Istriku Kuntilanak

Istriku Kuntilanak
Bab 40. Misteri Laksmi


__ADS_3

"Jadi gimana istri saya itu, Pak Ustadz? Apakah dia ketempelan makhluk halus, atau dia memang punya pegangan?" tanya Satya pada pria yang mengenakan peci putih.


Jera menggunakan jasa orang pintar, Satya kini beralih meminta bantuan seorang ulama. Dia bersama Hadyan, sampai pergi ke pesantren tempat dia menimba ilmu dulu. Bermodalkan video dari HP-nya, dia pun menanyakan tentang istrinya pada sang guru.


"Maaf, Satya. Bukan mau menyinggung istrimu. Tetapi... Aromanya seperti orang yang sudah meninggal," ujar lelaki yang akrab disapa dengan Pak Soleh itu.


"Soal itu, sebenarnya saya juga sering menciumnya, Pak," jawab Satya dengan jujur. "Tetapi selama ini saya hanya mengira, itu karena penyakit langka yang dia derita selama ini," imbuhnya lagi.


Pak Soleh menggelengkan kepalanya, "Bahkan orang yang memiliki luka luar seperti diabetes dan penyakit lainnya pun gak akan memiliki bau seperti itu. Jelas ada yang berbeda dengan istrimu," ucapnya dengan berat hati.


Satya menarik napas panjang. Udara sepoi-sepoi yang datang dari arah sungai, membuat rambutnya yang mulai panjang tertiup angin. Sementara Hadyan yang duduk agak terpisah, menyibukkan diri dengan HP di tangannya.


"Nak, sebelum menikah apa kamu sudah mengenal dia cukup lama?" tanya Pak Soleh.


"Belum, Pak. Kami hanya mengenal kurang lebih satu bulan. Merasa cocok, saya pun menikahinya," balas Satya.


"Terus kamu sekarang menyesal?" tanya Pak Soleh lagi.


"Nggak, Pak. Dia perempuan yang baik pada saya dan adik-adik saya. Dia juga sangat sopan dan menghargai kedua orang tua saya. Tapi ya itu tadi, kadang dia sedikit aneh," jawab Satya dengan lancar dan lantang.


Lelaki yang sudah memasuki usia lima puluh tahunan itu tersenyum tipis. Tangannya lalu memegang cangkir putih berisi kopi susu.


"Bapak jadi ingat dua puluh tahun lalu, waktu pertama kali ketemu istri Bapak di acara pengajian. Persis kayak kamu sekarang ini. Di mata saya, dia adalah perempuan paling sempurna," cerita Pak Soleh.


Satya hanya tersenyum saat mendengar celoteh Pak Soleh tentang masa lalunya. Gurunya yang satu ini memang dikenal sebagai pria yang sangat sayang terhadap istri dan keluarganya.


"Tetapi, Nak. Bapak harus berkata jujur. Sepertinya istrimu menyimpan dendam yang teramat besar. Auranya gelap sekali." Pak Soleh menyambung kalimatnya.


"Dendam sama siapa, Pak?" Satya tersentak kaget.


"Bapak nggak tahu. Apakah keluarga kalian pernah punya masalah sama seseorang?" Pak Soleh balik bertanya.


Satya mengerutkan keningnya. Dia mengingat-ingat semua interaksi keluarga mereka pada semua orang. Setahu Satya, kedua orang tuanya tak pernah membuat keributan dan masalah dengan orang lain. Tetapi isi hati orang lain siapa yang tahu, kan?


"Apa dendamnya ini yang bikin dia aneh, Pak Ustadz?" tanya Satya penasaran.


"Bisa jadi."


"Jadi istri saya beneran punya pegangan?" Satya terus mengulik imformasi dari pria itu.

__ADS_1


"Kalau soal itu Bapak nggak terlalu paham, Satya. Tetapi sepertinya istrimu nggak memiliki pegangan apa pun. Hanya auranya saja yang gelap dan pekat. Serta aromanya seperti orang sudah meninggal," jelas Pak Soleh.


"Begitu, ya? Apa memang gak ada makhluk halus yang menempel padanya, Pak? Kadang malam hari saya melihat sosok aneh di kamar," tanya Satya lagi.


"Sosok aneh? Bapak nggak bisa menjawab soal itu, karena nggak melihatnya langsung."


"Jadi solusi untuk saya gimana, Pak?"


"Banyak-banyak saja berdzikir dan berdoa. Lalu sesekali ajak dia sholat berjamaah dan mengaji bersama. Mudah-mudahan dengan begitu aura pekat yang menaunginya perlahan menghilang."


Satya tercekat mendengar ucapan Pak Soleh. Dia baru sadar, sejak menikah tak pernah melihat Laksmi sholat apalagi mengaji. Padahal Laksmi sudah selesai datang bulan sejak beberapa hari yang lalu.


"Satya, kenapa malah bengong? Masih ada yang mengganjal di hatimu?" ucap Pak Soleh sambil memperbaiki posisi duduknya.


"Duh, maaf Pak. Sebenarnya memang masih ada beberapa yang mengganjal. Tetapi saran dari Pak Ustadz nanti akan saya coba," kata Satya kemudian.


