
"Vio, kamu cemburu sama mereka?" pertanyaan Lisa menyadarkan Violet dari gemuruh di dadanya.
"Tidak. Kenapa cemburu? Harusnya aku yang bertanya apa kakak cemburu?"
"Loh kok aku? Tapi itu kenapa mata kamu berkaca-kaca begitu. Nafas kamu juga sampai seperti itu."
Violet menggosok matanya dengan tangannya.
"Ini karena efek layar ponsel. Aku menatapnya terlalu fokus dan dengan jarak dekat." Violet mengelak.
"Oh.. Ya sudah aku mau kembali kekamarku ya."
"Kak, bagaimana jika kontrakku dengan Neptunecorps aku batalkan saja. Toh belum aku tanda tangani."
"Menurutku sih sebaiknya jangan. Kita harus profesional. Lagian Kay sudah menjelaskan semuanya jadi kamu aman tidak akan dikejar2 wartawan lagi."
"Tapi kak aku tidak ingin ada urusan apapun lagi dengan dia."
"Justru jika kamu menolak orang-orang akan menganggapmu tidak profesional. Ingat kamu kerja sama dengan perusahaannya bukan dengan personal CEOnya."
Violet menganggukkan kepalanya.
_ _ _ * * * _ _ _
1 Bulan Kemudian.
Setelah Violet menandatangani kontrak kerjanya dengan Neptunecorps dia sibuk menjadi brand ambasador produk mereka. Keliling kebeberapa kota dan daerah untuk mempromosikan, syuting iklan, dan berbagai kesibukan lainnya dia jalani.
Disebalik semua kesibukannya itu ada satu hal yang selalu menganggu pikirannya.
Sejak kejadian malam itu Violet tidak pernah lagi bertemu dengan Kay bahkan Mark juga seperti ikut menghilang atau sengaja menghindarinya. Terakhir kali Violet mengetahui Kay adalah saat dia melihat siarang langsung pers konferens.
Disatu sisi harusnya Violet merasa senang dan terbebas dari Kay, tapi ada sisi lain yang mempertanyakan kesibukan Kay. Bahkan saat dirinya kekantor pusat dia juga tidak pernah bertemu ataupun sekedar melihat Kay. Ketika Violet mencoba browshing artikel terbaru tentang Kay juga tidak mendapatkan berita apapun mengenai kesibukan atau keberadaan Kay selama 1 bulan ini.
Diujung rasa penasaran Violet nekat datang sendiri kekantor Neptunecorps.
"Selamat siang." Violet menyapa Sindy yang kebetulan ada dimeja resepsionis.
"Selamat siang." Jawab Sindy membalikkan badannya.
"Oh nona Violet. Apa kabar?"
"Baik. Panggil aku Violet saja."
"Baiklah Violet. Kamu kesini ada apa?"
"Sekretaris Sindy aku mau bicara denganmu sebentar. Bisa?"
__ADS_1
"Bisa. Ayo." Sindy mengajak Violet keruangannya.
"Ada keperluan apa denganku?" tanya Sindy to the point begitu dia duduk dimeja kerjanya.
"Aku ingin bertemu dengan bosmu."
"Maksudmu Mr. Kay?"
Violet menganggukkan kepalanya.
Sindy memundurkan tubuhnya dan bersandar di kursinya.
"Maaf Vi Mr. Kay tidak ada disini."
"Oh. Apa dia sedang keluar kantor?"
"Sudah 1 bulan Mr. Kay tidak pernah sekalipun kekantor. Berkas-berkas pentingpun sudah dia kuasakan pada sekretaris Mark. Tapi dia juga jarang sekali kekantor. Seingatku selama satu bulan ini sekretaris Mark hanya kekantor tiga hari itupun sudah dua minggu yang lalu."
"Apa dia sakit? Atau pergi keluar negeri? mengurus bisnisnya yang lain?" tanya Violet cemas dan penasaran.
