Jodoh Kaisar Neptunus

Jodoh Kaisar Neptunus
PERNIKAHAN 4


__ADS_3

Disaat matanya masih enggan terbuka tenggorokan Violet merasa sangat kering karena haus. Violet mencoba mengabaikan rasa hausnya dan melanjutkan tidur tapi justru membuat Violet terbatuk. Dengan mata terpejam, tangan Violet berusaha menggapai nakas namun tidak ia temukan air minum diatasnya, membuat Violet mau tidak mau turun dari ranjang dan menuju meja dimana Ling biasa meletakkan minuman. Sementara itu Kaisar yang mendengar suara wanita batuk dari atas ranjangnya yang tertutup tirai merasa terkejut dan terus mengamati dari tempat ia duduk.


Begitu tirai tipis itu tersingkap Kaisar seakan tidak percaya dengan apa yang dilihat oleh matanya. Tampak Violet dengan mata masih terpejam berjalan sempoyongan kearahnya.


Bahkan begitu sampai dihadapannya Violet langsung menenggak habis teh yang sempat ia tuangkan kedalam gelas keramik yang berada tepat dihadapannya.


Begitu puas membasahi tenggorokannya Violet kembali berputar untuk tidur namun langkahnya terhenti ketika mendengar suara Kaisar.


"Berhenti?" titah Kaisar sembari membuang pandangannya lurus kedepan berusaha bersikap tegas dan acuh.


Violet terpaku, seketika matanya terbuka sempurna, jantungnya seakan keluar dari dalam dadanya. Telinganya bisa dengan jelas mengenali pemilik suara itu. Perlahan Violet membalikkan badannya dan terdiam sempurna dengan rasa tidak percaya bahwa dirinya melihat Kay tengah duduk dengan penuh kharisma ditempat yang baru saja dilaluinya.


"Lancang! Kau memasuki istana dalamku tanpa ijin!" suara Kaisar terdengar begitu keras di telinga Violet.


Seketika Violet melihat sekeliling kamar tersebut dan baru menyadari jika kamar ini adalah kamar milik Kaisar.


"Maaf. Aku salah masuk kamar."


Kaisar melirik Violet sekilas, lalu kembali memalingkan wajahnya.


"Salah masuk kamar? Bagaimana bisa? Kamar untuk tamu berada jauh dari sini!"


Violet terbungkam, jantung Violet semakin berpacu, Masih belum move on dari kenangannya bersama Kaisar dulu membuatnya merasa masih menempati kamar ini adalah kebodohan yang telah ia lakukan sampai masuk dan tertidur dikamar Kaisar. Namun mustahil Violet mengatakan yang sebenarnya pada Kaisar. Dirinya masih punya cukup muka dan rasa gengsi tinggi di hatinya.


Sementara didalam hati Kaisar justru sebaliknya. Ada rasa senang mendapati Violet kembali ke dalam kamar tempat dirinya dan Violet dulu bersama dengan kesadarannya sendiri. Dengan begitu membuktikan bahwa Violet pun sampai saat ini sebenarnya belum melupakan dirinya sama sekali.


"A-aku terlalu lelah sampai tidak sadar masuk kesini. Maafkan atas kelancanganku." suara Violet gugup sembari menundukkan wajahnya, meremas jari jemarinya.


"Bagaimana bisa mendatangi kamar Kaisar dengan tanpa sadar padahal didepan melewati banyak prajurit penjaga." desak Kaisar menuntut pengakuan jujur dari Violet.


Violet hanya bisa terdiam mengingat bagaimana tadi dirinya membentak Prajurit penjaga yang menghadangnya. Sekarang Violet senakin menyadari kesalahan dan kecerobohannya.


Kaisar berdiri dan berjalan menghampiri Violet membuat aliran darahnya serasa berhenti dan membeku.


