JAMUR. Janda Muda Dibawah Umur

JAMUR. Janda Muda Dibawah Umur
MAAFKAN AKU LISHA.


__ADS_3

*•••••••✰⁞ᮬ᭄ ཻུ۪۪۪۫ ֯͜ 💜 Mutiara Hikmah 💜✰⁞ᮬ᭄ ཻུ۪۪۪۫ ֯͜ •••••••*


Begitu tak berharganya harta dan kemewahan dunia sampai Allah juga berikan kepada orang yang tidak mau menyembah-Nya.


Namun tidak demikian dengan hidayah islam, hanya diberikan kepada orang yang ia cintai.


Jangan letakkan dunia di hati. Nanti ketika orang lain 'lebih' akan timbul rasa iri hati, sakit hati, makan hati. Tapi simpanlah di hati itu akan akhirat. Hati akan sehat, sebab Allah bagi rahmat. Hidup pun berkat, Inshaa Allah selamat dunia akhirat.


Para sahabat Rasullullah ﷺ juga ada yang mengambil dunia, tetapi mereka tidak meletakkannya di dalam hati. Mereka meletakkannya di tangan karena mereka sadar bahwa manusia bukannya warganegara dunia tetapi warganegara akhirat.


__sᴛᴏʀɪᴇs ᴏғ ᴛʜᴇ ᴅᴀʏ__


*•••••••••••••••••✰⁞ᮬ᭄ ཻུ۪۪۪۫ ֯͜ 💜✰⁞ᮬ᭄ ཻུ۪۪۪۫ ֯͜ ••••••••••••••••••*


"Apa yang kamu lakukan? Apa kamu ingin memperkosa aku?!"


Mendengar perkataan itu, Alisha langsung tersentak. Dan seketika ia pun langsung mundur dan sedikit menjauh dari sisi ranjang Gibran. Bahkan ia juga membalikkan tubuhnya seraya berkata..


"Iikh.. apaan sih! Fiktor banget deh Anda! Saya itu hanya ingin menggantikan celana Anda yang kotor itu tau!" jelas Alisha, terdengar ketus. Ia amat kesal sekali mendengar perkataan suaminya.


Mendengar penjelasan dari istrinya, Gibran sempat tersenyum tipis. Karena ia sempat melihat wajah istrinya yang seketika memerah. Melihat hal itu, timbullah rasa ingin menggodanya lagi.


"Ooh.. ya sudah kalau begitu lanjutkanlah! Kalau kamu mau memperkosa, juga Aku rela kok. Ayo lanjutkan lagi!" kata Gibran, yang tampaknya trombositnya suah kembali, meningkat sehingga ia sudah merasa memiliki tenaga untuk menggoda istrinya.


"Iiis.. ngomong apa sih Anda! Ooh.. apa artinya Anda sudah sehat ya! Kalau begitu ganti saja sendiri celana Anda!" kata Alisha, yang terlihat ia seperti hendak pergi.


"Tidak Alisha! Aku benar-benar tak mampu membukanya sendiri! Jadi please bantu saya," balas Gibran yang kini suaranya kembali terdengar lemah. Membuat Alisha akhirnya tak tega juga untuk meninggalkan suaminya itu.


"Huh! Tumben banget manggil nama saya dengan benar! Biasanya seenak udelnya aja manggil! Ya sudah saya bantu! Awas saja, kalau Anda bicara sembarangan lagi! Maka saya tidak akan mau membantu Anda lagi!" ujar Alisha.

__ADS_1


"Iya iya! Saya hanya diam saja deh dengan pasrah," balas Gibran. Dan akhirnya Alisha pun melanjutkan acara menarik celana Gibran lagi. Dan dengan mata yang terlihat masih ia pejamkan dan sesekali ia tetap mengintip untuk melihat apakah sudah sampai kebawah.


"Kenapa pakai acara ditutup segala sih? Padahal kalau kamu mau lihat juga nggak papa kok! Lagian bukankah sudah halal ya?" kata Gibran. Membuat mata Alisha langsung menatap wajahnya, "Ada apa kok, menatap aku seperti itu?" tanya Gibran lagi terlihat penasaran.


"Anda paham hal seperti itu?" tanya Alisha, yang wajahnya juga terlihat penasaran.


"Ya pahamlah! Apa kamu berpikir saya tidak memahaminya?" balas Gibran seraya ia bermaksud ingin bangkit. Namun ternyata ia masih belum memiliki kekuatan yang penuh.


"Sssth..!" desisnya menahan rasa sakitnya. Melihat hal itu, Alisha tak ingin melanjutkan pertanyaannya. Padahal begitu banyak ia ingin ia pertanyakan pada Gibran.


"Sebaiknya Anda berbaring saja. Biar saya yang melakukannya!" kata Alisha. Seraya ia mengelap bagian paha dan kakinya Gibran dengan kain basah. Setelah itu ia juga langsung memakaikan celana pendek yang bersih pada Gibran.


Yaa Setelah ia mendengar kata halal dari suaminya. Alisha tidak menutup matanya lagi, sehingga ia dapat melihat CD suaminya dengan jelas. Sehingga ia dapat menyelesaikan pekerjaannya dengan cepat. Dan kemudian ia pun langsung memberikan obat pada kakinya Gibran, sambil meniupnya agar suaminya tidak akan merasakan perihnya.


