Istriku Kuntilanak

Istriku Kuntilanak
Bab 12. Jangan Pergi!


__ADS_3

Malam itu, udara di luar sangat dingin. Jalanan sangat sepi. Gelap, tidak ada lampu penerangan sepanjang jalan. Hanya ada cahaya lampu mobil yang ditumpangi pria sepuh itu, yang memecah kegelapan.


Pak Dukun merasa masih sedikit kesal, karena perjalannya sangat terlambat. Sebelum pergi, ada banyak sekali kendala yang dia hadapi. Mulai dari HP-nya yang mendadak jatuh dan rusak, lalu ban mobilnya pecah. Belum lagi arus jalanan yang sangat macet akibat perbaikan jalan.


Pak Dukun merasa, terlalu banyak rintangan untuk menemui seorang pemuka agama yang juga dikenal mampu mengatasi masalah gangguan astral. Namun Pak Dukun tak menyerah begitu saja. Tekadnya begitu kuat menemui orang itu dan meminta bantuannya.


Setelah beberapa kilometer perjalanan memasuki jalan kecamatan yang kian menyempit, kini pria itu melewati jalan yang dipenuhi pepohonan di kiri dan kanan. Vegetasi begitu rapat, tidak terlihat apa-apa di balik barisan pohon setinggi belasan meter itu.


Ctar! Petir menyambar kuat, hingga jalanan di depan terlihat jelas. Di luar, rintik hujan mulai menjejak ke bumi. Kegelapan malam mengepung satu-satunya mobil di jalan itu. Di tambah kabut tebal yang menyelimuti, membuat suasana semakin mencekam.


"Ini kan bukan pegunungan. Tapi kenapa kabutnya tebal banget?" tanya Pak Dukun pada dirinya sendiri.


Saat ini dia buta arah, karena HP-nya yang rusak tak bisa digunakan untuk membuka GPS. Dia hanya mengandalkan tekad dan ingatannya yang samar untuk menuju ke kediaman pemuka agama tersebut.


Jalanan mulai berlubang, memaksa Pak Dukun mengurangi kecepatannya. Tiba-tiba terdengar suara tangisan perempuan di balik pepohonan. Bulu kuduk Pak Dukun meremang. Bibirnya komat kamit membaca doa.


Sesaat kemudian, suara tangisan itu berubah menjadi jeritan, yang membuat nyali ciut. Suaranya melengking, memecah keheningan malam. Rintik air hujan di badan mobil bahkan tak mampu meredamnya.


"Ya Gusti, ada apa lagi ini?" pikir Pak Dukun resah.


Suasana kembali hening. Udara malam di dalam mobil terasa gerah, sekalipun pendingin udara tetap menyala. Suara jeritan perempuan tadi masih terngiang di telinga, memacu detak jantung hingga tubuh panas dingin.


Untungnya, roda mobil kembali naik ke aspal. Ini kesempatan Pak Dukun untuk segera memacu kendaraannya.


Brak!


Baru saja dia menekan pedal gas cukup dalam, mobilnya seakan menabrak sesuatu dengan keras di sebelah kiri. Sontak pria itu memutar pandangannya ke arah sumber suara.


"S ... Se ... Setan!"


Pak Dukun menjerit sekuat-kuatnya, kala makhluk berlumuran darah dan rambut panjang di tempat duduk sebelahnya menyeringai lebar.


"Hihihihihi ..." Tawanya yang melengking, memekakkan telinga Pak Dukun.


Pria itu kehilangan akal. Mau Keluar dari mobil dan lari, tapi tempat ini sangat sepi tidak ada perumahan. Dia tak ingin meninggalkan mobil sewaan itu. Mau lanjut berjalan, makhluk itu hanya berjarak kurang dari satu jengkal dari dirinya. Akhirnya dia hanya bisa berdoa sambil memacu kendaraannya dengan cepat.

__ADS_1


"Hihihihihi ..."


Pak Dukun merasa lehernya seperti disentuh sesuatu yang sangat dingin bagai es. Bayangan hitam di dekat bahunya menandakan, bahwa makhluk itu kian mendekati dirinya.


"Mati!"


Hanya itu yang di dengar Pak Dukun di tengah deru mobil yang melaju kencang. Netranya tak berani melirik ke kiri demi kesehatan jantungnya.


"Kamu akan mati kalau tetap pergi ke sana. Hihihihi ..."


"Astaghfirullahaladzim! Audzubillahiminas syaitonnirrojim!"


Pak Dukun memacu kendaraannya tak terkendali, ketika wajah pucat dan mata hitam legam itu tiba-tiba muncul tepat di depan wajahnya. Dia bahkan bisa melihat belatung di dalam tenggorokan makhluk itu.


Bruakk! Nit! Nit! Nit!


Mobil produksi Jepang itu akhirnya berhenti setelah menabrak sesuatu dengan keras. Hanya alarm mobilnya yang melengking di tengah keheningan malam.