"Aku akan meminta pertanggung jawaban pada dirimu, keluargamu, dan perajurit penjaga istana dalam ku atas kelancanganmu memasuki tempat pribadi ku didalam sidang istana nanti."


"Sidang Istana? Jangan! Kumohon! Hukum aku saja, aku yang bersalah jangan libatkan orang lain. Saat ini adalah hari bahagia kakakku jangan nodai kebahagiaannya dengan kebodohanku." Violet berlutut memohon.


"Itu bukan urusanku. Urusanku adalah menghukum semua orang yang turut andil dalam perbuatanmu ini."


"Ku mohon jangan. Hukum aku saja. Kamu boleh menghukum ku apa saja." Violet mulai menitikkan air matanya.


"Kamu! Berani kau menyebut diriku dengan kata KAMU!"


"Maaf maksudku bukan seperti itu." lutut Violet ikut gemetar dibuatnya.


"Lalu bagaimana maksudmu? Aku adalah Kaisar Neptunus, dan kamu hanyalah tamu yang dibawa Pangeran Mark. Semestinya kamu mengetahui posisimu!" Kaisar menaikkan nada suaranya membuat tubuh Violet semakin sempurna gemetar.

__ADS_1


Hati Violet pun terasa semakin nyeri mendapati sikap Kaisar yang berubah 180° kepada dirinya, menjadi sosok yang berbeda dan seakan tidak pernah mengenalnya apalagi mencintainya.


"Apa harus dengan memarahiku seperti ini atas kesalahanku ini. Apakah tlah habis cintanya yang dulu untukku?" batin Violet sebelum akhirnya pingsan didalam dekapan Kaisar.


Kaisar dengan sigap menangkap tubuh Violet yang tiba-tiba limbung kedalam pelukannya.


"Violet, Vi... Bangun! Buka matamu!" Kaisar mencoba menyadarkan Violet namun percuma Violet tidak membuka matanya.


Kaisar menggendong Violet dan menidurkannya diatas ranjang besarnya. Kemudian memanggil pelayan. Kebetulan Ling yang berada didekat kamar Kaisar mendengar panggilan dari dalam kamar Ling segera masuk dan mendapati Violet sudah berbaring.


"Yang Mulia." Ling membungkukkan badannya.


"Ling, Violet pingsan cepat panggilkan dokter Virgia kemari. Dan rahasiakan ini dari siapapun. Cepat pergi!" titah Kaisar dengan panik.


Kaisar begitu panik melihat Violet lagi-lagi terkulai lemas diatas ranjangnya. Bayangan dulu saat Violet nyaris kehilangan nyawanya diatas ranjangnya membuatnya ketakutan.


"Violet bangun, maafkan aku. Buka matamu! Aku berjanji tidak akan menghukummu Vi. Kau bahkan boleh menghukumku. Jangan membuatku takut." ucap kaisar menggenggam erat tangan Violet sembari menciumi punggung tangannya.


Beberapa saat kemudian Virgia dan Ling datang dengan nafas tersegal.


"Apa yang terjadi?" tanya Gia langsung mendekat pada Violet.


"Dia tiba-tiba berada didalam kamarku dan tertidur lalu dia kuajak bicara langsung pingsan. Cepat periksa!" perintah Kaisar sambil berdiri dan membiarkan Virgia memeriksa Violet dengan leluasa.


"Bagamana?"


Kaisar mengangukkan kepalanya mengerti.


"Ling siapkan makanan sehat untuknya dan segera bawa kemari supaya nanti saat dia siuman segera dia makan!"


"Hamba laksanakan titah baginda." Ling kemudian berjalan mundur dan meninggalkan ruangan itu.


"Bagaimana dia berada disini? Apa,-?" Virgia tidak berani melanjutkan ucapannya hanya lirikan matanya pada Kay yang menjadi isyarat maksudnya.


"Tidak! Bukan aku yang memintanya. Aku bahkan terkejut tiba-tiba dia muncul dari atas ranjangku dan berjalan sambil tertidur."


