
*•••••••✰⁞ᮬ᭄ ཻུ۪۪۪۫ ֯͜ 💜 Mutiara Hikmah 💜✰⁞ᮬ᭄ ཻུ۪۪۪۫ ֯͜ •••••••*
Setiap manusia mempunyai ujian hidup masing² besar kecilnya disesuaikan dengan kemampuan kita masing² oleh Allah.
Dan tidak semua masalah menuntut untuk dicarikan solusinya karena kadang masalah itu akan terselesaikan dengan sendirinya mengikuti berjalannya waktu.
Tak usahlah curhat di medsos yang tiada guna dan malah buka aib sendiri. Kesedihan sebaiknya di sembunyikan dan tidak dikeluhkan di medsos.
Kalau mau mengeluh ya dengan Allah saja atau dengan orang yang kita anggap bisa bantu mencarikan solusi yang baik dan amanah..
__sᴛᴏʀɪᴇs ᴏғ ᴛʜᴇ ᴅᴀʏ__
*•••••••••••••••••✰⁞ᮬ᭄ ཻུ۪۪۪۫ ֯͜ 💜✰⁞ᮬ᭄ ཻུ۪۪۪۫ ֯͜ ••••••••••••••••••*
Setelah melakukan perjalanan dari kantor, kini mobil Gibran, sudah memasuki area perparkiran apartemennya. Setelah mobil terparkir dengan sempurna, Gibran pun bergegas turun. Lalu ia langsung berjalan menuju pintu lobiy, gedung berlantaikan tujuh tersebut. Dan setelah berada di dalam, Gibran juga langsung masuk ke dalam lift, karena memang apartemennya berada dilantai paling atas.
Tidak berapa lama pintu lift kembali terbuka, lalu Gibran pun langsung bergegas dan langsung melangkah menuju ke pintu apartemennya. Setelah menekan tombol kode kunci, pintu apartemen pun langsung terbuka. Dan setelah menutup pintu apartemennya kembali, Gibran pun langsung bergegas menuju ke kamarnya. Dan baru saja ia hendak membuka pintu kamarnya, ia sudah mendengar suara orang yang sedang menangis.
"Eh, siapa yang menangis?" gumam Gibran merasa heran, "Hmm.. jangan-jangan Alisha lagi yang menangis? Aah.. sebaiknya aku lihat sajalah!" lanjutnya lagi, sembari ia membuka pintu kamarnya. Dan benar saja begitu pintu kamar terbuka, terdengarlah jelas oleh Gibran suara Isakan yang berasal dari tempat tidur yang berada di depannya.
"Hah, Lisha? Sepertinya dia bermimpi! Aah.. sebaiknya aku bangunkan saja dia!" gumam Gibran, terlihat cemas. Lalu ia pun menghampiri istrinya yang terlihat masih dalam keadaan tertidur.
"Sayang.. Sayang.. bangun Sayang," panggil Gibran, seraya ia menepuk-nepuk pipi Alisha dengan pelan, "By Sayang.. bangunlah, kamu kenapa Sayang?" panggil Gibran lagi. Dan tak berapa lama akhirnya Alisha pun membuka matanya.
"Mas Yuda! Hiks..hiks..hiks.." sentaknya, dan dengan spontan ia pun langsung duduk dan langsung memeluk suaminya begitu eratnya.
"Kamu kenapa Sayang? Sebenarnya kamu mimpi apa Sayang? Kenapa kamu menangis sampai seperti ini sih?" tanya Gibran penasaran. Sembari ia mengusap-ngusap kepalanya Alisha, dan sesekali juga memberikan kecupan pada puncak kepala istrinya tersebut.
__ADS_1
"Bapak Mas, hiks..hiks,..Lisha lihat bapak pergi! Hiks.. hiks..kata Bapak mau nyusul Bunda Mas.. hiks.. hiks..huhuhu..hiks.." jawab Alisha, yang akhirnya tangisnya pun pecah.
"Sssth.. cup..cup..Sayang. Mudah-mudahan itu hanya bunga tidur saja Sayang, dan mudah-mudahan bapak kamu baik-baik saja disana, ya?" ujar Gibran dengan lembut, sembari ia menghapus air mata istrinya yang terlihat mengalir begitu derasnya.
"Aamiin.. tapi Lisha ingin ketemu bapak sekarang Mas, hiks..hiks..boleh ya Mas? Lisha bisa kok naik kereta api sendiri aja, pulang kampungnya. Jadi Mas tidak usah antar Lisha, kan Mas harus bekerjakan? Jadi boleh ya Mas, Lisha Pergi sendiri?" pinta Alisha seraya ia menatap wajah Gibran, dengan tatapan penuh pengharapan.
