
*•••••••✰⁞ᮬ᭄ ཻུ۪۪۪۫ ֯͜ 💜 Mutiara Hikmah 💜✰⁞ᮬ᭄ ཻུ۪۪۪۫ ֯͜ •••••••*
Jalan kebenaran itu satu, Ia tak berbilang. Terjal, panjang, dan tentu banyak rintangan. Tak mudah memang, di depan sana badai ujian siap menghadang. Titilah kawan, walau berpeluh lelah. Tempuhlah dan janganlah kalian tinggalkan. Bukan banyaknya kawan menemani yang menjadi ukuran. Tetapi di jalan mereka yang telah Allah kabarkan, bahwa mereka berhasil mencapai tujuan.
Berlarilah jika kau sanggup. Jika lelah, berjalanlah pun bila perlu merangkak. Tetaplah berjalan dan jangan berhenti, walau kadang terbersit dalam hati dan pikiran:
"BALIK ATAU BELOK?"
"Ketika engkau sudah berada di jalan yang benar menuju Allah, maka berlarilah. Jika sulit bagimu, maka berlari kecillah. Jika kamu lelah, berjalanlah. Jika itu pun tidak mampu, merangkaklah. Namun, jangan pernah berbalik arah atau berhenti". - Imam Syafi'i rahimahullah
__sᴛᴏʀɪᴇs ᴏғ ᴛʜᴇ ᴅᴀʏ__
*•••••••••••••••••✰⁞ᮬ᭄ ཻུ۪۪۪۫ ֯͜ 💜✰⁞ᮬ᭄ ཻུ۪۪۪۫ ֯͜ ••••••••••••••••••*
Setelah menempuh perjalanan yang cukup lama, akhirnya mobil sampai disebuah gang yang tampaknya sulit untuk dimasuki oleh mobil. Dan akhirnya Ray memilih memarkirkan mobilnya didepan gang tersebut. Setelah itu ia pun langsung membangunkan Gibran, yang kebetulan sedang tertidur.
"Pak! Pak Gibran! Kita sudah sampai Pak!" panggil Ray, tanpa membuka tirai pembatasnya.
Mendengar namanya dipanggil, Gibran langsung tersentak dan akhirnya ia pun terbangun, "Hum.. kita sudah sampai Ray?" tanyanya lagi, seraya ia menekan tombol pembuka tirai.
"Benar Pak! Kita sudah sampai!" balas Ray lagi. Setelah diyakinkan oleh Ray, Gibran pun membenarkan rambutnya terlebih dahulu. Setelah itu ia pun mulai membangunkan istrinya.
"Sayang bangunlah, kita sudah sampai, Sayang. Ayolah bangun," ujar Gibran, seraya ia memencet hidung mancungnya Alisha. Sehingga dengan spontan mata Alisha langsung terbuka.
"Uhm... benarkah kita sudah sampai Mas?" tanya Alisha dengan suara ciri khas orang bangun tidurnya.
__ADS_1
"Iya Sayang, kita sudah sampai. Makanya ayo cepat bangun, katanya udah kangen banget sama Bapak kamukan?" balas Gibran. Seraya ia membenarkan beberapa rambut Alisha, yang keluar dari hijabnya.
"Iya ini juga Lisha mau bangun kok," kata Alisha bermaksud ingin bangkit. Namun keduluan oleh Gibran yang sudah membalikkan kursi seperti semula lagi, sehingga kini posisi Alisha, sudah kembali duduk normal.
"Terima kasih Mas," ucap Alisha, seraya ia tersenyum manis pada suaminya.
"Sama-sama Sayang," balas Gibran, seraya ia mengecup lembut tangan Alisha yang sejak tadi memang berada di genggamannya, "Ya sudah ayo kita turun Sayang," ajaknya lagi.
"Iya Mas," balas Alisha. Dan tak berapa lama Rey pun membuka pintu mobilnya untuk kedua majikannya itu. Setelah keduanya turun, Ray langsung menutupnya kembali, setelah itu ia langsung membuka pintu bagasi mobilnya. Karena barang-barang Alisha dan Gibran berada di sana.
Sedangkan Alisha langsung mengajak Gibran, berjalan menelusuri gang kecil tersebut, menuju ke rumahnya, "Maaf ya Mas, kamu jadi harus jalan ke gang kecil seperti ini," ucap Alisha, merasa tidak enak hati, pada Suaminya. Karena harus berjalan digang kecil yang kebetulan sedikit becek, karena sepertinya habis turun hujan.
"Kenapa kamu jadi minta maaf sih Sayang? Orang Mas nggak papa kok. Jadi kamu santai aja deh, jangan merasa tidak enak hati begitu," balas Gibran, seraya ia merangkul pundak istrinya. Dan disaat langkah mereka sudah mulai mendekati sebuah rumah yang sederhana. Tiba-tiba Alisha mendengar suara wanita yang sedang marah-marah pada seseorang. Dan seketika ia menghentikan langkahnya dan melihat adegan yang sangat memilukan baginya.
