JAMUR. Janda Muda Dibawah Umur

JAMUR. Janda Muda Dibawah Umur
SUAMI IDAMAN.


__ADS_3

*•••••••✰⁞ᮬ᭄ ཻུ۪۪۪۫ ֯͜ 💜 Mutiara Hikmah 💜✰⁞ᮬ᭄ ཻུ۪۪۪۫ ֯͜ •••••••*


TIDAK MUDAH... TAPI AKAN TERASA INDAH...


Tidak MUDAH tersenyum ketika hati menangis dan teriris. Tapi akan terasa INDAH ketika kita menyadari itu bagian dari kasih Ilahi


Agar Allah memindahkan kebaikan-kebaikan orang yang menyakiti kita


Tidak MUDAH bangkit dalam keadaan terpuruk


Tapi akan terasa INDAH ketika kita menyadari


Bahwa Allah sedang menyapa dengan cinta-Nya Agar kita tumbuh besar dan kuat


Tidak MUDAH memaafkan ketika kita dibenci dan di hina. Tapi akan terasa INDAH kalau itu bagian dari penyucian diri. Dan ikhlas hanya mengharap ridha Illahi


Tidak MUDAH menghadapi penderitaan dan cobaan yang terus mendera.Tapi akan terasa INDAH ketika menumbuhkan kesabaran dan rasa syukur. Dan menyadari itu bagian dari cara Allah menyayangi hambanya.


__sᴛᴏʀɪᴇs ᴏғ ᴛʜᴇ ᴅᴀʏ__


*•••••••••••••••••✰⁞ᮬ᭄ ཻུ۪۪۪۫ ֯͜ 💜✰⁞ᮬ᭄ ཻུ۪۪۪۫ ֯͜ ••••••••••••••••••*


Dimalam harinya setelah ikut sholat isya berjamaah bersama Ayah dan Suaminya. Alisha pun langsung bergegas kedapur, karena ia ingin menyiapkan makan malam untuk suami dan Ayahnya. Yaa walaupun Gibran telah mempekerjakan beberapa orang pembantu untuk dirumah mereka. Namun soal perkara dapur masih tetap Alisha, yang memegangnya sendiri. Karena ia ingin, Suami dan Ayahnya hanya, memakan, makanan yang ia masak sendiri.


Setelah masakkannya telah matang, Alisha pun meminta bantuan dari kedua pembantu yang terlihat satunya masih muda dan satunya lagi terlihat sudah paruh baya itu, untuk menyajikan masakannya di meja makan. Karena setiap ia telah menyelesaikan masakannya ia akan kembali untuk memanggil ayah dan Suaminya.


"Mbok Sri?" panggil pembantu alisha yang terlihat masih sangat Muda.


"Humm.. ada apa Any?" balas wanita yang lebih tua yang bernama Sri tersebut.

__ADS_1


"Mbok ngerasa nggak sih? Kok kayaknya Nyonya Lisha seperti tidak percaya gitu ya sama kita? Lihat saja, sudah hampir dua minggu kita bekerja di sini, kita sekali pun tak pernah di biarkan masakkan? Nyonya selalu aja masak sendiri," ujar Ani, seraya ia menyusun masakan yang dimasak Alisha tadi dimeja makan.


"Yaa bagus dong Ny! Itu namanya Nyonya adalah seorang istri yang shalihah, beliau tetap ingat pada tugasnya. Jarang loh orang kaya yang seperti itu, kebanyakan dari mereka pasti akan menyerahkan soal makanan suaminya pada pembantu mereka. Dan akhirnya kasih sayang suaminya jadi berkurang, iyakan?" balas Sri, yang terlihat ia pun sama seperti Ani, ikut menyusunkan piring-piring yang akan dipergunakan untuk para majikannya.


"Eh, apa hubungannya masakan dengan kasih sayang suami Mbok?" tanya Ani, terlihat penasaran. Sampai-sampai ia menghentikan pekerjaannya.


"Yaa adalah hubungannya Ni. Karena seorang Suami bila sudah cocok dengan masakan istrinya, Dia pasti tidak akan pernah mau lagi memakan, makanan diluar. Karena baginya masakan istrinya adalah yang terbaik. Sehingga dia akan semakin sayang pada istrinya," balas Sri.


"Ooh.. pantasan ya Mbok, Tuan Gibran kayanya nggak mau jauh-jauh dari Nyonya. Bahkan mereka selalu tampak mesra, bikin iri deh kalau melihat mereka," kata Ani lagi, dengan raut wajah yang seketika berubah.


"Makanya Ni, kalau kamu nanti punya suami, kamu harus rajin menservis suami kamu biar disayang sama suami kamu," kata Sri lagi, yang tampaknya ia telah menyelesaikan tugasnya.


"Iya Mbok, mudah-mudahan Ani cepat dapat jodoh ya Mbok. Kalau bisa kaya Tuan Gibran, udah ganteng, kaya sayang istri lagi," balas Ani, yang kini wajahnya seperti sedang membayangkan sesuatu.


"Aamiin, ya sudah sana kamu bilang sama Nyonya, kalau makanannya sudah siap!" kata Sri.


