
*•••••••✰⁞ᮬ᭄ ཻུ۪۪۪۫ ֯͜ 💜 Mutiara Hikmah 💜✰⁞ᮬ᭄ ཻུ۪۪۪۫ ֯͜ •••••••*
SIAPA MENANAM, IA AKAN MENUAI HASILNYA
Mari kita renungi nasehat dari Abdullah bin Mas'ud radhiyallahu 'anhu,
إِنَّكُمْ فِي مَمَرِّ اللَّيْلِ وَ النَّهَارِ؛ فِي آجَالٍ مَنْقُوصٍ وَ أَعْمَالٍ مَحْفُوظَةٍ وَ الْمَوْتُ يَأْتِي بَغْتَةً؛ فَمَنْ زَرَعَ خَيْرًا فَيُوشِكُ أَنْ يَحْصُدَ رَغْبَةً وَ مَنْ زَرَعَ شَرًّا فَيُوشِكُ أَنْ يَحْصُدَ نَدَامَةً وَ لِكُلِّ زَارِعٍ مِثْلُ مَا زَرَعَ.
Sungguh kalian berada dalam perputaran malam dan siang; umur semakin berkurang, amalan selalu tercatat, dan kematian akan datang secara tiba-tiba.
Barangsiapa menabur benih kebaikan, dia akan memanen kebahagiaan. Barangsiapa menanam kejelekan, dia akan menuai penyesalan.
Setiap yang menanam akan mendapatkan semisal yang dia tanam.
(Dikutip oleh Ibnul Qayyim dalam kitab Al-Fawaid).
__sᴛᴏʀɪᴇs ᴏғ ᴛʜᴇ ᴅᴀʏ__
*•••••••••••••••••✰⁞ᮬ᭄ ཻུ۪۪۪۫ ֯͜ 💜✰⁞ᮬ᭄ ཻུ۪۪۪۫ ֯͜ ••••••••••••••••••*
Sesuai keinginan suaminya Alishab pun pulang terlebih dahulu. Sesampainya dirumah, ia menyempatkan diri untuk memasak kembali, agar saat suaminya pulang, makanannya sudah tersedia. Namun sampai makanan tersebut mendingin, suaminya tak juga kunjung datang. Membuat hati Alisha menjadi menjadi gelisah. Apalagi ketika ia teringat akan kaki suaminya yang masih sakit, membuat Alisha semakin cemas.
"Kenapa Mas Yuda belum kembali sih? Makanannya sampai sudah dingin lagi nih," gerutu Alisha, yang terlihat kini ia berada didepan pintu villanya. Dengan tatapan mengarah kedepan berharap suaminya segera pulang.
"Oh iya.. kakinya masih sakit. Apa-apa jangan dia nggak bisa jalan ya?' gumam Alisha lagi dengan wajah berubah cemas.
"Aah.. sudahlah sebaiknya aku susul saja dah! Takutnya kenapa-kenapa lagi, makanya nggak pulang-pulang!"
Alisha pun bergegas menuju ke arah tempat Gibran tadi berada. Bahkan ia sempat berlari-lari kecil agar secepatnya ia sampai disana. Namun belum lagi ia sampai ketempat tujuan, tiba-tiba Alisha menghentikan langkahnya.
__ADS_1
"Mas Yuda! Apa yang terjadi pada suami saya Pak?" tanya Alisha. Pada dua orang pria yang terlihat sedang memapah Gibran. Alisha tampak begitu cemas saat melihat wajah suaminya yang terlihat memucat.
"Ooh, ini Suami Anda Nona? Ini Nona tadi suaminya Anda, terlihat terguling di dekat Danau. Untungnya kami melihatnya. Makanya kami bermaksud membawanya pulang Nona," jelas salah satu dari pria tersebut.
"Astaghfirullah.. ya sudah tolong pak antarkan dia kerumah saya Pak," pinta Alisha, sembari ia mengatupkan kedua tangannya.
"Baiklah Nona! Dimana rumahnya Nona?" tanya pria itu lagi.
"Disana Pak! Mari ikuti saya," kata Alisha, dan ia pun langsung memandu jalan untuk para pria, yang sedang memapah suaminya. Sesekali Alisha memandang wajah suaminya, yang terlihat begitu pucat. Rasa takut pun tiba-tiba menyeruak dihatinya. Dan tiba-tiba saja ia teringat pada almarhum suaminya tatkala ia hendak menghembuskan nafas terakhirnya dengan wajah pucatnya hampir sama dengan Gibran.
"Disini rumah kami, silahkan masuk," kata Alisha, saat mereka sudah berada di depan gerbang villanya.
"Baiklah Nona," balas Pria itu, lalu mereka pun memasuki gerbang villa tersebut. Dan langsung menuju ke pintu villa. Sesampainya di dalam Alisha juga meminta kedua pria itu untuk membawa Gibran langsung kekamarnya.
"Terima kasih banyak Pak! Ini ada sedikit rejeki untuk keluarga Bapak," kata Alisha sembari ia memberikan sebuah amplop pada kedua Pria itu. Setelah mereka membaringkan Gibran dikamarnya.
"Aah, tidak usah Nona, kami tulus kok, membantu," ujar salah satu pria tersebut.
"Aah.. baiklah Nona, kalau begitu kami terima, semoga berkah dan semoga Suami Anda segera diberikan kesembuhan dan di angkat penyakitnya oleh Allah Subhanahu Wa Ta'ala," ucap Pria itu lagi dengan tulus juga.
