
*•••••••✰⁞ᮬ᭄ ཻུ۪۪۪۫ ֯͜ 💜 Mutiara Hikmah 💜✰⁞ᮬ᭄ ཻུ۪۪۪۫ ֯͜ •••••••*
MEMBIASAKAN DIRI DENGAN IBADAH
Bila kita membiasakan diri berbuat kebaikan, maka tubuh akan otomatis selalu melakukan kebaikan.
Berbuat baik itu awalnya dipaksa. Berbuat baik itu awalnya dilatih. Berbuat baik itu awalnya, dipacu dengan imbalan.
Lama-lama, akan terbiasa melakukan kebaikan. Tanpa dipaksa, atau tanpa diberi imbalan. Lama-lama, tubuh akan otomatis melakukan kebaikan. Tanpa disuruh, tanpa diperintah. Kalau tidak melakukan, jiwa akan terasa hampa dan gersang.
Membiasakan diri melakukan ibadah. Melatih diri melakukan amal. Suatu saat amal dan ibadah itu menjadi suatu kebutuhan. Suatu saat amal ibadah, akan jadi suatu kesenangan dan kenikmatan tersendiri.
__sᴛᴏʀɪᴇs ᴏғ ᴛʜᴇ ᴅᴀʏ__
*•••••••••••••••••✰⁞ᮬ᭄ ཻུ۪۪۪۫ ֯͜ 💜✰⁞ᮬ᭄ ཻུ۪۪۪۫ ֯͜ ••••••••••••••••••*
Setelah mereka menyelesaikan sarapannya, Alisha langsung membereskan semuanya. Bahkan ia piring-piring bekas mereka makan tadi langsung ia cuci. Sedangkan Gibran berada di bangkunya memperhatikan Alisha yang sedang bekerja. Padahal Alisha sudah menyuruhnya untuk kembali kekamarnya. Namun Gibran menolaknya, dengan alasan ia bosen berdiam diri dikamar saja. Makanya akhirnya Alisha pun membiarkannya untuk tetap berada di ruang makan tersebut.
"Rajin banget sih dia, udah kayak, ibu rumah tangga benaran aja sih?" gumam Gibran lirih. Dengan mata yang selalu menatap kearah Alisha yang terlihat sedang mencuci piringnya.
"Eh, tapi diakan emang udah pernah nikahkan? Jadi mungkin hal ini sudah terbiasalah bagi dia. Tapi ngomong-ngomong benarkah dia masih perawan? Seperti yang dikatakan oleh Nenek," gumamnya lagi, sembari ia memperhatikan tubuh istrinya dari atas kebawah. Dari bawah ke atas lagi.
"Eh, kenapa pikiranku jadi mesum sih! Aah bodo amatlah! Sebaiknya aku pergi dari sini, dari pada aku memikirkan hal-hal yang Aneh tentang si pendek!" kata Gibran lagi. Dan ia pun bangkit dari duduknya. Lalu ia langsung berjalan dengan perlahan-lahan meninggalkan ruang makan tersebut.
__ADS_1
Sementara Alisha yang sedang mencuci piring, kini tampak telah selesai. Dan ia bermaksud mengajak Gibran untuk berjalan-jalan di sekitar villa. Namun saat ia membalikkan tubuhnya, ternyata sudah tidak ada ditempatnya lagi.
"Loh, kemana Tuan Jangkung tadi? Bukankah tadi dia masih duduk di sinikan?" gumam Alisha sedikit heran,
"Huh! Dasar jangkung plin-plan! Tadi saat ku suruh pergi, dia malah nolak! Sekarang aja malah ngilang! Dasar gaje!" gerutunya lagi. Seraya ia berjalan meninggalkan ruangan makan itu juga. Dan disaat ia berjalan sudah mencapai ruang keluarga tiba-tiba ia dikagetkan dengan suaranya Gibran.
"Sudah selesai ya Pendek?"
Mendengar itu Alisha langsung menoleh ke belakang, ternyata Gibran sedang duduk di sofa yang berada di ruang tamu, "Eh! Bikin kaget saja sih Anda!" balasnya, yang kemudian ia pun berjalan menuju ke ruang tamu, "Iya sudah selesai, memangnya ada apa?" tanyanya lagi, yang kini ia sudah berada di depannya Gibran.
"Nggak ada apa-apa sih! Hanya nanya saja," balas Gibran enteng.
"Ooh.. hum.. apakah Anda mau jalan-jalan?" tanya Alisha, sambil ia mengulurkan tangan kanannya ke Gibran.
"Yaa jalan-jalan disekitar sini saja, sekalian lihat-lihat danau yang ada disana," balas Alisha, dengan tangan yang terlihat masih mengulurkan pada Gibran. Melihat tangan Alisha, Gibran terlihat seperti sedang ragu-ragu. Membuat Alisha kembali menarik tangannya.
