
"Apa katamu? Si Kinan masih hidup?"
Eka Argani menghisap dalam cerutunya. Dada dan hidungnya kembang kempis, sudah tak sanggup lagi menahan kemarahan yang bergejolak di hatinya.
"Bagaimana bisa wanita yang sudah babak belur itu masih hidup?"
Dia berteriak kesal berkali-kali, mengucapkan hal-hal tidak baik. Bahkan hampir seluruh isi kebun binatang telah disebutnya.
"Bukan masih hidup, tetapi hantunya yang datang," bisik Genta sambil melirik kanan kiri.
"Hah? Hantu opo?" Arga terbahak. "Sudah dua puluh tahun, kok baru muncul sekarang?"
Lelaki itu menghembuskan asap rokok dari mulutnya. Tangannya menjatuhkan cerutu ke bawah, lalu memijaknya dengan telapak sepatu.
"Ini beneran, Ga. Aku udah lihat sendiri. Aksa dan Aruna juga dihantui." ujar Genta meyakinkan. "Aku sudah menemui orang pintar, dan katanya kita harus menemukan kembali jasadnya untuk dimakamkan."
"Heh! Yang bener aja. Selama dua puluh tahun itu tengkoraknya pasti sudah hancur jadi tanah. Apalagi rohnya. Ojo ngadi ngadi kowe," balas Arga sambil tersenyum remeh.
"Ya itu makanya, kita harus bekerja sama untuk menemukannya. Kalau nggak, terornya nggak akan berhenti," kata Genta terus meyakinkan teman SMA-nya itu.
"Cih, bukan urusanku itu. Yang didatengin cuma kalian, kan? Lagian aku kan cuma mencicipinya sedikit. Jadi kesalahanku bukan apa-apa dibandingkan kalian," cibir Arga.
"Yo wes, aku sudah ngingetin kowe. Kalau sampai kejadian juga, gak bakal aku bantuin kowe," ujar Genta setengah mengancam.
"Hahaha... Mbok pikir aku takut? Jarang-jarang aku pulang dari pertambangan, kowe malah ngasih cerita ginian? Kenapa nggak minta tolong si Wira aja? Dia kan nganggur, tuh."
Manajer pertambangan nikel itu terbahak sambil memegangi perutnya. Menurutnya ini lebih lucu daripada menonton sitkom di televisi. Genta yang ditertawai seperti itu hanya melengos kesal.
"Awas aja kalo sampai dia beneran datang. Baru tahu rasa kowe!" ulang Genta lagi.
"Cih! Polisi kok takut hantu. Cemen!" Tawa Arga semakin besar, sampai-sampai mengganggu pengunjung lain.
"Heh, Ta. Dua bulan lagi aku balik ke sini, ku tungguin dongeng barumu. Masih diteror apa nggak?" cibir Arga sambil beranjak dari kursinya.
"Itu bukan dongeng, Ga. Hati-hati aja kowe," Genta kembali memperingatkan temannya.
"Udahlah, males aku dengerin dongeng khayalanmu itu. Buang-buang waktu. Aku mau pergi ke rumah Vita dulu," ucap Arga sambil melipir pergi.
__ADS_1
"Woy, bukannya pacarmu namanya Vera?" seru Genta.
"Itu yang di asrama pertambangan. Kalau di sini ya Vita, lah," balas Arga dengan bangga.
"Oh, jadi namanya Arga. Dan masih ada satu lagi Si Wira. Aku harus mendapatkan semuanya."
"Uh, kok aku tiba-tiba merinding, ya? Padahal ini masih sore dan ramai." Genta mengusap lehernya yang tiba-tiba merinding.
...***...
Aruna berjalan tergesa-gesa membelah rimbun pohon yang tumbuh rapat. Sesekali dia menoleh ke belakang untuk memastikan, bahwa tidak ada seorang pun yang mengikutinya hingga ke sini.
Hampir sampai di tempat tujuan, Aruna mendengar suara gemerisik dedaunan dan ranting patah. Dia merunduk di sebalik tanaman petai cina yang berbuah rimbun. Jantungnya berdebar kencang.
Krak! Suara itu terdengar lagi. Seperti sesuatu berbobot besar menginjak lantai kebun yang dipenuhi dedaunan kering. Aruna berharap bahwa itu hanyalah sapi atau babi liar yang mencari makan.
"Aruna." Seorang laki-laki bersuara berat, terdengar memanggil Aruna dengan lembut.
Napas Aruna tercekat seketika. Dengan berat kepalanya menoleh ke belakang.
