
*•••••••✰⁞ᮬ᭄ ཻུ۪۪۪۫ ֯͜ 💜 Mutiara Hikmah 💜✰⁞ᮬ᭄ ཻུ۪۪۪۫ ֯͜ •••••••*
BERPEGANG TEGUHLAH PADA JANJI ALLAH.
Bahwa orang yang sabar akan mendapat ganjaran pahala yang sangat banyak.
Sebanyak apapun ujian yang datang, ingatlah Allah senantiasa bersama kita. Dan ingatlah apapun yang terjadi di dalam kehidupan kita ini juga adalah takdir dari Allah.
Takdir hidup kita telah tertulis, jadi senantiasa ridha akan ketentuan dari Allah. Ingatlah, Allah menyukai orang yang senantiasa sabar, tabah, dan bersyukur menjalani takdir hidupnya.
Yakinlah, Allah bersama orang-orang yang sabar, kesabaran itu sangat-sangat dituntut oleh Allah. Sabar itu adalah sifat ahli-ahli surga.
__sᴛᴏʀɪᴇs ᴏғ ᴛʜᴇ ᴅᴀʏ__
*•••••••••••••••••✰⁞ᮬ᭄ ཻུ۪۪۪۫ ֯͜ 💜✰⁞ᮬ᭄ ཻུ۪۪۪۫ ֯͜ ••••••••••••••••••*
Sesuai yang dikatakan oleh Gibran, setelah Ray sampai di apartemennya Gibran. Mereka pun langsung berangkat menuju ke kampungnya Alisha, dengan mengenderai mobil Van Mercedes-Benz V-Class. Gibran sengaja menyuruh Ray, membawa mobil tersebut, agar ia dan istrinya bisa nyaman didalamnya.
Karena memang mobil Van Mercedes-Benz V-Class, tersebut selain sedikit lebih luas, kursi-kursinya juga bisa disetel sesuai keinginan mereka. Seperti saat ini Gibran sengaja menyetel kursi sedikit setengah tidur, agar istrinya bisa tidur saat dalam perjalanan.
"Nah, sekarang kamu bisa tidur Sayang. Kamu pasti masih lelahkan? Setelah melakukan perjalanan dari pulau? Makanya Mas sengaja meminta Ray, membawa mobil ini, biar kamu bisa istirahat. Jadi saat kita sampai dikampungnya Kamu, tubuh kamu sudah fit kembali, Sayang. Jadi sekarang tidurlah," ujar Gibran, setelah ia menyetel kursinya Alsha.
"Baiklah Mas, Lisha memang masih mengantuk banget. Jadi nggak papakan kalau Lisha tidur?" tanya Alisha, seraya ia mulai menyandarkan kepalanya dibantaian kursinya.
__ADS_1
"Tidak apa-apa Sayang. Tidurlah, nanti kalau sudah sampai, Mas akan membangunkan kamu," balas Gibran dengan lembut, seraya ia mengecup lembut dahinya Alisha.
"Humm.. terima kasih Mas," balas Alisha, seraya ia mulai memejamkan matanya. Dan karena memang ia sudah sangat mengantuk sekali, jadi tak heran kalau kini nafasnya sudah mulai teratur, menandakan ia sudah terhanyut didalam mimpinya.
"Eh? Cepat banget sih tidurnya? Apa dia memang sangat kelelahan ya?" gumam Gibran, sambil menatap wajah istrinya yang sedang tertidur, "Humm.. iya sih, dia pasti lelah, karena sebelum kami berangkat dari pulau, aku selalu mengerjainya. Jadi wajarlah dia kelelahan seperti ini," sambungnya, lagi sambil tersenyum smirk. Tampak ia seperti sedang membayangkan sesuatu yang nakal pada istrinya.
"Yaa, mau bagaimana lagi, habis kamu selalu menggemasin sih Sayang. Jadi tanpa kamu menggodaku pun hasratku bisa langsung bangkit, hanya karena melihat tingkah kamu saja," bisik Gibran, seraya ia menoel pucuk hidung mancungnya Alisha.
"Aah.. gawat!! Melihat kamu tertidur seperti ini saja, si entong udah bangun aja! Aah.. Lo tong nggak tau diri banget sih! Nggak kasian apa Lo sama bini gue! Lihat tuh, gara-gara Lo dia kecapean gitu! Jadi please deh, di tahan dulu keinginan Lo, paham!" kata Gibran, yang kali ini suaranya terdengar sedikit keras dengan mata mengarah ke bagian bawahnya.
