JAMUR. Janda Muda Dibawah Umur

JAMUR. Janda Muda Dibawah Umur
MEMBAWA ALISHA KE KANTOR.


__ADS_3

*•••••••✰⁞ᮬ᭄ ཻུ۪۪۪۫ ֯͜ 💜 Mutiara Hikmah 💜✰⁞ᮬ᭄ ཻུ۪۪۪۫ ֯͜ •••••••*


Ketahuilah, semua rasa takut akan semakin menyiksa saat bukan Allah sandaran-Mu menjalani hidup. Rasa khawatir semakin menguasai jiwa ketika goyah keyakinanmu akan Allah dan bukan Allah tempat keberserahanmu.


Rasa takut semakin memenjarakan akalmu hingga kamu tidak lagi mampu membedakan mana yang haq dan bathil saat dunia labuh sorot pandangmu memaknai hidup.


Takdir sudah dituliskan-Nya dengan sebaik-baik perhitungan. Memelihara rasa takut hanya membuang waktu tanpa faedah. Takutmu yang berhasil engkau hadapi secara berani dan engkau lawan dengan tauhid yang benar adalah jalan lurusmu meraih ridha-Nya. Maka jadilah pemberani, untuk meraih surgamu..


__sᴛᴏʀɪᴇs ᴏғ ᴛʜᴇ ᴅᴀʏ__


*•••••••••••••••••✰⁞ᮬ᭄ ཻུ۪۪۪۫ ֯͜ 💜✰⁞ᮬ᭄ ཻུ۪۪۪۫ ֯͜ ••••••••••••••••••*


Keesokan harinya.


Semenjak bertemu dengan anak tirinya, sikap Alisha seketika berubah, ia jadi lebih banyak diamnya. Bahkan ia juga jadi sering banyak melamun. Hal itu membuat Gibran, menjadi cemas melihatnya. Sehingga ia tak tega meninggalkan seorang diri saja dirumahnya. Padahal pagi, itu ia terlihat sudah bersiap untuk berangkat ke perusahaannya. Namun karena melihat istrinya yang seperti itu membuat ia jadi ragu-ragu untuk berangkat bekerja.


"Sayang, dimakan dong sarapannya? Maskan udah capek-capek membuatnya, masa hanya dilihat saja sih? Kamu kok dari kemarin jadi suka melamun sih? Sebenarnya apa yang sedang kamu pikirkan Sayang?" tanya Gibran, tatkala mereka sedang berada di ruang makan.


Gibran mengerutkan dahinya, tatkala Alisha tak merespon pertanyaannya. Karena sepertinya Alisha masih berada terjebak di dalam pikirannya. Sehingga ia tak dapat mendengar pertanyaan dari suaminya itu.


"Haiis.. ! Kenapa Icha jadi seperti ini sih? Padahal kemarin, dia biasa-biasa aja deh. Huh! Ini semua gara-gara Ramlie! Dialah sumber berubahnya Alisha!" gumam Gibran, terlihat kesal. Karena teringat pada pertemuan mereka kemarin.


"Sayang, Icha! Icha!" panggil Gibran. Namun lagi-lagi tidak di gubris oleh istri kecilnya itu. Dan karena panggilannya tidak direspon di sama sekali akhirnya liburan pembangkit dari tempat duduknya. Kemudian ia berpindah duduk dan kini ia duduk tepat di sampingnya Alisha.


"Sayang!" panggil Gibran, sambil menyentuh tangannya. Membuat Alisha langsung tersentak dari lamunannya.

__ADS_1


"Eh! Iya Mas?" sentak Alisha begitu terkejut.


"Kamu kenapa sih Sayang? Sejak tadi Mas panggil-panggil kamu tidak mendengarnya sama sekali. Dan sebenarnya, apa yang kamu lamunin sih Sayang?" tanya Gibran, terlihat begitu penasaran.


"Aah.. ti-tidak ada apa-apa kok Mas," balas Alisha, terlihat gugup.


"Tidak apa-apa? Lalu kenapa sejak kita pulang semalam, kamu seperti ini sih? Lebih banyak diam dan entah apa yang sedang kamu lamunkan? Atau jangan-jangan kamu masih teringat pada kata-kata Ramlie ya?" tanya Gibran lagi. Membuat Alisha kembali tersentak dan bahkan wajahnya juga langsung memucat.


"Icha takut Mas, bagaimana kalau dia benar-benar akan menuntut Icha? Terus kalau Icha di masukkan ke penjara, bagaimana? Icha nggak mau Mas, kasian bayi kita kalau, Icha dipenjara, hiks..hiks.." balas Alisha, yang akhirnya ia mengungkapkan apa yang sedang ia pikirkan.


"Tidak ada yang akan dipenjara Sayang. Kamu tidak akan kemana-mana, Mas janji itu! Jadi kamu jangan pernah berpikir seperti itu lagi ya?" ujar Gibran, seraya ia memeluk tubuh Alisha, yang ternyata sudah gemetaran.


