
*•••••••✰⁞ᮬ᭄ ཻུ۪۪۪۫ ֯͜ 💜 Mutiara Hikmah 💜✰⁞ᮬ᭄ ཻུ۪۪۪۫ ֯͜ •••••••*
Syaikh Shalih al-'Utsaimin rahimahullah berkata :.
"Jangan engkau membenci sesuatu yang telah Allah pilih, karena sejatinya Allah memilihkan sesuatu yang padanya mengandung kemaslahatan besar yang engkau tidak mengetahui darinya." (Syarh Riyadh As-Shalihin, 3/30)
Bagai gelombang di lautan, kadang pasang dan saat lain surut. Keduanya mempunyai efek sendiri.Tapi itulah bagian keindahan laut. Seperti itulah hidup kita. Senang ketika begitu banyak nikmat dan kemudahan dari Allah, saat lain kita bersedih ketika ujian mendera. Itulah warna hidup kita.
Kita tidak bisa memilih bagaimana hidup kita, karena semua adalah ketentuan Allah. Tugas kita adalah Ta'at, mengikuti aturan itu. Bersyukur ketika senang dan bersabar ketika diuji. Simple memang, perlu perjuangan menjalaninya
Yakinlah semua adalah skenario dari sang Maha Pencipta. *"Allah memberi apa yang baik menurutNya bukan apa yang engkau inginkan"*
(petikan terjemahan QS 2:216)
__sᴛᴏʀɪᴇs ᴏғ ᴛʜᴇ ᴅᴀʏ__
*•••••••••••••••••✰⁞ᮬ᭄ ཻུ۪۪۪۫ ֯͜ 💜✰⁞ᮬ᭄ ཻུ۪۪۪۫ ֯͜ ••••••••••••••••••*
"Apa! Ke KUA?!" tanya Alisha, yang terlihat ia begitu terkejut tatkala Gibran, yang langsung menarik tangannya. Dan hendak membawanya ke KUA.
"Iya! Biar secepatanya kita menunjukkan buku nikah kita sama Nenek!" balas Gibran dengan entengnya. Dan masih dalam posisi ia menarik tangan Alisha, menuju pintu lobiy rumah sakit.
"Tidak! Tidak! Tidak seperti ini Tuan!" ujar Alisha, seraya ia menyentakkan tangannya sehingga terlepaslah tangannya dari genggamannya Gibran. Membuat Gibran terkejut dan ia pun langsung mengerenyitkan dahinya.
"Ada apa lagi Lisha? Bukankah kamu tadi sudah bersediakan?" tanya Gibran, terlihat bingung dengan sikapnya Alisha.
"Benar! Saya sudah bersedia tapi, tidak seperti ini Tuan! Karena saya masih memiliki seorang wali, Tuan! Tidak mungkinkan kita melewatinya?" balas Alisha, memberikan alasannya. Mengapa ia tak menyetujui bila Gibran langsung membawanya ke KUA.
__ADS_1
"Tapi Lisha, bukankah kamu itu sudah berstatus janda ya? Setahu ku wanita yang sudah janda, maka nikahnya bisa wali hakimkan?" ujar Gibran, yang sebenarnya ia juga agak sedikit ragu.
"Benarkah?" tanya Alisha yang tampaknya ia juga tidak mengetahuinya.
"Aku juga kurang jelas sih! Tapi kalau nggak salah temanku, pernah seperti itu deh. Tapi nggak tahu juga sih!" balas Gibran, masih terlihat ada keraguan pada raut wajahnya.
"Huh! Tuan saja tidak yakin! Sudahlah kita tunda saja dulu Tuan," kata Alisha, bermaksud ia membalikkan tubuhnya seraya ia ingin melangkahkan kakinya. Namun lagi-lagi Gibran menahannya. Dan kembali menarik tangannya, Alisha dan langsung membawanya menuju pintu lobiy yang terlihat sudah tinggal beberapa langkah lagi. Sembari ia berkata..
"Nggak bisa ditunda lagi! Kita harus secepatnya pergi! Kamu juga bisa bertanya langsung, kalau kamu tidak percaya!" kata Gibran, yang kini mereka sudah berada di depan lobiy rumah sakit. Dan ternyata tepat di depan lobiy tersebut, terlihat sudah ada sebuah mobil Mercedes Benz hitam yang terparkir di sana. Bahkan pintu bagian belakangnya juga telah dibuka oleh seorang Pria, yang tak asing bagi Gibran.
"Masuklah, Lisha!" kata Gibran, saat mereka sudah berdiri tepat disamping mobil tersebut.
"Tapi Tuan, ini..." protes Alisha, yang terlihat ia masih amat ragu, dengan keputusan itu. Namun belum lagi, ia menyelesaikan kata-katanya, Gibran sudah menyelanya
"Tidak ada waktu lagi untuk protes Lisha! Sekarang masuklah!" potongnya, sambil ia sedikit mendorong tubuh Alisha kedalam mobilnya. Hingga dengan keterpaksaan akhirnya Alisha pun masuk juga ke dalam mobil Mercedes Benz hitam tersebut.