"Apa kamu sudah mencari tahu tentang istrimu di kampungnya dulu? Mungkin bisa dapat petunjuk lain dari teman-teman dan tetangganya," usul Pak Soleh.


"Ah, benar juga. Kenapa aku nggak kepikiran, ya? Selama ini aku hanya berusaha mencari tahu dari ayah mertuaku. Padahal beliau sendiri seperti menyembunyikan sesuatu," batin Satya.


"Apa ada lagi yang ingin kamu tanyakan?" kata Pak Soleh memecah lamunan Satya.


"Untuk sementara itu dulu, Pak.Terima kasih sarannya. Maaf sudah mengganggu waktu istirahat Bapak. Kalau begitu kami permisi dulu. Assalamualaikum," kata Satya sambil menyalami gurunya itu.


Satya dan Hadyan pun bergegas pergi. Terik matahari yang menggantung di atas kepala, mengiringi langkah kaki kedua pemuda itu.


"Hm, bagaimana caranya aku jujur, Satya? Kalau yang kamu nikahi itu orang yang sudah mati. Apa kamu bakalan percaya?" gumam Pak Soleh pada dirinya sendiri.


...***...


Satya termenung. Netranya memandang kosong ke arah jalanan yang terik dan penuh kendaraan. Suara klakson yang bersahut-sahutan tak mampu memecahkan lamunannya yang teramat dalam.


Lelaki itu masih belum puas dengan jawaban dari Pak Soleh. Pertanyaan demi pertanyaan bermunculan di kepalanya. Tapi ya mau bagaimana lagi, dia nggak bisa memaksakan orang lain untuk mengetahui semuanya.


"Sat, mau makan di angkringan apa makan nasi rames?" tanya Hadyan yang memegang kemudi.


Berselang lima detik, pemuda itu masih belum mendengar jawaban dari Satya. Dia pun menoleh ke kiri, mendapati Satya sedang melamun.


"Woi, Bang Sat. Aku ngelih iki. Kita arep makan neng endi?" -Aku lapar ini. Kita mau makan di mana?-

__ADS_1


Hadyan mengguncang tubuh rekannya, hingga Satya tersentak kaget. Usahanya berhasil, Satya menoleh ke kiri dengan bibir manyun.


"Jantungan aku, Dyan," umpatnya kesal.


"Ya habisnya dari tadi ditanyain ndak dijawab. Aku laper ini. Kita mau makan di mana?" ujar Hadyan gak kalah ngegas.


"Terserahmu aja. Di angkringan juga boleh," kata Satya tak bersemangat.


"Yaudah, kita mampir di depan sana aja, ya." Hadyan menunjuk ke sebuah plang kedai nasi yang masih berjarak sekitar dua ratus meter lagi.


"Hmm," balas Satya singkat.


"Sat, apa kamu mau langsung ke Dusun Wingit setelah kita makan nanti? Biar keningmu gak berkerut lagi?" usul Hadyan sembari menepikan kendaraannya.


"Gak usah. Kita kan cuma izin dua jam, termasuk waktu istirahat. Lagian aku mau coba saran pertama dari Pak Soleh dulu," kata Satya.


"Yaudah kalau gitu. Terserahmu saja," kata Hadyan sambil mematikan mesin kendaraannya dan bersiap turun.


"Maaf ya, aku ngerepotin terus," kata Satya sebelum turun dari mobil.


"Apa sih, Sat? Melow banget. Geli tahu," kata Hadyan sambil terbahak. "Yok lah turun. Perutku udah kempes ini."


"Mbok, aku pesen nasi telur pindang, yo," kata Hadyan memesan makan siangnya. Setelah itu dia pun berjalan mencari meja kosong.


Langkah Kakinya terhenti, kala matanya melihat seorang perempuan berpakaian SMA duduk di salah satu sudut ruangan. Dia tampak memperhatikan dua pria yang sedang berbincang sambil makan.


"Itu bukannya Laksmi?" gumam Hadyan pada dirinya sendiri. Matanya terus memperhatikan perempuan yang diabaikan oleh orang-orang di sekelilingnya, seakan tak terlihat.


"Kenapa, sih? Ayo cepat cari meja. Katanya laper?" kata Satya yang berada di belakangnya.


Hadyan menunjuk ke arah meja tadi, untuk memperlihatkan perempuan itu pada Satya. Dia masih duduk diam di sana sambil menatap ke arah kedua lelaki di meja depannya. Tapi Hadyan baru sadar, bahwa perempuan berseragam itu bukanlah Laksmi. Hanya sekedar mirip.


"Oh, duduk di sana. Ayo." Satya yang salah paham, langsung menuju ke meja itu mendahului Hadyan.


"Astaga!"


Hadyan terkesiap saat Satya menuju meja dan kursi yang diduduki wanita itu. Pelayan itu melewatinya dengan leluasa. Dengan kata lain, dia menembusnya.


"Mas Aksa, Mas Genta, makan di sini juga?" Satya pun menyapa kedua lelaki yang ditatap sosok itu.

__ADS_1


"Waduh! Jadi kita duduk sama hantu?" seru Hadyan menepuk jidatnya.


(Bersambung)


__ADS_2