
*•••••••✰⁞ᮬ᭄ ཻུ۪۪۪۫ ֯͜ 💜 Mutiara Hikmah 💜✰⁞ᮬ᭄ ཻུ۪۪۪۫ ֯͜ •••••••*
Tidak seorang pun di dunia ini akan senantiasa berada dalam kenikmatan dan kebahagiaan, sekalipun ia seorang raja. Dan sebaliknya tidak seorang pun di dunia akan senantiasa dalam kepahitan dan kesedihan, sekalipun ia rakyat biasa. Karena sejatinya setiap insan telah Allah tetapkan antara kesedihan dan kebahagiaannya masing-masing.
Demikian juga dengan segala kekurangan dan kelebihannya. Rezeki kita masing-masing sudah Allah bagi dengan berbagai bentuk dan macamnya. Semua sangat pas takarannya dan sangat tepat pada tempatnya. Dan kita semua menikmatinya dengan cara yang berbeda-beda,
Maka kita tidak perlu iri dengan rezeki orang lain, karena kita tidak tau apa yang Allah akan ambil darinya. Dan kita tidak perlu juga sedih akan cobaan yg kita terima, karena kita tidak akan tau apa yg Allah akan berikan kepada kita.
__sᴛᴏʀɪᴇs ᴏғ ᴛʜᴇ ᴅᴀʏ__
*•••••••••••••••••✰⁞ᮬ᭄ ཻུ۪۪۪۫ ֯͜ 💜✰⁞ᮬ᭄ ཻུ۪۪۪۫ ֯͜ ••••••••••••••••••*
Setelah usai makan malam, Alisha mengajak sang Neneknya dan Ayah, ke ruang keluarga. Dan tentu saja Gibran tak mau ketinggalan. Dan akhirnya mereka mengobrol sampai malam. Karena hari sudah malam, Gibran merasa aneh, karena Neneknya terlihat begitu betah sekali mengobrol. bahkan ia tak menyinggung kata pulang sekali pun. Hali itu membuat Gibran jadi penasaran.
"Nenek, ini sudah hampir tengah malam loh, emangnya tidak berencana pulang apa?" tanya Gibran, ditengah-tengah obrolan mereka. Mendengar pertanyaan Gibran, dengan spontan obrolan mereka pun langsung terhenti. Dan dengan spontan juga Alisha, Marwan dan Syarah langsung menatap wajah Gibran.
"Kamu tega menyuruh nenek pulang di jam segini Nak? tanya Syarah, dengan tatapan sendunya.
"Tau nih Mas Yuda! Inikan sudah malam banget Mas! Nggak kasihan apa, Sama nenek? Lagian Nenekkan baru pulang dari luar negeri, pasti nenek sudah sangat lelah sekali! Jadi biarkan Nenek tidur di rumah kita ya? Lagian kan ada kamar tamu yang kosong Mas, jadi nggak papa ya Nenek nginep disini?" sambung Alisha tampak ia merasa kasihan pada sang Nenek.
"Ya sudah Kalau nenek memang mau nginep disini juga nggak papa kok," balas Gibran, yang akhirnya ia menerima nenek dengan keterpaksaan.
"Alhamdulillah, akhirnya nenek diterima juga di sini, terima kasih ya Lisha?" ucap Sarah tampak senang.
__ADS_1
"Sama-sama Nek! Lagian ini kan rumah cucu nenek. Jadi nenek bebas bila ingin menginap di sini, kapanpun itu," balas Alisha dengan lembut.
"Benarkah? Kalau begitu nenek mau menginap di sini selama satu minggu bolehkan?" tanya Syarah, dengan tatapan mata yang penuh dengan pengharapan.
"Eh! Nenek! Kok jadi..." protes Gibran. Namun dengan spontan Alisa langsung mencubit perutnya. Sehingga dengan spontan Ia pun ter na kesakitan.
"AW..AW..! Sayang! Sakit tau!" keluhnya sambil menatap wajah istrinya dengan tatapan herannya.
"Rasain! habis Mas sih! Masa sama nenek sendiri perhitungan banget sih jadi orang! Padahal waktu Nenek sakit Maskan sampai menang..." balas Alisha, Yang sepertinya ia bermaksud ingin mengingatkan Gibran pada masa-masa ketika neneknya sakit. Namun belum lagi Alisha menyelesaikan perkataannya mulutnya langsung ditutup oleh tangannya Gibran.
