JAMUR. Janda Muda Dibawah Umur

JAMUR. Janda Muda Dibawah Umur
MANDI BARENG.


__ADS_3

*•••••••✰⁞ᮬ᭄ ཻུ۪۪۪۫ ֯͜ 💜 Mutiara Hikmah 💜✰⁞ᮬ᭄ ཻུ۪۪۪۫ ֯͜ •••••••*


Sabar..Kata yang pendek, mudah diucapkan, sering didengungkan, bertebaran dimana-mana, namun perlu energi yang amat sangat besar untuk bisa mengaplikasikannya disaat yang genting dan dibutuhkan.


Sabar..Menanamkannya di hati perlu latihan berkali-kali walau lebih sering gagal. Perlu memugar rasa dan ego yang tak jarang mengurai airmata menahan perih melapangkan hati. Butuh sandaran kokoh menanggung gempuran emosi yang meronta meminta dilepas sejadi-jadinya.


Sabar...Tidak sesederhana susunan hurufnya. Pembuktian jelas tidak mudah, meski lisan telah bertutur sabar. Seperti meremas jantung hati bersamaan. Itupun belum cukup memahatnya ke dasar hati..


__sᴛᴏʀɪᴇs ᴏғ ᴛʜᴇ ᴅᴀʏ__


*•••••••••••••••••✰⁞ᮬ᭄ ཻུ۪۪۪۫ ֯͜ 💜✰⁞ᮬ᭄ ཻུ۪۪۪۫ ֯͜ ••••••••••••••••••*


Hari-hari kini terlewati begitu cepat. Hingga tanpa terasa kehamilan Alisha sudah memasuki sembilan bulan. Itu tandanya hari menjelang kelahiran semakin mendekatinya. Dan otomatis rasa takut mulai menyelimutinya. Jadi tak heran, kalau sikapnya saat ini agak sedikit sensitif. Dan untungnya Gibran memahaminya, sehingga ia selalu menghadapinya dengan begitu sabar.


"Sayang, kamu lagi ngapain? Kok duduk di sini sih?" tanya Gibran tatkala ia melihat istrinya yang terlihat sedang duduk di pinggiran kolam ikan yang berada di taman rumahnya.


"Eh! Mas sudah pulang?" sentak Alisha sedikit terkejut karena melihat Gibran yang ternyata sudah ada di belakangnya.


"Iya Sayang, Mas sudah pulang," balasnya sambil ia mengecup puncak kepala istrinya, "Tapi ngomong-ngomong kamu ngapain kok duduk di sini, sih?" tanyanya lagi seraya ia duduk tepat di samping istrinya.


"Icha lagi lihat ikan yang melahirkan Mas, lihat tuh banyak bangetkan bayinya?" balas Alisha kembali menatap kolam ikan tersebut. Mendengar perkataan istrinya, pandangan Gibran pun langsung mengarah ke kolam ikan juga.


"Maa shaa Allah, ho'oh banyak dan lucu ya sayang?" balas Gibran terlihat sedang merasa takjub melihat bayi-bayi ikannya.


"Hum.. apakah nanti kalau Icha melahirkan, akan semudah ibu ikan itu melahirkan Mas?" tanya Alisha, tanpa memandang suaminya sama sekali. Karena tatapannya masih mengarah kedalam kolam ikan yang ada dihadapannya.


Mendengar pertanyaan dari istrinya, pandangan Gibran pun langsung beralih ke Alisha. Bahkan ia juga meraih wajah istrinya agar pandangan istrinya juga beralih kepadanya.


"Sayang, Mas tahu ketakutan kamu saat ini. Tapi Sayang, kalau kamu terus mikirkan hal-hal yang membuat kamu takut, yang ada akan berpengaruh pada anak kita Sayang. Pasti dia jadi sedih, karena merasa menjadi beban buat Ibunya. Emangnya kamu mau anak kita jadi sedih karena merasa terbebani melihat ibunya yang seperti ini, hm?"

__ADS_1


Alisha langsung tersentak mendengar perkataan suaminya. Dan seketika ia membayangkan wajah buah hatinya yang bersedih. Lalu ia pun langsung mengusap-usap perutnya yang membesar.


"Tidak, Icha nggak ingin melihat Anak Icha bersedih Mas," balasnya masih memandang perutnya dan masih mengelusnya.


"Nah makanya, kamu jangan merasa terbebani juga ya? Percayalah, semuanya akan baik-baik saja Sayang. Dan Mas juga selalu berdoa, agar Allah mempermudah segalanya. Sehingga kamu dan bayi kita akan selamat. Jadi kamu harus bersemangat ya Sayang?" ujar Gibran, seraya ia mengecup lembut dahi istrinya.


"In shaa Allah Mas," balas Alisha, terlihat lebih tenang.


"Alhamdulillah, ya sudah sekarang kita masuk yuk? Soalnya Mas belum mandi nih," ajak Gibran seraya ia menggandeng tangan istrinya.


