
*•••••••✰⁞ᮬ᭄ ཻུ۪۪۪۫ ֯͜ 💜 Mutiara Hikmah 💜✰⁞ᮬ᭄ ཻུ۪۪۪۫ ֯͜ •••••••*
JANGAN MENUNDA DATANGNYA KEBAIKAN
Jangan menunggu dirimu baik untuk berbuat baik, maka kamu akan menunda datangnya kebaikan dan pahala yang menghampirimu. Dan jangan mencari alasan untuk tidak melakukan ketaatan pada apapun perintah-Nya, sebab kita tidak pernah tahu kapan Allah akan memanggil kita dalam kondisi seperti apa.
Meski sadar diri ini belum baik, teruslah usahakan untuk tetap berbuat baik dengan harapan semoga Allah memberikan ridho dan rahmatNya kepada kita. Jika kita berbuat baik, yakin dan percayalah bahwa surga Allah sedang mengincar kita. Dan Allah pun berjanji untuk memberikan pahala berupa surga bagi sesiapa hambaNya yang berbuat kebaikan selama di dunia.
__sᴛᴏʀɪᴇs ᴏғ ᴛʜᴇ ᴅᴀʏ__
*•••••••••••••••••✰⁞ᮬ᭄ ཻུ۪۪۪۫ ֯͜ 💜✰⁞ᮬ᭄ ཻུ۪۪۪۫ ֯͜ ••••••••••••••••••*
Gibran mulai bingung, saat melihat istrinya yang lagi merajuk. Karena saat ia baru saja masuk ke kamar mereka. Alisha langsung menutupi tubuhnya dengan selimutnya. Dan disaat Gibran bermaksud ingin membuka selimut tersebut, Alisha langsung menahannya dengan kuat seraya berkata.
"Pergi sana kamu Mas! Jangan ganggu Icha!" katanya dengan suara yang terdengar sedikit keras. Mendengar hal itu, Gibran langsung tersentak.
"Eh! Sayang kamu kok gitu sih? Maafin Mas dong, kalau Mas salah Sayang? Lagian tadikan kita cuma bercanda-canda doang! Kok kamu jadi sensitif begini sih?" balas Gibran, tampak berusaha merayu istri kecilnya itu.
"Nggak Mau! Pokoknya Icha sebel sama Mas Yuda! Sana aaah.. Icha nggak mau dekat-dekat sama Mas!" seru Alisha, dari balik selimutnya.
__ADS_1
"Oke oke deh! Mas nggak akan dekat-dekat kamu! Tapi kamu harus mau makan dulu ya?" kata Gibran, masih berusaha mengambil hatinya Alisha lagi.
"Nggak mau! Icha nggak lapar!" cetus Alisha, yang terlihat masih Keukeh berada di dalam selimutnya.
"Tapi Sayang, kamu tuh harus tetap makan! Nanti kamu sakit loh kalau tidak makan Sayang," kata Gibran, lagi seraya ia mengelus kepala Alisha yang masih tertutup selimut.
"Nggak mau ya nggak mau Mas! Kok maksa banget sih!" balas Alisha sambil membuka selimutnya, karena ia ingin menepis tangan suaminya. Gibran langsung tersenyum tipis saat melihat wajah cemberut istrinya yang kini telah terlihat olehnya.
"Nggak enak loh sama Bapak! Beliau pasti saat ini masih nungguin kamu Sayang! Masa kamu tega sih membiarkan Bapak kamu seorang diri di ruang makan? Kalau nanti ternyata dia nggak mau makan gimana hayo? Dan kalau dia sa..."
Mendengar celotehan Gibran, yang menyangkut tentang bapaknya Alisha. Seketika ia pun bangkit dari tidurnya, lalu dengan spontan Ia pun turun dari tempat tidurnya. Dan langsung bergegas keluar dari kamarnya tanpa sepatah katapun pada Gibran. Membuat Gibran merasa heran. Dan sembari menggeleng-gelengkan kepalanya.
