JAMUR. Janda Muda Dibawah Umur

JAMUR. Janda Muda Dibawah Umur
ADA APA DENGAN TUAN JANGKUNG?


__ADS_3

*•••••••✰⁞ᮬ᭄ ཻུ۪۪۪۫ ֯͜ 💜 Mutiara Hikmah 💜✰⁞ᮬ᭄ ཻུ۪۪۪۫ ֯͜ •••••••*


SADARLAH SEBELUM TERLAMBAT...


Ketahuilah wahai saudaraku, sesungguhnya dosa menyebabkan kelalaian. Dan kelalaian menyebabkan kekerasan hati. Kekerasan hati menyebabkan jauh dari Allah ﷻ. Dan jauh dari Allah ﷻ membawa ke neraka!


Hanya orang hidup saja yang memikirkan perkara ini. Adapun orang mati, mereka telah membunuh diri mereka sendiri dengan cinta dunia


Hidup ini terlalu singkat. Namun ramai yang masih.Terbuai oleh tipu daya dunia


Sehingga mereka kehilangan..


▪️ waktu ▪️ usia▪️ kesempatan. Tanpa di sadarinya.


So, Jangan biarkan itu terjadi. Jangan sampai Nyawa sudah dikerongkongan. Barulah kita INGAT ALLAH ﷻ.


Syaitan tak pernah putus asa menyesatkan kita. Maka kita jangan sampai berputus asa, untuk bertaubat kepada Allah ﷻ.


__sᴛᴏʀɪᴇs ᴏғ ᴛʜᴇ ᴅᴀʏ__


*•••••••••••••••••✰⁞ᮬ᭄ ཻུ۪۪۪۫ ֯͜ 💜✰⁞ᮬ᭄ ཻུ۪۪۪۫ ֯͜ ••••••••••••••••••*


Melihat kepergian Alisha dengan wajah marahnya. Membuat Gibran jadi penasaran semakin penasaran padanya. Dan ia akhirnya memutuskan untuk menyusul Alisha. Walaupun langkah kakinya terlihat terseok-seok. Namun ia tetap berjalan menelusuri jalan yang tadi dilewati Alisha Dan disaat ia mulai memasuki area Danau. Tiba-tiba ia mendengar suara Isakan orang yang sepertinya sedang menangis.


"Hiks..hiks..hiks..hiks...hiks.."

__ADS_1


Mendengar Isakan itu Gibran pun langsung mencari sumber suara tersebut. Hingga akhirnya ia melihat seorang wanita yang terlihat sedang duduk di pinggiran jembatan yang berada di danau dengan kaki yang ia juntaikan kedalam air. Dan disaat ia melihat wajah wanita tersebut, Gibran sedikit tersentak.


"Si pendek?! Kenapa dia menangis?" gumam Gibran. Lalu ia pun bermaksud mendekati Alisha. Namun disaat ia sudah hampir mendekatinya. Tiba-tiba ia langsung menghentikan langkahnya, tatkala ia mendengar keluhannya Alisha yang dibarengin dengan Isak tangisnya.


"Hiks..hikk.. maaf Bunda kalau Lisha menangis lagi.. hiks..hiks.. padahal Lisha sudah berjanji tidak akan bersedih lagi. hiks..hiks" ucap Alisha dengan lirih. Namun masih terdengar oleh telinganya Gibran.


"Hiks..Lisha hanya heran saja Bunda... hiks.. hiks.. kenapa sih..hiks.. Lisha selalu bernasib buruk? Hiks... sebenarnya apa salah Lisha bunda? Hiks.. kenapa sedari kecil Lisha selalu dapat cemoohan orang..hiks.. kenapa Lisha, selalu didzolimi orang...hiks.. kenapa Lisha selalu direndahkan orang.. hiks.. hiks.. bahkan kini Suami Lisha yang sekarang pun juga seperti itu.. Bunda..hiks..hiks.. apakah Lisha emang tidak pantas untuk bahagia hiks.."


DEGH!!


Jantung Gibran seketika berdetak kencang, saat mendengar kata-kata Alisha. Apalagi ketika Alisha menyebut kata suaminya yang sekarang. Berarti, kata-kata itu jelas mengarah kepada dirinya,


"Aakh..? Apakah dia benar-benar semenderita itu? Aakh Dia juga nampaknya begitu kecewa padaku? Apakah kata-kataku tadi benar-benar sudah menyakiti dirinya?" batin Gibran. Yang tiba-tiba saja ia jadi merasa bersalah, "Aaah...Apa sebaiknya aku minta maaf saja ya? Dan coba berdamai dengannya?" batin Gibran lagi.


"Aah.. sudahlah! Aku biarkan saja dulu dia sendiri disana. Mungkin setelah ia menuangkan isi hatinya, dia akan menjadi lebih baik lagi" batin Gibran lagi. Sambil ia melangkah mundur dan kemudian ia pun membalikkan tubuhnya bermaksud ingin melanjutkan langkahnya. Namun seketika ia malah tercengang saat melihat jalannya yang ternyata sedikit menanjak.


"Aah.. gimana ini? Kakiku kan masih sakit, kalau jalan menanjak begini takutnya akan semakin parah," gumamnya lagi. Tampak sekali dari raut wajahnya kalau saat ini ia sedang bingung.


