
*•••••••✰⁞ᮬ᭄ ཻུ۪۪۪۫ ֯͜ 💜 Mutiara Hikmah 💜✰⁞ᮬ᭄ ཻུ۪۪۪۫ ֯͜ •••••••*
Prinsip hidup itu Sederhana, menghadirkan HIDUP TENANG.
Selalu HIDUP rendah hati, jangan Sombong.
seberapa pun SEJAHTERA nya kita. Selalu BERSYUKUR dan berterimakasih,
Meskipun seberapa sulitnya kita.
Jangan MEMBENCI, seberapa pun sering hati kita DISAKITI. Selalu BERFIKIR positif, tidak peduli seberapa pun keras UJIAN hidup yang dijalani.
Selalu MEMBERI banyak, seberapa pun sedikitnya yang kita DAPATKAN. Selalu SILATURAHMI dengan semua orang yang baik sama kita ataupun yang tidak baik sama kita. Seberapa pun mereka MENGABAIKAN kita.
Selalu MAAFKAN semua, tidak peduli seberapapun orang lain berbuat salah pada kita.
__sᴛᴏʀɪᴇs ᴏғ ᴛʜᴇ ᴅᴀʏ__
*•••••••••••••••••✰⁞ᮬ᭄ ཻུ۪۪۪۫ ֯͜ 💜✰⁞ᮬ᭄ ཻུ۪۪۪۫ ֯͜ ••••••••••••••••••*
Alisha begitu terkejut tatkala, ia melihat wajah pria yang sedang duduk di kursi untuk para pengunjung. Begitu juga dengan Gibran ia tak kalah terkejutnya dengan Alisha. Tatkala ia melihat wajah Alisha. Apalagi saat Alisha menyebutkan dirinya sebagai Tuan Sombong.
"Apa kau bilang? Tuan Sombong? Hei..! Sembarangan saja kau ngomong hah?!" kata Gibran, sambil menatap dingin pada Alisha. Membuat Alisha langsung bergidik melihatnya.
Melihat hal itu, Syarah langsung menepuk pundaknya Gibran, "Yuda! Jaga sikap kamu! Kamu ingatkan perkataan Nenek tadi? Jadi bersikaplah ya sopan!" tegurnya, sedikit berbisik. Membuat Gibran hanya berdengus kesal. Sambil melirik ke arah Alisha, dengan tatapan tajamnya.
"Maaf ya Lisha," kata Syarah pada Alisha, seraya ia mengajak duduk disampingnya. Dan masih disatu meja yang sama dengan Gibran.
"Iya Nek, nggak papa kok," balas Alisha dengan lembut. Seraya ia melirik wajahnya Gibran, dan kembali dibalas Gibran dengan tatapan tajamnya. Membuat Alisha sekali lagi bergidik.
"Yuda! Bisa nggak sih bersikap yang baik gitu!" tegur Syarah yang ternyata ia juga ikut melirik ke wajah Gibran, setelah ia tak sengaja melihat Alisha bergidik
__ADS_1
"Huh! Ya sudah kalau begitu, daripada Yuda disini bikin malu! Lebih baik Yuda perrgi aja ya Nek," balas Gibran seraya ia hendak bangkit dari duduknya. Namun belum lagi ia berdiri, Syarah sudah menahannya.
"Diam disini! Urusan kita belum selesai Nak!'' ujar Syarah terdengar tegas.
"Tapi Nek..." Gibran bermaksud ingin berdalih, namun langsung di potong oleh Syarah.
"Sssth...! Jangan banyak Alasan! Ingat sama janji kamu!" tegas Syarah membuat Gibran tak bisa berkutik lagi. Dan akhirnya ia kembali duduk dengan pasrah, seraya ia mengambil benda pipihnya, untuk mengalihkan pandangannya pada Alisha, agar tidak dapat teguran lagi dari sang Nenek.
"Nak, kamu takut ya sama Cucu Nenek?" tanya Syarah pada Alisha, membuat Alisha kembali melirik Gibran. Untungnya Gibran terfokus pada benda pipihnya. Membuat Alisha tak bergidik lagi.
"Tidak kok Nek!" balas Alisha dengan lembut.
"Alhamdulilah.. Iya sih Nenek akui, cucu Nenek ini memang terkadang sikapnya ngesalin. Tapi sebenarnya dia baik kok, Nak" kata Syarah lagi Pada Alisha. Seraya ia meraih kedua tangannya.
"Jadi Nenek berharap kamu jangan merubah pikiran kamu ya?! Setelah melihat cucu Nenek ini ya? Karena Nenek yakin hanya kamu yang dapat merubah sifatnya itu," lanjut Syarah lagi. Mendengar perkataan sang Nenek, Gibran langsung mengerutkan dahinya.
"Apa maksud Nenek berkata seperti itu? Jangan bilang Dia yang.." tanya Gibran, terlihat penasaran. Namun perkataannya kembali dipotong oleh Syarah.
