
*•••••••✰⁞ᮬ᭄ ཻུ۪۪۪۫ ֯͜ 💜 Mutiara Hikmah 💜✰⁞ᮬ᭄ ཻུ۪۪۪۫ ֯͜ •••••••*
TENANGLAH DAN JANGAN GELISAH
Rasa gelisah tidak akan menghilangkan kemungkinan terjadinya apa yang kau takutkan di masa depan.. padahal rasa gelisah itu telah mencuri kebahagiaanmu di hari ini.
Sehingga praktis rasa gelisah itu tidak mendatangkan manfaat sedikitpun, oleh karena itu Nabi shollallohu ‘alaihi wa sallam menuntun kita untuk berdoa:
“Ya Allah, aku berlindung kepadaMu dari perasaan gelisah dan bersedih..” [HR. Bukhori: 2893]
Maka, buanglah rasa gelisah dari hatimu dan tumbuhkanlah rasa tawakkal, serahkan semua urusan kepada Allah. Dan jangan lupa, iringilah usahamu dengan banyak berdo’a. Lalu syukurilah nikmat yang ada di tanganmu.. insya-Allah rasa tenang dan bahagia akan selalu menghiasi hati Anda..
__sᴛᴏʀɪᴇs ᴏғ ᴛʜᴇ ᴅᴀʏ__
*•••••••••••••••••✰⁞ᮬ᭄ ཻུ۪۪۪۫ ֯͜ 💜✰⁞ᮬ᭄ ཻུ۪۪۪۫ ֯͜ ••••••••••••••••••*
Masih Dikampungnya Alisha.
Sudah tiga hari, Gibran dan Alisha berada di rumah Ayahnya Alisha. Pada awalnya, Gibran tak masalah saat istrinya, merawat ayah mertuanya yang memang sedang sakit. Akan tetapi, ketika Ia merasakan pusat perhatian istrinya semakin terfokus pada Ayah mertuanya. Hal itu malah membuat ia jadi uring-uringan. Pasalnya Ia jadi merasa kurang diperhatikan oleh istrinya.
Bahkan sudah dua malam Gibran harus tidur sendirian di kamar istrinya. Karena memang kondisi Ayah Alisha tidak bisa diprediksi, terkadang suhu badannya berubah-ubah dengan cepat, terkadang tubuhnya tiba-tiba panas dingin, dan terkadang sangat dingin sekali. Hal itu membuat Alisha menjadi khawatir dan ia tak pun berani untuk meninggalkan sang Ayah. Alhasil Gibranlah yang harus mengalah dan tidur seorang diri.
__ADS_1
"Haiis.. kenapa jadi tidur sendiri lagi sih? Waktu gue belum punya bini kayaknya nggak ada masalah sama sekali deh, tidur, tidur aja, blesep! Lah ini udah punya bini, malah nggak bisa tidur! Mana pikiran gentayangan kesana kesini lagi! Tambah mata semakin liar aja, nggak ada ngantuknya! Haiis.. kalau begini terus yang ada jadi pak ogah lagi setiap malam ngeronda!" gumam Gibran, saat ia berada dikamarnya Alisha yang tampak begitu kecil di mata Gibran.
"Hah! Udah kamarnya berasa pengap banget lagi! Kok Icha bisa ya, tidur dikamar sempit begini! Padahal aku lihat kamarnya Maya lumayan besarkan? Tapi kenapa pemilik rumahnya malah kamar sekecil ini sih?" gumam Gibran lagi, seraya ia melihat-lihat isi sekeliling kamarnya Alisha. Hingga mata mengarah kesebuah figura yang digantung di dinding. Gibran pun langsung bangkit dari tempat tidurnya, dan langsung menghampiri figura foto tersebut.
"Ini Ichakah? Hmm.. ternyata saat masih berseragam begini pun istriku tetap cantik ya? Haiis.. Aku jadi kangen sama dia deh. Aah.. sebaiknya aku ke kamar bapak saja deh! Nggak papakan?" gumam Gibran, yang akhirnya ia pun memutuskan untuk pergi ke kamarnya Ayah mertuanya.
Setibanya di sana ternyata istrinya juga belum tidur, membuat Gibran terkejut melihatnya. Karena ternyata istrinya sedang menangis. Dan Gibran pun langsung menghampirinya.
"Sayang, kamu kenapa? Kok nangis? Ada apa Sayang? Katakanlah pada Mas, Sayang?" tanya Gibran, seraya ia memeluk tubuh istrinya. Tampak sekali ia terlihat cemas.
"Bapak Mas hiks..hiks..! Tubuhnya semakin panas, hiks..padahal sudah Icha kompres, hiks..sudah minum obat juga hiks..tapi demam belum juga turun. Icha jadi takut Mas, hiks..hiks.." balas Alisha, sambil terisak-isak, tampak ia juga terlihat panik
"Tenanglah Sayang! Kamu dengarkan Mas dulu Ya?" kata Gibran, seraya ia menghapus air matanya Alisha. Mendengar perkataan suaminya Alisha pun mengangguk kepalanya.
