
*•••••••✰⁞ᮬ᭄ ཻུ۪۪۪۫ ֯͜ 💜 Mutiara Hikmah 💜✰⁞ᮬ᭄ ཻུ۪۪۪۫ ֯͜ •••••••*
BERUMAH TANGGA ITU...
“Berumah tangga bagaikan mengarungi lautan lepas menuju satu pulau impian.
Tiada lautan tak berombak dan tiada samudera tanpa badai.
Jikalah nakhoda arif dan bijak memandu, bisa membaca kompas, mengetahui gejala alam dan badai, mengukur kemampuan kapal, tidak memuat beban melebihi kapasitas, membagi tugas dengan baik kepada selutuh anggota, niscaya mereka akan sampai ke pulau idaman dengan selamat.
Jika sang nakhoda tidak paham mengemudi, membaca arah angin, menghindari badai maupun karang, alamat kapal kan segera tenggelam.”
Ustadz Abu Fairuz Ahmad Ridwan hafizhahullah
__sᴛᴏʀɪᴇs ᴏғ ᴛʜᴇ ᴅᴀʏ__
*•••••••••••••••••✰⁞ᮬ᭄ ཻུ۪۪۪۫ ֯͜ 💜✰⁞ᮬ᭄ ཻུ۪۪۪۫ ֯͜ ••••••••••••••••••*
Hampir satu bulan, Gibran pergi ke luar negeri. Dan semenjak itu juga, Alisha jadi pendiam dan ia juga jadi suka menyendiri sambil melamun entah apa yang sedang ia lamunkan. Melihat hal itu Syarah jadi merasa bersalah. Padahal ia sangat tahu kalau wanita hamil itu senangnya bermanja-manja pada suaminya. Namun ia malah memberikan jarak untuk mereka. Hingga akhirnya membuat keduanya kini jadi terpisah.
"Ya Allah kenapa jadi begini? Padahal dulu Aku yang ngotot banget ingin menyatukan mereka. Sampai-sampai Aku bersandiwara agar Yuda, mau menikah dengan Alisha. Dan giliran mereka telah bersatu, malah aku juga yang membuat mereka terpisah!" gumam Syarah tatkala ia melihat cucu mantunya yang terlihat, sedang melamun dibalkon kamarnya, seorang diri.
"Kalau sudah begini, yang kasiankan Alisha, dia jadi sering melamun begini," katanya lagi, dengan tatapan yang terlihat sedih melihat Alisha.
"Tidak bisa begini terus! Dan kalau Aku, menyuruh Yuda untuk pulang, dia pasti selalu banyak alasannya! Hmm.. kalau begitu biar Aku bawa saja Alisha kesana! Ya aku rasa itu lebih baik, sekalian mereka bisa Bebymoonkan?" gumam Syarah lagi. Seraya ia kembali keluar dari kamar Alisha, lalu ia pun pergi untuk menuju ke kamarnya.
Sesampainya di kamar, ia langsung mengambil benda pipihnya, yang terletak di atas tempat tidurnya. Lalu ia pun langsung membuka layar dan seperti mencari nomor kontak. Dan tak berapa lama kemudian.
"Halo, Bu Presdir, apakah ada yang bisa saya bantu?" tanya seorang pria dari seberang. Setelah sambungannya terhubung.
"Reno, tolong pesankan tiket pesawat bertujuan Singapura untuk kita! Eh, maksudnya untuk tiga orang! Karena Alisha juga akan ikut!" titah Syarah.
__ADS_1
"Oke Bu! Oh iya mau keberangkatan jam berapa Bu?" tanya pria yang dipanggil Reno itu lagi.
"Kalau bisa keberangkatan siang! Tapi kalau nggak ada sore juga nggak papalah,"
"Baiklah Bu! Nanti saya kabari lagi," balas Reno.
"Oke! Saya tunggu!" kata Syarah, lalu ia pun langsung memutuskan sambungannya.
Setelah memutuskan sambungannya, Syarah kembali keluar dari kamarnya. Lalu ia pun bergegas menuju kamarnya Alisha kembali. Sesampainya didepan pintunya ia langsung mengetuk pintu kamarnya. Dan tak berapa lama pintu pun terbuka.
"Nenek? Ada apa Nek?" tanya Alisha, dengan mata yang terlihat sedikit membengkak. Karena sepertinya ia abis menangis. Syarah, tak langsung menjawab, ia hanya tertegun melihat mata Alisha yang sedikit membengkak itu. Ada perasaan bersalah yang semakin membesar didalam hatinya.
"Maafkan Nenek ya Nak? Karena keegoisan Nenek, kamu jadi sedih berani," katanya seraya ia memeluk tubuh Alisha.
