
*•••••••✰⁞ᮬ᭄ ཻུ۪۪۪۫ ֯͜ 💜 Mutiara Hikmah 💜✰⁞ᮬ᭄ ཻུ۪۪۪۫ ֯͜ •••••••*
Tidak ada yang mampu menyelesaikan berbagai masalah kita kecuali dengan pertolongan Allah.
Tidak ada cara yang lebih baik mengundang pertolongan-Nya kecuali dengan kita menolong orang lain
Saat diri kita menolong karena Allah. Maka otomatis kita akan tertolong. Dan saat kita memberi pertolongan pada orang lain karena Allah, maka kita akan diberi pertolongan oleh Allah dalam bentuk yang terbaik.
Untuk itu jangan pernah enggan untuk menolong orang lain. Sebab, semua pertolongan yang kita berikan, pastinya akan kembali ke diri sendiri.
So, tolonglah diri kita dengan cara menolong orang lain, niscaya Allah akan menghadirkan pertolongan-Nya.
__sᴛᴏʀɪᴇs ᴏғ ᴛʜᴇ ᴅᴀʏ__
*•••••••••••••••••✰⁞ᮬ᭄ ཻུ۪۪۪۫ ֯͜ 💜✰⁞ᮬ᭄ ཻུ۪۪۪۫ ֯͜ ••••••••••••••••••*
"Alisha, menikahlah denganku!" ucap Gibran seraya ia menatap wajah Alisha dengan tatapan yang serius. Sambil ia memegang kedua tangannya Alisha.
Mendengar perkataan Gibran, Alisha sedikit terkejut tatkala mendengar permohonan Gibran, yang terlihat amat serius. Namun seketika ia pun teringat pada perkataan Gibran, ketika mereka berada di mobil. Sehingga ia berpikir, perkatannya yang sekarang adalah kelanjutan dari perkataannya ketika mereka berada dimobil.
"Maaf Tuan! Anda masih ingatkan, dengan perkataan saya dimobil? Jadi jawaban saya masih sama!" jawab Alisha, seraya ia menarik tangannya, dari genggaman tangannya Gibran. Lalu ia pun langsung bergegas pergi dari hadapannya Gibran.
Mendengar penolakan Alisha, Gibran sempat terkejut. Namun seketika ia juga ikut teringat, dengan perkataannya saat mereka berada di mobil. Dan hal itu membuat ia akhirnya paham akan penolakan dari Alisha. Melihat Alisha yang langsung pergi Gibran pun langsung bangkit dari duduknya. Dan ia pun langsung mengejarnya.
"Alisha Tunggu!" panggilnya, sambil berlari-lari kecil, agar ia dapat mensejajarkan tubuhnya pada Alisha. Setelah jarak mereka sudah semakin dekat Gibran pun langsung meraih tangannya Alisha.
"Alisha, dengarkan dulu perkataanku!" katanya lagi, menahan langkahnya, dan otomatis Alisha ikut tertahan, "Lisha, bagaimana kalau aku berniat ingin menikahimu dengan sungguh-sungguh? Maksud saya bukan nikah kontrak! Apakah kamu mau menerimaku Lisha?" tanyanya lagi, dengan tatapan yang terlihat penasaran dengan jawaban dari Alisha.
__ADS_1
Alisha tak langsung menjawab, ia hanya diam, dan hanya menatap mata Gibran, sepertinya ia sedang memastikan kesungguhannya Gibran. Melihat kediamannya Alisha, Gibran terlihat begitu gelisah. Apalagi saat ini pikiran sedang mengarah ke Neneknya juga. Hal itu, membuatnya semakin, resah. Ia takut kalau-kalau Alisha benar-benar menolak ajakannya untuk menikah dengannya.
"Lisha, please, ini demi Nenek! Aku.. aku tak ingin melihat Beliau pergi dari kehidupaku! Untuk itu, Aku Ingin memenuhi keinginannya, yang memintaku untuk menikahi kamu!" ujar Gibran dan ia sedikit menjeda sejanak perkataannya.
"Lisha, mungkin saat ini hatiku masih bingung! Tapi aku berjanji padamu, Aku akan bersungguh-sungguh menjadi suami kamu. Dan aku juga berjanji akan memenuhi segala keinginanmu! Apapun itu Lisha, sekalipun Kamu meminta nyawaku. Aku janji akan memberikannya. Untuk itu aku mohon menikahlah denganku hari ini juga Lisha," lanjutnya lagi, yang kini suaranya kembali terdengar bergetar lagi. Bahkan ia langsung bersimpuh didetik-detik kalimat terakhirnya saat ia mengajak Alisha menikah.
Melihat Gibran yang bersimpuh, di hadapannya dengan tatapan yang terlihat sedang memohon, membuat Alisha merasa tidak enak. Apa lagi saat itu, koridor rumah sakit, terlihat banyak orang yang sedang berlalu lalang. Membuat ia jadi merasa sedikit malu, karena menjadi pusat perhatian.
"Tuan jangan seperti ini! Malu dilihatin orang-orang Tuan! Bangunlah Tuan!" ujar Alisha sambil menarik tangan Gibran, agar ia mau berdiri.
