
"Assalamualaikum, Mas Wira."
"Waalaikumusalam. Loh, Satya? Endaru? Tumben kalian ke sini pagi-pagi banget?"
Wira membuka pintu rumahnya dan mempersilakan kedua tamunya masuk. Langit masih tampak kelabu, karena embun belum beranjak dari permukaan bumi.
"Iya, Mas. Ada hal penting yang mau kami bicarakan. Apa Mas sibuk pagi ini?" ucap Satya ketika telah masuk ke dalam rumah.
Seorang bocah laki-laki berusia dua belas tahun menyuguhkan air putih dan beberapa keping biskuit. Itu adalah putra pertama Wirasena.
"Hari ini nggak sibuk, kok. Anak-anak lagi libur karena sekarang hari minggu. Memangnya ada hal penting apa?"
Satya dan Endaru saling berpandangan, lalu menganggukkan kepala, "Begini, Mas. Kata Endaru Kemarin Mas melihat sosok Kinanti, kan?" ujar Satya.
"Y, ya." Wira mengernyitkan keningnya.
"Apa Mas juga salah satu pelaku seperti Mbak Aruna?" tanya Satya lagi.
"Da-dari mana kau tahu?" Wira mulai merasa panik. Duduknya tak tenang. Sesekali matanya melirik ke arah kamar, memastikan agar kedua anaknya tak mendengar obrolan itu.
"Jangan takut, Mas. Kami ke sini mau membantu. Tolong kasih tahu, siapa saja pelaku yang telah menghabisi Kinanti?"
"Kenapa kamu penasaran soal ini, Satya?" tanya Wira curiga.
Angin dingin menyusup dari lubang udara berbentuk persegi panjang yang memenuhi kusen bagian atas rumah klasik ini. Gorden jendela tipis berwarna merah menyala di depan kami berkibar-kibar tak menentu, karena angin memainkannya ke segala arah. Seperti sebuah tanda ada yang menunjukkan diri.
Sekilas Satya menoleh ke belakang. Tak ada apa pun dari jendela itu. Dia lalu melanjutkan kalimatnya.
"Aku tahu Mas adalah orang baik. Meskipun dulu mungkin Mas pernah berbuat salah, tapi aku yakin Mas sudah bertaubat. Jadi, aku ingin menghentikan teror Kinanti ini, supaya nggak ada korban lagi seperti Mbak Aruna dan Pak Kades."
"Satya, kenapa kamu mau ikut campur dalam masalah ini? Kamu kan nggak ada kaitannya dengan kasus ini?" Wira semakin merasa bingung.
"Istriku adalah jelmaan dari kuntilanak itu, Mas," jawab Satya dengan tegas.
Bam! Mendadak pintu kamar tertutup rapat. Putri kecil Wira berteriak ketakutan. Lelaki itu langsung berlari-lari menghampiri anaknya.
"Nggak apa-apa, Nduk. Itu cuma angin," kata Wira menenangkan. Dia lalu mengganjal daun pintu dengan kursi kecil.
Sementara Satya mulai merasa ada yang aneh. Dia menduga, Kinanti tak suka dengan apa yang dilakukannya. Manik matanya pun melirik ke kiri dan ke kanan, tapi lagi-lagi dia nggak melihat apa pun.
"Kau tadi bilang apa? Memangnya itu masuk akal?" bantah Wira tak percaya, setelah kembali ke tempat duduknya.
"Itu benar, Mas. Aku sendiri saksinya," ucap Endaru meyakinkan Wira.
__ADS_1
"K-kok bisa?"
"Panjang ceritanya, Mas." Satya pun Kemudian menceritakan bagaimana awal dia bertemu dengan Kinanti, sampai hari ini.
"Jadi penampakan itu benar-benar sosok jin qorin yang menyerupai Kinanti?"
"Iya."
"Ya Allah..." Wira bergidik ngeri. "Apa sekarang dia juga ada di sini?" Manik mata lelaki itu bergerilya ke kiri dan ke kanan.
"Sekarang dia nggak ada. Makanya aku ingin menghentikan teror ini, sebelum ada korban lainnya. Tapi aku nggak tahu harus meminta bantuan ke mana? Kinanti nggak pernah mau menyebut nama-namanya," ucap Satya.
"Apa ini nggak berbahaya? Aku takut Kinanti malah melukaimu nanti," kata Wira merasa ragu. Dia takut hal ini malah menjadi bumerang bagi Satya dan keluarganya.
"Apapun itu aku harus menghentikan teror ini," tekad Satya.
"Yaudah kalau gitu. Mungkin ini saatnya aku harus menebus dosa masa laluku," ucap Wira lirih. Air matanya kembali merebak, teringat betapa bejatnya dia dulu.
"Jadi selain aku Rani Aruna dan Aksa, masih ada dua pelaku lainnya yaitu Arga dan Genta," ungkap Wira setelah mengusap matanya yang basah.
"Maksudnya Mas Gentala?" Satya dan Ndaru terlonjak kaget mendengarnya.
