
*•••••••✰⁞ᮬ᭄ ཻུ۪۪۪۫ ֯͜ 💜 Mutiara Hikmah 💜✰⁞ᮬ᭄ ཻུ۪۪۪۫ ֯͜ •••••••*
Jadilah dirimu sendiri. Jangan pernah mengeluhkan kekurangan diri. Jangan pernah mengatakan bahwa Tuhan tidak adil padamu hanya karena merasa engkau tidak memiliki apa yang dimiliki orang lain. Masing-masing orang diciptakan dengan sangat spesial oleh-Nya. Tidak ada satupun orang yang sama persis denganmu. Engkau adalah karya eksklusif yang diciptakan Allah.
Jangan sombong dengan kelebihanmu. Jangan malu atas kekuranganmu. Tampillah secara wajar, percaya dirilah. Asalkan benar, mengapa harus malu Kenapa harus gengsi?
Tidak ada manusia yang sempurna, yang kita tahu, hanya kita sedang berusaha melakukan yg terbaik sebagai hambaNya. Semua bergantung kita, adakah keinginan untuk berusaha memperbaiki kekurangan dan memaksimalkan kelebihan? Semangat!
__sᴛᴏʀɪᴇs ᴏғ ᴛʜᴇ ᴅᴀʏ__
*•••••••••••••••••✰⁞ᮬ᭄ ཻུ۪۪۪۫ ֯͜ 💜✰⁞ᮬ᭄ ཻུ۪۪۪۫ ֯͜ ••••••••••••••••••*
Santi dan Maya langsung terpanjat kaget saat melihat beberapa polisi yang telah mendatangi rumahnya. Bahkan tubuh kedua langsung terlihat gemetaran karena telah diliputi rasa ketakut, saat melihat para pria berseragam itu. Apalagi Maya, yang tampak paling takut, sehingga ia langsung memeluk tubuh ibunya.
"Mah, Maya takut! Maya nggak mau di penjara Mah! Jangan biarkan polisi-polisi itu menangkap Maya Mah!" keluh Maya, dengan suara yang terdengar bergetar, karena takut.
"Diamlah Maya! Tidak ada yang masuk penjara!" balas Santi, yang sebenarnya suaranya sudah bergetar juga. Namun ia tetap berusaha terlihat tegar didepannya Gibran dan Alisha.
"Mari Bu, Nona, ikut kami ke kantor polisi!" ujar salah satu polisi, seraya menengadahkan tangan kanannya untuk mempersilakan Santi dan Maya, untuk ikut dengan mereka.
"Tidak! Saya tidak mau! Mas! Bilang sama mereka! Aku ini istri kamu Mas!" kata Santi, meminta bantuan dari Marwan, seraya ia ingin meraih tangan Marwan. Namun langsung ditepis oleh suaminya itu.
"Pergilah Santi! Dan mulai hari ini, Aku menceraikan kamu!" balas Marwan terdengar begitu tegas. Setelah itu ia langsung membuang wajah, yang artinya ia tak ingin lagi melihat istrinya itu.
Mendengar kata talak dari suaminya, mata Santi langsung terbelalak kaget, "Apa kamu bilang Mas? Kamu mentalak Aku! Tidak bisa! Aku tidak setuju Mas, kamu menceraikan Aku! Jadi itu tidak Sah!" teriak Santi, terlihat garang. Tampak sekali ia tidak terima akan keputusan suaminya.
"Bu! Jika kata cerai tersebut diucapkan suami kepada istrinya, maka jatuhlah talaknya. Baik diniatkan maupun tidak, dan dalam keadaan bercanda atau serius. Dan itu sesuai yang dikatakan di dalam sebuah hadits.
"Dari Abu Hurairah berkata, Rasulullah ﷺ pernah bersabda: "Ada tiga hal yang apabila dilakukan baik dalam keadaan sungguh-sungguh ataupun bercanda, maka dianggap bersungguh-sungguh yaitu: nikah, talak, dan rujuk," (Hadits ini diriwayatkan Imam Abu Dawud, Tirmidzi, dan Ibnu Majah.)
"Jadi yang Bapak katakan tadi kepada Ibu, hukumnya sudah Sah Bu! Bapak sama Ibu, resmi bercerai! Apalagi kami berdua, bapak-bapak polisi ini, dan Maya, ikut menyaksikannya. Itu Artinya Ibu bukan istrinya Bapak lagi!" jelas Alisha terdengar begitu bersemangat. Seakan ia ikut senang, karena Ayahnya kini sudah terlepas dari ikatan ibu tirinya yang jahat itu.
__ADS_1
"Tidak! Saya tidak percaya itu! Pokoknya saya tidak mau diceraikan!" teriak Santi, tetap ia seperti tak terima pada kenyataannya.
"Terimalah kenyataan Anda Nenek sihir! Dan sekarang ikutlah sana sama Bapak polisi-polisi ini! Karena kami sudah muak melihat Anda!" timpal Gibran, yang tampaknya ia mulai kesal melihat temperamennya ibu tirinya Alisha.
"He! Kamu itu orang luar! Jadi jangan ikut campur urusan kami! Sana kau pergi dari sini!" teriak Santi, seraya matanya melotot tajam pada Gibran. Terlihat sekali ia sangat geram pada Gibran.