"Aah.. sudahlah, aku coba pelan-pelan deh, semoga tidak sakit lagi." katanya lagi. Seraya ia melangkahkan kakinya dengan perlahan-lahan. Namun ketika tanjakan mulai sedikit curam, kaki kanannya terasa semakin sakit. Karena sudah pasti jalanan yang bertanjak memang membutuhkan kekuatan kaki untuk menahan tubuh. Dan bila jalan semakin menanjak akan semakin membutuhkan kekuatan yang ekstra.


"Aakh..!! Sakit! Ugh... rasanya Aku nggak kuat lagi! Sssst sakit banget!" keluh Gibran. Seraya ia menatap keatas, dengan posisinya yang sedang setengah merangkak.


"Ugh.. ternyata masih setengah saja aku naik? Aakh..! Tapi aku benar-benar sudah tidak sanggup lagi! Ugh.. Sebaiknya aku istirahat deh! Sampai rasa sakitnya mereda baru dilanjutkan lagi!" gumamnya lagi. Masih dengan posisi setengah merangkaknya. Gibran pun memutarkan tubuhnya dengan perlahan, lalu ia pun langsung menghempaskan bokongnya hingga akhirnya iapun duduk ditanah dengan menghadap ke arah danau.


Namun baru saja ia terduduk, tiba-tiba matanya langsung terbelalak kaget. Karena ternyata Alisha sudah berdiri dihadapannya sambil berkacak pinggang, "Kamu!!" sentaknya sambil menengadahkan wajahnya. Karena memang posisi Alisha saat ini sedang berdiri, sementara ia sedang duduk di tanah.

__ADS_1


"Sejak kapan kamu berdiri di belakangku hm?" tanyanya lagi dengan wajah penasarannya.


"Sejak Anda bergumam disana," balas Alisha dengan enteng, seraya ia menunjuk kebawah tempat Gibran berdiri saat hendak berjalan keatas.


Mendengar jawaban dari Alisha, seketika wajah Gibran langsung berubah menjadi kesal. Karena ia tak menyangka, Alisha begitu tega membiarkan dirinya yang sejak tadi berjalan begitu kesulitan. Padahal ternyata sejak tadi ia berada di belakangnya.


"Oooh.. jadi kamu sejak tadi dibelakangku ? Huh!Tapi tega ya..? Membiarkan aku begitu saja! Padahal kamu tahu kalau kaki sedang sakit!" protes Gibran, terlihat amat kesal.


Melihat wajah Gibran yang memerah, ditambah lagi saat ini wajahnya di penuhi oleh keringat jagung. Membuat Alisha sebenarnya merasa kasian. Namun tatkala ia teringat pada kelakuannya, membuat ia langsung memasang wajah cueknya.


"Hum... itukan salah Anda sendiri! Tadikan saya sudah menyuruh Anda kembalikan? Tapi kenapa masih mengikuti saya, coba?" balas Alisha dengan santainya, seraya ia melipatkan kedua tangannya di bawah dadanya.


"Itukan karena saya Khawa..!" balas Gibran. Namun ketika ia melihat wajah Alisha, yang menurutnya sedikit tengil, ia pun langsung menghentikan kata-katanya, "Aah.. sudahlah lupakan saja! Dan kamu juga boleh pergi duluan!" kata Gibran lagi, seraya ia mengalihkan pandangannya kini kearah danau yang tak berapa jauh dari hadapannya.


Mendengar perkataan Gibran, dengan suara yang lebih lunak, Alisha sedikit terkejut. Apalagi ketika mendengar Gibran menyuruhnya pergi duluan membuat ia juga sedikit heran, "Yakin nih? Tidak perlu bantuan saya?" tanya Alisha, seraya ia mendekati wajahnya ke hadapannya Gibran yang sedang menatap Danau. Langsung terhalang oleh wajahnya. Dan otomatis Gibran jadi menatap wajah istrinya.


"Iya! Kamu boleh pergi sekarang!" balas Gibran, yang terlihat ia kembali membuang pandangannya lagi, yang kini ia memandang pemandangan yang ada disampingnya. Namun lagi-lagi Alisha menghalau pandangannya lagi dengan wajahnya, seraya berkata..


"Benaran nih? Saya boleh pergi?" tanyanya, sengaja mendekati wajahnya.


"Iyaa, Pergilah!" balas Gibran, sambil ia kembali menatap ke danau.


"Oke deh! Kalau begitu saya pergi!" kata Alisha. Seraya ia mulai melangkahkan kakinya melewati Gibran yang terlihat masih duduk di tanah. Ia sempat melirik ke arah suaminya, yang ternyata masih menatap ke arah Danau. Alisha terus menulusuri jalanan yang mendaki itu. Namun tak sekali pun Gibran menoleh ke arahnya. Hingga akhirnya ia sampai di jalanan mendatar ia kembali melihat suaminya yang terlihat duduk dan masih menatap Danau.


"Ada apa dengan Tuan Jangkung? Kenapa sikapnya berubah begitu?"

__ADS_1


...••••••••••✰⁞ᮬ᭄ ཻུ۪۪۪۫ ֯͜ 💜✰⁞ᮬ᭄ ཻུ۪۪۪۫ ֯͜ •••••••••...


Terus dukung author ya guys dan jangan lupa berikan 👉 ⭐ ⭐⭐⭐⭐ + 👍 serta komentarnya oke 😉 Syukron 🙏🥰


__ADS_2