
*•••••••✰⁞ᮬ᭄ ཻུ۪۪۪۫ ֯͜ 💜 Mutiara Hikmah 💜✰⁞ᮬ᭄ ཻུ۪۪۪۫ ֯͜ •••••••*
SELAMAT DUNIA AKHIRAT
Barangsiapa yang menghendaki selamat dari siksa Allah, yang ingin memperoleh pahala dan Rahmat, serta ingin dimasukkan dalam surga-Nya, maka seharusnya ia mencegah keinginan nafsu dari kesenangan duniawi, selalu sabar dalam penderitaan dan bencana.
Bencana merupakan penerang bagi orang-orang yang bijak, gerakan kebangkitan bagi orang-orang yang mencari ridho Alloh, kebajikan buat orang mukmin dan kebinasaan buat orang-orang yang lupa (akan Dzat-Nya).
Bukankah tak ada seorang mukmin pun yang mampu merasakan manisnya iman kecuali dia memperoleh timpahan bencana, kemudian ia ridho dan bersabar.
__sᴛᴏʀɪᴇs ᴏғ ᴛʜᴇ ᴅᴀʏ__
*•••••••••••••••••✰⁞ᮬ᭄ ཻུ۪۪۪۫ ֯͜ 💜✰⁞ᮬ᭄ ཻུ۪۪۪۫ ֯͜ ••••••••••••••••••*
Gibran seperti ingin menunjukkan keseriusan pada Alisha. Sehingga ia benar-benar begitu perhatian pada Alisha. Seperti saat ini Alisha tidak diperbolehkan turun dari tempat tidurnya. Setelah ia tadi membantunya mengoles obat diperutnya, yang ternyata memang sangat memerah. Makanya Alisha tak boleh banyak bergerak, karena takut tergesek oleh bajunya.
Seperti halnya ketika ia sakit, Alisha dengan sabar merawatnya. Kini posisi seperti bertukar, karena kini gantian Gibran yang merawat Alisha. Bahkan semua perkerjaan Alisha diambil alih oleh Gibran. Membuat Alisha merasa tidak enak hati pada suaminya itu.
"Kamu berdiamlah disini dan istirahat saja. Biar Mas, yang kerjain pekerjaan kamu ya?" ujar Gibran, seraya ia membenarkan selimut Alisha.
"Tapi Mas, Lisha sudah tidak apa-apa kok. Jadi izinkan Lisha turun ya? Karena sebentar lagi waktunya makan siang dan Lisha belum masak," balas Alisha, dengan wajah penuh pengharapan.
"Tidak! Soal masak biar Mas, saja yang melakukannya! Jadi kamu tetaplah disini!" kata Gibran lagi terdengar tegas.
"Eh? Emangnya Mas bisa masak?" tanya Alisha dengan wajah penasarannya.
__ADS_1
"Apakah kamu meragukan kemampuan suaminya kamu ini hm?" balas Gibran, seraya ia mengerutkan keningnya dan balik bertanya.
"Yaa.. bukan begitu sih Mas. Cumakan biasanya anak orang kaya.." balas Alisha, namun belum lagi ia menyelesaikan kata-katanya, Gibran sudah menyelanya.
"Manja gitu? Makanya nggak bisa apa-apa gitukan maksud kamu hm?" sela Gibran, sambil menaikkan sebelah alisnya.
"Yaa..kan kebanyakan seperti itukan Mas? Jadi wajar dong.. kebanyakan orang berpikir seperti itu?" balas Alisha apa adanya.
"Iya sih! Tapi nggak semuanya seperti itu Lisha. Karena Nenekku bukan orang yang suka memanjakan cucunya. Asal kamu tahu, semenjak orang tuaku meninggal karena kecelakaan. Neneklah yang merawatku sedari kecil. Dan karena Nenek adalah seorang pengusaha jadi Beliau tak sempat untuk memanja-manjaiku. Jadi semenjak aku di SMP aku sudah terbiasa hidup mandiri. Dan aku juga tidak suka dilayani orang lain. Makanya ketika aku sekolah diluar negeri, aku lebih suka masak sendiri, selain menghemat biaya, aku juga bebas mengekspresikan masakanku jugakan?" jelas Gibran panjang lebar.
"Jadi sekarang kamu nggak perlu khawatir, dan diam disini saja oke!" lanjut Gibran, dan tanpa menunggu balasan dari istrinya ia pun langsung berlalu meninggalkan Alisha.
"Aah.. ternyata kehidupan Mas Yuda hampir sama denganku ya? Sama-sama ditinggalkan oleh orang tua. Tapi Aku masih lumayan sih, karena aku masih miliki Bapak" gumam Alisha yang kini wajahnya terlihat merasa iba pada Suaminya.
