JAMUR. Janda Muda Dibawah Umur

JAMUR. Janda Muda Dibawah Umur
SIKAP AROGANYA GIBRAN.


__ADS_3

*•••••••✰⁞ᮬ᭄ ཻུ۪۪۪۫ ֯͜ 💜 Mutiara Hikmah 💜✰⁞ᮬ᭄ ཻུ۪۪۪۫ ֯͜ •••••••*


Dear Readers ♥️. Kita boleh berhitung soal apa saja, tapi tidak soal taqdir. Karena rizkimu tidak akan dimakan orang lain. Jodohmu pun tidak akan tertukar. Dan di akhirat kelak, engkau hanya akan ditanya tantang amalmu, bukan tentang apa yang diamalkan orang lain.


So tersenyumlah..


Walaupun semua tak seindah yang kau lukiskan. Jika hari ini engkau tak bisa menjadi seperti yang kau inginkan, maka yakinilah…, bahwa engkau hanya berpindah dari satu takdir ke takdir yang lain. 


Jalanilah hari ini dengan amal-amal terbaik. Tak perlu cemas untuk esok yang belum tentu kau lalui. Cukup tuliskan saja semua rencana esokmu itu dengan azam (tekad/kemauan) yang kuat.


Namun ingat. Di ujung semua goresan rencana itu, ada pena yang telah di angkat dan lembaran-lembaran taqdir yang telah mengering.


__sᴛᴏʀɪᴇs ᴏғ ᴛʜᴇ ᴅᴀʏ__


*•••••••••••••••••✰⁞ᮬ᭄ ཻུ۪۪۪۫ ֯͜ 💜✰⁞ᮬ᭄ ཻུ۪۪۪۫ ֯͜ ••••••••••••••••••*


Satu minggu kemudian.


Disebuah gedung berlantaikan Delapan, terlihat seorang Pria tampan sedang berdiri didepan jendela kaca didalam ruangannya. Dan bila dilihat dari tatapan, sepertinya ia sedang memandang kebawah. Lebih tepatnya ia sedang memandang sebuah warung, yang biasanya diramaikan oleh para pelanggan. Kini warung tersebut terlihat begitu sepi dan lengang. Di saat bersamaan terdengar suara ketukan pintu dari luar.ruangannya.


"Masuk!" teriak pria itu. dan tak berapa lama pintu pun terbuka dan masuklah seorang pria tampan berjas hitam, lalu ia pun langsung berdiri tak berapa jauh dari tempat Bosnya berdiri.

__ADS_1


"Permisi Pak Gibran! Apakah anda memanggil saya?" tanya Pria itu.


"Benar Ray! Saya mau bertanya, apakah warung itu sekarang sudah kosong?" tanya Pria yang dipanggil Gibran tersebut. Tanpa menoleh sedikitpun kearah Ray. karena matany terlihat masih fokus pada pemandangan dibawah gedung.


"Benar sekali Pak! Sekarang warung itu sudah kosong! Karena Mbok Suminah, sudah pindah diruko yang berada didepan taman kota Pak. Tak berapa jauh juga sini dari sini," balas Ray apa adanya.


Mendengar perkataan Ray, Gibran tampak terkejut ketika mendengar kata Ruko didepan taman kota, "Apa kamu bilang? Ruko taman kota?" tanya Gibran yang sepertinya ia tak percaya pada pendengarannya.


"Benar Pak! Mereka sekarang berjualan di Ruko taman kota!" balas Rai lagi mengulangi perkataannya. Dan sekali lagi Gibran tampak masih terkejut.


"Hah..?! Bukankah ruko-ruko didepan taman kota itu milik Nenekkan? Tapi kenapa bisa mereka pindah kesana?" tanya Gibran merasa heran.


"Karena memang Bu Presdir Syarah, sendiri yang memberikan Ruko tersebut pada Mbok Suminah Pak!" balas Ray lagi. Dan lagi-lagi, Gibran tampak terkejut mendengar perkataan Ray.


"Saya juga tidak tahu Pak! Saya hanya mendengar selentingan saja dari beberapa karyawan Pak," balas Ray, yang tampaknya ia mengatakan apa adanya.


"Huh! Kalau begitu ayo kita kembali ke Mansion untuk menemui Nenek!" kata Gibran. Seraya ia melangkah menuju ke kursi kebesarannya, lalu ia pun langsung menyambar jasnya yang tersampir disandaran kursinya itu. Setelah itu dengan langkah cepat ia pun beranjak dari ruangannya, diikuti oleh Ray yang berjalan dibelakangnya.


