
*•••••••✰⁞ᮬ᭄ ཻུ۪۪۪۫ ֯͜ 💜 Mutiara Hikmah 💜✰⁞ᮬ᭄ ཻུ۪۪۪۫ ֯͜ •••••••*
Besarnya kebahagiaan dan kelezatan yang didapat sebanding dengan besarnya kesusahan yang dia rasakan.
Tidak ada kebahagiaan (di akhirat) bagi orang yang tidak mengalami kesedihan (di dunia).Tidak ada kelezatan (hakiki) bagi orang yang tidak memiliki kesabaran. Tidak ada kenikmatan (abadi) bagi orang yang tidak mengalami kesusahan.
Tidak ada istirahat (panjang) bagi orang yang tidak mengalami keletihan (ketika melaksanakan ketaatan). Bahkan, apabila hamba mau lelah sebentar (di dunia), niscaya dia akan mendapat istirahat panjang (di akhirat).
Semakin mulia jiwa dan semakin tinggi cita-cita, dia akan semakin lelah dan semakin sedikit istirahatnya.
__sᴛᴏʀɪᴇs ᴏғ ᴛʜᴇ ᴅᴀʏ__
*•••••••••••••••••✰⁞ᮬ᭄ ཻུ۪۪۪۫ ֯͜ 💜✰⁞ᮬ᭄ ཻུ۪۪۪۫ ֯͜ ••••••••••••••••••*
Gibran tampak heran melihat kedatangan, calon istri Ramlie, yang bernama Linda itu. Namun ketika ia melihat penampilan wanita itu, Gibran langsung memandangnya dengan tatapan yang begitu dingin dan begitu jijik. Bagaimana ia tidak, merasa jijik melihat penampilannya yang sudah seperti wanita panggilan itu.
Ya memang saat ini penampilan Linda, terlihat begitu seksi dengan memakai baju terusan yang panjangnya hanya sepaha. sehingga menampakkan kemulusan pada bagian pahanya. Dan bagian atasnya juga itu terlihat begitu ketat dan tanpa lengan. Sehingga tonjolan di bagian dadanya terlihat begitu jelas. Bahkan sepertinya ia juga sengaja menyembul bagian atas bukit kembarnya. Sehingga menampakkan kulit mulus serta kemontokan buah dadanya.
"Mau apa Anda datang kesini hah?!" tanya Gibran, sambil menatap Linda dengan tatapan yang begitu jijik dan juga dingin. Membuat Linda sempat bergidik melihatnya. Namun karena tekatnya yang ingin mendekati Gibran, membuat ia menepis rasa takutnya.
"Eh! Bisakah kita bicara di tempat yang nyaman Gibran? Karena ada yang mau saya sampaikan pada ke kamu," balas Linda, sedikit menggoda dan dengan penuh rasa percaya dirinya.
Melihat penampilan serta gayanya Linda yang seakan ingin menggoda suaminya. Alisha pun langsung membuka tasnya. Setelah tas terbuka ia langsung mengambil sebuah sal yang kebetulan selalu ia bawa-bawa. Lalu sal tersebut ia lipat dua memanjang.
__ADS_1
Setelah itu Alisha pun langsung menghampiri suaminya. Dan tanpa memberi aba-aba pada Gibran ia pun langsung menutup mata suaminya. Hal itu membuat Gibran begitu terkejut dibuatnya.
"Eh, Sayang kok kata Mas ditutup sih?" protes Gibran. Tetapi sebenarnya ia begitu senang, karena ternyata istrinya sedang cemburu padanya.
"Diam! Emangnya Mas mau matanya berdosa, karena melihat yang haram hah?!" balas Alisha, terdengar ketus. Dan ia masih terlihat berusaha mengikatkan salnya ke matanya Gibran. Namun karena memang Suaminya begitu tinggi membuat ia sedikit kesulitan, "Iiikh! Mas jangkung banget sih! Tundukkan sedikit dong Mas!" katanya lagi, terdengar kesal. Dan itu membuat Gibran, sampai menahan tawanya, sambil ia membungkukkan tubuhnya.
"Hufft..kok jadi tinggi Mas sih yang di salahkan Sayang? Padahal, yang salahkan..." protes Gibran. Namun karena saat ini Alisha sedang tersulut emosi karena kesal juga pada Linda. Jadi mendengar protes Gibran membuat ia semakin kesal.
"Diam Mas! Icha lagi nggak mood bercanda tau!" potongnya terdengar ketus.
"Eh, iya iya, maaf dong Sayang," balas Gibran. Namun tidak di gubris oleh istrinya.