"Oke Mbok!" balas Ani, dan ia pun langsung bergegas menuju ke ruang keluarga, yang terlihat disana. Marwan sedang terlihat tertawa lucu, karena ia sedang menyaksikan Anak mantuannya, yang sedang dapat jeweran dari istrinya. Sedangkan Gibran, terlihat menjerit-jerit minta tolong pada Ayah mertuanya.


"Rasain! Siapa suruh dari tadi godain Icha mulu! Sekarang rasain jeweran Icha!" balas Alisha, terlihat sedang kesal.


"Sudah-sudahlah Nak! Suami kamu tadikan cuma bercanda! Lepasin dong jeweran kamu, Kasian dia Nak," bela Marwan, membuat Gibran yang mendapatkan pembelaan dari ayah mertuanya langsung terlihat senang. Karena seketika itu juga Alisha langsung melepaskan tangannya yang sedang menjewer telinganya Gibran.


"Huh! Bapak belain Mulu Mas Yuda! Anak bapak itu siapa sih! Mas Yuda apa Icha sih?!" protes Alisha, sambil memasang wajah cemberutnya pada sang Ayah.


"Yeee.. jeles nih yee.. karena Bapak sekarang lebih sayang sama Mas! Iyakan?" goda Gibran, seraya ia menarik turunkan alisnya pada Alisha.


"Aku akh! Mendingan Icha ke kamar saja!" kata Alisha terdengar ketus. Lalu ia bangkit dari duduknya, dan kemudian ia langsung pergi begitu saja membuat Gibran langsung terperangah.


"Haah! Aduuuh! Kayaknya Icha merajuk Pak! Gimana ini?" keluh Gibran, dengan wajah yang terlihat tampak bingung. Membuat Marwan langsung tertawa lucu.

__ADS_1


"Hahahaha.. itu derita kamu Nak!" kata Marwan, membuat Gibran langsung menepuk dahinya.


"Alamaak! Bakalan dikasih punggung dong nanti malam!" keluhnya, membuat Marwan semakin tertawa terbahak-bahak. Dan saat bersamaan.


"Permisi Tuan! Makan malamnya sudah siap!" ujar Ani, yang tampak baru muncul. Padahal sebenarnya sejak tadi ia sudah disuruh memanggil majikannya itu. Namun ia malah ikut menyaksikan candaan dari para majikannya.


"Ooh baiklah! Saya panggil istri saya dulu kalau begitu. Bapak duluan saja ya, Yuda mau panggil Icha!" ujar Gibran, seraya ia bangkit dari duduknya.


"Iya Nak," Gibran pun langsung bergegas menuju ke lantai dua, dimana kamarnya berada di sana. Dan tak berapa lama Gibran pergi Marwan pun ikut bangkit dari duduknya.


"Kok tumben lama Ni? Perasaan sudah sejak tadikan Lisha selesai masaknya?" tanya Marwan, seraya ia berjalan menuju ke ruang makan. Mendengar pertanyaan Marwan, Ani langsung tersentak.


"Eh! Maaf Pak! Tadi, saya-saya anu..saya.." balas Ani, yang tampaknya ia langsung gugup karena bingung harus berkata apa.


"Aaah.. sudahlah! Lain kali jangan membiasakan diri untuk menonton orang yang sedang kasmaran! Bisa-bisa kamu nanti kepingin cepat kawin lagi!" kata Marwan, yang saat ini ia sudah berada di kursi meja makan. Dan lagi-lagi Ani kembali tersentak, saat mendengar perkataan Marwan, yang ternyata ia selama ini tahu, kalau Ani sering memperhatikan Alisha dan Gibran.


"Eh! Maaf Tuan! saya-saya..saya tidak bermaksud untuk..." dalih Ani. Namun langsung disela oleh Marwan.


"Sudahlah Ani! Kali ini aku mentoleransi kamu! Tapi kalau sampai aku melihat kamu seperti itu lagi! Atau berniat jahat pada Putriku! Maka lihatlah apa yang akan Aku perbuat nanti!" kata Marwan, yang kali ini matanya langsung menatap tajam pada Ani. Membuat wajah Ani seketika memucat.


"Aah.. iya pak! Saya tidak akan melakukan itu lagi!'' balas Ani dengan suara yang mulai bergetar. Setelah itu ia pun langsung bergegas meninggalkan ruangan makan dan langsung menuju ke dapur.


"Hah! Kenapa Pak Marwan bisa tahu ya? Padahal pada saat aku melihat Nyonya dan Tuan, kayaknya nggak ada siapa-siapa deh, kenapa dia bisa tahu ya?" Batin Ani saat ia sudah berada didapurnya, "Padahal aku hanya ingin melihat wajah tuan Aja, habisnya dia Suami idaman banget sih!" batin Ani lagi seraya ia tersenyum sendiri.


•••••••••••••✰⁞ᮬ᭄ ཻུ۪۪۪۫ ֯͜ 💜✰⁞ᮬ᭄ ཻུ۪۪۪۫ ֯͜ •••••••••••••


Terus dukung author terus ya guys dan jangan lupa tinggalkan jejaknya juga oke.


OH iya, Sambil menunggu Ramanda update, kembali, yuk mampir ke karyanya teman Ramanda 💓 Ledy Mermad💓 Karyanya bagus deh. Makanya cus buruan, kepoin ya. Dan jangan lupa juga berikan dukungannya juga ya guys 🙏😉

__ADS_1



SYUKRON 🥰🙏


__ADS_2