"Saya tidak akan bangun dari sini ! Sebelum kamu mau menerimaku!" balas Gibran terdengar begitu tegas.
"Tapi Tuan, berikan saya waktu untuk berpikir! Karena pernikahan bukanlah hal yang main-main!" kata Alisha, masih berusaha menarik tangannya Gibran.
"Tidak ada waktu lagi Lisha! Karena nyawa Nenek tergantung hari ini! Sebab tadi Beliau sempat mengancamku, akan pergi menyusul Kakekku, kalau kita tidak menikah hari ini!" balas Gibran. Membuat mata Alisha membulat mendengarnya.
"Benar Lisha! Jadi please menikahlah denganku Lisha," balas Gibran, yang kali ini ia sambil mengatupkan kedua tangannya. Seraya ia menatap Alisha dengan tatapan penuh pengharapan. Membuat Alisha, semakin bingung. Hingga akhirnya terdengar suara celetukan dari beberapa orang yang ternyata ikut menyaksikan Gibran yang sedang berlutut sambil memohon pada Alisha.
"Terima dong Mbak! Kan kasian tuh Emasnya sudah dari tadi berlututnya jugaan!" celetuk, seorang ibu yang sepertinya ia salah satu pengunjung rumah sakit tersebut.
"Iya Mbak! Terima sajalah! Orang Emasnya tampan begitu pun! Sayangkan kalau ditolak!" celetuk seorang wanita muda juga, yang terlihat ia sedang berdiri sejajar dengan ibu tadi.
"Benar tuh, Mbak, terima saja! Susah loh mendapatkan calon suami seperti itu. Sudah tampan, tapi mau berlutut dihadapan orang banyak. Orang yang seperti itu biasa sangat bertanggung jawab loh Mbak," ujar seorang Suster yang terlihat sedang mendorong seorang Ibu yang sedang duduk di kursi rodanya.
"Benar yang dikatakan suster ini Nak. Jadi terima saja Emas kamu itu, In shaa Allah, kebahagiaan, akan menghampiri kalian berdua Nak," sambung Ibu yang sedang duduk di kursi roda tersebut.
Mendengar perkataan-perkataan dari orang-orang yang menyaksikan Gibran yang masih berlutut dihadapannya. Membuat Alisha tak bisa mengelaknya lagi. Karena semakin lama Gibran berlutut otomatis, semua orang yang berada disana akan menyalahkan dirinya. Jadi mau tak mau akhirnya ia pun menganggukkan kepalanya, seraya berkata.
__ADS_1
"Baiklah Saya bersedia menikah dengan Anda! Sekarang bangunlah dari sana Tuan!" ujar Alisha terdengar lirih. Mendengar perkataan Alisha, dengan spontan Gibran langsung berdiri dan langsung memeluk tubuh Alisha.
"Terima kasih Alisha! Terima kasih!" ucap Gibran, terlihat ia bernafas lega. Dan seketika semua orang yang menyaksikan mereka langsung bertepuk tangan dengan meriah. Tampak sekali kalau mereka juga ikut merasa bahagia saat melihat keduanya yang sedang berpelukan. Karena merasa malu di tonton orang-orang yang berada di sana, Alisha pun mendorong tubuh Gibran.
"Lepaskan Tuan! Jangan begini malu dilihat orang! Dan kita juga belum muhrim, jadi tidak boleh begini!" ujar Alisha, dengan suara pelan pada Gibran.
"Aah.. Maafkan saya! Karena senang mendengar jawaban kamu, saya sampai lupa," balas Gibran. Sambil menyengir malu. Dan saat bersamaan..
"Selamat ya Mbak, semoga kalian berdua bahagia," ucap Suster tadi, yang terlihat ia juga ikutan senang.
"Selamat ya Nak, semoga kebahagiaan segera menghampiri kalian berdua," sambung Ibu yang sedang duduk di kursi roda tadi juga. Seraya ia tersenyum lembut pada Alisha.
"Aamiin.. terima kasih Suster, terima kasih Bu," ucap Alisha, seraya ia mengatupkan kedua tangannya.
"Terima kasih Bu, terimakasih semuanya, kalau begitu kami permisi! Ayo Lisha kita langsung ke KUA!" sambung Gibran, seraya ia langsung menggandeng tangan Alisha. Membuat Alisha terlihat terkejut.
"Apa! Ke KUA?!"
...••••••••••✰⁞ᮬ᭄ ཻུ۪۪۪۫ ֯͜ 💜✰⁞ᮬ᭄ ཻུ۪۪۪۫ ֯͜ ••••••••••...
Jangan lupa dukung author terus ya guys 🙏🥰
Oh iyaa, selagi menunggu Author update yuk mampir ke karyanya Author ♥️ Riski Iki ♥️. In shaa Allah ceritanya keren loh, Lihat aja dari Covernya pasti pada penasaran deh 👇
Yuk akh kepoin, dan jangan lupa berikan dukungannya juga ya guys. Dan sampaikan juga salam Ramanda pada Author Riski, oke 😉 Syukron 🙏🥰
__ADS_1