Sementara itu, Linda yang tadi sedang berdiri di hadapan Gibran dan Alisha. Kini wajahnya terlihat kesal, saat melihat Aksi, Alisha yang sedang menutup matanya Gibran. Ditambah lagi saat ia mendengar perkataan haram dari mulut Alisha. Membuat ia semakin geram pada Alisha.
Mendengar pertanyaan Linda, Alisha pun langsung membalikkan tubuhnya. Dan tepatnya ia berdiri membelakangi suaminya, "Iya! Benarkan Kalau Anda itu haram bagi suami saya? Apalagi cara Anda yang berpakaian seperti ini. Semakin haram bagi Suami saya tau! Karena pakaian Anda itu sudah mengundang dosa bagi siapapun yang melihatnya!" balas Alisha, sambil menatap datar ke Linda.
"Eh! Dasar udik! Sembarangan aja ngomongnya! Maaf ya Bu, apakah Anda tidak tahu, Fashion ya? Yaa wajar sih, kalau Anda tidak tahu! Orang Anda tinggalnya dikampung, sih!" kata Linda lagi sambil ia kembali menyunggingkan senyuman mengejek pada Alisha.
"Eh! Tadi, Apa kamu bilang? Ibu? Emangnya aku ibumu apa? Sembarangan saja memanggil orang!" cetus Alisha, sambil ia melipatkan kedua tangannya di bawah dadanya.
"Lah.. kan, emang benar! Andakan Ibu tiri calon suamiku! Jadi wajar dong kalau saya memanggil anda ibu?" kata Linda, sambil menyempilkan senyuman mengejeknya.
"Ooh.. gitu ya? Jadi kamu calon menantu anak tiri saya? Kalau begitu sekarang saya perintahkan kamu untuk pergi dari sini! Tidak boleh melawan, atau kamu akan dianggap menantu durhaka! Mau saya cap ada sebagai anak durhaka, hm?" balas Alisha, terdengar santai. Membuat Gibran, langsung menutup mulutnya, karena ia sedang menahan tawanya.
__ADS_1
"Cih! Berlaga pula Anda! Padahal umur masih kecil aja sok berperan jadi seorang Ibu lagi!" kata Linda terlihat kesal.
"Yeee.. padahal dia sendiri yang mengingatkan saya adalah ibu tirikan? Dan benar sih, yang anda katakan, kalau saya masih kecil! Tapi saya tidak berlaga, atau sok berperan jadi ibu kok. Karena Anak kecil ini memang akan menjadi seorang Ibu! Nih buktinya, Anak kecil bisa bikin anak kecil juga loh!" balas Alisha, terdengar begitu santai dan begitu tenang, sambil ia menunjukkan perutnya yang telah membuncit.
Gibran, yang mendengar perkataan istrinya, kembali menahan tawanya. Ia tidak menyangka saja, istrinya yang biasa sedikit malu-malu didepan, kini terlihat begitu berani melawan Linda. Sedangkan Linda yang mendengar perkataan Alisha, serta melihat perutnya Alisha. Membuat matanya langsung terbelalak.
"Kenapa? Kamu nggak percaya ya? Kalau kami sebentar lagi akan memiliki Anak? Tapi sayangnya ini adalah fakta Mbak! Jadi jangan pernah berpikir untuk menjadi pengoda Suami orang! Karena itu akan menjadi sia-sia saja Mbak! Karena cinta suami saya, sudah sepenuhnya ia curahkan pada saya!" ujar Alisha lagi, sambil menyunggingkan senyuman kemenangannya.
Mendengar perkataan Alisha, Linda terlihat semakin kesal padanya. Dan rasanya ia ingin sekali mendorongnya. Namun karena suasana di sekitarnya saat ini lumayan ramai, ia pun tak berani melakukannya. Mengingat kata ramai, seketika Linda melihat di sekelilingnya, yang ternyata disana memanglah ramai. Dan merasa malu menjadi tontonan. Linda pun langsung bergegas pergi tanpa berkata apapun.
"Sialan! Rencanaku gagal, karena wanita itu! Huh! Kalau saja tidak ramai, Aku pasti sudah mendorongnya! Biar saja dia kehilangan anaknya sekalian!" gumam Linda kesal, disepanjang jalannya menuju ke tempat perparkiran mobil.
...••••••••••✰⁞ᮬ᭄ ཻུ۪۪۪۫ ֯͜ 💜✰⁞ᮬ᭄ ཻུ۪۪۪۫ ֯͜ ••••••••••••...
Terus dukung author ya guys dan jangan lupa berikan 👉 ⭐ ⭐⭐⭐⭐ + 👍 serta komentarnya oke 😉 🙏🥰
Oh iya selagi menunggu Author update yuk mampir ke karyanya temannya Ramanda ya🙏🥰
Dan jangan lupa kasih dukungannya juga ya🥰
Syukron 🙏😉.
__ADS_1