"Cih! Enak saja Anda mengusir Saya! Yang pantas di usir itu adalah Anda, nenek sihir!" balas Gibran, seraya tersenyum sinis pada Santi, "Pak sebaiknya segera bawa mereka! Karena saya sudah muak melihat mereka berdua!" lanjutnya pada para pria berseragam, yang berdirinya tak berapa jauh dari Gibran.
"Baiklah Pak Gibran!" balas salah satu polisi tersebut, "Mari Bu, Nona, segera ikut kami!" lanjutnya pada Sabti dan Maya.
"Tidak! Saya tidak mau! Kalian pergilah dari sini!" teriak Santi, seraya ia menarik tangan Maya, dan bermaksud ingin masuk ke rumahnya. Namun para polisi-polisi tersebut langsung meringkusnya dan langsung membawanya.
"Tidak! Lepaskan saya! Mama Maya tidak mau ikut! Bapak tolongin Maya Pak!" teriak Mata, sambil meronta-ronta, berusaha melepaskan diri dari jeratan tangan-tangannya para polisi.
"Lepaskan saya! Jangan bawa saya! Mas tolong kami Mas! Alisha tolongin Ibu!" teriaknya Santi. Namun baik Alisha, maupun Marwan, terlihat sudah tidak memperdulikan mereka lagi. Dan akhirnya mereka pun di bawa oleh para pria berseragam itu
"Alhamdulillah.. akhirnya, para Nenek-nenek sihir itu, sudah pergi! Sekarang Bapak sudah Aman tidak ada lagi, yang akan menyiksa Bapak, iya kan?" ujar Gibran, setelah Santi, dan Maya tak terlihat lagi.
Gibran langsung mengerenyit, saat Marwan menyebut sebuah nama yang terdengar asing ditelinga Gibran, "Icha? Siapa Icha Pak? Maaf pak, Saya bukan suaminya Icha, tapi Saya suaminya Alisha, putrinya Bapak," balasnya, sedikit bingung.
Mendengar perkataan suaminya, Alisha menutup mulutnya, terlihat sekali ia sedang menahan tawanya, "Eh? Kenapa kamu tertawa hm?" tanya Gibran penasaran, dan ternyata Ayah mertuanya juga ikut menahan tawanya.
"Eh, Bapak kok juga ikutan tertawa sih? Emangnya ada perkataan saya yang lucu ya?" tanya Gibran, terlihat penasaran.
"Hehehe.. Maaf ya Den? Bapak tidak bermaksud mentertawakan kamu kok, hanya saja mendengar kamu, mengatakan bukan suaminya Icha, tapi kamu suaminya Alisha. Jadi terdengar lucu Den," balas Marah.
"Kok lucu? Kan emang faktanya. Dan saya juga tak kenal sama yang namanya Icha itu Pak," ujar Gibran, merasa bingung.
"Nah itu dia yang bikin lucu Den. Karena sebenarnya Icha dan Lisha satu orang Den, Icha itu panggilan Lisha, ketika Dia masih kecil Den. Soalnyakan waktu Lisha masih kecil, ngomongnya belum jelas banget, makanya dia memanggil dirinya sendiri dengan sebutan Icha. Makanya Bundanya jadi kebiasaan juga memanggil Icha juga, termasuk Bapak Den," jelas Marwan, yang akhirnya menceritakan asal mulanya Lisha dipanggil Icha.
"Ooh begitu Ya Pak? Ya sudah kalau begitu mulai sekarang, saya akan memanggil Icha juga deh,"
__ADS_1
...•••••••••••••✰⁞ᮬ᭄ ཻུ۪۪۪۫ ֯͜ 💜✰⁞ᮬ᭄ ཻུ۪۪۪۫ ֯͜ •••••••••••••...
Dear Readers Fillahku ♥️.
Hari ini Ramanda mau memperkenalkan Karya barunya Ramanda nih. Insya Allah tak kalah seru dengan novel-novel Ramanda yang lainnya kok.
Jadi Mampir ya Guys, ke Karya terbaru Ramanda dengan judul.
💓 RINDHIMA Putri Sang Mafia💓
Biar pada penasaran Author kasih Sinopsisnya yaa cekidot 👇
Kehidupan Rindhima seketika berubah, tatkala ia menyaksikan kematian Ibunya didepan matanya. Gadis kecil, yang baru beranjak usia enam tahun itu, tak lagi ceria. Ia menjadi anak yang pendiam. Namun ia memiliki kecerdasan Yang luar biasa. Bahkan ayahnya sendiri tak percaya akan kemampuannya.
Hingga sesuatu hari, perusahaan yang dipimpinnya sang Ayah tiba-tiba tak bisa beroperasi. Karena ternyata sistem diperusahaannya telah dibobol oleh seorang perentas. Hal itu membuat Haidar Rafardhan yang seorang Mafia menjadi murka.
"Apa! Sistim perusahaan dapat dibobol? Apakah departemen keamanan kerjanya hanya bersantai-santai sajakah? Cepat lacak alamat perentas tersebut!" teriaknya.
"Pak, kami berhasil mendapatkan alamat perentasnya. Dan lokasinya dirumah Anda sendiri pak!"
Siapakah yang perentas tersebut?
...✰⁞ᮬ᭄ ཻུ۪۪۪۫ ֯͜ 💜✰⁞ᮬ᭄ ཻུ۪۪۪۫ ֯͜ ...
Penasarankan? 🤭
Yuk akh, mampir ke karyanya Author ya😉 jangan lupa juga berikan dukungannya ya guys
SYUKRON 🥰🙏.
__ADS_1