
"Salam untuk yang mulia Kaisar." Feng membungkukkan badannya penuh hormat.
"Pangeran Feng, seperti yang kamu lihat Putri Xie telah menyelesaikan ujian terakhirnya. Ujian ini penentu layak atau tidaknya Putri Xie menjadi permaisuri yang akan mendampingiku memimpin Neptunus. Disana sudah ada sebuah senjata hasil rakitannya. Seperti yang sudah kita semua ketahui senjata itu adalah ciptaanmu. Maka aku meminta kamulah yang menilai hasil rakitan Putri Xie. Karena tidak ada yang lebih mengerti senjata itu selain kamu."
"Hamba siap melaksanakan titah yang mulia." Feng kemudian berjalan maju beberapa langkah dan berhenti ketika tubuhnya telah sejajar dengan Putri Xie.
Feng kemudian memeriksa dengan teliti bagian demi bagian dari senjata itu. Setelah dirasa cukup Feng kembali meletakkan senjata itu ditempatnya.
"Yang Mulia Kasiar, hamba telah selesai memeriksa senjata tersebut. Dan dari hasil pemeriksaan hamba, ada satu bagian komponen yang belum terpasang. Yaitu pengendali jarak. Alat tersebut memang seperti sepele jika dilihat dari ukuran maupun bentuknya, namun itu merupakan bagian vital dari senjata ini."
Semua yang hadir tampak terkejut dengan jawaban Feng karena mereka semua melihat sendiri bahwa Putri Xie telah memasang semua komponen tersebut karena tidak ada satupun yang tersisa diatas kotak senjata itu.
Seorang pejabat Istana maju beberapa langkah,
"Ampun Yang Mulia, hamba memiliki saran. Bagaimana jika anda memerintahkan untuk diperiksa lagi mungkin ada komponen yang tertinggal sehingga Putri Xie tidak memasangnya. Karena jelas diatas sana tidak ada satupun bagian yang masih tersisa."
"Saran yang bijaksana Mentri. Baiklah. Prajurit buka dan periksa kembali kotak itu,mungkin ada bagian yang tertinggal didalamnya!" titah Kaisar.
"Tidak perlu Yang Mulia." suara Putri Xie terdengar jelas jika ia sedang berusaha mencegah untuk memeriksa ulang kotak senjata.
Semua orang kembali menatap fokus Putri Xie yang berada ditengah ruangan.
"Yang Mulia, bagian yang belum terpasang itu ada pada saya." Putri Xie kemudian membuka genggaman tangannya.
Semua terdiam meskipun sebenarnya terkejut. Dipikiran mereka hanya bisa menerka-nerka apa yang terjadi.
"Kenapa benda itu masih ada ditanganmu?"
"Yang Mulia, hamba mengakui jika hamba tidak mampu menyelesaikan ujian ini. Hamba telah lalai tidak memasang alat ini terlebih dahulu. Ketika hamba sadar waktu sudah hampir habis, tidak mungkin hamba membongkar kembali senjata itu dan merakitnya kembali. Karena jika itu hamba lakukan justru akan semakin besar ketidak mampuan hamba menyelesaikannya. Karena bukan hanya satu komponen yang tidak terpasang tetapi lebih banyak."
Semua yang hadir tampak kecewa dengan jawaban Putri Xie.
"Putri Xie, aku menghargai usaha dan kerja kerasmu selama ini. Kamu menyelesaikan setiap ujian yang kuberikan dengan baik. Tapi jika kamu gagal maka tetaplah gagal, terlebih yang lupa kau pasang itu adalah salah satu bagian Vital. Seorang Permaisuri harus fokus dan memiliki perhitungan yang matang, jika ia melupakam hal yang sangat penting bagaimana dia akan menjaga rakyat dan planet ini. Sesuai dengan janji yang telah ku buat dengan tetua wilayah Xierus jika kamu berhasil menyesaikan semuanya maka kamu dinyatakan layak menjadi permaisuri. Tetapi kali ini kamu telah gagal, maka perjodohan ini selesai." Kaisar menatap para tetua Xierus yang meskipun ada gurat kekecewaan diwajah mereka tapi menerima keputusan Kaisar dengan lapang hati.
"Namun aku tetap harus menghargai semua kerja kerasmu. Maka itu mintalah sesuatu sebagai hadiah dariku. Aku akan mengabulkannya. Katakan apa yang kamu inginkan?"
Putri Xie mengangkat kepalanya, meskipun hatinya ragu tapi tetap ia gunakan kesempatan yang Kaisar berikan.
"Yang Mulia Kaisar, hamba datang kedalam istana ini dengan membawa harapan ayah, yaitu Raja Xierus dan seluruh rakyat Xierus untuk berusaha mendapatkan kehormatan atas kesempatan yang baginda berikan. Hamba menerima kegagalan dan keputusan Yang mulia dengan kelapangan hati. Namun hamba ingin kembali pulang ke Xierus tapi tidak dengan tangan kosong. Hamba tetap ingin menikah."
Ucapan Putri Xie sontak kembali membuat semua terkejut.
