
*•••••••✰⁞ᮬ᭄ ཻུ۪۪۪۫ ֯͜ 💜 Mutiara Hikmah 💜✰⁞ᮬ᭄ ཻུ۪۪۪۫ ֯͜ •••••••*
"Segala sesuatu telah diatur. Berjalanlah terus sesuai dengan jalanmu. Jangan kau terganggu dengan apapun yang terjadi, karena tidak ada yang terlepas dari Allah. Semuanya telah teratur, kau perbaiki saja jalanmu dengan bersungguh-sungguh. Jangan kau sibukkan dengan pemikiran yang tidak bermakna bagimu."
[ Al Habib Umar Bin Hafidz ]
اَللّٰهُمَّ صَلِّی عَلَى مُحَمَّدْ اَللّهُمَّ صَلِّی عَلَيْهِ وَسَلِّمْ
__sᴛᴏʀɪᴇs ᴏғ ᴛʜᴇ ᴅᴀʏ__
*•••••••••••••••••✰⁞ᮬ᭄ ཻུ۪۪۪۫ ֯͜ 💜✰⁞ᮬ᭄ ཻུ۪۪۪۫ ֯͜ ••••••••••••••••••*
Setelah Rey, tak terlihat lagi, Gibran kembali fokus pada pekerjaannya. Namun itu tak berlangsung lama, karena terdengarnya sebuah ketukan pada pintu ruangannya, membuat konsentrasi langsung buyar. Dan karena hal itu membuat ia menjadi kesal.
"Hu'uuh! Siapa sih! Ganggu saja!" gumam Gibran, amat kesal. Karena tak ingin mendengar suara yang bikin dia kesal akhirnya.."Masuk!!" serunya dan tak berapa lama, seorang wanita cantik masuk keruangannya.
"Siang Pak!" kata Wanita itu seraya ia membungkukkan tubuhnya sedikit.
"Ada apa Lestari?! Bukankah saya sudah katakan! Jangan ganggu saya kalau tidak saya panggil! Apalagi kamu tidak paham dengan bahasa manusia hah?!" cetus Gibran, terlihat sekali ia begitu marah pada wanita itu.
"Maaf Pak! Tapi Bu Presdir Syarah Siskha ingin bertemu dengan Anda pak!" balas wanita yang di panggil Lestari tersebut.
"Nenek?!" sentak Gibran. Dan disaat bersamaan muncullah seorang wanita tua, dengan memakai pakaian serta hijab, ala Bunda Hetty Koes Endang. Sehingga walaupun ia sudah tua, namun masih terlihat cantik dan elegan.
__ADS_1
"Ya ini Aku! Aku yang memperintahkan Lestari, Kenapa? Apakah CEO Gibran Prayuda tidak suka kalau Nenek tua ini datang kesini, hm?" tanya Wanita tua, yang di panggil Bu Presdir Syarah Siskha tersebut. Dengan nada datarnya, ia menatap wajah Gibaran dengan tatapan dinginnya. Tampak sekali dari raut wajahnya, kalau ia sedang kesal pada Gibran.
"Eh, tidak Nek, bukan seperti itu, Yuda itu tadi bermaksud hanya mendisplinkan karyawan Yuda saja Nek!" balas Gibran, seraya ia bangkit dari duduknya, dan langsung menghampiri Syarah.
"Cih, alasan saja kamu!" kata Syarah dengan ketus.
"Iya iya, deh! Yuda yang salah! Ya udah Yuda minta Maaf sama nenek deh," balas Gibran seraya ia memeluk tubuh wanita yang dipanggil Nenek olehnya tersebut. Tak lupa juga ia memberikan kecupan ke pipi kanan dan kirinya dan terakhir ia mengecup dahinya juga.
"Huh..! Dasar Anak nakal! Kamu pikir bisa merayu Nenek dengan cara seperti ini hm?" tanya Syarah, masih dengan tatapan datarnya.
"Siapa juga yang merayu nenek? Yuda mah tahu, nenek itu nggak bisa dirayu! Jadi untuk apa Yuda buang-buang waktu untuk merayu nenek? Yuda melakukan ini karena kangen saja, sama Nenek. Emangnya nggak boleh apa? Kalau Yuda kangen sama Nenek hm?" balas Gibran dengan tampang tengilnya. Membuat wajah Syarah langsung berubah, tampaknya ia langsung luluh dengan perkataan dari cucunya itu.
"Haiiis..! Kamu emang paling bisa ya? Membuat hati Nenek kamu ini langsung meleleh. Sehingga tadinya Nenek mau memarahi kamu jadi nggak jadi deh!" ujar Syarah, yang akhirnya ia pun memeluk tubuh Gibran.
"Hmm..! Gombal kamu! Kan Nenek sidah katakan kalau Nenek itu nggak bisa dirayu tahu!" kata Syarah seraya ia melepaskan pelukannya, lalu ia pun berjalan menuju sofa yang berada di ruangan Gibran juga.
