JAMUR. Janda Muda Dibawah Umur

JAMUR. Janda Muda Dibawah Umur
TUGAS YANG TIDAK BISA DITUNDA.


__ADS_3

*•••••••✰⁞ᮬ᭄ ཻུ۪۪۪۫ ֯͜ 💜 Mutiara Hikmah 💜✰⁞ᮬ᭄ ཻུ۪۪۪۫ ֯͜ •••••••*


BANGKITLAH, MESKI BANYAK RINTANGAN.


Bila kita yakin bahwa tidak satu pun peristiwa itu hanya kebetulan, semua telah dirancang oleh Allah agar kita bisa memetik pelajaran. Bahkan duri yang menusuk jari kita pun tak lepas dari pandangan-Nya, agar kita menyadari bahwa semua yang Allah takdirkan akan berbuah kemuliaan.


Bila kita yakin, bahwa akan selalu ada terang setelah kegelapan. Maka Allah siapkan kemudahan seiring dengan hadirnya kesulitan. Dan karunia yang Allah berikan akan mampu menuntun kita untuk tetap tegar menapaki jalan Ilahi.


Pengorbanan, kesulitan, dan segala ujian yang ada di jalan ini adalah suatu fase yang akan mengantarkan kita untuk semakin merasakan indahnya kehidupan.


__sᴛᴏʀɪᴇs ᴏғ ᴛʜᴇ ᴅᴀʏ__


*•••••••••••••••••✰⁞ᮬ᭄ ཻུ۪۪۪۫ ֯͜ 💜✰⁞ᮬ᭄ ཻུ۪۪۪۫ ֯͜ ••••••••••••••••••*


Setelah melakukan perjalanan selama dua jam dengan menggunakan helikopter. Kini Gibran dan Alisha sudah kembali lagi ke kota. Karena Gibran masih sangat kesal pada Neneknya, ia sengaja membawa Alisha ke apartemennya, yang jaraknya lumayan jauh dari rumah neneknya.


"Sayang, kamu nggak papakan kalau kita tinggal di sini dulu untuk sementara?" tanya Gibran merasa tidak enak hati, pada istrinya. Karena telah membawanya ke sebuah apartemen yang terbilang sederhana saja.


"Yaa nggak papa Mas, emangnya kenapa? Ini mah udah Alhamdulillah banget bagi Lisha Mas," balas Alisha, yang tampaknya ia malah justru senang melihat Apartemen milik Gibran. Bahkan ia langsung melangkah menuju ke dapur apartemen tersebut.


"Maa shaa Allah, dapurnya walaupun kecil tapi tampak bersih dan nyaman ya Mas? Lisha suka dapur seperti ini," lanjutnya, dengan mata yang terlihat berbinar ketika ia melihat suasana dapurnya tersebut.


"Alhamdulillah, kalau kamu suka Sayang. Oh iya Sayang, kamu nggak papakan kalau Mas tinggal sendiri disini? Soalnya Mas mau melihat keadaan kantor dulu. Kan kamu tahu sendiri, Mas sudah lama tidak ke kantor. Makanya hari ini Mas mau kesana sebentar, kamu beranikan tinggal sendiri disini Sayang?" tanya Gibran, terlihat ragu, saat ingin meninggalkan istrinya.


"Ya nggak papa dong Mas, Lisha berani kok tinggal sendiri. Jadi Pergilah Mas, jangan khawatirkan Lisha. Karena Lisha insya Allah akan baik-baik saja kok," balas Alisha dengan lembut.

__ADS_1


"Benaran Nggak papa Sayang?" tanya Gibran, yang tampaknya ia masih mengkhawatirkan istrinya.


"Hu'um! Benaran Lisha nggak papa Mas," balas Alisha, meyakinkan suaminya.


"Ya sudah kalau begitu, Mas pergi ya? Oh iya itu kamar kita, nanti kamu istirahatlah ya? Kamu pasti masih capekkan?" ujar Gibran, seraya ia menunjuk sebuah pintu yang terlihat masih tertutup, tak berapa jauh dari tempat mereka berdiri saat ini.


"Iya Mas, ya sudah sebaiknya Mas pergi sekarang, soalnya harinya kan hampir menjelang sore juga Mas," balas Alisha, dengan lembut.


"Baiklah Sayang, ya sudah kalau begitu Mas, pergi ya?" kata Gibran, seraya ia memberikan kecupan lembut pada dahi istrinya.


"Iya Mas, kamu hati-hati juga dijalan ya?" balas Alisha, seraya ia meraih tangan Gibran, lalu mengecupnya.


"Iya Sayang, ya sudah Mas Pamit ya? Assalammu'alaikum?" ucap Gibran, masih terlihat ia seperti berat meninggalkan istrinya.


"Iya Mas, wa'alaikumus salam," balas Alisha. Setelah mendapatkan jawaban salam dari istrinya Gibran pun mulai melangkahkan kakinya menuju pintu apartemennya. Namun saat ia hendak melangkah keluar, ia kembali menoleh ke arah Alisha dengan tatapan seperti enggan untuk meninggalkannya.