"Ya sudah kalau nggak mau! Kalau begitu saya jalan-jalan sendiri saja deh," kata Alisha. Seraya ia bermaksud ingin melangkahkan kakinya menuju pintu keluar. Namun baru dua langkah ia berjalan tiba-tiba tangan Gibran meraih tangannya, seraya ia berkata..
"Tunggu! Bantu aku berjalan!" katanya seraya ia bangkit dari duduknya.
"Eh, saya pikir Anda tidak terbiasa berjalan-jalan. Makanya tampangnya kayak nggak mau gitu pun!" protes Alisha. Sambil ia menuntun Gibran, yang jalannya masih terlihat kesulitan. Karena kaki kanannya memang masih belum sembuh betul.
"Berisik! Bisa diam tidak? Nggak tahu apa kakiku tambah berdenyut kalau dengar suara cempreng kamu itu, tau!" balas Gibran dengan ketus. Membuat bibir Alisha langsung mencibir sambil komat-kamit mengejek perkataan Gibran. Dan ternyata yang dilakukan Alisha, tertangkap oleh mata Gibran, membuat ia langsung mengerutkan dahinya.
__ADS_1
"Kenapa bibir kamu mencibir begitu hah? Apakah kamu sedang meledek aku yaa?" tanya Gibran, sambil memberikan tatapan datar pada Alisha.
"Eh! Siapa juga ya meledek Anda? Orang bibir saya memang suka begini kok!" dalih Alisha, sedikit terkejut, karena ternyata ia kepergok oleh Gibran. Mendengar perkataan Alisha, alisnya Gibran pun naik sebelah, seraya ia tersenyum tipis. Karena sepertinya ia sedang merencanakan sesuatu.
"Ooh iyakah? Kalau begitu mau nggak, aku kasih tau cara menghilangkan kebiasaan itu, hm?" tanya Gibran. Seraya ia menghentikan langkahnya. Dan otomatis Alisha yang memapahnya juga ikut berhenti.
"Emang gimana caranya?" tanya Alisha dengan tampang polosnya. Mendengar pertanyaan Alisha, Gibran pun langsung menundukkan wajahnya. Dan tanpa basa-basi ia langsung meraih bibir merah delimanya Alisha. Sedangkan Alisha yang mendapatkan serangan mendadak, seketika matanya langsung membulat sempurna.
"Anda! Kenapa Anda mengambil ciuman pertama saya sih!" protes Alisha, sambil memukul dada bidang nya Gibran. Setelah Gibran melepaskan tautan bibirnya.
Gibran yang mendengar kata ciuman pertama, langsung mengerutkan dahinya, "Ciuman pertama kamu? masa sih ini ciuman pertama kamu? Bukankah kamu itu seorang jandakan? Seharusnya kamu sudah melakukan berkali-kali dong sama suaminya kamukan?" tebak Gibran, seraya tersenyum miring, pada Alisha. Seolah ia seperti merendahkan Alisha.
"Huh! Sembarang saja Anda menuduh! Emangnya menurut Anda, semua yang berstatus janda itu, akan seperti yang anda pikirkan ya? Tapi ya sudahlah! Ngapain juga dibahas dengan Anda! Nggak penting banget sih!" balas Alisha dengan ketus. Lalu ia pun langsung berjalan meninggalkan Gibran begitu saja. Tampak sekali sekali ia amat kesal pada Gibran, bukan hanya karena tuduhannya saja. Tapi karena dia juga sudah mengambil ciuman pertamanya tanpa meminta izin padanya dulu.
Melihat Alisha yang pergi begitu saja, membuat Gibran tampak bingung, "Loh kok, gue ditinggal sih? Hei pendek! Bantuin Aku dong! Kakikukan masih sakit tau!" teriak Gibran memanggil Alisha. Yang terlihat ia semakin menjauh.
"Huh! Jalan aja sendiri! Emangnya saya pikirin apa? Sudah sono pulang saja! Nggak usah ngikutin saya!" balas Alisha masih terdengar ketus. Wajahnya juga terlihat tidak bersahabat saat melihat Gibran. Setelah berkata-kata ia pun langsung kembali melanjutkan langkahnya.
"Eh, kok pendek kaya marah gitu sih Ama gue? Emangnya apa salah gue? Atau jangan-jangan yang dikatakannya tadi benar ya? Kalau itu memang ciuman pertamanya Alisha?" gumam Gibran, sambil menatap kepergian Alisha.
...••••••••••✰⁞ᮬ᭄ ཻུ۪۪۪۫ ֯͜ 💜✰⁞ᮬ᭄ ཻུ۪۪۪۫ ֯͜ •••••••••...
Terus dukung author ya guys dan jangan lupa berikan 👉 ⭐ ⭐⭐⭐⭐ + 👍 serta komentarnya oke 😉 Syukron 🙏🥰
__ADS_1