Melihat ketulusan Alisha, tiba-tiba hati Gibran seakan tersentuh. Sehingga timbullah rasa bersalah karena selama ini ia selalu mencurigainya. Bahkan ia juga sempat menuduh Alisha ikut terlibat dengan yang di encanakan Neneknya. Padahal ia tahu, kalau Alisha justru telah dijadikan korban permasalahan antara dirinya dan juga Neneknya.


"Eh! Anda ngomong apa tadi Tuan?" tanya Alisha, yang sepertinya ia masih belum percaya dengan apa yang telah ia dengar.


"Jangan panggil aku Tuan lagi! Karena Aku bukan majikan mu!" kata Gibran, terdengar tegas.


"Aah, baiklah! Sekarang katakan apa yang tadi Mas Yuda katakan?" balas Alisha, mengulangi pertanyaannya.


"Tadi Aku bertanya, maukah kamu memaafkanku? Maafkan aku Lisha, Maaf karena selama ini aku telah menuduhmu yang tidak-tidak. Maafkan aku juga, yang selalu merepotkan kamu. Jadi maukah kamu memaafkan aku Lisha?" ucap Gibran, sambil menatap wajah Alisha dengan tatapan yang terlihat begitu tulus.


Mendengar permintaan maaf dari suaminya, hati Alisha terasa begitu ringan. Karena selama ini ia seperti menyimpan beban yang amat berat di hatinya sehingga saat mendengar itu, kini rasa berat itu seakan tiada lagi.


"Alhamdulillah, Lisha sudah memaafkan Emas kok. Jauh sebelum Mas memintanya pada Lisha," balas Alisha, seraya ia menyunggingkan senyuman lembutnya pada Gibran.


"Alhamdulillah.. terima kasih Lisha," ucap Gibran, terlihat begitu senang.

__ADS_1


"Iya Mas, sama-sama. Ya sudah Mas tunggu sebentar ya? Lisha mau memanaskan Bubur Mas dulu ya? Biar Mas bisa minum obat lagi," ujar Alisha, dan hanya dibalas anggukan kepala saja oleh Gibran. Setelah melihat balas dari Gibran, Alisha pun langsung bergegas pergi meninggalkan Gibran yang terlihat masih menatap pintu tempat Alisha menghilang tadi.


"Aah.. kenapa jantungku jadi berdetak kencang, saat melihat senyumannya ya? Sampai-sampai Aku tadi tidak bisa membalas perkataannya," gumam Gibran, seraya ia memegang dadanya tepat di bagian Jantungnya berada.


"Aah.. jangan-jangan aku juga memiliki riwayat sakit jantung lagi, seperti Nenek. Atau jangan-jangan sakit jantung bisa menular lagi? Aaah.. apaan sih yang aku pikirkan! Sudahlah nanti Aku priksakan saja kalau sudah kembali ke kota, biar jelas!" gumam Gibran lagi. Sambil ia menepuk-nepuk pelan pada dadanya. Dan saat bersamaan, Alisha pun masuk sambil membawa baki yang diatasnya terdapat sebuah mangkuk bubur berserta segelas air putih.


"Kenapa Mas? Kok dadanya dipukul-pukul gitu sih?" tanya Alisha heran. Seraya ia meletakkan baki yang ia bawa tadi ke atas nakas.


"Eh, nggak ada apa-apa kok," balas Gibran, yang terlihat ia langsung menghentikan aksinya.


"Hmm..ya sudah kalau begitu, sekarang Mas makan dulu ya?" balas Alisha dengan lembut. Serya ia mengambil mangkuk bubur yang ia bawa tadi, lalu ia pun duduk disisi ranjangnya Gibran.


Setelah itu, Alisha langsung menyendokan bubur didalam mangkuk yang sedang ia pegang. Karena buburnya masih lumayan panas, ia pun meniup sebentar, lalu ia juga mencicipi untuk mengukur kadar suhunya. Setelah ia yakin suhunya sudah pas. Alisha pun langsung menyuapi bubur tersebut ke mulutnya Gibran.


"Apakah masih panas Mas?" tanya Alisha, dengan lembut.


"Tidak kok! Malahan buburnya tambah enak karena tersentuh oleh bibir kamu," balas Gibran, seraya ia mengedipkan sebelah matanya. Membuat mata Alisha seketika membulat.


"Eh..! Iikh.. apaan sih Mas! Jangan genit deh!"


...•••••••••••✰⁞ᮬ᭄ ཻུ۪۪۪۫ ֯͜ 💜✰⁞ᮬ᭄ ཻུ۪۪۪۫ ֯͜ ••••••••••••...


Terus dukung author ya guys dan jangan lupa berikan 👉 ⭐ ⭐⭐⭐⭐ + 👍 serta komentarnya oke 😉 Syukron 🙏🥰


Oh iya, selagi menunggu Author update lagi. Yuk mampir ke karyanya Author ♥️ Santi Suki ♥️ Yang berjudul *CEO Narsis: Kau Ditakdirkan Untukku* Ceritanya keren loh, 😉 cus Akh kepoin dan jangan lupa juga tinggalkan jejaknya ya guys 🙏😘



Syukron 🙏🥰

__ADS_1


__ADS_2