__ADS_1
"Putriku. Jika kau gagal dalam ujian ini, itu menandakan kau belum memiliki kepantasan untuk mendampingi yang mulia. Jangan melanggar perjanjian yang telah kita sepakati. Itu akan menghancurkan mertabat kita." ucap Raja Xierus berusaha menasehati Putrinya.
Sejenak Putri Xie menatap lekat wajah ayahnya yang tampak gusar. Kemudian kembali pandangannya beralih pada Kaisar.
"Yang Mulia. Hamba menerima tidak menjadi permaisuri, tapi hamba meminta seorang pangeran sebagai gantinya untuk menikahiku. Dengan begitu baru hamba bersedia kembali pulang ke Xierus.
Sebagai Putri Xierus hamba tidak ingin rakyat Xierus kecewa dengan kegagalan. Tapi jika hamba kembali pulang sebagai istri seorang pangeran maka itu setidaknya akan menjadi obat bagi kekecewaan hati mereka." ucap Putri Xie dengan mata berkaca-kaca.
"Putri Xie, selain rupamu yang menawan, hatimupun sangat mulia. Pantas saja seluruh rakyat Xierus begitu mencintai dan bangga kepadamu. Sekarang katakan, Pangeran mana yang kamu inginkan untuk menjadi suamimu?" tanya Kaisar dengan suara yang menunjukkan kharismanya.
Putri Xie menundukkan wajahnya,
"Jika berkenan hamba ingin diperistri oleh Pangeran Feng." jawab Putri Xie dengan suara bergetar.
Feng yang merasa namanya disebut seketika melihat kepada Putri Xie yang tidak berani mengangkat wajahnya.
"Pangeran Feng, bagaimana menurutmu?" tanya Kaisar mengalihkan pandangan dan perhatiannya pada Pangeran Feng yang kini berubah kikuk.
"Hamba menerima semua titah Yang Mulia." hanya itu jawaban yang terlintas dipikiran Feng. Karena dirinya sendiri tidak menyangka akan menjadi pilihan Putri Xie.
"Pangeran Feng, permintaan Putri Xie adalah hubungannya dengan pribadimu, dan masa depan kehidupanmu. Bukan semata-mata urusan Istana maupun bangsa. Aku akan menghormati setiap keputusan untuk kehidupan kalian."
"Baiklah jika begitu. Aku akan memberikan kalian waktu untuk saling mengenal dan berbicara selama tujuh hari didalam istana ini. Setelah kamu memiliki jawaban maka sampaikan kepadaku."
Feng membungkukkan badannya sebagai isyarat ia menerima keputusan Kaisar.
Bagaimana Raja dan tetua Xierus. Apakah ada keputusanku yang belum kalian terima?" Kaisar beralih pandangan kepada mereka.
"Kami menerima kebijaksanaan Yang Mulia dengan kelapangan hati. Terima Kasih atas kebijaksanaan Yang Mulia Kaisar." Raja Xierus membungkukkan badannya.
_ * * *_
Drrrrttt... Drrrttt... Drrrttt... Suara getar dari ponsel Lisa.
Lisa melihat nama Chandra Chou tampak dilayar ponselnya. Lisa menarik lencana hijau untuk menerima panggilannya.
Hallo.
.....
__ADS_1
Baiklah. Aku kesana sekarang.
.....
Aku mengerti.
Lisa menutup panggilannya dengan Chandra.
"Suzu, aku harus pergi. Kamu tolong terus cari keberadaan Violet dan kalau ada informasi.apapun segera kabari aku." pinta Lisa sambil mengemas ponsel dan tasnya.
"Kak Lisa mau kemana?"
"Aku akan menemui temanku ada hal yang harus aku bicarakan mengenai kontrak kerjaku." jawab Lisa berbohong, kemudian berlari kecil meninggalkan Suzu yang masih benggong menatap kepergiannya.
Ditempat yang telah ditentukan
Lisa segera menghampiri mobil Chandra yang terparkir ditepi jalan.
"Masuk!" perintah Chandra. Lisa menurut, segera masuk kedalam mobil.
"Alihkan jejak kami sekarang!"
ucap Chandra kepada Boy melalui speaker bluetooth yang terpasang ditelinganya.
"Apa yang kamu bicarakan?" tanya Lisa mendengar ucapan Chandra yang tidak ia pahami.
Bukan menjawab pertanyaan Lisa, Chandra justru mengejutkan Lisa dengan hal lain.
"Pakai ini untuk menutup matamu!" Chandra menyerahkan sebuah kain panjang.
"Untuk apa memakai ini?"
"Jika kamu ingin tau mengenai adikmu maka jangan banyak bertanya. Waktu kita tidak banyak."
"A-apa yang terjadi pada Violet?"
"Semakin banyak kamu bertanya akan semakin sedikit sisa waktu yang kita miliki. Cepat pakai atau kembali turun dari mobilku jika kamu merasa ragu!"
Lisa menganggukkan kepalanya dan menutup matanya menggunakan kain itu.
"Buka Jalur!"
__ADS_1
Chandra segera menginjak gas mobilnya yang membuat Lisa semakin binggung.
Selama perjalanan Lisa dibuat tegang karena Chandra mengemudikan mobilnya dengan kecepatan tinggi sedangkan matanya tertutup rapat.