...***...


Satya terbangun di tengah kegelapan. Tangannya meraba seluruh permukaan kasur. Lagi-lagi sang istri tidak ada di sebelahnya.


Seorang wanita dengan rambut panjang terurai berdiri di samping lemari. Tangan kanannya memegang sebuah cangkir, sementara tangan kirinya menyalakan lampu. Dia lalu melangkah pelan, mendekati sang suami.


"Oalah, kamu di situ rupanya. Ngapain jam segini kamu bangun?" tanya Satya sembari duduk di atas kasur. Tangan kanannya mengucek matanya yang masih mengantuk.


"Aku haus, jadi ambil minum ke dapur. Lagian ini udah jam setengah empat, kok," kata Laksmi. "Mana mungkin aku bilang, kalau aku baru saja keluyuran dan mengganggu dua pria malam ini, kan?"


"Jam setengah empat?" Satya melompat dari tempat tidur lalu bergegas ke kamar mandi.


"Mau ngapan, Mas?" tanya Laksmi dengan kening berkerut.


"Mau sholat tahajud. Mumpung udah bangun gini, sayang kalau tidur lagi," jawab Satya sambil tersenyum tipis.


Laksmi membuang napas denga kasar, setelah sang suami memasuki kamar mandi. "Kenapa semua orang di rumah ini rajin ibadah, sih? Apa dia membuat pencitraan suami baik di depanku? Mereka sekeluarga juga nggak pernah bertengkar," umpat Laksmi.

__ADS_1


Terdengar gemericik air dari kamar mandi. Air wudhu yang membasuh Satya, memancarkan cahaya yang sangat cemerlang dan aroma yang harum. Namun hal itu justru membuat Laksmi merasa sakit di sekujur tubuhnya.


"Kalau begini terus, sebelum satu minggu jiwaku bisa hancur." Wanita berwajah ayu itu bergegas pergi dari kamar, sebelum Satya keluar dari kamar mandi.


"Untunglah tadi malam aku mendapat mangsa baru yang bisa diserap energinya. Tak kusangka, pejabat desa itu memiliki jiwa yang sebusuk ini? Apa karena dia banyak memakan uang warga desa? Atau dia punya kebiasaan buruk lainnya?"


Laksmi yang duduk manis di lantai dapur, hanya termenung mengingat kejadian tadi malam. "Terserahlah apa dosa yang dilakukannya. Yang penting dia bisa energi jahatnya bisa membuatku bertahan lebih lama di dunia ini."


"Laksmi, kenapa duduk di situ? Memangnya gak dingin?"


Laksmi menoleh ke arah asal suara. Rupanya sang ibu mertua telah bangun. Keluarga ini memang terbiasa memulai aktivitas sebelum subuh.


"Ndak kok, Bu. Justru karena udaranya panas, makanya cari yang adem-adem," balas Laksmi sambil beranjak dari posisinya.


"Apa kamar kalian panas? Padahal tadi malam hujan, lho," kata Bu Kesha, sembari mengambil beras dari dalam karung. Wanita itu hendak memasak nasi untuk sarapan.


"Iya, lumayan panas, Bu," jawab Laksmi sekenanya. "Ibu mau masak apa? Biar ku bantu," ucap Laksmi menawarkan diri.


Satya yang telah selesai sholat tahajud dan berdiri di pintu dapur, tersenyum riang melihat kedekatan istri dengan ibunya. "Semoga Laksmi betah di sini sampai aku beli rumah sendiri. Semoga nggak ada drama-drama menantu dan mertua seperti rumah tangga lainnya."


"Mas, ngapain ngelamun di situ? Laper? Mau aku buatkan teh?" Laksmi menegur Satya yang terpaku di sana.


Satya menjawab pertanyaan Laksmi dengan gelengan kepala dan senyum kecil di bibirnya.


"kenapa sih, Mas? Aneh banget," kata Laksmi sambil mengupas bawang.


"Maklumin aja, Laksmi. Namanya baru punya istri," gumam Bu Kesha sambil tertawa geli.


"Ha?" Kening Laksmi berkerut, berusaha mencerna maksud kalimat ibu mertuanya.


"Udah, jangan ngelamun di sana, Sat. Ntar kesambet, lho. Bangunkan adikmu sana, siap-siap ke masjid," perintah Bu Kesha pada anak sulungnya.


"Nggeh, Bu," sahut Satya sambil ngeloyor pergi.


"Ck, gak asik banget keluarga ini. Kapan ada keributan dan pertengkaran? Minimal iri dengki, deh. Aku butuh energi jahat untuk mempertahankan jiwaku," gumam Laksmi pada dirinya sendiri.

__ADS_1


"Aku akan cari tahu, pasti ada yang mereka sembunyikan dariku. Karena aura Satya sangat berbeda dibanding orang lain."


(Bersambung)


__ADS_2