JAMUR. Janda Muda Dibawah Umur

JAMUR. Janda Muda Dibawah Umur
ORANG TUA YANG EGOIS.


__ADS_3

*•••••••✰⁞ᮬ᭄ ཻུ۪۪۪۫ ֯͜ 💜 Mutiara Hikmah 💜✰⁞ᮬ᭄ ཻུ۪۪۪۫ ֯͜ •••••••*


Baik buruk perilaku manusia tergantung hati dan siapa yang menilai. Cukup sabarkan hati dan yakin dibalik setiap peristiwa pasti ada pelajaran yang bisa kita petik untuk menjalani kehidupan yang lebih baik lagi. Jangan sampai menggantungkan hidup pada penilaian orang. Pastikan semua niat dan tujuan baik, sehingga kita bisa berfokus pada kebaikan yang kita perjuangkan.


Serahkan niat kita hanya tertuju pada Allah Ta'ala, InsyaAllaah kita bisa dan pasti ada jalan keluarnya. Tetap semangat tuk senantiasa bertutur, berfikir dan berbuat baik. Jangan biarkan penilaian orang lain mengganggu niat dan ibadah kita. Semoga kita senantiasa memperbaiki ibadah kita kepada Allah Ta'ala, dan selalu istiqomah.


__sᴛᴏʀɪᴇs ᴏғ ᴛʜᴇ ᴅᴀʏ__


*•••••••••••••••••✰⁞ᮬ᭄ ཻུ۪۪۪۫ ֯͜ 💜✰⁞ᮬ᭄ ཻུ۪۪۪۫ ֯͜ ••••••••••••••••••*


Pada Sore harinya, Alisha, Marwan dan juga Syarah terlihat sedang mengobrol serta diselingi dengan canda tawa, didepan teras rumahnya. Dan disaat mereka sedang asyiknya mengobrol, tiba-tiba terdengar suara klakson mobil dari balik pintu gerbang, menandakan mobil yang berada di luar meminta dibukakan pintu gerbangnya.


"Wah, kayaknya Suami kamu sudah pulang kerja itu Nak," ujar Marwan seraya matanya mengarah ke pintu gerbang.


"Kayaknya seperti itu Pak," balas Alisha, dengan tatapan yang terlihat juga mengarah ke pintu gerbang. "Tapi kok tumben, lama ya? Biasanyakan jam setengah lima sudah sampaikan? Tapi ini kok sudah hampir mendekati Maghrib baru nyampe?" lanjut Alisha merasa heran.


"Mungkin di kantornya sedang banyak pekerjaan kali Nak, Yo maklumi sajalah, iyakan Bu Syarah?" balas Marwan, dan diakhiri pertanyaan pada Syarah.


"Benar apa yang dikatakan Bapak kamu Nak, jadi tidak usah terlalu dipikirkan," sambung Syarah. Dan disaat bersamaan, tampak Gibran yang baru turun dari mobilnya, berjalan mendekati teras rumahnya dengan wajah yang terlihat muram dan lusuh.


"Assalammu'alaikum!" ucapnya terdengar ketus, dan disertai dengan wajah terlihat tidak bersahabat. Membuat Marwan maupun Alisha heran melihatnya.


Namun tidak bagi Syarah, karena ia tahu betul gimana sifat cucunya tersebut. Tetapi tetap saja Syarah menjadi cemas, kalau sudah melihat wajah marahnya Gibran, "Aduh gawat! Kalau sudah begini, akan sangat sulit mendekatinya! Cucuku inikan sangat keras kepala," batinnya, seraya ia menatap wajah Gibran, yang sama sekali tak mau menoleh ke arah mereka sedikit pun.

__ADS_1


"Kamu sudah pulang Nak?" tanya Syarah, yang terlihat ingin menyambut kedatangannya. Namun tak direspon sedikitpun oleh Gibran. Bahkan ia langsung masuk ke dalam rumah tanpa melirik sedikit pun ke arah Alisha ataupun Marwan.


Hal itu membuat Alisha, benar-benar merasa heran, "Eh, ada apa dengan Mas Yuda Nek? Kok beda banget ya? Kayaknya nggak pernah-pernahnya deh dia seperti itu Nek?" tanyanya pada Syarah.


"Sudah Nak, tidak usah kamu pikirkan. Mungkin dia seperti itu karena kelelahan kali Nak," balas Syarah, memberikan pengertian pada Alisha.


"Ah.. atau jangan-jangan Mas Yuda marah sama Lisha, karena Lisha tidak amanah kali Nek! Tadi siangkan Mas Yuda meminta Lisha yang mengantarkan dokumen itu Nek!" ujar Alisha, yang sepertinya ia mulai menyadari kesalahannya.


"Sudah kamu tenang saja Nak. Biar Nenek yang akan bilang padanya, kalau Neneklah yang.." balas Syarah. Namun langsung disela oleh Alisha.