"Tapi Mas, bapaknya nggak mau! Tadi siang Maskan tahu sendiri, Bapak bersikeras tidak mau dibawa kerumah sakitkan?" balas Alisha, yang sebenarnya ia juga merasa serba salah.
"Mas tahu Sayang. Tapi kita juga nggak bisa berbuat apa-apakan, kalau seperti ini? Makanya kita harus memaksa Bapak Sayang. Lihatlah, keadaan bapak semakin parahkan? Jadi sebelum semuanya terlambat kita harus membawa Bapak kerumah sakit. Dan biarkan Mas yang menanganinya oke?" ujar Gibran masih berusaha meyakinkan istrinya.
"Baiklah Mas, Icha, ikut kata Mas saja," balas Alisha terdengar pasrah.
"Alhamdulillah, ya sudah kalau begitu Mas telpon Ray dulu ya? Biar dia datang membawa helikopter, karena untuk keadaan bapak saat ini nggak mungkin juga Bapak melakukan perjalanan darat terlalu jauh. Jadi kita harus membawanya dengan helikopter, Sayang, kamu setujukan Sayang?" ujar Gibran, seraya ia merogoh sakunya celananya untuk mengambil benda pipihnya.
__ADS_1
"Iya Mas, terserah sama Mas, saja. Icha setuju kok," balas Alisha, lagi. Seraya ia kembali menatap wajah Ayahnya. Setelah mendapatkan jawaban dari istrinya Gibran pun bermaksud melakukan panggilan pada Ray yang memang saat ini Ray, sudah kembali ke kota lagi setelah mengantar Gibran dan Alisha dihari pertama mereka datang.
Akan tetapi, belum lagi Gibran melakukan panggilannya. Tiba-tiba ia teringat ingat sesuatu, "Aah.. iya Sayang apakah didekat sini ada semacam lapangan begitu? Soalnya kalau Rey membawa helikopter mendaratnya dimana, Sayang?" tanya Gibran tampak bingung. Karena seringanya waktu ia pertama kali datang, ia tak melihat ada tanah kosong yang daratan. Yang ada hanya sawah-sawah saja.
"Ada kok Mas! Di ujung gang rumah Icha ini ada sebuah lapangan tempat anak-anak bermain Mas. Tapi saat ini mungkin sedikit becek, soalnyakan tadi siang hujan Mas," balas Alisha apa adanya.
"Aaah.. syukurlah kalau begitu. Nggak papa becek yang penting ada tempat mendarat helikopter. Ya sudah kamu persiapkanlah Bapak biar Mas, telpon Ray dulu ya?" kata Gibran, dan langsung di anggukan oleh Alisha. Dan Gibran pun langsung bergegas keluar untuk melanjutkan panggilannya. Sedangkan Alisha, langsung mempersiapkan segala sesuatunya untuk sang Ayah. Dan tak berapa lama kemudian, Gibran kembali masuk ke kamar mertuanya.
"Gimana Mas? Apakah Pak Ray bisa datang kesini? tanya Alisha, saat melihat suaminya kembali masuk.
"Alhamdulillah, bisa Sayang. Makanya sekalian aja bawa barang-barang ya? Dan bawa semua baju-bajunya bapak. Karena setelah Bapak sembuh nanti, beliau akan tinggal bersama kita. Kamu setujukan Sayang? Kalau Bapak kamu tinggal di rumah kita?" kata Gibran, membuat Alisha yang mendengarnya, jadi merasa terharu. Bahkan air matanya kembali keluar.
"Loh, kok malah nangis lagi Sayang? Emang kamu nggak suka ya kalau Mas membawa Bapak ke kota dan tinggal bersama ki..." tanya Gibran, namun belum lagi ia menyelesaikan pertanyaannya, Alisha sudah berlari memeluk tubuhnya.
"Suka! Suka Mas! Suka, Icha suka banget, dan icha, sangat senang mendengarnya. Terima kasih ya Mas? Hiks....hiks.." balas Alisha penuh rasa haru
...•••••••••••••✰⁞ᮬ᭄ ཻུ۪۪۪۫ ֯͜ 💜✰⁞ᮬ᭄ ཻུ۪۪۪۫ ֯͜ •••••••••••••...
Perasaan Vote nggak nambah-nambah dah🙄 Apakah sekarang Readersku usah pada pelit ya🤔. Hmm.. ya sudahlah, tak papa. Doa aja deh, semoga mereka selalu memberikan dukung, Aamiin 🤲
OH iya, selagi menunggu Ramanda update, yuk mampir ke karyanya Author 💓Melisa💓 Pokoknya Karyanya keren banget loh guys. Makanya cus buruan, kepoin ya. Dan jangan lupa juga berikan dukungannya juga ya guys 🙏😉
__ADS_1
SYUKRON 🥰🙏