
*•••••••✰⁞ᮬ᭄ ཻུ۪۪۪۫ ֯͜ 💜 Mutiara Hikmah 💜✰⁞ᮬ᭄ ཻུ۪۪۪۫ ֯͜ •••••••*
Ketika ujian dan masalah mendera kita, seharusnya menjadi sarana bagi kita untuk lebih dekat pada Allah, merendah diri dan memohon pertolongannya seraya istighfar, meningkatkan ketakwaan dan ketaatan kita kepada-Nya.
Yang boleh jadi sebelumnya, ada maksiat yang kita perbuat tanpa kita sadari, hingga membuat kita lalai mengingat Allah. Atau boleh jadi Allah ingin menguji kita, sampai dimana kesabaran dan keikhlasan kita dalam menjalaninya. Semua ada hikmah dan hanya Orang - orang yang bersih hatinya menjadikan semua ini Tanda Sayang Allah kepadanya.
Maka bersegeralah mendekat kepada-Nya, mohon ampun dan selalu yakin dengan pertolongan Allah. Seberat apapun ujian itu yakinlah, kita sanggup menjalaninya, ingatlah janji Allah dalam surat Al Baqarah : 286 yang artinya "Allah tidak membebani seseorang melainkan sesuai dengan kesanggupannya. Ia mendapat pahala (dari kebajikan) yang diusahakannya dan ia mendapat siksa (dari kejahatan) yang dikerjakannya.
__sᴛᴏʀɪᴇs ᴏғ ᴛʜᴇ ᴅᴀʏ__
*•••••••••••••••••✰⁞ᮬ᭄ ཻུ۪۪۪۫ ֯͜ 💜✰⁞ᮬ᭄ ཻུ۪۪۪۫ ֯͜ ••••••••••••••••••*
Sesuai yang diperintahkan oleh Syarah, Reno setelah mempersiapkan segala sesuatunya untuk kedua majikannya. Reno pun langsung mengantar Gibran dan Alisha ke villa miliknya Syarah yang berada di pulau S dengan helikopter. Sesampainya di sana, Reno langsung membawa barang-barang yang dibutuhkan kedalam Villa. Setelah itu ia berpura-pura akan tetap tinggal disana. Namun begitu Gibran lengah, ia pun langsung pergi membawa helikopternya kembali ke kota.
Mendengar suara mesin helikopter berbunyi. Gibran yang tadinya didalam Villa langsung berlari keluar dari Villa. Namun sayangnya Helikopter sudah mulai terbang ke atas, membuat Gibran marah-marah nggak menentu. Pada Reno yang terlihat mulai mengerakkan helikopternya meninggalkannya di pulau tersebut.
"Brengsek Lo Reno! Turun Lo Reno! Ini perintah!" teriak Gibran sekencangnya, agar Reno mendengarnya. Namun karena suara helikopter begitu kencangnya otomatis teriak Gibran tidak terdengar olehnya.
"Sialan Gue ditinggal lagi disni! Reno kembali! Atau gue akan memecat Lo! Kalau Lo pergi ninggalin gue!" teriak Gibran lagi sekuatnya. Dengan wajah yang terlihat begitu marah. Namun tetap saja tak terdengar oleh Reno. Bahkan helikopternya langsung melesat pergi, semakin menjauh.
"Aaakh...!!! Bangsat lo Reno! Awas aja Lo nanti!! Gue pasti akan menghabisi Lo!" ujar Gibran dengan suara yang terdengar tinggi. Tampak sekali ia begitu amat kesal karena di tinggal oleh Reno di pulau kecil tersebut.
__ADS_1
Setelah helikopter Reno tak terlihat lagi, Gibran pun akhirnya melangkah kembali menuju Villa, seraya ia mengambil benda pipihnya yang berada di kantongnya. Lalu ia pun membuka layar handphonenya tersebut. Namun tiba-tiba dia langsung membuangnya dengan kesal.
"Aaakh!! Sialan!! Mana disini nggak ada sinyal lagi!" gerutunya seraya ia mengacak-ngacak rambutnya. "Kyaaaak!!" teriaknya lagi, melampiaskan rasa kekesalannya. Namun tiba-tiba saja terdengar suara dentingan yang berasal dari Handphonenya Gibran, pertanda ada pesan yang masuk di handphonenya tersebut.
Mendengar itu Gibran pun langsung mengambil benda pipihnya yang tadi sempat ia buang, untungnya benda itu terjatuh di rerumputan sehingga ketika ia mengambilnya kembali benda itu masih terlihat mulus. Dan Gibran pun langsung membuka pesan masuk tersebut.
"Nenek!" gumamnya saat ia melihat sebuah nama yang tertera pada layar handphonenya. Dan Gibran pun langsung mengklik pesan tersebut dan terlihatlah olehnya isi pesan tersebut.
..._________________...
"Selamat bersenang-senang Cucu-cucu! Buatkanlah Nenek, cicit yang tampan dan cantik ya? Ingat loh Nenek tidak akan menyuruh Reno menjemput Kalian, sebelum Nenek mendapatkan kabar gembira itu! Jadi Berusahalah dan berjuanglah agar Istri kamu secepatanya hamil, Oke! Oh iya jangan lupa juga sampaikan salam manis dan sayang dari Nenek ya, untuk istri kamu. Semoga secepatanya Dia hamil, agar secepatnya juga kalian bisa kembali ke kota."
