
*•••••••✰⁞ᮬ᭄ ཻུ۪۪۪۫ ֯͜ 💜 Mutiara Hikmah 💜✰⁞ᮬ᭄ ཻུ۪۪۪۫ ֯͜ •••••••*
Kekecewaan adalah buah dari tingginya harapan yang tidak berbanding lurus dengan kenyataan. Kerapkali kita ingin berusaha merubah orang lain, padahal kenyataannya ini bukan wilayah kita.
Sehingga pada akhirnya kita yang akan kecewa, sakit hati, mudah marah dan kehabisan tenaga. Perlu disadari, kita tidak akan bisa mengubah yang di luar diri kita, yang bisa merubah hanyalah Allah
Kita hanya akan bisa merubah apa yang ada dalam diri kita, dan inilah wilayah yang bisa kita kendalikan. Saat kita bisa merubah apa yang ada dalam diri, niscaya Allah merubah apa yang ada di luar diri kita
Jangan pernah mencoba merubah orang di luar diri kita, sebelum kita merubah apa yang ada dalam diri kita.
__sᴛᴏʀɪᴇs ᴏғ ᴛʜᴇ ᴅᴀʏ__
*•••••••••••••••••✰⁞ᮬ᭄ ཻུ۪۪۪۫ ֯͜ 💜✰⁞ᮬ᭄ ཻུ۪۪۪۫ ֯͜ ••••••••••••••••••*
"Apa?!!" sentak Gibran dan Alisha secara bersamaan. Membuat Syarah semakin gemas melihat keduanya.
"Hahahaha.. lihatlah, bahkan keterkejutan kalian saat ini bisa kompak juga ya? Hahahaha..." ucap Syarah, sambil tertawa lucu melihat wajah kedua cucunya itu.
"Iikh Nenek! Jangan bercanda deh! Nggak lucu tau!" protes Gibran, dengan wajah yang terlihat mulai sedikit kesal.
"Siapa juga yang bercanda Nak! Pokoknya hari ini juga kalian akan berangkat berbulan madu! Jadi bersiap-siaplah!" ujar Syarah terdengar tegas. Seraya ia mengambil benda pipihnya. Lalu, ia langsung memanggil seseorang dari via handphonenya itu. Dan tak berapa lama, masuklah seorang pria tampan berjas hitam.
"Reno! Tolong kamu persiapkan helikopter dan juga keperluan yang mereka butuhkan! Lalu antar mereka ke pulau S. Kamu pahamkan Maksud saya hm?" ujar Syarah pada Reno.
"Saya Paham Nek!" balas Pria itu yang ternyata ia adalah Reno.
"Bagus! Sekarang lakukanlah! Ingat jangan ada yang sampai terlupakan, kamu mengertikan?" kata Syarah mengingatkan Reno.
"Mengerti Nek!" balas Reno dengan tegas juga.
"Bagus! Sekarang pergilah!"
__ADS_1
"Baik Nek! Kalau begitu saya permisi!" balas Reno, setelah mendapatkan kode dengan lambaian tangan Syarah. Reno pun langsung bergegas pergi.
"Nek, please jangan sekarang! Bulan madunyakan bisa nanti-nantikan? Lagian Nenek juga tahukan kalau pekerjaan Yuda saat ini, sangatlah banyak? Jadi please tunda dulu ya rencana bulan madunya?" ujar Gibran setelah kepergian Reno.
"Kan sudah Nenek katakan tadi, tidak ada protesan lagi! Begini saja deh, kalian bisa pilih sendiri, mau pergi berbulan madu sekarang. Atau melaksanakan acara pesta pernikahan kamu! Sekarang pilih oleh kalian berdua! Pesta.. atau bulan madu?!" ujar Syarah, memberikan pilihan pada Alisha dan Gibran.
"Tapi Nek..." Tampak Gibran ingin protes lagi pada Neneknya. Namun baru saja ia berkata, Syarah sudah langsung menyelanya.
"Tidak ada tapi-tapian Yuda! Kamu harus memilih di antara dua pilihan itu saja! Kadi pilih Pesta atau pergi, hm? Atau begini saja! Karena kamu begitu berat untuk pergi Maka, pilihan pestalah yang terbaik!" kata Syarah, membuat Alisha langsung tersentak.
"Tidak Nek, tidak! Lisha nggak mau ada pesta-pestaan!" protes Alisha, membuat Gibran langsung menatapmya.
"Ya sudah kalau begitu, itu artinya kalian memilih berbulan madu! Maka sekarang pergilah bersiap-siap, karena sebentar lagi helikopter akan datang.
"Nek.. tidak bisakah ditunda dulu selama satu bulan? Lagian kamikan belum mengenal lebih dekat Nek, jadi please ditunda dulu ya Nek?" pinta Gibran, yang terlihat ia masih berusaha agar Neneknya mau menunda keinginannya.
"Nah, makanya ini kesempatan kalian, untuk saling mengenal satu sama lainnyakan? Jadi buat apa ditunda-tunda lagi, iyakan?" balas Syarah, membuat Gibran terlihat semakin frustasi.