"Aaah.. menyebut Bapak, aku jadi ingat sama Bapak. Gimana ya kabarnya Bapak sekarang? Apa Beliau baik-baik sajakan? Apa ibu mau ngasih makan Bapak? Aah.. aku jadi kangen sama Bapak! Kapan ya kita bisa bertemu lagi Pak? Lisha kangen banget sama Bapak..hiks..hiks.." gumam Alisha lagi, yang secara tiba-tiba ia jadi teringat pada Ayahnya dikampung. Hal itu membuat ia akhirnya menitikkan air matanya.
"Eh? Apa yang terjadi? Kenapa matanya membengkak? Apakah dia habis menangis?" gumam Gibran, seraya ia menghapus sisa-sisa Air mata di pipinya Alisha,
"Tapi mengapa Dia menangis? Bukankah saat aku tinggalkan dia baik-baik saja? Atau jangan-jangan ada kata-kataku yang menyinggung dia ya?" gumamnya lagi. Tampak ia begitu penasaran, sehingga timbullah berbagai pertanyaan-pertanyaan, yang membuatnya ingin segera membangunkan Alisha.
"Apa sebaiknya ku bangunkan saja ya? Aah.. tidak! kayanya dia kelelahan deh! Kalau begitu biarkan saja dulu deh! Setidaknya sampai jam makan siang. Baru deh aku bangunkan," kata Gibran lagi, yang tampaknya ia tak tega untuk membangunkan Alisha. Dan akhirnya ia pun membiarkan istrinya itu beristirahat.
Namun ia tetap berada disisinya Alisha. Bahkan ia juga ikut membaringkan tubuhnya tepat disisinya. Dengan perlahan ia membalikkan tubuh Alisha agar ia bisa memeluknya. Lalu ia pun membelai rambut ikalnya, sesekali ia juga memberikan kecupan lembut pada dahinya Alisha.
"Sebenarnya kamu kenapa sih Sayang? Apa yang sedang kamu tangiskan? Apakah Mas yang menjadi penyebab kamu menangis ya?" tanya Gibran dengan lirih. Karena ia tak ingin Alisha terbangun dari tidurnya.
__ADS_1
Namun ternyata Alisha sudah terbangun tatkala Gibran membalikkan tubuhnya. Sehingga ia dapat mendengar pertanyaan-pertanyaan suaminya tersebut.
"Ini bukan karena Mas kok! Hiks..hiks.." jawab Alisha lirih juga, yang disertai dengan suara Isakannya. Sambil membenamkan wajah didadanya Gibran.
"Eh? Kamu sudah bangun? Aah maaf Mas sudah membangunkan kamu ya?" tanya Gibran, seraya ia bermaksud ingin melihat wajah istrinya kecil itu. Namun Alisha semakin membenamkan wajahnya ke dada Gibran. Melihat hal itu akhirnya Gibran pun membiarkannya saja.
"Hmm.. kalau memang Mas bukan penyebab kamu menangis sampai terisak-isak begini hm?" tanya Gibran dengan lembut.
"Hiks...hiks..Lisha hiks.. hanya kangen sama Ayah aja Mas, hiks...hiks.." balas Alisha apa adanya.
"Kangen sama Ayah kamu? Berarti Ayah mertuaku ya? Humm... baiklah, nanti kalau Reno sudah menjemput kita. Aku akan membawa kamu menemui Ayah kamu. Jadi sekarang jangan Nangis lagi ya?" ujar Gibran masih terdengar lembut. Mendengar perkataan Gibran, sontak Alisha langsung menatap wajah suaminya.
"Benarankan Mas? Kamu akan membawa Lisha ketemu Ayah?" tanya Alisha, dengan tatapan nanarnya. Namun matanya masih terlihat membengkak.
"Benaran Sayang! Mas janji selepas kita pulang dari sini kita akan langsung kerumah Ayah kamu Ya?" balas Gibran, seraya ia kembali menghapus sisa air matanya Alisha. Mendengar janji yang diucapkan Gibran, Alisha langsung mencium pipinya Gibran seraya berkata.
"Alhamdulillah.. Terima kasih Mas, Muaach!" ucapnya, setelah itu ia juga langsung memeluk suaminya. Membuat jantung Gibran seketika berdetak kencang, dengan mata yang langsung terbelalak melihat keberanian istirnya.
"Hah? Kamu mencium Aku? Boleh minta lagi?"
...•••••••••••✰⁞ᮬ᭄ ཻུ۪۪۪۫ ֯͜ 💜✰⁞ᮬ᭄ ཻུ۪۪۪۫ ֯͜ ••••••••••••...
Terus dukung author ya guys dan jangan lupa berikan 👉 ⭐ ⭐⭐⭐⭐ + 👍 serta komentarnya oke 😉 Syukron 🙏🥰
Oke guys, selagi menunggu Ramanda update kembali, Yuk mampir ke karyanya AuthoR ♥️MERPATI MANIS♥️ Karyanya ini di rekomendasikan banget loh. Makanya Cus yuk kepoin oke! Dan jangan lupa berikan dukungannya juga ya guys 😉🙏
__ADS_1
SYUKRON 🥰🙏