Setelah mereka keluar dari lift, Gibran dan Ray, langsung melangkah cepat menuju ke perparkiran khusus para petinggi perusahaan yang berada di bawah gedung. Sesampainya di mobil tanpa menunggu Ray membukakan pintu untuknya, ia langsung membuka sendiri dan langsung masuk ke dalam mobilnya.


"Cepat Ray, jalankan mobilnya!" kata Gibran, yang tampaknya ia tak sabar lagi ingin bertemu dengan Neneknya itu.

__ADS_1


"Baik Pak!" Ray, langsung menyalakan mesin mobilnya. Dan tak berapa lama ia pun langsung melajukan mobilnya dengan kecepatan sedang. Setelah mobil mereka memasuki jalur jalan raya, Ray pun menambahkan kecepatan laju mobilnya yang kini lebih cepat lagi. Dan kebetulan jalur mereka yang hendak ke Mansionnya Syarah melewati taman kota. Sehingga terlihatlah oleh Gibran keramaian didepan Ruko yang kini dimiliki Suminah. Dan ia langsung kesal melihat hal tersebut.


"Cih! Makin ramai saja pelanggan mereka! Bikin macet jalanan saja!" gerutu Gibran, terlihat amat kesal, karena memang laju mobilnya jadi melambat, karena banyaknya mobil yang tak memadai didepan ruko, membuat banyak mobil yang terparkir di pinggir jalan. Hal itu membuat jalanan menjadi sedikit macet.


"Yaa..itu, karena memang gado-gado Mbok Sumi sangat Enak Pak, jadi tak heran kalau pelanggan beliau bukan hanya dari kalangan bawah saja Pak. Lihatlah, dari kalangan atas pun sampai rela mengantri," ujar Ray, yang terlihat ia sempat melirik ke arah ruko tersebut.


"Aaaakh..! Masa bodo dengan mereka! Tidak usah perdulikan mereka! Sebaiknya cepat keluar dari jalur ini Ray!" balas Gibran, terdengar semakin kesal tatkala mendengar perkataan Ray.


"Baik Pak!" balas Ray singkat, lalu ia kembali fokus dengan mengemudinya. Setelah keluar dari jalur kemacetan Ray, kembali mempercepat laju mobilnya. Sehingga empat puluh menit kemudian, mobilnya pun memasuki gerbang Mansion miliknya Syarah. Setelah mobil terparkir, Gibran langsung bergegas turun, dan langsung melangkahkan kakinya menuju pintu masuk Mansion.


"Nenek...! Nenek..! Nek?!" teriak Gibran, memanggil-manggil Syarah, sang Neneknya.


"Ada apa Yuda? Kok berteriak-teriak begitu sih? Nenek disini diruang makan! Kemarilah Nak!" balas Syarah, dengan suara yang terdengar sedikit keras karena saat ini ia sedang berada ruang makan. Mendengar hal itu Gibran langsung bergegas menuju ke ruang makan. Dan benar saja, ternyata Syarah memang ada disana, terlihat ia sedang menikmati makanannya.


"Nek! Apakah benar Nenek yang sudah memberikan Ruko yang didepan taman kota itu pada si tukang gado-gado itu?" kata Gibran, dengan nada suara yang terdengar kesal.


"Ay..? Datang-datang kok, marah-marah begitu sih Nak? Emangnya kamu tidak lihat, kalau Nenek tua ini sedang makan hm? Emangnya kamu mau melihat Nenek tersedak, lalu langsung menyusul Kakek kamu, tanpa harus melihat anak kamu Nak?" balas Syarah, yang tampaknya ia begitu heran melihat sikap Aroganya Gibran, yang semakin menjadi.


...•••••••••✰⁞ᮬ᭄ ཻུ۪۪۪۫ ֯͜ 💜✰⁞ᮬ᭄ ཻུ۪۪۪۫ ֯͜ ••••••••••...


Jangan lupa tinggalkan jejaknya ya guys 😉🙏

__ADS_1


Serta jangan lupa berikan 👉" ⭐⭐⭐⭐⭐ " serta ulasan Oke 😉 Dan tak lupa juga Vote serta Hadiahnya ya 🤭 biar memicu Author update kembali oke guys 😉 Syukron 🥰.


__ADS_2