Jodoh Kaisar Neptunus

Jodoh Kaisar Neptunus
Perjuangan Cinta XII


__ADS_3

"Aku ingin pulang." Violet menepis tangan Kaisar.


"Tunggu aku menyelesaikan urusanku."


"Aku tidak mau perduli dengan urusanmu! Aku hanya ingin pulang."


"Tidak bisa. Kamu akan pulang hanya jika bersamaku!" jawab Kaisar dengan tegas.


"Apa maumu? Kau menumbuhkan harapan besar padaku. Lalu dengan mudah kamu hancurkan harapan itu juga dalam sesaat. Harusnya sebagai pria kamu menjaga harga dirimu untuk tidak membuat wanita sakit hati karena harapan palsumu!" sarkas Violet.


"Aku mau kamu! Kamu tau itu!"


"Cih! Lalu bagaimana dengan kemesraanmu bersama gadis itu? Aku wanita dan aku tidak sudi menyakiti wanita lainnya. Jika menang ada dia maka pilihlah dia. Tidak perlu menimbang antara aku atau dia. Aku sudah mengatakan padamu, jika kamu tidak lagi menyukaiku maka kamu harus jujur padaku.Jangan ada wanita lain, karena jika kamu melakukan itu maka kamu kehilangan diriku, dalam hidupmu tidak akan ada aku." Violet menatap nanar wajah Kaisar.


"Kamu tidak mengerti Violet!"


"Aku mengerti dan sangat mengerti bagaimana keadaannya sekarang. Aku bisa merelakan diriku dalam kebodohan karena kebohongan dan harapan palsumu. Tapi tidak akan ku ulangi kebodohanku ini."


"Violet percayalah padaku!"


"Sudahlah aku lelah. Sebaiknya kau urusi wanitamu itu. Aku mau tidur." Violet langsung membaringkan tubuhnya dan memejamkan matanya.


Kaisar meraih tangan Violet dan menggenggamnya erat.


"Violet dengarkan aku, percayalah padaku, saat ini aku sedang berjuang untuk-"


"Aku tau kamu adalah Kaisar yang menguasai semua yang ada disini. Aku tau sebagai Kaisar pasti akan ada sesuatu hal yang harus kamu lakukan demi tahta, rakyat, dan banyak alasan lainnya. Biarlah aku belajar menerima kenyataan ini, dan kamu teruskan hidup dan tanggung jawabmu."


Kaisar memilih diam. Percuma berbicara pada seorang wanita keras kepala yang sedang marah.


Kaisar menarik nafas panjang,


"Ya sudah. Tidurlah aku akan menunggumu disini."


Violet enggan menanggapi Kaisar. Biarlah dia lakukan apapun yang dia mau. Lagi pula dia yang berkuasa.


Lelah hati dan raganya membuat Violet dengan mudah terlelap dalam tidurnya.


Kaisar memperhatikan wajah Violet tanpa mengalihkan pandangannya.


"Maafkan aku Violet. Aku tidak tega melihatmu seperti ini. Andai saja kamu bisa mengerti bahwa hatiku sangat sakit melihat air matamu. Kamu boleh marah tapi jangan menyerah. Tidak ada cinta tanpa ujian, tanpa perjuangan, tanpa pengorbanan." bisik Kaisar dengan mata berkaca-kaca.

__ADS_1


Dibelainya wajah violet dengan lembut,


"Kamu tetap cantik saat terbangun, saat marah, dan terlebih saat tidur. Tapi kenapa saat tidur wajahmu terlihat murung? Sesakit itukah hatimu saat ini?" bisiknya lagi.



_ * * * _


Violet terbangun, saat membuka matanya melihat kaisar tidur disebelahnya dengan tangan diperut mengenggam tangannya.


Ada rasa senang sekaligus perih dihatinya.


Violet menyingkirkan tangan Kaisar dari atas perutnya kemudian perlahan bangun dan pergi.


"Ling..." seru Violet didekat pintu.


Ling kemudian masuk.


"Ling siapkan mandi dan makan untukku."


"Baik nona." Ling segera berlalu untuk mengerjakan perintah Violet.


_ * * * _


Dibantu dua orang pelayannya serta Ling.


"Nona, ini adalah sari bunga Melati. Nona harus mencobanya." ucap Ling sambil meneteskannya kedalam bak mandi Violet.



"Tapi aku bukan calon pengantin Ling."


"Tidak masalah nona, supaya tubuh nona tetap segar dan wangi. Aroma melati ini bisa menenangkan."


"Ling sudah kamu siapkan makan untukku?"


"Tentu saja. Setelah selesai mandi nona bisa langsung makan."


"Terima kasih Ling."


"Sudah tugas saya nona." jawab Ling sambil ikut membantu menggosok tangan Violet.

__ADS_1


_ * * * _


Violet kembali kedalam kamarnya untuk merapikan dirinya tapi diranjang sudah tidak tampak lagi Kaisar.


Violet menghela nafas, tidak bisa dipungkiri bahwa ada rasa kecewa disudut hatinya Kaisar tidak lagi didalam kamarnya.


"Pasti dia menemui wanitanya. Memang dia sama saja. Selalu memperlakukan wanita seenaknya mentang-mentang tampan dan punya kuasa." omel Violet menumpahkan kekecewaannya.


Violet dengan gerakan kesal duduk menghadap sebuah cermin kecil.


Memoles sedikit makeup diwajahnya. Setelah selesai kemudian kembali menyimpannya kembali kedalam kotak.


"Bagaimana memakai ini?" bisik Violet sambip memandang sebuah kain pita panjang.


"Ling kemana lama sekali." gerutunya.


"Ling, Ling-ling!" teriak Violet memanggil Ling.


Ling mendengar teriakan Violet kemudian membuka pintu kamar.


Beru saja selesai menutupnya Ling sudah dikagetkan Kaisar yang tiba-tiba dibelakangnya sambil memberi tanda untuk diam dengan menempelkan jari telunjuknya.


"Keluarlah!" bisik Kaisar sambil menggibaskan telapak tangannya.


"Ling! Lama sekali dia." gerutu Violet lagi sambil berusaha memakainya sendiri.



"Bagaimana sih cara memakai ini?" Violet berdiri dengan kesal karena mencoba berulang kali tapi selalu gagal memasang pita panjang dirambutnya.


Kemudian dari belakang seseorang membantu memasang tali tersebut dirambut Violet.


"Kamu kemana saja Ling? Lama sekali. Buat aku semakin kesal saja."


"Lihat pria mata keranjang itu sudah pergi, padahal saat aku mau mandi tadi dia masih tidur." omel Violet.


"Kamu tau Ling, dulu aku selalu menyebutnya singa liar atau musang karena sikapnya yang menyebalkan itu. Kupikir setelah disini jiwa musangnya itu hilang, ternyata sudah mengental menyatu dengan darahnya." lanjut Violet meskipun tidak mendapat respon dari lawan bicaranya.


"Aku rasanya ingin sekali menendang bokongnya dan melempar saus cabai kewajahnya." Violet mengatakannya dengan penuh emosional.


"Awww..." pekik Violet merasa rambutnya ditarik begitu kuat.

__ADS_1


__ADS_2