Wira menganggukkan kepalanya dengan tegas, "Tapi sejak Tamat SMA, aku sudah tidak satu geng lagi dengan mereka. Aku bahkan nggak punya nomor HP-nya."
"Nggak apa-apa, Mas. Kami bisa bantu menghubungi Mas Genta. Kita harus cepat menyelesaikan masalah ini," ujar Wira.
"Kurasa, satu-satunya menyelesaikan masalah ini adalah mengakui kesalahan pada kedua orang tua Kinanti. Lalu menemukan sisa-sisa jasadnya untuk dimakamkan."
Wira masih teringat kedatangan Kinanti beberapa hari yang lalu. Sosok kuntilanak itu, beberapa kali minta dibawa pulang. Kini, Wira pun mengartikan bahwa kuntilanak itu ingin mereka menemukan sisa-sisa tulang belulangnya.
"Aku juga berpikiran gitu. Mana tahu Mas Genta bisa mempercepat pencarian itu," balas Satya.
"Kayaknya nggak mungkin, Mas. Karena aku baru dapat kabar, Mas Genta dan istrinya meninggal dalam kecelakaan."
"Astaghfirullah! Kapan kejadiannya?" tanya Wira dan Satya bersamaan.
"Barusan." Endaru menunjukkan pesan singkat beserta beberapa foto yang dikirimkan di beberapa grup chat.
"Ya Allah. Kenapa bisa separah ini?"
Wira bergidik ngeri. Netranya melirik ke arah kedua buah hatinya, yang sedang asyik menonton kartun di ruangan sebelah. Dia tak bisa membayangkan, bagaimana nasib mereka nanti kalau dia nggak ada.
"Kalau begitu, satu-satunya pelaku yang tersisa selain aku cuma Arga," bisik Wira dengan lemas.
__ADS_1
"Arga itu siapa?" tanya Satya. Dia tak pernah mendengar nama itu di desa ini.
"Eka Argani. Dulu dia tinggal di sini juga. Sekarang kerja di pertambangan. Dia jarang pulang," jawab Wira. Kepalanya mengingat-ingat, siapa gerangan yang bisa membantunya, untuk menghubungi Arga.
"Tapi, apa Mbak Laksmi... Eh maksudnya Kinanti juga meneror orang yang berada jauh dari desa sini?" celetuk Endaru.
"Tentu saja iya. Semua pelaku harus mendapatkan balasannya. Hihihihi..."
"Laksmi?"
Bulu kuduk Satya berdiri, mendengar tawa melengking itu. Sementara Wira dan Endaru menggunakan bantal, untuk menutupi wajah mereka masing-masing. Rupanya sosok kuntilanak itu duduk di tengah-tengah mereka, dengan wajah hancur dan baju SMA yang tak putih lagi.
"Ki-kinanti, maafkan aku," bisik Wira lirih. Seluruh persendiannya bergetar seakan mau lepas, saking takutnya.
"Aku akan memaafkan siapa pun, asalkan mau mengakui kesalahannya." Sosok itu bergumam lirih, dengan nada sangat rendah.
"Dek..." Hati Satya teriris, melihat sosok yang pernah mengisi hari-harinya berwujud kian mengerikan. "Dek, kamu nggak marah padaku, karena ikut campur masalah ini, kan? Semuanya demi kamu."
Kuntilanak itu tak menjawab. Dia hanya menunduk, sambil meneteskan air mata darah. Tangisannya begitu pilu dan menyayat hati. Untunglah, hanya mereka bertiga yang bisa mendengarnya. Wujudnya pun perlahan menjadi samar, lalu menghilang.
"Haaah, Laksmi. Aku nggak tahu kamu masih ada di sini atau nggak. Tapi aku akan tetap melakukan rencana ini, demi kebaikan kita semua." Satya berbicara seorang diri, tanpa Laksmi di hadapannya.
"Hihihihihi..." Suara tawa yang melengking itu kian terdengar menjauh. Tapi mereka tak melihat sosok kuntilanak itu.
"Katanya, kalau suaranya jauh artinya dia dekat, kan?" Wira bergidik ngeri. Dia melirik ke arah kamar anak-anaknya. Sepertinya mereka tak terganggu sama sekali.
"Mas, sepertinya aku tahu ke mana mencari nomor HP Mas Arga," celetuk Endaru.
"Dari mana?"
"Mas ada grup alumni SMA, nggak? Mungkin di situ ada nomor Mas Arga. Atau teman-teman lain untuk tempat bertanya."
"Ah, kenapa aku nggak kepikiran?" Wira segera bangkit dan mengambil HP-nya.
Sesuai dugaan Ndaru, Wira ternyata tergabung dalam grup alumni SMA. Tetapi baru kali ini isi chat-nya sampai ratusan. Semua isinya mengucapkan kalimat duka cita untuk Genta dan Aruna.
"Ya ampun! Ini beneran?" Wira hampir menjatuhkan HP-nya karena sangat terkejut. Wajahnya seketika memucat.
"Ada apa, Mas?" tanya Satya dan Ndaru penasaran.
"Ada teman yang ngabarin, katanya Arga sekarang ini kritis di rumah sakit."
(Bersambung)
__ADS_1