Jodoh Kaisar Neptunus

Jodoh Kaisar Neptunus
Perjuangan Cinta VII


__ADS_3

FLASH BACK ON


Ling dan Violet kembali istana setelah cukup puas berjalan-jalan.


"Nona istirahatlah dulu. Aku akan menyiapkan air untuk membersihkan dirimu."


"Terima kasih Ling."


"Sudah tugasku nona." Ling kemudian pergi meninggalkan Violet didalam kamarnya.


"Aku tiba-tiba lapar sekali." batin Violet.


Violet kemudian melangkahkan kakinya pergi kearah dapur untuk mencari Ling-ling.


Namun tiba-tiba telinganya menangkap suara obrolan para pelayan Istana yang menyebutkan mamanya.


"Mungkin setiap wanita di Bumi secantik Putri Violet. Aku iri dengan kecantikannya."


"Aku melihat Putri Xie juga sangat cantik dan anggun. Dia sangat beruntung akan menjadi Permaisuri diistana ini."


"Benar. Aku dengar Putri Xie selain cantik dia sangat cerdas dan ia bisa membantu ayahnya mengurus wilayah Xierus."


"Tapi bukankah Kaisar juga sangat dekat dengan Putri Violet yang berasal dari Bumi? Bahkan Kaisar memberikan tempat Putri Violet di Istana dalamnya."


"Benar. Jika Kaisar menjadikannya ratu mungkin dia akan membuat plenet ini menjadi jauh lebih indah. Sebagaimana dulu Dewi Amor membangun planet ini."


"Jika Kaisar menjadikan Putri Violet sebagai.permaisuri aku yakin kita akan menjadi lebih hebat dan kuat."


"Tapi aku dengar Kaisar sudah dua hari ini mengabaikan Putri Violet. Kaisar tidak mendatangi kamarnya sama sekali. Bahkan Kaisar lebih sering berada dikamar dekat dengan gudang bukunya. Dirinya tampak selalu bersama dengan Putri Xie."


"Lalu kira-kira siapa yang akan menjadi ibu bagi seluruh rakyat Neptunus?"


"Aku lebih setuju dengan Putri Violet."


"Aku lebih setuju dengan Putri Xie."

__ADS_1


Mendengar pembicaraan mereka tiba-tiba jantung Violet berdetak sangat cepat. Dadanya terasa begitu nyeri. Kakinya lemas seakan tidak lagi mampu menopang tubuhnya.


Diantara derai air matanya Violet berusaha menguatkan dirinya untuk kembali kekamarnya. Meskipun berjalan dengan sempoyongan akhirnya Violet sampai juga dikamarnya.


Violet membekap mulutnya dengan kedua tangan. Menangis sepuasnya atas rasa sakit dan kecewa.


"Jika akhirnya akan ada gadis lain. Mestinya tidak kau buat aku berharap setinggi ini."


"Aku memang yang bersalah dari awal. Aku yang mengabaikanmu, aku yang mengusirmu pergi dari hidupku. Tapi ketika aku sadar dan ingin berjuang justru aku harus kembali terhempas sampai kedasar seperti ini."


"Pantas saja kemarin kamu datang langsung marah tanpa ku tau kesalahanku. Jadi alasanmu marah dan mengabaikanku karena ada gadis lain yang akan kau nikahi"


"Bukankah sudah kukatakan jika kau bosan lebih baik memberitahuku maka aku agar kita bisa berpisah dengan baik. Tapi belum genap satu hari aku mengatakannya kamu sudah menghianatiku." batin Violet bergejolak semakin menyiksa dirinya.


"Kuat Violet!! Aku adalah gadis hebat!!! Aku tidak boleh lemah!!! Aku harus menuntaskan apa yang telah aku mulai." Violet berbisik menguatkan dirinya sendiri sambil mengusap kasar air matanya.


"Nona, air sudah saya siapkan." suara Ling memanggil Violet membuatnya segera membereskan dirinya agar terlihat baik-baik saja.


"Baiklah. Ayo temani aku."


"Maaf nona, kenapa menangis?"


"Tidak apa-apa Ling. Aku hanya merindukan orang tua dan kakakku."


"Nona, bersabarlah. Aku yakin nona akan segera bertemu mereka."


"Benar. Terima kasih Ling untuk semua kebaikanmu selama aku disini." ucap Violet tulus.


"Nona aku yang berterima kasih. Aku senang bisa melayanimu."


"Ling, ambillah ini dan simpanlah. Ini kenang-kenangan dariku. Jika suatu saat aku kembali ke bumi dan kita tidak bertemu lagi lihat dan kenang aku dengan benda ini." Violet menyerahkan sebuah kalung dengan manik-manik indah pada Ling yang sudah ia siapkan sebelum Ling datang.


"Nona ini indah sekali. Aku hanyalah seorang pelayan, tidak pantas menerimanya."


"Ling aku memberikan ini kepadamu sebagai sahabatku. Bukan sebagai pelayanku. Tolong terimalah."

__ADS_1


Meskipun ragu Ling menerima pemberian Violet dengan tangan gemetar.


Violet tersenyum menatap Ling yang tampak haru diwajahnya sampai air matanya ikut mengalir.


"Ling aku akan selalu mengingatmu." Violet memeluk erat Ling.


Ling-ling kehabisan kata-kata untuk membalas kebaikan yang baru ia terima. Seumur hidupnya baru Violet yang memperlakukannya dengan sebaik itu.


"Sekarang ayo temani aku mandi. Tubuhku sangat lengket."


Ling menganggukkan kepalanya mengikuti ajakan Violet.


Setelah mandi Ling menyisir dan merapikan rambut Violet.


"Nona, anda sejak tadi kembali murung. Apa nona ingin cerita?"


"Tidak Ling. Aku merasa kurang enak badan. Setelah ini buatkan aku bubur."


"Baik nona akan kubuatkan sekarang."


Ling kemudian meninggalkan Violet seorang diri.


Violet membuka laci meja riasnya. Tampak kotak perhiasan pemberian Kay dulu. Violet membukanya, ingatannya kembali melayang pada pertemuan pertama mereka.


Claakk.. Violet menutup kotak perhiasan itu dan kembali menyimpannya.


"Nona buburnya sudah siap." tampak Ling membawa nampan.


Violet menganggukkan kepalanya, kemudian bangkit dari kursinya.


Tiba-tiba kepalanya begitu pusing, perutnya mual dan keringat dinginnya keluar.


Keseimbangannya mulai hilang dan akhirnya ia tidak mampu lagi melihat, mendengar, ataupun merasakan apa-apa lagi. Terakhir yang mampu ia dengar hanyalah teriakan Ling memanggil namanya.


FLASH BACK OFF

__ADS_1


__ADS_2