"Mungkin seperti itu. Aku sama sekali tidak tau. Aku disini hanya sekretaris kedua Violet, jadi aku tidak tau sama sekali. Aku disini hanya punya tugas menangani masalah yang berhubungan dengan perusahaan saja."
"Sekretaris Sindy jika suatu saat Kay datang kekantor tolong hubungi aku. Ini kartu namaku." Violet menyerahkan kartu namanya pada Sindy.
"Baiklah."
"Violet, jika kamu memang ingin memberikan pesan pada Mr. Kay atau sekretaris Mark kamu bisa menulisnya dan titipkan padaku."
"Tidak perlu. Aku ingin memberikannya langsung. Terima kasih." Violet kemudian keluar dari tempat tersebut.
Violet tidak bisa berkonsentrasi mengendarai mobilnya. Pikirannya terus dipenuhi dengan rasa bersalah dan rasa penasarannya pada Kay. Jauh lebih besar alasannya daripada itu adalah rasa rindu yang tidak dia sadari. Violet masuki parkiran restoran dimana pertama kali dia dan Kay bertemu.
Ketika sampai didalam restoran, kemudian disambut oleh pelayan tempat tersebut.
"Aku mau meja VVIP di lantai 3."
"Maaf nona. Tempat tersebut sudah diboking pelanggan lain untuk hari ini."
"Apa?"
"Benar nona itu yang memesan tempat VVIP." ucap pelayan tersebut sambil menunjuk seorang wanita cantik memakai gaun hitam yang sangat anggun.
"Aku seperti pernah melihat dia..." ucap Violet sambil mengingat wanita itu.
Kemudian Violet ingat,
"Bukankah itu Virgia yang waktu itu mengaku calon istri Kay." batinnya.
__ADS_1
"Memangnya dia menyewa tempat itu untuk acara apa?"
"Maaf nona saya tidak tau."
"Apa dia datang dengan seorang laki-laki yang tinggi dan rambutnya lebat, dan tampan?"
"Benar nona. Tapi laki-laki itu sudah pergi dari tadi kemudian 2 orang temannya itu datang. sesaat sebelum nona datang."
"Jadi laki-laki itu belum lama perginya dari sini?"
"Benar. Kira-kira 5 atau 10 menit yang lalu."
"Kay..! Mungkinkah dia? Terima kasih." ucap Violet kemudian berlari keparkiran mobil.
Violet lari berputar-putar mencari Kay tapi nihil.
"Parkiran seluas ini bagaimana aku bisa tau dimana dia berada. Kay kamu dimana?"
Violet kemudian ingat pada Gia yang masih didalam restoran.
"Apa aku harus menemuinya dan bertanya dimana Kay berada?
Huuh bodoh!! Itu sama saja dengan mempermalukan diri sendiri.
Tapi jika tidak bagaimana aku mau menemuinya?
Bodohnya aku!!
Aku kenapa jadi seperti ini?
Kenapa sekarang aku begitu ingin bertemu dia?
Memalukam...!!
Violet. Come On...!! Kembalilah pada Violet yang dulu.
Dia juga bukan siapa-siapamu. Dia hanyalah musang, singa liar, dan laki-laki brengsek yang sudah berulang kali berbuat kurang ajar padamu."
"Aaagggrrrhhh..." Violet menarik rambut kepalanya. Kepalanya begitu sakit dengan prasangka dan pikirannya sendiri.
"Baiklah Kay aku pasti bisa menamukanmu dan mengembalikan barang ini padamu. Aku yakin aku ingin bertemu denganmu hanya karena aku masih menyimpan barang ini. Jika ini sudah ku kembalikan padamu pasti aku akan terbebas dari semua ini." ucapnya menguatkan dirinya sendiri.
"Jika tadi dia datang dengan Kay maka nanti Kay juga pasti akan datang ketempat ini. Aku harus menunggu di area depan restoran ini." Violet kemudian memindahkan mobilnya berparkir tepat terdepan yang bisa melihat bagian Lobby restoran tersebut.
Virgia Xue
__ADS_1