"Benarankan Mas? Icha tidak akan di penjara?" tanya Alisha lagi, yang sepertinya ia ingin memastikan lagi, ucapan dari suaminya itu.


"Humm.. tapi Icha nggak lapar Mas," kata Alisha terdengar manja.


"Sayang, walaupun kamu tidak lapar, tapi kamu harus tetap makan. Ingat loh, bayi kita juga butuh nutrisi jugakan? Jadi kamu makan ya, sini biar Mas yang suapin," Gibran pun langsung mengambil piring yang sudah berisi makanan, yang sejak tadi berada di hadapannya Alisha.


Setelah piring berada di tangannya, Gibran pun langsung menyendokan makanan tersebut, lalu dengan penuh kesabarannya ia pun mulai menyuapin istrinya. Namun Alisha malah terlihat begitu enggan untuk membuka mulutnya.


"Ayo dong Sayang.. buka mulutnya. Pasti saat ini anak kita sedang merengek-rengek, seperti ini. 'Mami..aku lapar Mami, mau mamam'. Pasti seperti itu Sayang, rengekannya. Jadi ayo dong Sayang buka mulutnya," rayu Gibran, sampai-sampai ia juga sempat menirukan suara anak kecil. Agar istrinya bisa ikut membayangkan rengekan anak mereka.


"Iya iya Icha makan!" balas Alisha yang akhirnya ia pun membuka mulutnya.


"Nah gitu dong, itu namanya Mami yang pintar," kata Gibran, sambil menyuapin istrinya, bak seorang ayah yang sedang menyuapin anaknya, yang harus dirayu dulu baru mau makan. Di saat ia sedang menyuapin istrinya, tiba-tiba ia teringat kalau di apartemennya tidak ada siapapun selain mereka. Sementara hari itu ia harus berangkat bekerja. Itu artinya setelah ia pergi, Alisha pasti seorang diri di apartemen tersebut.

__ADS_1


"Aah iya kalau Aku pergi Icha sama siapa ya? Disinikan tidak ada yang aku kenal. Dan aku juga tidak mungkin membiarkan Icha seorang diri saja di apartemen ini. Apa lagi keadaan lagi tidak stabil begini. Kalau ada apa-apa gimana? Aah.. sudahlah dari pada aku tidak tenang dikantor, lebih baik Icha aku bawa sajalah kekantor! Hanya itu jalan teramannya!" batin Gibran, yang ternyata ia tak tega membiarkan istrinya seorang diri saja berada di apartemennya. Dan disaat bersamaan..


"Alhamdulillah, akhirnya habis juga. Sekarang kamu pergilah untuk bersiap-siap? Biar Mas yang akan membereskan ini," kata Gibran, seraya ia bangkit dari duduknya, dan bermaksud membereskan piring-piring bekas mereka makan.


"Bersiap-siap? Emangnya kita mau kemana Mas?" tanya Alisha, terlihat penasaran.


"Ya ke kantornya Maslah, Sayang," katanya sambil membawa piring kotornya ke wastafel tempat pencucian piring.


"Loh kok icha..?"


"Iya Sayang kamu harus ikut, karena Mas nggak tega meninggalkan kamu seorang diri saja di apartemen," balas Gibran, yang sepertinya ia tahu, yang akan dipertanyakan oleh istrinya, makanya ia langsung menyelanya.


"Tapi Mas?" Alisha seperti ingin protes lagi, Namun lagi-lagi Gibran langsung memotongnya.


"Sssth..! Jangan membantah lagi Sayang! Sekarang pergilah bersiap!" katanya terdengar tegas. Membuat Alisha tak berani membantahnya lagi. Dan akhirnya ia pun mengikuti keinginan suaminya untuk bersiap-siap. Dan tak berapa lama kemudian, ia pun sudah kembali lagi, dengan keadaan yang sudah rapih.


Melihat istrinya telah rapih, Gibran pun langsung membawa Alisha ke kantornya. Setelah melakukan perjalanan yang lumayan jauh, akhirnya mereka pun sampai tepat didepan lobiy kantornya. Dan baru saja keduanya turun dari mobil, tiba-tiba terdengar suara seorang wanita menyebut nama Gibran.


"Hai Gibran, masih kenal sama akukan?"


Mendengar pertanyaan wanita tersebut, Gibran pun mengerenyitkan dahinya, seperti sedang mengingat-ingat sesuatu, "Eh? Bukannya kamu calon istrinya Ramliekan?"


...••••••••••✰⁞ᮬ᭄ ཻུ۪۪۪۫ ֯͜ 💜✰⁞ᮬ᭄ ཻུ۪۪۪۫ ֯͜ ••••••••••••...


Terus dukung author ya guys dan jangan lupa berikan 👉 ⭐ ⭐⭐⭐⭐ + 👍 serta komentarnya oke 😉 🙏🥰

__ADS_1


__ADS_2