"Iya, Sayang insya Allah," balasnya setelah itu ia pun langsung melangkah keluar seraya menutup pintu apartemennya. Setelah pintu tertutup, Alisha pun langsung menarik koper-koper yang masih berada didekat pintu apartemen. Dan kemudian ia bawa koper tersebut, ke kamar yang ditunjukkan oleh Gibran.


Begitu pintu kamar terbuka Alisha langsung tertegun ketika melihat nuansa kamar yang terlihat serba putih, dari dinding tempat tidur, seprainya, bahkan tirai-tirainya, semuanya serba putih, membuat kamar tersebut terlihat begitu terang dan indah.


"Maa shaa Allah, cantik dan bersih kamar ini, sepertinya Mas Yuda, menyukai warna putih ya? Kalau dipikir-pikir selama kami di pulau juga, Mas Yuda sering banget memakai kaos putih, dan celana pendek berwarna putih juga, humm.. berati putih adalah warna favorit Mas Yuda ya?" gumam Alisha, yang tiba-tiba ia teringat pada masa-masa mereka masih berada di pulau S.


"Eh, kenapa tiba-tiba aku jadi kangen ya sama Mas Yuda? Padahal baru beberapa menit aja pun dia pergi, masa udah kangen aja sih?" gumam Alisha, seraya ia memandangi figura yang berada di atas nakas, tepat di samping tempat tidurnya.


"Iiis.. kenapa jantungku berdebar-debar lagi sih? Aah sudah akh, sebaiknya aku merapikan baju-baju dikoper dulu deh, setelah itu baru istirahat," gumam Alisha, yang akhirnya ia pun mulai menyusuni baju-baju yang terdapat di dalam koper, lalu ia pindahkan kedalam lemari yang terletak disudut kamar tersebut.

__ADS_1


Setelah semua tersusun rapi, Alisha pun langsung membaringkan tubuhnya di tempat tidurnya Gibran, "Aaah.. Alhamdulillah, enaknya berbaring. Soalnya sejak tadi rasanya pinggang ku mau copot! ini semua karena ulah Mas Yuda! Sempat-sempatnya mau pulang, dia minta gituan sih?" keluh Alisha setelah ia membaringkan tubuhnya. Dan karena memang ia merasa amat kelelahan, akhirnya tanpa sadar ia pun terhanyut juga kedalam mimpinya.


...*****...


Sementara disisi lain.


Gibran yang tadi, sempat berpamitan pada istrinya, untuk melihat keadaan kantornya. Kini tampaknya ia baru saja memasuki ruangannya. Di ikuti oleh Ray yang selalu setia berjalan dibelakangnya. Setelah keduanya didalam, Gibran pun langsung duduk di kursi kebesarannya. Sedangkan Ray, masih terlihat berdiri didepan meja kerjanya.


"Oh iya Ray, bagaimana kerjaanku yang kemarin aku tinggalkan? Apakah tidak ada yang bermasalah?" tanya Gibran, seraya ia membuka laptop, yang sudah lama tak ia jamah.


"Tidak ada Pak! Karena Bu Presdir sudah menyelesaikan semuanya!" balas Ray, apa adanya.


"Ooh baguslah kalau begitu! Oh iya, tolong kamu ambilkan laporan selama aku tidak ada, sekarang juga Ray!" kata Gibran dengan tatapan yang terlihat masih terfokus pada laptopnya.


"Baik Pak! Kalau begitu saya permisi sebentar!" balas Ray, dan ia pun langsung bergegas pergi meninggalkan ruangannya Gibran. tinggallah Gibran seorang diri.


"Eh, kemana dia kok nggak ada?" gumma Gibran, yang ia melihat laptopnya, karena ingin melihat cctv yang berada di apartemennya,


"Ooh.. rupanya dia lagi tidur ya? Aah.. kenapa aku jadi merasa kangen ya sama dia? Hah! Gawat rasanya aku tidak tahan lagi! Sebaiknya aku pulang saja deh!" kata Gibran, seraya ia menutup laptopnya. Lalu ia pun langsung bergegas pergi begitu saja. Dan disaat ia hendak membuka pintunya ternyata Ray sudah berada di depan pintu.


"Eh Pak! Ooh iya ini Pak laporannya!" kata Ray, seraya ia menyerahkan file pada Gibran.


"Nanti saja Ray, ada tugas yang tidak bisa ditunda!" balas Gibran dan ia pun langsung pergi.


"Hah? Tugas apa??" gumam Ray bingung.

__ADS_1


...•••••••••••✰⁞ᮬ᭄ ཻུ۪۪۪۫ ֯͜ 💜✰⁞ᮬ᭄ ཻུ۪۪۪۫ ֯͜ ••••••••••••...


Terus dukung author terus ya guys dan jangan lupa tinggalkan jejaknya juga oke.


__ADS_2