"Iya iya, Yuda tahu kok Nek! Kan udah Yuda katakan juga Yuda tidak mau merayu Nenekkan?Tapi, ngomong-ngomong, sebenarnya ada apa Nenek menemui Yuda? Seharusnya kalau nenek ingin bertemu Yuda, tinggal ngomong saja, biar Yuda yang akan datang ke ruangan nenek," ujar Gibran, seraya ia ikut duduk di sofa, tepat didepan Syarah, yang sudah duduk terlebih dahulu.
"Oh iya? Huh.. banyak omong kamu, Yuda! Bilangnya aja kalau dipanggil akan datang! Lalu emangnya siapa ya yang kemarin Nenek panggil, tapi tidak datang, hm?" balas Syarah, yang wajahnya kembali terlihat datar. Setelah mendengar perkataan Gibran.
"Maaf Nek, kemarin itu Yuda ada meeting, sama klien. Jadi nggak mungkinkan? Yuda membatalkan meeting, yang menghasilkan miliaran untuk perusahaan kita Nek," ujar Gibran, memberikan penjelasan pada sang nenek.
__ADS_1
"Memangnya Nenek, memanggil hanya sekali saja ya? Dan apa meeting satu harian gitu? Sehingga tidak punya waktu untuk nenek hm?" Syarah, seperti belum puas pada jawaban sang cucu. Sehingga ia terus memberikan pertanyaan-pertanyaan pada Gibran.
"Maaf loh Nek! Terkadang sepulang kerja atau meeting, Yuda sudah kelelahan, hingga akhirnya Yuda lupa deh untuk menemui Nenek," balas Gibran masih memberikan alasan, agar Neneknya tidak marah lagi padanya.
"Aaah.. sudahlah! Ngomong sama kamu tuh nggak bakalan menang! Selalu ada saja beralasannya!" cetus Syarah, yang akhirnya ia terlihat pasrah. Membuat Gibran kembali lagi menyunggingkan senyuman kemenangannya.
"Sudahlah Nek, jangan marah-marah lagi, yang ada nanti keriputnya Nenek bertambah loh. Lagian Yuda sulit menemui Nenek itu karena tanggung jawab Yuda semakin banyakkan? Tapi yang penting Nenek itu selalu ada dihati Yuda kok," tutur Gibran, seraya ia bangkit dari duduknya, lalu ia pun berpindah duduk yang Kini ia berada disampingnya Syarah, lalu ia pun memeluknya.
"Aah.. Kamu memang cucu sayanganku! Dan paling bisa aja membuat hati Nenek tua ini selalu berbunga-bunga," balas Syarah, yang akhirnya ia membalas pelukan sang cucu. Namun pelukan itu hanya sesaat, karena tiba-tiba saja Syarah seperti ingat sesuatu,
"Et, tapi kamu jangan senang dulu ya? Karena Nenek masih akan menagih janji kamu! Kamu Ingatkan? Perjanjian kita dalam seratus hari harus mendapatkan Istri? Kalau dalam seratus hari kamu belum juga mendapatkan istri! Maka gelar CEO akan berpindah ke Adik sepupu kamu! Jadi camkan itu!" ujar Syarah mengingatkan Gibran, akan perjanjian mereka.
"Haiiis.. Kenapa Nenek selalu ingat itu sih?" keluh Gibran, seraya ia menyandarkan kepalanya kesadaran sofa.
"Ya ingat dong! Ingat Nak, Umur kamu sudah hampir memasuki kepala tiga! Masa kamu kalah sama Adik sepupu kamu yang sudah bertunangan, hm? Jadi kalau sampai Yusril duluan yang menikah, maka kamu harus merelakan perusahaan ini untuk dia! Kamu mengerti?" balas Syarah, membuat wajah Gibran langsung berubah menjadi kesal.
"Enak banget dong Yusril! Yuda yang bersusah payah, dan Yuda yang ikut andil membesarkan perusahaan ini harus tersingkir sih? Hanya karena belum menikah?" protes Gibran. Tampak sekali ia tidak suka dengan sepupunya yang bernama Yusril tersebut.
"Itu bukan urusan Nenek! Bukankah Nenek sudah berkali-kali mengingatkan kamu hm? Tapi kamu masih saja terlihat santaikan? Pokoknya kalau perjanjian kita yang tinggal satu bulan lagi itu kamu belum juga mendapatkan istri! Makanya jangan menyalahkan Nenek, kalau kamu tersingkir dari perusahaan ini!" pungkas Syarah, seraya ia bangkit dari duduknya, lalu ia pun langsung melangkah keluar dari ruangannya Gibran.
"Haiiis.. masih saja ya, Nenek sesuka hatinya mengancam! Emangnya gampang apa mencari istri!" keluh Gibran seraya mengusap wajah dengan kasar.
...•••••••••✰⁞ᮬ᭄ ཻུ۪۪۪۫ ֯͜ 💜✰⁞ᮬ᭄ ཻུ۪۪۪۫ ֯͜ ••••••••••...
__ADS_1
Jangan lupa tinggalkan jejaknya ya guys 😉🙏
Serta jangan lupa berikan 👉" ⭐⭐⭐⭐⭐ " serta ulasan Oke 😉 Dan tak lupa juga Vote serta Hadiahnya ya 🤭 biar memicu Author update kembali oke guys 😉 Syukron 🥰.