"Iya benar! Alisha yang akan menjadi calon istri kamu!" potong Syarah dengan tegas. Membuat Gibran begitu terkejut mendengarnya.
"Janda maksud kamu hm?"
"Nah.. tuh, Nenek tahu! Tapi kenapa malah menjodohin dia sama Yuda sih?" protes Gibran, seraya ia melirik Alisha dengan tatapan yang tak bisa diartikan.
"Karena Dia, janda tapi masih perawan!" balas Syarah kembali tegas. Gibran langsung tersenyum lucu sinis saat mendengar kata perawan.
"Heh! Kenapa Nenek begitu yakin, kalau dia masih perawan?" tanya Gibran masih masih menatap Alisha dengan pandangan sinisnya.
"Iya Nenek yakin sekali! Karena dimalam hari setelah dia menikah suaminya keburu meninggal akibat obat kuat! Jadi sudah pasti Dia belum sempat menyentuhnya!" jelas Syarah terlihat begitu yakin, kalau perkataannya benar.
"Nenek percaya begitu saja dengan perkataannya? Padahal bisa saja, dia sudah melakukannya pada suaminya itu, atau pada pria lain! Karena lihatlah disini dia saja selalu menjadi pusat perhatian para lelaki! Kalau dia tidak menggoda mereka.." ujar Afnan. Membuat Alisha maupun Syarah begitu terkejut mendengarnya.
__ADS_1
"Yudaa...!! PLAAAK !!" Syarah begitu geram mendengar perkataan Gibran hingga tanpa sadar tangannya pun melayang ke pipinya Gibran dengan spontan. Namun setelah itu Syarah langsung memegang dadanya tepat di bagian jantungnya berada.
"Aaaakh!!" pekik Syarah yang tampaknya ia merasakan sakit pada jantung tersebut.
"Nenek! Anda tidak apa-apa?" tanya Alisha. Namun tak dijawab oleh Syarah, karena ia masih merasakan kesakitan pada jantungnya dan tak berapa lama, Syarah langsung tak Sadarkan diri.
"Nenek!!" pekik Alisha, seraya ia menangkap tubuh Syarah yang hampir saja terjatuh. Gibran yang melihat itu langsung panik. Dan ia pun langsung menghampiri sang Neneknya.
"Pinggir!" bentaknya pada Alisha, Seraya ia mengambil alih memangku sang Nenek.
"Nenek! Bangun Nek!" teriak Gibran, sambil ia menepuk-nepuk pipi Syarah. Namun ia tak memberikan respon apapun.
"Tuan sebaiknya kita bawa Nenek kerumah sakit saja! Pak Reno tolong panggilkan Ambulans!" kata Alisha, pada Reno, asistennya Syarah.
"Baik Nona!" Reno pun langsung menghubungi mobil Ambulance.
"Tuan letakkan saja Nenek kelantai agar pernafasannya berjalan lancar!" kata Alisha, bermaksud ingin membantu melakukan pertolongan pertama.
"Jangan sok tahu kamu!" bentak Gibran.
"Please untuk kali ini percayalah Tuan, tolonglah sebelum terjadi apa-apa!" kata Alisha yang kini nada bicaranya sedikit tegas. Dan akhirnya Gibran menuruti perkataannya. Dan kini Syarah sudah diletakkan di lantai. Setelah itu Alisha ingin memperiksa rasnya Syarah.
"Mau apa kamu? Jangan-jangan kamu..." kata Gibran. Namun langsung di potong oleh Alisha.
"Nenek Syarah kenak serangan jantung! Jadi Saya ingin mencari Obat Nenek! Saya yakin pasti Nenek menyimpan obat Aspirin!" kata Alisha, yang kini tatapannya, terlihat sedikit kesal melihat Gibran. Lalu ia pun langsung membuka tas Syarah, tanpa memperdulikan Gibran lagi. Dan benar saja ternyata didalam tas Syarah, memang ada sebotol Obat yang disebut oleh Alisha tadi. Setelah itu ia pun langsung memasukkan obat tersebut kedalam mulutnya Syarah.
Setelah itu Alisha membuka kancing baju Syarah bagian atas, dan juga membukan tali pinggangnya. Dan kemudian ia bermaksud ingin menekan dadanya Syarah namun lagi-lagi Gibran membentaknya.
"Apa yang ingin kau lakukan hah?!"
...•••••••••✰⁞ᮬ᭄ ཻུ۪۪۪۫ ֯͜ 💜✰⁞ᮬ᭄ ཻུ۪۪۪۫ ֯͜ ••••••••••...
__ADS_1
Jangan lupa tinggalkan jejaknya ya guys 😉🙏
Serta jangan lupa berikan 👉" ⭐⭐⭐⭐⭐ " serta ulasan Oke 😉 Dan tak lupa juga Vote serta Hadiahnya ya 🤭 biar memicu Author update kembali oke guys 😉 Syukron