"Haiis..kenapa dia jadi sensitif begitu ya? Mana aku ditinggalkan begitu saja lagi? Nggak biasa-biasanya dia seperti itu deh," gumam Gibran, sambil menatap pintu yang baru saja ditutup oleh Alisha. "Huuft.. sudahlah! Sebaiknya Aku susul sajalah!" katanya lagi, seraya ia turun dari tempat tidurnya. Dan kemudian ia langsung pergi meninggalkan kamarnya. Dan langsung menuju ke ruang makan.
"Nenek! Kok ada disini?" tanya Gibran, terlihat sedang heran.
"Kenapa memangnya? Apakah Nenek tidak boleh mengunjungi rumah cucunya ya?" tanya Wanita tua itu yang ternyata ia adalah Syarah Neneknya Gibran.
"Eh, ya bukan begitu Nek! Tapi bukankah Nenek sedang berada di luar negeri? Kapan Nenek kembalinya?" tanya Gibran lagi, masih terlihat heran.
__ADS_1
"Benar sih Nenek dari sana! Tapi karena urusannya sekarang sudah selesai, ya sudah nenek langsung pulang aja. Dan langsung kesini karena Nenek sangat merindukan cucu mantu Nenek yang cantik ini!" balas Syarah, sembari ia memeluk tubuh Alisha dan kemudian ia juga memberikan kecupan lembut pada dahinya.
"Hmm.. lalu sama cucunya sendiri tidak rindu gitu?" tanya Gibran dengan memasang wajah jelesnya.
"Ngapain juga Nenek rindu sama kamu! Kamu saja nggak pernahkan rindu sama nenek! Bahkan kalau nenek tidak memanggil juga kamu nggak akan pernah pulang iyakan?" balas Syarah, sambil menyunggingkan senyuman sinisnya pada sang cucu.
"Iiis.. Apaan sih Nek! Malu tau didengar sama Bapaknya Lisha! Nanti disangkanya Nenek itu memiliki sifat pendendam loh," kata Gibran lagi, seraya ia melirik Ayah mertuanya, yang terlihat sedang tersenyum senang melihat kalau anaknya ternyata sangat disayang oleh besannya.
"Aah.. itukan akal-akalan kamu aja! Iyakan Pak, saya tidak memiliki sifat yang dikatakan cucuku kok Pak," kata Syarah pada Marwan.
"Saya tahu kok Bu! Justru saya sangat senang, karena ternyata, Ibu dan Nak Yuda, sangat menyayangi anak Saya! Dan saya sangat bersyukur sekali, disisa hidup saya ini. Saya masih bisa melihat anak saya bahagia. Untuk itu saya ingin mengucapkan ribuan terima kasih pada Ibu dan Nak Gibran, karena sudah memilih anak saya menjadi pendamping Nak Yuda," tutur Marwan, dengan penuturan yang terdengar sangat rendah hati.
"Sama-sama Pak! Tapi sebenarnya sayalah yang sangat amat bersyukur. Karena cucu saya akhirnya memiliki istri yang memiliki hati yang tulus. Dan mau menerima segala kekurangan cucu saya. Untuk itu sayalah yang seharusnya mengucapkan ribuan terima kasih, karena Bapak sudah membesarkan anak yang cantik dan juga Solehah ini," balas Syarah, seraya ia menaruh tangannya dibawah dagunya Alisha. Membuat Alisha langsung tersipu malu.
"Eh! Nenek, jangan berlebihan deh! Ichakan jadi malu," protes Alisha, sambil ia memeluk tubuh Syarah, dan menyembunyikan wajahnya didadanya Syarah. Membuat Gibran yang melihat hal tersebut langsung tersenyum senang.
"Ehem..eHem.. masih lama lagikah acara terima kasih dan acara pelukannya Nek? Yuda udah lapar banget nih! Ayo dong kita makan," protes Gibran, agar rasa haru di keluarganya yang sempat mampir tadi segera berakhir.
"Huh! Dasar anak tukang makan! Ingatnya Makan aja!" tegur Syarah, membuat Alisha dan Marwan jadi tertawa lucu melihatnya.
__ADS_1
...•••••••••••••✰⁞ᮬ᭄ ཻུ۪۪۪۫ ֯͜ 💜✰⁞ᮬ᭄ ཻུ۪۪۪۫ ֯͜ •••••••••••••...
Terus dukung author terus ya guys dan jangan lupa tinggalkan jejaknya juga oke.