"Sepertinya ingatan dan ikatan batinnya dengan tempat ini sangat kuat. Kurasa setelah semua yang terjadi mustahil jika dia sengaja kesini dalam keadaan sadar."


Ucapan Virgia seperti angin segar bagi gersangnya hati Kaisar menahan rindu dalam beberapa bulan terpisah dengan Violet.


"Benarkah? Apakah itu semacam dia memiliki ingatan yang kuat dan keinginan besar untuk berada disini?"


"Entahlah aku belum bisa memastikan itu." jawan Virgia.


"Emmmhh..." suara Violet masih belum sadar sepenuhnya.


"Violet, kamu sudah sadar?" Virgia kembali memeriksa keadaan Violet yang masih berusaha menyesuaikan pandangan matanya dengan cahaya sekitar.

__ADS_1


"Awwwhh... pusing sekali." pekik Violet ketika dirinya memaksa untuk bangun.


"Jangan dipaksakan dulu untuk bangun." Virgia membantu kembali membaringkan Violet.


"Kak Virgia." Violet mengenali sosok yang tengah duduk didekatnya.


"Iya ini aku."


"Aku kenapa?" tanya Violet mulai takut akan trauma dimasa lalunya.


"Tenang dulu. Kamu nggak apa-apa. Hanya kecapekan dan butuh istirahat. Berbaringlah sampai kamu benar-benar pulih." pesan Virgia sambil mengenggam jemari Violet.


Violet melirik Kaisar dengan perasaan takut.


"Kau tetap diam disini selama dua hari kedepan. Jangan keluar dari tempat ini tanpa seijinku." ucap Kaisar tanpa mengalihkan sedikitpun pandangannya pada Violet.


"Tapi bagaimana jika kakakku mencariku?" tanya Violet dengan suara serak dan pelan.


"Itu urusanku untuk memberitahunya. Sebentar lagi Ling akan datang membawa makanan. Cepat makan dan habiskan supaya kamu cepat membaik!" usai menyelesaikan ucapannya Kaisar langsung berlalu pergi meninggalkan tempat itu.


Violet tidak mampu membendung air matanya kembali karena sakit yang teramat didalam hatinya atas sikap acuh Kaisar. Virgia memahami perasaan Violet hanya bisa menggusap tangannya agar Violet lebih tenang.


"Apakah dia sudah menikah?" tanya Violet dengan suara Lirih.


"Belum." jawab Gia singkat.


Violet menganggukkan kepalanya, sambil mengusap air mata yang menghalangi pandangannya.


Ling masuk membawa nampan besar berisi makanan untuk Violet.


"Nona, makanlah supaya cepat pulih." ucap.Ling sembari menyiapkan semangkuk bubur.


"Ling, aku belum lapar."


"Violet, makanlah supaya kamu memiliki cukup energi dan pulih." ucap Virgia mengambil mangkuk bubur dari tangan Ling.


"Aku tidak ingin makan kak."


"Makanlah walau hanya sedikit. Aku memaksamu." Virgia menyuapkan sesendok bubur kepada Violet, yang akhirnya membuat Violet mau memakannya.


Setelah makan beberapa suap Violet menyudahi makannya.


"Kak Gia, kapan dia akan menikah?"


Virgia sangat paham arah pembicaraan Violet. Namun Virgia cukup tau diri untuk tidak ikut campur dalam masalah mereka. Dirinya tidak cukup memiliki kapasitas mencampuri urusan pribadi Kaisar.


"Violet, sebaiknya kamu tanyakan sendiri padanya. Aku memang dekat dengan Kaisar. Tapi diantara hubungan kami juga ada batasan-batasan yang tidak boleh ku langgar. Aku berharap kamu bisa mengerti."

__ADS_1


"Emm.. Maafkan aku." Violet menganggukkan kepalanya namun gurat kecewa terlihat jelas dari wajahnya.


__ADS_2