"Aamiin ya Allah, terimakasih banyak ya Pak!" balas Alisha seraya ia kembali mengatupkan kedua tangannya.
"Sama-sama Nona, kami berdua juga mengucapkan terima kasih. Ya sudah kalau begitu kami Permisi ya Nona, Assalamualaikum," ujar pria itu lagi.
"Iya Pak, wa'alaikumus salam warahmatullahi wabarakatu."
Setelah mendapatkan balasan salamnya kedua pria itu pun beranjak dari Vila mereka. Setelah keduanya tak terlihat lagi, Alisha pun langsung menutup pintunya dan langsung bergegas ke kamar suaminya. Sesampainya di kamar, Alisha tampak begitu bingung.
"Aku harus bagaimana Mas? Di sini tidak ada sinyal untuk menghubungi Nenek hiks..hiks.." kata Alisha yang kini ia sedang duduk di sisi ranjangnya Gibran, sambil memegang tangan Gibran dengan wajah yang terlihat begitu ketakutan. Hingga tanpa sadar ia sampai menitikkan air matanya dan mengenai tangannya Gibran. Dan hal itu membuat Gibran membuka matanya.
__ADS_1
"Kenapa kamu menangis? Aku tidak apa-apa kok," kata Gibran dengan suara yang terdengar begitu lemah. Mendengar perkataan suaminya yang baru sadar, membuat hati Alisha sedikit lega.
"Alhamdulillah..kamu sudah sadar Mas? Apakah ada yang sakit?" tanya Alisha, dengan wajah penasarannya.
"Tidak, hanya kakiku saja yang sedikit sakit," balas Gibran masih terdengar lemah.
"Ya sudah tunggu sebentar, Lisha bikini obat untuk kaki Mas ya?" kata Alisha, dan ia pun langsung bergegas pergi tanpa menunggu balasan dari suaminya.
Sedangkan Gibran, yang terlihat begitu lemah terlihat kembali memejamkan matanya. Ia seperti sudah tak memiliki tenaga untuk mencegah Alisha, atau menanggapinya. Selang sepuluh menit, Alisha kembali lagi, dengan membawa sebuah baskom berisi air serta piring kecil yang berisikan obat dedaunan yang sudah ia haluskan. Setelah itu ia menghampiri ranjang Gibran. Saat ia hendak membersihkan kaki Gibran, ia baru tersadar kalau baju dan celana Gibran terlihat begitu kotor.
"Astaghfirullah.. kenapa aku baru lihat sekarang ya? Kalau baju dan celana Mas Yuda begitu kotor?" gumam Alisha, semabri ia menggaruk kepalanya yang tidak gatal menandakan ia sedang bingung.
"Gimana ini? Nggak mungkin aku biarkan sajakan? Aah... Sudahlah gantikan saja! Lagian Akukan istrinya jadi sudah sewajarnyakan melakukan ini?" gumam Alisha lagi. Dan akhirnya ia pun bergegas mengambil baju dan celana Gibran yang bersih di lemarinya.
Setelah itu ia kembali lagi ke ranjangnya. Lalu ia pun mulai membuka satu persatu kancing kemejanya Gibran. Hingga akhirnya semuanya terlepas dan tampaklah olehnya tubuh Gibran yang profesional membuat mata Alisha langsung menanar.
"Maa shaa Allah.. bagus banget tubuhnya Mas Yuda? Apakah Dia rajin berolahraga?" gumam Alisha, seraya ia memegang otot lengannya Gibran, "Astaghfirullah.. Aku kenapa sih, udah akh cepat aja, bersihkan tubuhnya! Untung aja orangnya masih tidur," gumam Alisha. Lalu ia pun mulai mengelap tubuh Gibran dengan kain basah setelah itu ia kembali memakaikan bajunya.
"Alhamdulillah, selesai juga! Hum.. tapi celananya gimana? Masa sih aku yang buka juga? Aah.. atau ku biarkan saja ya? Iiis tapikan celana jorok banget! Gimana dong ini?" gumam Alisha yang terlihat ia begitu ragu-ragu untuk membuka celananya Gibran.
"Aah.. bodo akh buka saja! Lagian dia tidur ini!" kata Alisha yang akhirnya ia memberanikan dirinya juga untuk membuka celananya Gibran dengan mata yang ia pejamkan namun sesekali ia mengintipnya. Dan baru setengah jalan ia menarik celana Gibran tiba-tiba..
"Apa yang kamu lakukan? Apa kamu ingin memperkosa aku?!"
...••••••••••✰⁞ᮬ᭄ ཻུ۪۪۪۫ ֯͜ 💜✰⁞ᮬ᭄ ཻུ۪۪۪۫ ֯͜ •••••••••...
Terus dukung author ya guys dan jangan lupa berikan 👉 ⭐ ⭐⭐⭐⭐ + 👍 serta komentarnya oke 😉 Syukron 🙏🥰
Oh iya, selagi menunggu Author update lagi. Yuk mampir ke karyanya Author ♥️ Ocybasoaci♥️ Yang berjudul *Cinta Berselimut Dendam* Ceritanya keren loh, 😉 cus Akh kepoin dan jangan lupa juga tinggalkan jejaknya ya guys 🙏😘
__ADS_1
Syukron 🙏🥰.