Mendengar perkataan Gibran, Ray, yang sedang mengemudi mobilnya, sampai mendengar setiap ucapannya. Dan hal itu membuat ia langsung melirik ke kaca spion tengahnya. Karena ia berpikir bosnya itu sedang bicara padanya. Karena ia tadi sempat melirik ke Alisha yang tertidur sebelum Gibran mengoceh tadi.
"Maaf Pak! Apakah Anda sedang bicara dengan saya?" tanya Ray, penasaran. Gibran langsung tersadar ketika mendengar pertanyaan Ray.
"Aah.. baik Pak! Ini juga saya sedang Fokus" balas Ray, dan ia pun kembali fokus pada mengemudinya.
"Bagus! Sekarang saya mau tidur! Bangunkan saya kalau sudah sampai, kamu paham?" kata Gibran lagi, tanpa menunggu jawaban dari Ray. Gibran langsung memencet tombol penutup tirai tengahnya agar Ray, tidak dapat melihat kebelakang lagi.
"Paham Pak!" balas Ray, seraya ia bermaksud melirik ke kaca spion. Namun ternyata tirai sudah tertutup dengan sempurna.
"Haiiis.. ternyata menyeramkan ya? Kalau sudah terkenak penyakit bucin. Lihat aja tuh, orang yang dulu selalu dingin dan tak memiliki perasaan pada wanita saja, sekarang jadi kayak gitu! Iiikh.. gue kok jadi serem ya? Mudah-mudahan gue jangan sampai kayak gitu banget deh, Atut!" gumam Ray, dengan mata masih terfokus pada jalanan yang hendak ia lewati.
"Berisik banget Lo Ray! Mau gue potong bonus Lo bulan ini hah?" Ray langsung tersentak mendengar perkataan Gibran dibalik tirai tersebut.
__ADS_1
"Eh, tidak-tidak Pak! Saya akan fokus kok!" balas Ray, dan akhirnya ia kembali fokus dan tak berani lagi, mengeluarkan suaranya lagi.
Kini suasana mobil pun menjadi hening. Karena kedua majikannya sedang tertidur. Membuat Ray, berkesempatan untuk mempercepat laju mobilnya. Ditambah lagi jalan raya menuju pedesaan tidak terlalu ramai, memudahkan Ray, untuk semakin mempercepat laju mobilnya. Sehingga, tanpa terasa, mobilnya sudah mulai memasuki area kampungnya Alisha.
...*****...
Sementara itu di sisi lainnya.
Tampak seorang pria dengan wajah yang terlihat pucat, sedang duduk di sebuah kursi yang berada di teras rumah yang terlihat sederhana. Ia tampaknya sedang sakit, karena dipelipisnya terlihat ada potongan dua koyok yang sedang menempel di sana. Dan tak berapa lama keluarlah seorang wanita dari dalam rumah sederhana tersebut.
"Huh! Dasar pemalas! Saban hari kerjaannya duduk di sini saja!" umpat wanita tersebut dengan wajah yang terlihat amat sadis.
"He! Mas Marwan! Mau sampai kapan sih? Kamu duduk nungguin anak pembawa sialmu itu, hah? Kamu pikir dia bakalan pulang gitu, iya?! He dengar yaa Mas! Sampai kamu mati pun anak sial itu tidak akan pernah pulang tau! Jadi sekarang sebaiknya kamu cepat mati deh! Jangan menyusahkan aku dan anakku!" bentak wanita itu. Seraya ia menarik tangan, pria yang bernama Marwan itu, yang tak lain dia adalah Ayahnya Alisha.
Karena Marwan, memang sedang sakit. Sehingga ketika ia ditarik oleh istrinya, langsung tersungkur, "Santi! Semakin hari kelakuan kamu semakin gila ya?" protes Marwan, yang kini masih terlihat bersimpuh di lantai.
"Kenapa emangnya hah?! Kamu mau memukul aku hah? Nah pukul aja! Yang ada kamu yang aku memati..." balas Santi, seraya ia hendak, memukul Marwan. Namun tangannya langsung ditahan oleh seseorang.
"Hentikan!!" seru seorang pria.
...•••••••••••✰⁞ᮬ᭄ ཻུ۪۪۪۫ ֯͜ 💜✰⁞ᮬ᭄ ཻུ۪۪۪۫ ֯͜ ••••••••••••...
Terus dukung author terus ya guys dan jangan lupa tinggalkan jejaknya juga oke.
__ADS_1