"Maaf Nek, biar Lisha saja, karena kayaknya nggak enak, masalah Lisha, Nenek selalu membela Lisha. Jadi biarkan Lisha yang meyelesaikan ya Nek,"


Mendengar permintaan dari cucu mantunya, Syarah pun tak bisa berkata-kata lagi. Ia hanya menatap wajah Alisha, yang terlihat sedang memohon. Melihat hal itu, Marwan pun akhirnya buka suara.


"Benar yang dikatakan Lisha, Bu. Sebaiknya kita jangan terlalu ikut campur dalam urusan rumah tangga mereka. Karena bisa berdampak buruk jadinya," sambungnya, "Maaf saya berkata seperti itu, karena saya perhatikan ibu selalu mendominasikan Lisha. Seakan tak memberikan ruang untuk Nak Yuda. Hal itu juga tidak baik Bu," lanjut Marwan mengingatkan Syarah.


"Bu, itu karena Anda tidak mempercayai Yuda. Padahal kalau Anda percaya sedikit padanya, mungkin rasa cemas Anda tidak akan terlintas. Jadi cobalah percaya padanya Bu, lagiian seorang Ayah tidak mungkin menyakiti buah hatinya," balas Marwan, masih memberikan pengertian pada besannya.


Di saat bersamaan Gibran kembali keluar, sambil menyeret tas kopernya. Membuat Alisha dan Marwan, langsung terkejut. Begitu juga dengan Syarah, sehingga dengan spontan ia pun langsung berdiri dan langsung menghadangi langkahnya Gibran.


"Nak kamu mau kemana? Kenapa tiba-tiba membawa tas koper begini?" tanya Syarah terlihat begitu penasaran.


"Yuda ada kerjaan dilluar kota Nek! Jadi kemungkinan Yuda dua bulan lagi baru bisa kembali!" balas Gibran terdengar ketus. Dan tanpa melihat Neneknya maupun Alisha.

__ADS_1


"Hah? Tapi kenapa mendadak begini Nak? Dan gimana dengan istri kamu Nak?" tanya Syarah lagi, tampak sekali ia amat terkejut mendengar perkataan Cucunya yang terdengar begitu ketus.


"Bukankah dia lebih aman bersama Nenek? Jadi buat apa Nenek, malah memikirkan dia? Lagian kalau tidak ada Yuda, Nenek tidak perlu merasa cemas lagikan pada calon cicit Nenek itu!" balas Gibran, dengan datar.


Mendengar perkataan suaminya, jantung Alisha langsung berdegup kencang. Dan rasa bersalah pun langsung menyerebab di hatinya. Ia tahu selama ini ia lebih menuruti keinginan Neneknya, ketimbang suaminya. Bahkan, ia lebih banyak waktunya bersama Neneknya ketimbang bersama suaminya.


"Mas, kamu kok ngomongnya begitu sih sama Nenek? Dalam hal inikan Icha yang.." tegur Alisha, namun perkataannya langsung disanggah oleh Gibran.


"Wah.. kalian memang cocok ya? Saling membela satu sama lainnya! Jadi ya sudah berati keputusan yang pas bila Aku pergi!" pungkas Gibran dan ia pun langsung melangkah cepat menuju mobilnya. Alisha langsung terkejut melihat hal itu, dan ia pun langsung bergegas mengejar suaminya.


"Mas! Tunggu Mas!" teriak Alisha sambil hendak menuruni anak tangga yang berada di teras rumahnya.


"Nak, hati-hati jangan berlari," teriak Syarah dan bermaksud ingin menghampiri Alsha. Namun dengan cepat Marwan langsung menarik tangannya.


"Sudah cukup Bu! Alisha lebih tahu atas dirinya sendiri!" tegas Marwan. Membuat Syarah langsung terdiam. Dan ia hanya memperhatikan Alisha yang sedang memegang tangan suaminya, sambil menangis. Entah apa yang sedang mereka bicarakan.


"Ini semua karena Aku, orang tua yang egois! Ternyata keputusan tinggal di sini adalah tindakan yang salah!" gumam Syarah penuh penyesalan.


...•••••••••••••✰⁞ᮬ᭄ ཻུ۪۪۪۫ ֯͜ 💜✰⁞ᮬ᭄ ཻུ۪۪۪۫ ֯͜ •••••••••••••...


Terus dukung author terus ya guys dan jangan lupa tinggalkan jejaknya juga oke.


HaI guys sambil nunggu yuk mampir ke karyanya🦋ZAFA🦋 Ceritanya keren banget loh guys. Makanya cus buruan, kepoin ya. Dan jangan lupa juga berikan dukungannya juga ya guys 🙏😉

__ADS_1



SYUKRON 🥰🙏


__ADS_2