
*•••••••✰⁞ᮬ᭄ ཻུ۪۪۪۫ ֯͜ 💜 Mutiara Hikmah 💜✰⁞ᮬ᭄ ཻུ۪۪۪۫ ֯͜ •••••••*
Tebarkan Benih Kebaikan
_"Jika kau tidak ingat dimana kau tebar benih-benih tanaman, suatu saat air hujanlah yg akan memberitahukannya, karena ia yg akan menumbuhkannya._
_Demikian juga, tebarkan benih-benih kebaikan dimanapun dan kepada siapapun, karena kau tak pernah mengetahui dari yg manakah kau akan menuai hasilnya. Tebarlah kebaikan walaupun sepertinya bukan pada tempatnya, karena kebaikan takkan pernah sirna dimanapun ia tertanam."_
Umar bin Khattab radhiyallahu anhu berkata :
"Sesungguhnya ada seseorang yang memiliki sembilan akhlak yang mulia, dan memiliki satu akhlak yang tercela, namun sembilan akhlak yang mulia itu bisa di kalahkan dengan satu akhlak yang tercela tersebut, maka hati-hatilah kalian dengan tergelincirnya lisan."
Kesabaran adalah obat terbaik dari segala kesulitan. Bersyukur itu nikmat, bersabar itu indah. Jaga hati dalam ke ta'atan. Istighfar, dzikir tanpa batas.
__sᴛᴏʀɪᴇs ᴏғ ᴛʜᴇ ᴅᴀʏ__
*•••••••••••••••••✰⁞ᮬ᭄ ཻུ۪۪۪۫ ֯͜ 💜✰⁞ᮬ᭄ ཻུ۪۪۪۫ ֯͜ ••••••••••••••••••*
Satu Minggu kemudian di Mansion Syarah.
Di hari Minggu pagi, tampat Syarah terlihat sudah rapih dan begitu anggun. Sepertinya ia hendak berpergian. Melihat sang Nenek yang telah rapih, membuat Gibran, yang pada saat itu sedang berada di sana, merasa heran. Karena setahunya, telah membikin peraturan, kalau dihari Minggu adalah hari untuk kebersamaan. Jadi tidak ada yang boleh pergi, terkecuali ada hal yang benar-benar penting dan tak bisa ditinggalkan.
__ADS_1
"Nenek mau pergi? Yuda udah bela-belain datang, Nenek malah pergi? tau gitu mendingan Yuda tidur aja dah di apartemen Yuda!" protes Gibran yang terlihat ada penyesalan karena sudah datang ke Mansion Neneknya itu.
"Ooh.. jadi kamu menyesal nih datang kesini, hm? Padahal kamu sendiri yang sudah ingkar duluankan? Katanya mau datang hari Sabtu dan akan menginap disini! Tapi apa... kamu malah datang dihari Minggunya! Dan sekarang kamu protes lihat Nenek mau Pergi, hah?" balas Syarah, yang tampaknya ia masih sedikit kesal karena Gibran telah ingkar janji padanya.
"Eh, maaf Nek! Kemarin Yuda ada acara bersama teman-teman sampai malam. Jadi nggak sempat kemari. Tapi yang penting pagi sekali yuda sudah sampai sinikan?" ujar Yuda, memberi penjelasan pada sang Nenek mengapa ia tak datang.
"Huh alasan aja! Bilang saja, kalau teman-teman kamu itu memang lebih berharga dibandingkan dengan Nenek kamu ini yang sudah berbau tanah. Jadikan biar Nenek tahu, dan bisa bersiap-siap untuk segera menyusul Kakek kamu, . Jadi kamukan tak perlu repot-repot lagi menemani Nenek kan?" balas Syarah dengan wajah yang terlihat datar.
"Apaan sih Nek! Itu lagi itu lagi!! Bisa nggak sih tidak mengungkit-ungkit hal itu?" protes Gibran. Ia memang paling tidak suka kalau Neneknya selalu berkata seperti itu.
"Kenapa emangnya? Bukannya Bagus ya Kalau Nenek secepatnya meninggal. Jadi kamu tidak perlu repot-repot memikirkan perasaan Nenek. Kamu juga tidak perlu repot-repot memikirkan pernikahan. Bahkan kamu bisa terlepas dari janji kamu yang dalam seratus hari harus sudah menikahkan? Intinya kalau nenek sudah tidak ada kamu bisa Bebas loh Nak. Apakah kamu tidak mau seper..." balas Syarah panjang lebar. Namun langsung di potong oleh Gibran.
"Cukup Nek! Cukup! Yuda tak mau mendengar Nenek berkata seperti itu lagi! Asal Nenek tahu saja! Yudah lebih baik memenuhi janji dari pada harus kehilangan Nenek! Jadi Nenek jangan berkata seperti itu lagi!" potong Gibran terdengar begitu tegas. Membuat Syarah tersenyum tipis mendengarnya.
"Yakin Nek! Pokoknya Apapun keinginan Nenek akan Gibran penuhi. Asalkan Nenek jangan berpikir untuk meninggalkan Gibran seorang diri!" balas Gibran masih terdengar tegas. Mendengar perkataan Gibran, Syarah kembali tersenyum Ia seperti sudah memiliki rencana.
"Benarkah? Apakah kamu mau berjanji pada Nenek, Nak? Apapun permintaan Nenek kamu akan mengabulkannya?" pinta Syarah, tampak ia seperti ingin mengikat Gibran dengan janjinya.
"Iya Nek! Yuda janji! Asalkan Nenek juga harus berjanji tidak akan pernah berpikir untuk meninggalkan Yuda Ya?" balas Gibran, seraya ia memeluk tubuh sang Neneknya. Ia memang begitu menyayangi sang Neneknya itu.
"Iya Nak, In shaa Allah Nenek janji tidak akan berpikir seperti itu lagi," kata Syarah. sambil membalas pelukan dari sang cucunya itu.
__ADS_1
"Oh iyaa Nak, kamu mau tidak menemani nenek?" tanya Syarah.
"Kemana Nek?" tanya Gibran balik.
"Ya ke rumah calon istri kamulah Nak?" kata Syarah terlihat santai. Berbeda pada Gibran ia malah tampak begitu terkejut mendengar perkataan Sarah.
"Apa?! Calon istri? Kenapa jadi langsung berkata seperti itu sih Nek?" protes Gibran.
"Eeh ingat loh, sama janji yang baru saja kamu ucapkan Nak," balas Syarah membuat Gibran terlihat menyesal karena sudah mengikrarkan janjinya.
"Tapi Nek... ini terlalu mendadak sekali Nek" protes Gibran.
"Eeeeh... janji tetaplah janjji! Jadi yang namanya sudah berjanji harus ditepati! Nak! Jadi ayo kita pergi sekarang!" ajak Syarah seraya ia menggandeng tangan Gibran. dan langsung berjalan menuju pintu keluar Mansion.
"Haiis.. kenapa gue tadi pakai berjanji segala sih!"
...•••••✰⁞ᮬ᭄ ཻུ۪۪۪۫ ֯͜ 💜✰⁞ᮬ᭄ ཻུ۪۪۪۫ ֯͜ ••••••...
Jangan lupa dukung author terus ya. guys 🙏
Oh iya selagi menunggu outer update yuk mampir ke Karya temannya author. yang In shaa Allah ceritanya seru deh cus Akh mampir 😉 Sekarang 👇👇
__ADS_1
jangan lupa berikan dukungannya juga ya guys. dan sampaikan juga salam Ramanda ada Author Umi Asya oke 😉.