"Tidak Apa-apa kok Nek, Lisha baik-baik saja kok," dalih Alisha, yang tampaknya matanya terlihat mulai berkaca-kaca lagi.
"Bohong! Tidak apa-apa, mata kamu kok membengkak begitu sih? Ya sudah lupakan saja, sekarang sebaiknya kamu bersiap-siap dan bawalah baju beberapa potong. Karena kita akan pergi," kata Syarah, seraya menepis, air matanya Alisha yang hampir terjatuh.
"Pergi? Emangnya kita mau pergi ke mana Nek?" tanya Alisha, terlihat Penasaran.
"Mau Nek Mau!" katanya dengan suara penuh semangat. Sehingga membuat Syarah sedikit terkejut, karena suaranya Alisha terdengar begitu kecang.
"Ya ampun, segitu senangnya sih yang mau ketemu suaminya? Sampai-sampai suaranya ngagetin Nenek,"
"Eh, hehehe.. maaf Nek," balas Alisha, dengan wajah yang terlihat langsung merona karena menahan malu.
"Ya sudah kalau begitu sekarang pergilah bersiap-siap. Nenek tunggu kamu di bawah Oke?"
"Oke Nek! Kalau begitu Lisha siap-siap dulu ya?"
"Pergilah!" setelah mendapatkan jawaban dari Neneknya. Alisha pun kembali masuk ke dalam kamarnya untuk bersiap-siap.
__ADS_1
Sementara Syarah langsung turun untuk bersiap-siap juga. Dan satu jam kemudian, Alisha, terlihat sudah terlihat rapih, bahkan ia juga sudah Menjinjing tas kopernya. Namun langsung di sambut oleh Reno yang kebetulan sudah berada di ruang keluarga.
"Kamu sudah siap Nak?" tanya Sarah yang terlihat Ia juga telah rapih
"Sudah Nek!" balas Alisha dengan singkat.
"Ya sudah kalau begitu, kamu pergilah berpamitan dulu pada bapak kamu ya?" kata Syarah lagi, sebelum mereka berangkat.
"Baiklah nih bales Alisha lalu ia pun bergegas pergi menuju ke kamar bapaknya untuk berpamitan dengannya. Dan udah berapa lama kemudian Alisha kembali lagi dengan wajah yang berseri-seri.
"Sudah Nek! Lisha sudah berpamitan sama Bapak,"
"Alhamdulillah, ya sudah sekarang ayo kita berangkat," ajak Syarah. Dan akhirnya mereka bertiga pergi meninggalkan rumah, menuju ke bandara. Dan setibanya di bandara, mereka pun langsung melakukan perjalanan lewat udara menuju ke Singapura.
Tak membutuhkan waktu yang lama, hanya satu jam setengah saja mereka sudah sampai di bandara Singapura. Syarah telah mendapatkan info, kalau saat ini cucunya sedang berada di Apartemennya. Makanya ia langsung membawa Alisha menuju ke Apartemen Gibran. Sesampainya di lobby Apartemen, Syarah langsung menghentikan langkahnya. Membuat Alisha bingung.
"Kok berhenti Nek?" tanyanya dengan wajah penasarannya.
"Karena hanya kamu yang akan pergi ke sana Nak," balas Syarah sambil tersenyum lembut pada Alisha.
"Loh emangnya Nenek mau kemana?" tanyanya lagi masih terlihat penasaran.
"nenek mau kembali ke kota JK karena perusahaan yang di sana tidak ada pemimpinnya. Untuk itu Nenek harus segera kembali, kamu pergilah. Temuilah suami kamu oke?" balas Syarah lagi.
"Baiklah Nek, kalau begitu Lisha, pamit ya Assalamu'alaikum?" pamit Alisha sambil menyalami tangannya Syarah.
"Wa'alaikumus salam Nak,"
Setelah mendapatkan jawaban salamnya Alisha pun bergegas menuju ke Apartemen Gibran dengan diantar oleh security yang bertugas di apartemen tersebut. Dan tak berapa lama kemudian mereka akan sampai di depan pintu apartemennya Gibran. Sang security tersebut langsung menekan bel pintu apartemen. Dan tak berapa lama kemudian pintu pun terbuka. Dan terlihatlah oleh Alisha, seorang pria yang amat ia rindukan sedang berdiri didepan apartemennya.
"Icha?!"
__ADS_1
...•••••••••••••✰⁞ᮬ᭄ ཻུ۪۪۪۫ ֯͜ 💜✰⁞ᮬ᭄ ཻུ۪۪۪۫ ֯͜ •••••••••••••...
Terus dukung author terus ya guys dan jangan lupa tinggalkan jejaknya juga oke.