"Uhmm...! Mas! Apaan sih! Kok mulut Alisha di tutup!" protes Alisha, setelah ia berhasil menarik tangan Gibran yang menutupin mulutnya.
"Maaf Sayang! Ya sudah Mas antar Nenek kekamarnya dulu ya? Kamu antarlah Bapak, pasti Beliau juga sudah mengantuk, Iya kan pak? balas Gibran mengalihkan pembicaraannya.
"Eh, ya sudah kalau begitu Lisha antar Bapak dulu ya Nek," pamit Anisa dengan lembut.
"Pergilah Nak," balas Syarah, "Selamat beristirahat ya Pak," sambung Sarah yang kali ini ditujukan untuk ayahnya Alisha.
"Iya Bu, kalau begitu saya permisi, dulu ya?" balas Marwan Seraya Ia bangkit dari duduknya.
"Iya Pak silahkan."
Setelah mendapatkan jawaban dari Syarah. Alisha pun membawa Ayahnya menuju ke kamarnya. Dan tinggallah Gibran dan Syarah yang berada di ruang keluarga tersebut.
__ADS_1
"Huh! Jangan kira karena Nenek mendapatkan belaan dari lisha. Yuda bisa melupakan apa yang telah Nenek lakukan ya?" ujar Gibran, seraya menatap dingin pada Neneknya. Karena sepertinya ia sedang teringat ketika mereka berada di pulau.
"Hehehe.. maaf Nak! Tapikan gara-gara peristiwa itu kamukan jadi semakin dekat dengannya, iyakan? Dan nenek lihat juga tadi, kamu sepertinya sudah bucinkan sama Lisha?" balas Syarah Seraya iya menaik turunkan kedua alisnya sambil menatap wajah Gibran.
mendengar perkataan dari sang nenek Gibran menjadi salah tingkah. karena sebenarnya yang dikatakan neneknya adalah benar adanya.
"Eh! Apaan sih Nek! Aah.. sudahlah sebaiknya sekarang ayo Yuda antarkan nenek ke kamar tamu! Bukankah Nenek sudah amat lelah!" kata Gibran mengalihkan pembicaraan.
"Baiklah! Kebetulan nenek juga sudah sangat lelah sekali! jadi Ayoo antarkan nenek kekamar," pinta Syarah. Dan akhirnya Gibran pun mengantar sang nenek kekamar tamunya.
Setelah itu ia pun langsung kembali ke kamarnya. yang ternyata istrinya juga sudah berada di kamar mereka, "Eh Sayang! Kamu sudah kembali? Apakah Bapak sudah tidur sayang?" tanyanya sambil ia naik ke atas ranjangnya.
"Alhamdulillah sudah kok Mas. Oh iya gimana sama Nenek, Mas? Apakah dia sudah tidur juga?" tanya Alisha balik.
"Sepertinya sudah Sayang, Uhm.." balas Gibran, seraya ia menciumi leher istrinya yang terlihat begitu putih, membuat ia serasa ingin mencicipinya. Hal itu membuat Alisha, langsung mendesah. Membuat Gibran semakin ingin menelusuri bagian leher Alisha yang lainnya.
"Uhmm..aah Mas! Tunggu dulu Mas! Lisha lagi kepingin gado-gado Mbok Suminah nih!" kata Alisha Seraya ia mendorong wajah suaminya. mendengar keinginan istrinya Gibran langsung tersentak kaget.
"Eh, Apa! Kepingin gado-gado? Inikan sudah tengah malam Sayang!" balas Gibran, tampak terkejut.
"Iikh, Pokoknya Lisha maunya sekarang Mas!"
...•••••••••✰⁞ᮬ᭄ ཻུ۪۪۪۫ ֯͜ 💜✰⁞ᮬ᭄ ཻུ۪۪۪۫ ֯͜ •••••••••••...
__ADS_1
Jangan lupa dukung Author ya, dan jangan lupa juga tinggalkan jejaknya oke. Dan Author tunggu VOTE juga ya🙏😉 Syukron 🙏