"Apa Pak! Ke KUA?" tanya Rey Ingin memastikan pendengarannya.
"Iya ke KUA! Kenapa Ray? Apa kamu juga ingin protes hah?!" tanya Gibran sambil menatap tajam ke arah Ray.
"Aah, tidak kok Pak! Saya jalan sekarang!" balas Ray, dan tak berapa lama ia pun langsung melajukan mobilnya. Dengan kecepatan maksimum. Disepanjang jalan tampak Alisha kembali protes pada Gibran.
"Tuan hentikan mobilnya! Ini salah Tuan! Masa kita menikah tanpa orang tua, atau orang terdekat sih? Padahal salah satu Syarat nikah harus ada saksi jugakan?" protes Alisha, yang terlihat ia masih berusaha agar Gibran, mengurungkan niatnya, yang hendak membawanya ke KUA.
"Kamu jangan mengkhawatirkan soal itu Lisha! Karena masalah saksi sudah dipersiapkan oleh Reno Asistennya Nenek!" balas Gibran terlihat begitu santainya. Membuat Alisha, kehabisan kata-katanya. Dan akhirnya ia memilih untuk diam, walaupun hatinya sangat ingin menentangnya lagi. Namun di dalam pikirannya berkata akan sia-sia saja, melawan Gibran yang memang sangat keras kepala.
Setelah menempuh jarak yang lumayan jauh, kini mobil Gibran terlihat mulai memasuki area perparkiran disebuah gedung, yang bertuliskan "Kantor Urusan Agama (KUA)". Setelah Ray, memarkirkan mobilnya dengan sempurna Gibran pun langsung membuka pintu mobilnya.
__ADS_1
"Turunlah Lisha!" titah Gibran terdengar tegas. Karena ia melihat Alisha, yang terlihat seperti enggan untuk turun.
'' Maaf Pak! Saya tidak menyukai pernikahan yang seperti ini! Bahkan Saya belum meminta izin pada si Mbok. Lagian, bukankah kita belum menyiapkan surat-surat persyaratan untuk menikah? Jadi saya rasa.." protes Alisha lagi, yang terlihat ia masih berusaha agar Gibran mau mengurungkan niatnya. Namun lagi-lagi protes langsung di sela oleh Gibran.
"Berhentilah mencari-cari alasan Lisha! Aku membawa kamu kesini karena semuanya sudah Aku persiapkan! Sekarang turunlah! Atau kamu ingin aku menggendong kamu, masuk ke dalam hm?" potong Gibran, yang kemudian ia seperti hendak menggendong Alisha. Namun dengan cepat Alisha langsung mendorong tangannya Gibran.
"Tidak-tidak! Saya bisa turun sendiri!" katanya yang kemudian ia pun bergegas turun.
"Bagus! Sekarang ayo kita masuk!" ajak Gibran, seraya ia kembali menggandeng tangan Alisha. Lalu, mereka pun langsung berjalan memasuki kantor KUA tersebut. Dan baru saja ia memasuki kantor tersebut, tiba-tiba seorang wanita memanggil nama Alisha.
"Alisha! Kamu sudah datang Nduk?" ujar wanita tersebut. Membuat Alisha terkejut melihatnya.
"Si Mbok? Kok disini?" tanya Alisha terlihat heran.
"Iya Nduk! Nak Reno yang mengajak si mbok kesini, dan dia juga sudah menceritakan semuanya," balas Wanita itu yang ternyata ia adalah Mbok Sumina
"Terus gimana menurut si Mbok?" tanya Alisha, yang sepertinya ia ingin mendengar pendapat dari ibu angkatnya itu.
"Nak, mungkin ini yang terbaik untuk kamu! Dan si Mbok juga yakin, kalau yang dikatakan Bu Syarah pasti benar. Jadi si Mbok merestui kamu Nak, In shaa Allah, kalau ikhlas menjalaninya, Allah pasti akan memberikan kamu kebahagiaan. Karena semuanya tidak ada yang kebetulan Nduk. Dan si Mbok juga yakin kalau ini pilihan Allah yang terbaik untuk kamu Nduk," balas Suminah dengan nada lembut, seraya ia mengelus kepala Alisha dengan penuh kasih sayang.
"Kalau memang si Mbok sudah merestui, Lisha akan ikhlas menerimanya Mbok," balas Alisha, yang terlihat matanya sudah mulai berkaca-kaca. Karena ia telah mendapatkan restu dari ibu angkatnya itu.
"Alhamdulillah, kue memang, anak yang baik Nduk. Si mbok sangat menyayangi kamu. Semoga kamu bahagia Nduk," ujar Suminah seraya ia memeluk tubuh Alisha.
"Aamiin, terima kasih Mbok. Terima kasih karena sudah menyayangi Lisha."
...••••••••••✰⁞ᮬ᭄ ཻུ۪۪۪۫ ֯͜ 💜✰⁞ᮬ᭄ ཻུ۪۪۪۫ ֯͜ •••••••••...
__ADS_1
Terus dukung author ya guys dan jangan lupa berikan 👉 ⭐ ⭐⭐⭐⭐ + 👍 serta komentarnya oke 😉 Syukron 🙏🥰