"Sudahlah! Terserah kalian saja! Nenek sudah tidak mau memperdulikan kalian lagi! Sekarang kalian pergilah dari sini! Karena Nenek ingin tidur saja! Siapa tahu saja, nenek akan bermimpi bertemu sama dengan kakek kamu! Lalu sekalian memintanya untuk membawa nenek juga. Jadikan kamu tidak perlu lagi repot-repot memenuhi keinginan nenek!" ujar Syarah, seraya ia menarik satu bantalnya, agar posisinya menjadi lebih rendah.
Mendengar perkataan sang Nenek, membuat Gibran begitu terkejut, "Aah.. Nenek! Kenapa ngomong begitu lagi sih?! Ya sudah iya-iya kami akan pergi! Tapi please jangan ungkit hal itu lagi! Dan nenek harus janji! Ketika kami pulang Nenek sudah kembali sehat ya?" ujar Gibran terlihat ada keterpaksaan dari raut wajahnya.
"Baiklah, In shaa Allah Nenek akan sehat setelah kalian pulang! Apalagi kalau kalian memberikan Nenek oleh-oleh cucu dari sana! Pasti Nenek semakin sehat deh," balas Syarah, sambil mengedipkan sebelah matanya. Membuat mata Alisha maupun Gibran langsung membulat sempurna.
"Hiis.. apaan sih Nek? Jauh banget mikirnya sampai kesana! Baru juga menikah udah kesana aja pikiran nenek!" protes Gibran.
"Yaa, itukan kalau kalian ingin melihat Nenek sehat dan panjang umur Nak, kalau nggak juga nggak papa kok," balas Syarah sambil memasang wajah yang terlihat sedih.
"Aah, Sudahlah Nek! Jangan berpikir macam-macam lagi! Nenek mau kami berangkatkan? Jadi jangan masang wajah sedih Begitu dong.
"Humm.. iya deh! Ya sudah kalian berangkatlah sekarang! Pasti saat ini Reno sudah menunggu kalian di atas rumah sakit ini," ujar Syarah, Mengingatkan Gibran dan Alisha.
__ADS_1
"Baiklah Nek, kalau begitu kami berangkat ya? Ingat janji Nenek! Harus sehat setelah kami kembali," balas Gibran seraya ia memeluk Neneknya.
"Iya Nak, kalian bersenang-senanglah disana! Ingat akan ada laporan yang akan datang kalau kamu sampai menyakiti Alisha!" ujar Syarah kembali memperingati Gibran.
"Iya iya! Takut banget sih!" balas Gibran seraya ia mendengus kesal.
"Lisha Pergi juga ya Nek, Nenek jaga kesehatan ya disini?" sambung Lisha, agar perdebatan antara Nenek dan cucu itu segera berakhir.
"Iya Sayang, kamu juga ya? Dan bilang sama Nenek kalau suami nakal kamu ini menyakiti kamu, oke?" bakas Syarah seraya ia memeluk Alisha juga.
"Iya Nek, In shaa Allah, kalau begitu kami pamit ya, Assalamu'alaikum?" ucap Alisha tetap terdengar lembut.
"Wa'alaikumus salam warahmatullahi wabarakatu," balas Syarah, sambil melambaikan tangannya pada Alisha.
"Ingat ya Nek, sama janji Nenek! Harus sehat setelah kami pulang!" kata Gibran, mengingatkan sang Neneknya lagi, sebelum ia melangkah pergi.
"Iya iya! Nggak percaya banget sih jadi orang! Nenek pasti Inga kok!" balas Syarah terdengar ketus.
"Iyakan Yuda.." ucap Gibran bermaksud membalas lagi perkataan neneknya. Namun tanpa terduga, Alisha langsung merangkul lengannya seraya berkata.
"Sudahlah Mas, jangan di perpanjang lagi, Nenekkan butuh istirahat. Sebaiknya Ayo kita pergi," ajaknya, seraya ia memaksa Gibran untuk ikut melangkahkan kakinya dan mau tak mau akhirnya Gibran pun mengikuti langkahnya Alisha.
"Kami pergi ya Nek? Assalamu'alaikum!" ucap Alisha lagi setelah mereka didepan pintu ruang rawatnya Syarah.
"Wa'alaikumus salam warahmatullahi wabarakatu." balas Syarah lagi, dan kembali ia melambaikan tangannya pada Alisha yang sedang melambaikan juga tangannya. Lalu mereka pun langsung melangkah keluar dan menghilang di balik pintu kamarnya.
"Alhamdulillah.. semoga rencanaku kali ini juga akan berhasil. Biar aku secepatanya mendapatkan cicit.. hihihi.. rasanya aku sudah tidak sabar lagi, ingin segera menimang cicit,' gumam Syarah, sambil ia menyunggingkan senyuman kepuasannya.
...••••••••••✰⁞ᮬ᭄ ཻུ۪۪۪۫ ֯͜ 💜✰⁞ᮬ᭄ ཻུ۪۪۪۫ ֯͜ •••••••••...
Terus dukung author ya guys dan jangan lupa berikan 👉 ⭐ ⭐⭐⭐⭐ + 👍 serta komentarnya oke 😉 Syukron 🙏🥰
__ADS_1