"Ya sudah ayo," balas Alisha, yang akhirnya ia mengikuti langkah suaminya yang memasuki rumah mereka. Bahkan Gibran juga langsung mengajak istrinya ke kamar mereka. Dan sesampainya dikamar.


"Kamu sudah mandi apa belum Sayang?" tanya Gibran seraya ia membuka jas serta dasi yang masih ia pakai.


"Sudah kok Mas. Icha sudah mandi," balas Alisha apa adanya.


"Iya loh! Coba aja cium kalau tidak percaya! Orang Icha sudah wangi kok!" balas Alisha dengan wajah polosnya. Karena di suruh cium oleh istrinya, Gibran pun langsung mencium ketiaknya Alisha. Setelah itu ia langsung menutup hidungnya.


"Hum..! Masih bau Sayang! Kamu belum mandikan?"


Mendengar perkataan suaminya, serta melihat ia menutup hidungnya. Dengan spontan Alisha menciumi bagian ketiaknya. Membuat Gibran, tersenyum tipis melihatnya. Karena ternyata ia sedang menggodanya.


"Nggak kok! Nggak bau ah Mas! Itu perasaan Mas aja kali," balasnya, masih menciumi aroma di tubuhnya.


"Iya loh Sayang, umm..kan emang bau kok," kata Gibran lagi, sambil ia kembali mengendus hidungnya kebagian tubuh Alisha yang lainnya, "Iiya nih masih bau Sayang. Atau mungkin ini gara-gara kamu kecipratan air kolam ikan kali Sayang. Makanya agak-agak bau Amis gitu, loh," lanjutnya yang sepertinya ia memiliki rencana lainnya. Makanya ia tampak berusaha agar Alisha percaya dengan perkataannya.


"Iya kali ya? Emang sih tadi saat melihat ikannya melahirkan, Icha sedikit kecipratan sih. Tapi cuma sedikit kok Mas," balas Alisha terlihat begitu polos.


"Ya tetap saja Sayang. Walaupun kecipratannya cuma sedikit, yang namanya Air ikan ya tetap bau Amiskan?"

__ADS_1


"Terus bagaimana dong?"


"Ya mandi lagi dong Sayang! Ya sudah kalau kamu memang malas mandi. Biar Mas aja yang mandiin, ayo kita mandi," ajak Gibran sambil ia menggandeng tangan istrinya dan langsung membawanya ke kamar mandi.


"Sini Sayang kemarilah," ucap Gibran, saat ia sudah lebih dulu masuk ke bathtub yang telah berisikan Air.


"Iiis.. kok kayaknya ada yang salah deh. Mas ngerjain Lishakan?" tanya Alisha yang nampaknya ia mulai menyadari kalau dirinya sedang dikerjai oleh suaminya.


"Siapa yang ngerjain kamu sih Sayang? Kan tadi kamu ngomong sendiri kalau kamu kecipratan air ikankan? Jadi ya sudah sekaliankan kita mandi bareng?" balas Gibran, seraya ia menarik tangan istrinya agar ikut masuk ke dalam bathtubnya.


"Eh mas tunggu..! Aah.. Mas Yuda! Basahkan baju Icha?" protes Alisha, karena saat Gibran menarik dirinya, dalam posisi ia masih memakai bajunya.


"Maaf Sayang. Habisnya kamu lama sih ya sudah sini Mas bantu bukakan bajunya ya?" Gibran, dan ia pun membukakan resleting belakang baju gamisnya Alisha. Dan tampaklah punggung Alisha yang begitu putih dan mulus. Membuat mata Gibran langsung berbinar senang. Bahkan ia langsung memberikan kecupan disana.


"Aah.. Mas Yuda geli tau!" protes Alisha, terlihat kegelian.


"Masa sih Sayang? Kalau yang ini? humm.." tanya Gibran, seraya ia mengecup tengkuknya Alisha. Dan dengan spontan Alisha malah mengeluarkan suara lenguhannya.


"Ughmm.." Mendengar lenguhan tersebut, membuat gairah Gibran terpanggil dan ingin segera berpetualang. Begitu juga dengan Alisha yang tampaknya ia juga mulai terhanyut akan sentuhan-sentuhan yang di ciptakan oleh suaminya. Sehingga kini tubuh keduanya telah menyatu dalam mahligai percintaan mereka.


Setelah pertempuran usai, Gibran langsung memandikan istrinya. Namun disaat ia menggosok bagian kaki Alisha, tiba-tiba ia melihat darah di bagian pahanya. Membuat ia langsung panik melihatnya.


"Sayang kamu berdarah!" sentaknya. Membuat Alisha terkejut mendengarnya.


"Apaa?!"


...••••••••••✰⁞ᮬ᭄ ཻུ۪۪۪۫ ֯͜ 💜✰⁞ᮬ᭄ ཻུ۪۪۪۫ ֯͜ ••••••••••••...


Terus dukung author ya guys dan jangan lupa berikan 👉 ⭐ ⭐⭐⭐⭐ + 👍 serta komentarnya oke 😉 🙏🥰

__ADS_1


__ADS_2