Aksa tersenyum tipis, "Mau ke mana sih, buru-buru banget?" ucap pria tampan itu.
"Bukan urusanmu. Jangan ikuti aku," kata Aruna dengan ketus. Dia lalu berbalik badan, hendak meninggalkan Aksa.
"Hei, jangan terlalu jutek gitu. Kau masih diganggu oleh makhluk itu, kan?" ucap Aksa seraya menaikkan alisnya.
Gerakan tubuh Aruna terhenti. Dia lantas menoleh ke belakang. "Kamu juga didatanginya?" Kedua bola mata Aruna tampak membesar.
"Yaah, sayangnya bukan cuma aku. Tetapi Genta dan Rani juga," kata Aksa.
"Astaga! Jadi dia benar-benar meneror kita semua?" gumam Aruna bergidik ngeri.
Aksa kembali tersenyum dengan sangat manis, tanpa menjawab pertanyaan Aruna. Ah, wanita mana yang nggak akan tertarik dengan pria tampan ini? Tapi bukan itu masalahnya sekarang.
"Karena itulah, kita harus bekerja sama. Aku nggak tahu kenapa dia tiba-tiba muncul sekarang. Tetapi pasti ada penyebabnya," kata Aksa dengan nada rendah.
"Dia selalu memintaku mengantarnya pulang, Aksa. Itu mengerikan," kata Aruna. Dia seakan mendapat teman curhat yang tepat.
__ADS_1
"Ya, ku rasa dia memang meminta pulang. Dukun yang aku dan Genta temui kemarin juga bilang begitu. Jadi aku meminta pertolonganmu," ujar lelaki dengan setelan kemeja putih itu.
"Pertolongan apa?"
"Kamu bertetangga dengan Pak Diman, kan? Aku yakin, mereka pasti berkaitan erat dengan kemunculan Kinanti."
"Maksudnya, mereka membangkitkan arwah Kinanti untuk mencari pelaku?" Aruna balik bertanya.
"Ya, bisa jadi begitu. Jadi kamu harus membawa benda ini ke dalam rumahnya. Letakkan di tempat tersembunyi," perintah Aksa.
Aruna tercengang melihat benda yang dipegang oleh lelaki itu. Sudah jelas itu boneka santet. "Kamu mau menjadikan aku tumbal?" Suara Aruna terdengar tinggi dan sedikit membentak.
"Kita harus bekerja sama kalau mau menghentikan masalah ini, Aruna. Dan hanya kamu orang yang paling sulit dicurigai," bujuk Aksa.
"Kenapa harus aku yang berkorban? Padahal dulu upah yang ku terima saat membujuk dan membawa Kinanti ke danau sangat kecil. Bukan aku juga yang membunuhnya," protes Aruna.
Aksa meraih tangan kanan Aruna yang sejak tadi tergenggam rapat. "Ini milik Kinanti? Atau upahmu dulu?" tanya Aksa. Rupanya dia sudah melihat kotak perhiasan dan HP Nokea lama yang ingin dibuang oleh Aruna itu.
"Ini punyaku."
"Terus kenapa kamu membawanya ke tengah kebun begini?" selidik Aksa.
"Itu urusanku!" sergah Aruna merasa kesal.
"Kamu mau membuang benda ini, supaya Kinanti nggak mengganggumu lagi, kan?" Aksa tertawa kecil. Aruna tak dapat mengelak.
"Aruna, cara ini nggak akan berhasil. Jadi ikuti saja perintahku." Aksa terus melemparkan bujuk rayunya pada Aruna.
"Aku nggak mau! Kalau usahamu itu gagal. Santet yang dikirimkan pasti bakal mengenaiku juga," tolak perempuan itu dengan cepat.
"Putramu di sekolah, sudah menerima beasiswa penuh sampai dia tamat SMA. Kalau pintar dan rajin, dia juga akan dapat beasiswa untuk kuliah."
Aksa menjeda kalimatnya sejenak sambil tersenyum tipis, untuk melihat reaksi Aruna. Ternyata wanita itu mula ragu. Terlihat dari bola matanya yang berputar pelan.
"Kamu menjebakku supaya ikut perintahmu? Aku memang miskin. Tetapi caramu sudah kelewatan," kata Aruna dengan geram.
"Ya sudah kalau kamu nggak mau. Aku nggak menarik kembali beasiswa itu, meskipun kamu nggak setuju. Tetapi kalau terjadi sesuatu denganmu dan makhluk itu, aku nggak bisa membantu." Aksa tersenyum tipis.
__ADS_1