...------------------...
"Aaakh..!!! Ini pasti sudah direncanakan oleh Nenek! Hah! Kenapa gue tak menyadari itu sih!!" ujar Gibran kesal pada dirinya sendiri, karena ia baru menyadari kalau semuanya sudah direncanakan oleh Neneknya.
"Huh! Ini pasti karena wanita itu! Dia pasti ikut andil dari rencananya Nenek! Brengsek! Dasar perempuan licik! Lo pikir rencana Lo sudah berhasil hah? Jangan mimpi Lo! Lihat saja nanti! Gue akan membuat Lo menderita! Sampai Lo sendiri yang mengakhiri penderita Lo!" gumam Gibran, sambil menatap geram ke arah villa, yang ternyata disana ada Alisha, yang terlihat sedang berdiri didepan pintu villa, dengan tatapan mengarah kepadanya.
"Heh! Keliatannya Lo begitu senang ya! Lihat saja Gue pasti akan menendang Lo!" gumam Gibran lagi, dengan tatapan yang terlihat masih memandang Alisha dengan tatapan geram padanya. Dan disaat ia menyebutkan kata tendang. Kakinya pun ikut mengayun dan bermaksud ingin menendang rerumputan yang terlihat begitu tinggi, diluar gerbang Villa, karena memang saat ini ia sedang berada di luar gerbang. Namun ketika ia menendang rerumputan tersebut tiba-tiba...
DOEENG!!
__ADS_1
"AW..AW...AW!! Ukh..Kaki Gue.. sakiiit!!" teriak Gibran sekencangnya. Sambil ia mengangkat kaki kanannya dan otomatis tanpa sadar kaki kirinya ikut meloncat-loncat dengan sendirinya. Tampak sekali kalau ia begitu kesakitan.
Alisha yang melihat hal itu, langsung berlari, menghampiri Gibran, "Mas, kamu kenapa? Sini Lisha bantu!" tanya Alisha terlihat begitu cemas saat melihat wajah Gibran yang kesakitan. Dan ia pun bermaksud ingin membantu Gibran. Namun tiba-tiba Gibran langsung mendorong tubuhnya Alisha.
"Jangan sentuh Gue perempuan licik! Ini semua gara-gara Lo! Ugh..agh..." bentak Gibran, dengan memasang wajah yang tak bisa digambarkan. Karena mungkin ia sedang menahan rasa sakit dan juga rasa kesalnya, menjadi satu. Apalagi saat ini wajahnya terlihat begitu meriah, menahan amarah dan rasa sakitnya.
Mendengar perkataan suaminya yang sepertinya sedang menyalahkan dirinya, membuat Alisha tampak bingung, "Gara-gara Lisha? Emangnya apa yang sudah Lisha perbuat Mas? Perasaan Lisha hanya diam saja deh disana? Tapi kenapa malah disalahkan sih?" tanya Alisha, dengan memasang wajah polosnya.
"Heh! Jangan pura-pura nggak tahu deh kamu! Padahal kamu juga ikut merencanakan hal ini sama nenekkan? Biar kamu bisa secepatanya menguasai hartaku dengan dalih anak bukan?" ujar Gibran, dengan tatapan yang terlihat begitu dingin. Namun wajah kesakitannya masih terlihat jelas oleh Alisha.
Mendengar tuduhan Gibran terhadap dirinya, membuat mata Alisha membulat sempurna. Tampak sekali ia begitu terkejut mendengarnya, bahkan hatinya langsung panas mendengar tuduhan tersebut.
"Hah?! Rencana apa? Dalih apa?! Hai Tuan jangan asal menuduh gitu dong?! Saya bertemu Nenek aja baru hari itu jugaan! Kapan saya ikut rencana Nenek? Lagian Siapa juga yang memaksa saya menikah dengan Anda hah? Bukankah Anda sendirikan?" balas Alisha, yang terlihat dari wajahnya kalau ia sudah tersulut emosinya.
"Alaah! Sok berdalih kamu! Padahal..." ujar Gibran, yang sepertinya ia tak percaya dengan perkataannya Alisha. Mendengar perkataannya Gibran, Alisha langsung menyelanya.
"Wallahi! (Demi Allah) Saya tak pernah sedikitpun memiliki rencana yang Anda tuduhkan itu!" seru Alisha, seraya ia mengangkat jari telunjuknya keatas. Menandakan ia sedang bersumpah atas nama Tuhannya, "Apakah Anda sudah jelas mendengar sumpah saya? Jadi jangan pernah menuduh orang tanpa adanya bukti! Sekarang cepatlah masuk! Atau Anda mau tetap disini saja hah?!" kata Alisha lagi, seraya ia terlihat seperti hendak membantu Gibran.
"Eh! AW..AW..AW..kaki gue sakit tau! Main tarik aja sih! Huh kasar banget sih jadi perempuan!"
...••••••••••✰⁞ᮬ᭄ ཻུ۪۪۪۫ ֯͜ 💜✰⁞ᮬ᭄ ཻུ۪۪۪۫ ֯͜ •••••••••...
__ADS_1
Terus dukung author ya guys dan jangan lupa berikan 👉 ⭐ ⭐⭐⭐⭐ + 👍 serta komentarnya oke 😉 Syukron 🙏🥰