda dari sikap istrinya. Tetapi dia berusaha untuk tetap tenang.
"Iya, nggak apa-apa. Aku juga minta maaf, ya. Kemarin aku juga udah ngomong keterlaluan," balas Aksa dengan nada datar. "Ngomong-ngomong, anak-anak mana?" Aksa masih menyelidiki istrinya.
"Anak-anak aku tinggal di rumah ibu. Aku masih trauma membawa mereka ke sini," jawab Rani. "Ah, Mas mau dimasakin apa? Ku lihat meja makan kita kosong," imbuhnya.
"Apa aja, Dek. Masak telur pindang juga boleh. Mas mau mandi dulu," jawab Aksa agak menghindari istrinya.
"Oke. Aku ke dapur dulu, ya," ucap Rani bersemangat.
__ADS_1
Ekor mata Aksa mengikuti langah kaki Rani hingga benar-benar menghilang di balik pintu. Setelah itu tangan Aksa meraih HP dari atas meja, dan menelepon ibu mertuanya.
"Assalamualaikum. Ada apa, Nak?" ucap ibu mertua Aksa di seberang sana.
"Waalaikumussalam, Bu. Apa Rani pulang ke rumahku tadi malam?" tanya Aksa dengan suara berbisik.
"Iya, Nak. Dia berangkat subuh-subuh, dianter supirnya bapak," balas perempuan paruh baya itu. "Kenapa kamu bertanya? Memangnya Rani belum sampai di sana?" tanya perempuan itu heran.
"Udah kok, Bu. Aku cuma memastikannya aja," jawab Aksa.
"Hah? Gimana? Memastikan apa?" Sang Ibu Mertua malah bingung mendengar jawaban Aksa.
"Ah, ndak ada apa-apa kok, Bu. Kami titip anak-anak, ya. Nanti siang kami ke sana. Assalamulaikum," kata Aksa tanpa nenjawab rasa penasaran ibu mertuanya.
"Iya. Anak-anak aman sama Ibu. Waalaikumussalam," balas sang ibu.
"Fyuh, ternyata itu beneran Rani. Aku sampai parnoan gara-gara terlalu banyak kejadian aneh," ucap Aksa bernapas lega.
Baru saja Aksa hendak meletakkan HP-nya ke atas meja, benda itu kembali berdering. Seulas senyum terukir di wajah lelaki tampan itu, ketika melihat nama yang muncul di layarnya.
"Halo?" ucap Aksa dengan lembut.
"Halo, Aksa. Apa tawaranmu kemarin masih berlaku?" tanya Aruna di seberang sana. Napasnya terdengar memburu, seperti habis dikejar-kejar sesuatu.
"Tentu saja. Memangnya kamu berubah pikiran?" tanya Aksa sambil tersenyum licik.
"Ya, aku harus cepat menghentikannya. Aku capek dikejar-kejar terus," balas Aruna dengan suara parau dan berbisik.
Aksa terkekeh. Entah apa kejadian yang baru dialami perempuan itu, bukan hal penting bagi Aksa. Yang jelas, Aruna sudah siap menjadi garda depan untuk menjalankan rencana mereka.
"Kalau begitu nanti aku datang ke warungmu. Kamu harus mengikuti perintahku secepatnya," ucap Aksa dengan nada dingin.
"O-oke. Aku tunggu kamu di sana," ucap Aruna.
__ADS_1
...***...
Sepertinya sudah menjadi kebiasaan Kinanti alias Laksmi. Dia selalu mengunjungi rumah Pak Diman dan Bu Nastiti, orang tuanya.
Kendati hanya sepuluh hingga lima belas menit di sana, dan gak bisa mengobrol selayaknya keluarga, itu sudah cukup untuk mengobati rasa rindu Kinanti pada kedua orang tuanya.
Seperti pagi ini, setelah semua orang di rumahnya sudah pergi beraktivitas masing-masing, dia pun pergi ke rumah kedua orang tuanya.
Sosok itu membuka lemari buku. Dia mengambil beberapa buah buku bersampul cokelat dan membacanya. Kinanti dulu sangat menyukai pelajaran biologi dan fisika. Meski kini sudah tak mengerti lagi semua itu, tetapi dia tetap suka melihat tulisannya sendiri semasa hidup.
Pluk! Sebuah kertas berwarna biru kristal, terjatuh dari dalam lembaran buku. Kinanti pun memungutnya. Kertas itu sangat cantik. Tepinya bergambar kupu-kupu dan bunga mawar dengan glitter berwarna merah. Tulisan bertinta hitam sudah tampak memudar, karena terlalu lama disimpan.
"Dear, Kinanti. Selamat ulang tahun, ya. Maaf aku terlambat memberikan hadiah untukmu. Maaf aku selalu menyontek PR-mu. Kelas tiga nanti, aku janji akan belajar dengan giat supaya kita bisa kuliah di kampus yang sama. Ah, ceritaku terlalu panjang, ya? Semoga kamu suka ya gelangnya. Dari sahabatmu, Rani Juwita."
"Rani? Memberikan hadiah ulang tahun untukku? Jadi yang dikatakannya kemarin, benar? Kalau dia memang bersahabat baik denganku?"
Kinanti membongkar semua sudut kamarnya untuk mencari gelang itu. Sayang, dia tidak menemukan benda itu. Kinanti malah menemukan beberapa lembar kertas surat lainnya dari Rani.
Kinanti membacanya satu persatu. Tak bisa dipungkiri lagi. Rani adalah satu-satunya sahabat Kinanti dari desa sini. Mungkin dari Rani, dia bisa mengorek masa lalunya.
Ah, tiba-tiba mata Kinanti melirik ke arah foto bersama teman-temannya yang terpajang di atas meja belajar. "Apa ini gelang hadiah yang disebutkan Rani di dalam surat itu?" Kinanti melihat sebuah gelang indah melingkar di tangan kirinya.
Tapi dimana gelang itu sekarang? Apa aku memakainya saat kejadian mengenaskan itu?" ucap Kinanti lirih. Dia tak tahu, jika gelang miliknya telah berada di tangan Aruna.
"Loh, ibu meletakkan bunga segar lagi di kamar Kinanti? Apa dia sedang rindu sama putrinya?"
Suara Pak Diman yang tiba-tiba muncul di depan pintu kamar, mengagetkan Kinanti. Dia lalu buru-buru bersembunyi di atas lemari, walaupun lelaki paruh baya itu tak mungkin melihatnya.
"Ah, kenapa ayah semakin kurus, sih? Ayah harus hidup sehat dan bahagia, meski tanpa aku," gumam Kinanti dengan nada sedih.
"Kenapa aku mencium bau parfum kesukaan Kinanti, ya? Apa aku terlalu sedih sampai merasa mencium aromanya?" Pak Diman melangkah pergi sambil mengusap matanya yang basah. Aroma melati itu masih mengikutinya hingga ke dapur.
(Bersambung)
__ADS_1