"Bapak! Kenapa ibu jahat banget sih sama Bapak!" ucap Alisha, yang air matanya langsung mengalir begitu saja, tatkala ia melihat seorang pria sedang bersimpuh di hadapan seorang wanita paruh baya, "Maaf Mas! Lisha harus cepat nolongin bapak Mas!" lanjutnya lagi, seraya ia melepaskan rangkulan tangan Gibran yang melingkar pada bahunya.
"Ray! Kamu telepon polisi setempat! Sepertinya wanita itu tidak akan heran kalau hanya diperingatkan saja! Jadi dia harus dikasih pelajaran!" lanjut Gibran pada Ray, yang kebetulan, saat ini sudah berada di belakang mereka, sambil membawa barang-barang bawaan milik Bosnya
"Baik Pak!" balas Ray, dan ia pun langsung mengambil benda pipihnya. Sedangkan Gibran langsung bergegas menuju ke rumah yang sederhana itu. Dan Gibran semakin geram tatkala mendengar perkataan wanita tersebut, saat membalas perkataan suaminya.
"Santi! Semakin hari kelakuan kamu semakin gila ya?" protes lelaki, yang terlihat masih bersimpuh di lantai.
"Kenapa emangnya hah?! Kamu mau memukul aku hah? Nah pukul aja! Yang ada kamu yang aku memati..." balas wanita, seraya ia hendak, memukul lelaki. Namun tangannya langsung ditahan oleh Gibran seraya ia berkata
"Hentikan!!" seru Gibran, dengan tatapan mata yang begitu geram pada wanita tersebut, yang tak lain adalah ibu tirinya Alisha, yaitu Santi.
__ADS_1
"Kamu siapa hah?! Kamu nggak berhak ikut campur urusanku?!" bentak Santi sambil membalas tatapan tajam Gibran. Bahkan tatapannya tak kalah garang, dari Gibran. Dan belum lagi ia mendengar balasan pertanyaannya dari Gibran. Tiba-tiba ia dikejutkan dengan suara yang begitu lantang yang berasal dari luar pagar rumahnya.
"Dia Suaminya Lisha! Jadi Dia juga berhak menolong Bapak Lisha! Karena, ibu sudah menyiksa Bapak!"
Mendengar kata-kata tersebut, dengan spontan Santi langsung menoleh ke sumber suara. Dan seketika matanya langsung terbelalak saat melihat seorang gadis kecil nan cantik sedang berjalan memasuki pagar kayu rumahnya itu.
"Alisha!" sentak Santi saat melihat Alisha, yang mulai memasuki pagar tersebut. Lalu Alisha langsung berlari menghampiri bapaknya, yang terlihat seperti Sang Bapak sedang terkejut juga saat melihat dirinya.
"Bapak!!" panggil Alisha seraya ia memeluk tubuh sang Ayah, yang terlihat begitu kurus itu, "Huhuhu.. Bapak.. hiks.. maafin Lisha Pak.. huhuhu.. karena Lisha, hiks..hiks.. Bapak jadi disiksa seperti ini.. hiks..hiks.."
Tangis Alisha langsung pecah, saat didalam pelukan sang Ayah. Ada penyesalan yang amat dalam dihatinya. Karena baru bisa datang, setelah sekian lamanya. Sehingga kini tubuh sang Ayah, sampai begitu kurusnya, dan yang terlihat hanya tinggal tulang dan kulit saja. Melihat itu, hati Lisha begitu sakit.
"Alisha? Benarkah ini kamu Nak?" tanya Marwan, sambil ia berusaha melihat wajah putrinya itu.
"Iya Pak Ini Lisha, putri Bapak. Maafkan Lisha ya Pak, karena Lisha baru bisa datang sekarang," balas Alisha, dengan wajah yang terlihat sudah dibanjiri dengan air matanya. Setelah melihat wajah putrinya dengan seksama akhirnya Marwan mulai mengenali Alisha.
"Alhamdulillah.. ternyata ini benaran kamu Nak."
...•••••••••••••✰⁞ᮬ᭄ ཻུ۪۪۪۫ ֯͜ 💜✰⁞ᮬ᭄ ཻུ۪۪۪۫ ֯͜ ••••••••••••••...
Terus dukung author terus ya guys dan jangan lupa tinggalkan jejaknya juga oke.
OH iya, selagi menunggu Ramanda update, yuk mampir ke karyanya Author 💓Nita.P 💓 Karyanya sangat di rekomendasikan banget loh. Makanya cus buruan, kepoin ya. Dan jangan lupa juga berikan dukungannya juga ya guys 🙏😉
__ADS_1
Syukron 🥰🙏