"Tidak boleh! Kalau ada apa-apa dijalan bagaimana hm? Pokoknya Mas yang akan mengantar kamu! Lagiankan Mas, juga sekalian ingin bertemu sama Bapak kamu. Makanya Mas yang akan mengantar kamu, Oke?" balas Gibran, sedikit ada penekanan disetiap kata-kata diawalnya, menandakan ia tidak suka dibantah.
"Baiklah, tapi bisakah sekarang perginya Mas? Soalnya perasaan Lisha sedikit tidak enak Mas," ujar Alisha, yang memang terlihat sekali ada kegelisahan dari raut wajahnya.
"Baiklah, kalau begitu kamu bersiaplah dulu! Biar Mas telpon Ray, biar dia yang akan menyetirkan kita," balas Gibran, seraya ia melepaskan pelukannya, lalu ia pun bangkit dari duduknya.
"Baiklah Mas," kata Alisha, sambil ia juga ikut bangkit dari tempat tidurnya, karena ia bermaksud ingin bersiap-siap. Sementara Gibran langsung keluar dari kamar sambil mengambil benda pipihnya didalam sakunya. Setelah itu ia langsung menghubungi seseorang.
"Halo Pak?" ucap seseorang dari seberang, saat panggilan telah terhubung.
"Perjalanan jauh? Emangnya kita mau kemana Pak?" tanya Ray terdengar penasaran.
"Ke kampung Istriku! Sudah jangan banyak tanya! Cepat saja Lo kesini! Paham!" tegas Gibran, lalu tanpa menunggu jawaban dari Ray, ia pun langsung memutuskan sambungannya.
"Aah.. sebaiknya aku juga bersiaplah, sebelum Ray sampai," gumam Gibran, lalu ia pun kembali masuk ke kamarnya. Sesampainya di kamar, ia melihat istrinya tampak sudah rapi.
"Eh, kamu sudah rapih Sayang?" tanya Gibran seraya ia mendekati Alisha.
"Sudah Mas! Oh iya Mas, kita nginap nggak disana? Atau kita langsung pulang saja ya? Gimana menurut Mas? Lisha mah ngikutin kemau Mas aja sih," tanya Alisha terdengar berhati-hati sekali.
"Yaa kamukan udah lama nggak ketemu Bapak Sayang. Jadi menurut Mas, kita nginap aja di sana barang sehari atau dua hari gitu Sayang," balas Gibran terdengar lembut.
__ADS_1
"Ooh Baiklah, humm.. tapi Mas, jangan kaget ya, kalau nanti ketemu sama.." ujar Alisha, bermaksud ingin mengingatkan suaminya. Namun perkataannya langsung disela oleh Gibran.
"Sama ibu tiri kamukan?" sambung Gibran, membuat Alisha langsung tersentak kaget.
"Eh! Mas kok bisa tahu sih?" tanya Alisha, seraya ia mengerutkan keningnya, tanda ia heran mendengar perkataan suaminya.
"Eh, Ya..ya tahu saja Sayang!" balas Gibran terdengar gugup. Dan untungnya handphone Lang berbunyi, sebelum Alisha melontarkan pertanyaan lagi.
"Eh, tunggu ya Sayang, Mas angkat telepon dulu, oke," lanjut Gibran, sedikit bernafas lega.
"Oke Mas!" Setelah mendengar jawaban dari istrinya, Gibran pun langsung bergegas keluar dari kamarnya.
"Aneh deh! Kok mas Yuda bisa tahu ya? Kalau aku punya ibu tiri! Padahal aku nggak pernah cerita deh sama Mas Yuda, kalau aku punya ibu tiri," gumam Alisha, merasa heran. Disaat ia masih sedang berpikir, Gibran sudah kembali masuk ke dalam kamar mereka.
"Sayang, kamu sudah siap? Kalau sudah ayo kita pergi ke kampung kamu sekarang, Sayang'' ujar Gibran, seraya ia mengambil tas pakaian, yang sudah di persiapkan oleh Alisha.
"Baiklah Mas, Ayo!
...•••••••••••✰⁞ᮬ᭄ ཻུ۪۪۪۫ ֯͜ 💜✰⁞ᮬ᭄ ཻུ۪۪۪۫ ֯͜ ••••••••••••...
Terus dukung author terus ya guys dan jangan lupa tinggalkan jejaknya juga oke.
OH iya, selagi menunggu Ramanda update, yuk mampir ke karyanya Author ♥️Thatya0316♥️ Karyanya sangat di rekomendasikan banget loh. Makanya cus buruan, kepoin ya. Dan jangan lupa juga berikan dukungannya juga ya guys 🙏😉
Syukron 🙏🥰.
__ADS_1